Showing posts with label Industry. Show all posts
Showing posts with label Industry. Show all posts
Reog Ponorogo belajar di Afdeling
Thursday, March 21, 2013Puluhan orang berpakaian Warok memenuhi Rest Area Marina Beach BONTHAIN. Mereka adalah para Kepala Desa, Lurah dan Kepala SKPD terkait bersama Wakil Bupati Ponorogo (Hj. Yuni Widyaningsih, SH). Kehadirannya di BONTHAIN dalam rangka study banding untuk mengetahui lebih jelas dan lebih dalam lagi tentang BONTHAIN dari berbagai aspek. Kabupaten yang terletak 200 Km arah Barat Daya Surabaya ini mendatangkan Kepala Desa dan Lurahnya untuk belajar atas keberhasilan BONTHAIN hingga saat ini untuk selanjutnya dijadikan acuan dalam penentuan arah kebijakan pembangunan di Kabupaten Ponorogo. Kami datang jauh-jauh dari Jawa Timur, bukan untuk jalan-jalan pak. Kota-kota yang bergelimang hiburan ada di sekitar Ponorogo, olehnya itu untuk jalan-jalan cukup mengunjungi Surabaya saja atau mungkin saja Yogyakarta, Bandung, Surabaya dan Jakarta. Kedatangan kami semata-mata untuk belajar dan belajar, terang Yuni Widyaningsih dalam sambutannya pada sebuah acara santai bertempat di Marina Beach BONTHAIN (Red. : 20 Maret 2013, 19:30 Wita).
Rombongan ini datang ke BONTHAIN dengan segudang rasa penasaran yang ada di benaknya.
Ada apa dengan BONTHAIN di bawah kepemimpinan H. M. Nurdin Abdullah (Bupati Bantaeng)...???
Ko' bisa ya, kota kecil yang tidak pernah terdengar namanya selama ratusan tahun sejak Indonesia Merdeka. Saat ini bukan saja terdengar jelas. Namun, begitu mengagetkan para anak bangsa sampai membangunkan para penghuni pendopo-pendopo Merah Putih dari berbagai daerah untuk melihat langsung BONTHAIN.
Ada apa...??? Kata yang tidak henti-hentinya dilontarkan seorang Ibu Reog Ponorogo.
Hari ini, para master-master Reog yang berpakaian Warok tersebut akan belajar banyak hal dari BONTHAIN. Mereka akan mengunjungi sejumlah area penting di BONTHAIN dan menimba ilmu dari para aktor dan produser yang ada di BONTHAIN, baik itu petani maupun pejabat dan pengusaha yang berperan aktif atas keberhasilan BONTHAIN dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.
Fokus study mereka antara lain :
Rombongan ini datang ke BONTHAIN dengan segudang rasa penasaran yang ada di benaknya.
Ada apa dengan BONTHAIN di bawah kepemimpinan H. M. Nurdin Abdullah (Bupati Bantaeng)...???
Ko' bisa ya, kota kecil yang tidak pernah terdengar namanya selama ratusan tahun sejak Indonesia Merdeka. Saat ini bukan saja terdengar jelas. Namun, begitu mengagetkan para anak bangsa sampai membangunkan para penghuni pendopo-pendopo Merah Putih dari berbagai daerah untuk melihat langsung BONTHAIN.
Ada apa...??? Kata yang tidak henti-hentinya dilontarkan seorang Ibu Reog Ponorogo.
Hari ini, para master-master Reog yang berpakaian Warok tersebut akan belajar banyak hal dari BONTHAIN. Mereka akan mengunjungi sejumlah area penting di BONTHAIN dan menimba ilmu dari para aktor dan produser yang ada di BONTHAIN, baik itu petani maupun pejabat dan pengusaha yang berperan aktif atas keberhasilan BONTHAIN dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.
Fokus study mereka antara lain :
- Sistem Kesehatan dan Pemadam Kebakaran yang mengedepankan pelayanan prima melalui Brigade Siaga Bencana (BSB) BONTHAIN.
- Pertanian berbasis Teknologi melalui penerapan Kultur Jaringan.
- Badan Usaha Milik Desa (BUMDes).
- Industri dengan meningkatnya minat investor untuk menanamkan modalnya di BONTHAIN.
- Jaringan ekspor sebagai wadah penyaluran dan distribusi produksi khususnya sektor pertanian, peternakan dan perikanan.
- Sistem Kebersihan Kota.
- Kabupaten Karangasem
- Kabupaten Gunung Kidul
- dll.
Japan and Russian haven't Come to Colonize
Thursday, December 8, 2011Pemerintah Jepang melalui Ehime Toyota Motor Corporation menyerahkan bantuan dua unit Ambulance dan satu unit pemadam kebakaran (Damkar).
Penyerahan kendaraan bantuan tersebut dilakukan pada peringatan HUT ke-757 Kabupaten Bantaeng pada hari Rabu tanggal 7 Desember 2011 yang dipusatkan di Gedung Balai Kartini Bantaeng. Penyerahan dilakukan oleh Managing Director Ehime Toyota Jepang Tatsumi Takemoto kepada Bupati Bantaeng H. M. Nurdin Abdullah disaksikan Gubernur Sulawesi Selatan (H. Syahrul Yasin Limpo) dan sejumlah petinggi lainnya (baca : Bonthain Anniversary of 757).
Pada kesempatan itu juga dilakukan penandatanganan naskah kerja sama antara Pemda Kabupaten Bantaeng dengan Pemda Kabupaten Gunungkidul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta serta Kabupaten Karangasem Propinsi Bali. Selain itu, juga dilakukan peresmian proyek Pembangunan Gedung Balai Kartini oleh Dinas PU dan Kimpraswil Kabupaten Bantaeng bernilai Rp 2,6 miliar, Pembangunan Gudang Pembibitan dan Rumah Jaga Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bantaeng bernilai Rp 320 juta serta Pembangunan Stasiun Relay PT .Sulawesi Televisi Cemerlang senilai Rp 500 juta.
Proyek lainnya yang diresmikan adalah Pembangunan Pasar Rakyat Tradisional Percontohan Nasional Lambocca bernilai Rp 15 miliar dan Pembangunan Proyek Pasar Modern Marina Beach masing-masing berlokasi di Kecamatan Pa’jukukang. Kerja sama juga dilakukan antara Perusda Baji Minasa Kabupaten Bantaeng dengan pengusaha Rusia (PT. Rumput Laut Sulawesi) disaksikan Duta Besar Rusia dan sejumlah pejabat teras lainnya.
Bupati Bantaeng H. M. Nurdin Abdullah dalam sambutannya mengungkapkan bahwa kerja sama ini semakin memperkokoh Kabupaten Bantaeng menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di bagian selatan Propinsi Sulawesi Selatan. Menurutnya, Pemda berkomitmen melakukan sinergi untuk kapasitas masing-masing guna mendorong ekonomi masyarakat, ujarnya seraya mengemukakan kinerja layanan publik yang terus dipacu.
Beliau kemudian menyebut kehadiran Sekolah Bertaraf Internasional yang sudah berjumlah dua unit. Sedangkan di bidang kesehatan, daerah ini berhasil meraih penghargaan Kabupaten Sehat Nasional. Keberhasilan tersebut berkat upaya pelayanan dasar melalui Poskesdes hingga ke Pos pembantu serta Brigade Siaga Bencana (BSB) Kabupaten Bantaeng. Kehadiran BSB berhasil menurunkan angka kematian ibu dan anak.
Karena itu, Bupati Bantaeng berterima kasih kepada Pemerintah Jepang yang telah memberikan bantuan hibah ambulance, mobil pemadam kebakaran dan fasilitas lainnya. Bupati menambahkan lagi, kini telah dibangun rumah sakit modern yang dimaksudkan mengatasi pelayanan kesehatan dan rujukan dari daerah lain. Sedangkan untuk mendorong perekonomian masyarakat, Pemda telah membangun 8 (delapan) unit pasar termasuk pasar bantuan Gubernur Sulawesi Selatan berupa Pasar Moderen Marina Beach serta Pasar Rakyat Tradisional Percontohan Nasional Lambocca.
Pada tingka desa, Pemda telah membentuk Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Sementara untuk membantu masyarakat kurang mampu, Pemda membangun sekitar 50-an unit rumah dalam bentuk swadaya. Sektor pertanian yang merupakan urat nadi kehidupan masyarakat juga terus dipacu dengan memanfaatkan teknologi, termasuk untuk pengembangan talas yang telah memiliki pasar jelas ke Jepang.
Sektor ini juga mendapat backup dari BPPT dengan membangun industri pupuk bernilai Rp 50 miliar. Demikian pula terhadap pengembangan Ikan Nila Gesit yang memanfaatkan lahan yang tidak produktif. Pemda juga menyiapkan fasilitas wisata pantai dan wisata agro pada wilayah pantai dan dataran tinggi untuk menunjang Visit South Sulawesi 2012, jelasnya.
Penyerahan kendaraan bantuan tersebut dilakukan pada peringatan HUT ke-757 Kabupaten Bantaeng pada hari Rabu tanggal 7 Desember 2011 yang dipusatkan di Gedung Balai Kartini Bantaeng. Penyerahan dilakukan oleh Managing Director Ehime Toyota Jepang Tatsumi Takemoto kepada Bupati Bantaeng H. M. Nurdin Abdullah disaksikan Gubernur Sulawesi Selatan (H. Syahrul Yasin Limpo) dan sejumlah petinggi lainnya (baca : Bonthain Anniversary of 757).
Pada kesempatan itu juga dilakukan penandatanganan naskah kerja sama antara Pemda Kabupaten Bantaeng dengan Pemda Kabupaten Gunungkidul Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta serta Kabupaten Karangasem Propinsi Bali. Selain itu, juga dilakukan peresmian proyek Pembangunan Gedung Balai Kartini oleh Dinas PU dan Kimpraswil Kabupaten Bantaeng bernilai Rp 2,6 miliar, Pembangunan Gudang Pembibitan dan Rumah Jaga Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Bantaeng bernilai Rp 320 juta serta Pembangunan Stasiun Relay PT .Sulawesi Televisi Cemerlang senilai Rp 500 juta.
Proyek lainnya yang diresmikan adalah Pembangunan Pasar Rakyat Tradisional Percontohan Nasional Lambocca bernilai Rp 15 miliar dan Pembangunan Proyek Pasar Modern Marina Beach masing-masing berlokasi di Kecamatan Pa’jukukang. Kerja sama juga dilakukan antara Perusda Baji Minasa Kabupaten Bantaeng dengan pengusaha Rusia (PT. Rumput Laut Sulawesi) disaksikan Duta Besar Rusia dan sejumlah pejabat teras lainnya.
Bupati Bantaeng H. M. Nurdin Abdullah dalam sambutannya mengungkapkan bahwa kerja sama ini semakin memperkokoh Kabupaten Bantaeng menjadi pusat pertumbuhan ekonomi di bagian selatan Propinsi Sulawesi Selatan. Menurutnya, Pemda berkomitmen melakukan sinergi untuk kapasitas masing-masing guna mendorong ekonomi masyarakat, ujarnya seraya mengemukakan kinerja layanan publik yang terus dipacu.
Beliau kemudian menyebut kehadiran Sekolah Bertaraf Internasional yang sudah berjumlah dua unit. Sedangkan di bidang kesehatan, daerah ini berhasil meraih penghargaan Kabupaten Sehat Nasional. Keberhasilan tersebut berkat upaya pelayanan dasar melalui Poskesdes hingga ke Pos pembantu serta Brigade Siaga Bencana (BSB) Kabupaten Bantaeng. Kehadiran BSB berhasil menurunkan angka kematian ibu dan anak.
Karena itu, Bupati Bantaeng berterima kasih kepada Pemerintah Jepang yang telah memberikan bantuan hibah ambulance, mobil pemadam kebakaran dan fasilitas lainnya. Bupati menambahkan lagi, kini telah dibangun rumah sakit modern yang dimaksudkan mengatasi pelayanan kesehatan dan rujukan dari daerah lain. Sedangkan untuk mendorong perekonomian masyarakat, Pemda telah membangun 8 (delapan) unit pasar termasuk pasar bantuan Gubernur Sulawesi Selatan berupa Pasar Moderen Marina Beach serta Pasar Rakyat Tradisional Percontohan Nasional Lambocca.
Pada tingka desa, Pemda telah membentuk Badan Usaha Milik Desa (Bumdes). Sementara untuk membantu masyarakat kurang mampu, Pemda membangun sekitar 50-an unit rumah dalam bentuk swadaya. Sektor pertanian yang merupakan urat nadi kehidupan masyarakat juga terus dipacu dengan memanfaatkan teknologi, termasuk untuk pengembangan talas yang telah memiliki pasar jelas ke Jepang.
Sektor ini juga mendapat backup dari BPPT dengan membangun industri pupuk bernilai Rp 50 miliar. Demikian pula terhadap pengembangan Ikan Nila Gesit yang memanfaatkan lahan yang tidak produktif. Pemda juga menyiapkan fasilitas wisata pantai dan wisata agro pada wilayah pantai dan dataran tinggi untuk menunjang Visit South Sulawesi 2012, jelasnya.
Industri Tapioka by Chinesse Company
Tuesday, March 30, 2010Perusahaan Milik Negara (BUMN) asal China "Guangxi State Farms Bureau" melalui Guangxi Mingyang Biochemical Science & Technology, Inc. segera membangun Industri Tapioka di Bantaeng. Belum disebutkan besaran investasi yang akan ditanam untuk pembangunan industri tersebut. Namun lahan untuk pembangunan industri tersebut telah disiapkan. Para pengusaha dari negeri TIRAI BAMBU tersebut yakni Luo Yongkui (Deputy Director of Guangxi State Farms Bureau), Qin Qi-Mao (Vice Chairman of Guangxi Mingyang Biochemical Science & Technology, Inc), Zhao Shouwen (Vice President of Guangxi Mingyang).
Selain itu hadir pula Gao Shouguo (Project Manager of Guangxi Mingyang), Zhu Xiaoming (Financial Assets Administration Office Director of Guangxi State Farms Bureau), Zhang Youmin (Program and Development Office Deputy Director of Guangxi State Farms Bureau) serta Y. F Chan dari Kong Fung Development Co. serta mitra kerjanya di Indonesia, Rudi Mattoaly. Kepastian pembangunan industri tapioka untuk dijadikan ethanol, tekstil dan kertas tersebut dikemukakan Luo Yongkui ketika melakukan peninjauan ke lokasi pembangunan industri tersebut di Kecamatan Pa’jukukang.
Peninjauan lokasi itu dipimpin langsung Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) bersama Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan (H. M. Yasin), Kepala Bappeda (Zainuddin Tahir), Kabag. Perekonomian (Asruddin) dan sejumlah pejabat terkait lainnya. Luo Yongkui yang merupakan orang kedua pengambil keputusan di BUMN China tersebut mengatakan, tahap awal pihaknya akan mengirim ke China produksi tapioka dari Bantaeng sambil menunggu penyelesaian industri.
Perluasan ke Bantaeng dimaksudkan untuk menekan beban biaya transport. Kalau industrinya di Guangxi, ongkosnya mahal. Makanya lebih baik di Bantaeng, terang Lou Yongkui yang menyambut hangat kepedulian Bupati Bantaeng. Kami betul-betul merasa terharu dan berterima kasih atas kepedulian Bapak Bupati Bantaeng yang memberikan bantuan penyediaan lahan. Tahun lalu Bapak Bupati juga sudah melihat industri kami di Guangxi, urainya.
Kedatangan kami ke Bantaeng juga merupakan bukti keseriusan kami untuk terjalin harapan kerja sama yang sama-sama kami tunggu, tambah Lou Yongkui. Bupati Bantaeng juga menyambut baik keseriusan mitranya dari BUMN China yang bergerak di bidang pengolahan tapioka. Ini merupakan realisasi dari undangan ke Guangxi saat berlangsung pelaksanaan APEC pada Oktober 2009 yang lalu, ujarnya. Menurut Bupati Bantaeng, mitra kerjanya dari China itu berharap agar Bantaeng menjadi pelopor hadirnya industri tapioka di Sulsel. Mereka juga menjanjikan teknologi pengembangan produksi.
Secara normal, produksi ubi hanya mencapai 40 ton/ha. Namun dengan tambahan teknologi, produksi tersebut bisa meningkat menjadi 70 ton/ha. Bila industri sudah terbangun, diharapkan daerah tetangga bisa menjadi pemasok bahan baku ubi tersebut, urainya. Selain areal pertanaman di Kecamatan Pa’jukukang, beberapa daerah seperti Wajo, Jeneponto dan beberapa daerah lainnya sudah menjanjikan areal penanaman ubi kayu untuk memenuhi permintaan industri yang berpangkalan di Kawasan Industri Bantaeng (KIBA). Bupati Bantaeng berharap kehadiran industri ini dapat menekan angka pengangguran sebab industri tepung ubi berkapasitas 10 ribu ton/tahun ini akan menyerap banyak tenaga kerja.
Selain itu hadir pula Gao Shouguo (Project Manager of Guangxi Mingyang), Zhu Xiaoming (Financial Assets Administration Office Director of Guangxi State Farms Bureau), Zhang Youmin (Program and Development Office Deputy Director of Guangxi State Farms Bureau) serta Y. F Chan dari Kong Fung Development Co. serta mitra kerjanya di Indonesia, Rudi Mattoaly. Kepastian pembangunan industri tapioka untuk dijadikan ethanol, tekstil dan kertas tersebut dikemukakan Luo Yongkui ketika melakukan peninjauan ke lokasi pembangunan industri tersebut di Kecamatan Pa’jukukang.
Peninjauan lokasi itu dipimpin langsung Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) bersama Asisten Bidang Ekonomi dan Pembangunan (H. M. Yasin), Kepala Bappeda (Zainuddin Tahir), Kabag. Perekonomian (Asruddin) dan sejumlah pejabat terkait lainnya. Luo Yongkui yang merupakan orang kedua pengambil keputusan di BUMN China tersebut mengatakan, tahap awal pihaknya akan mengirim ke China produksi tapioka dari Bantaeng sambil menunggu penyelesaian industri.
Perluasan ke Bantaeng dimaksudkan untuk menekan beban biaya transport. Kalau industrinya di Guangxi, ongkosnya mahal. Makanya lebih baik di Bantaeng, terang Lou Yongkui yang menyambut hangat kepedulian Bupati Bantaeng. Kami betul-betul merasa terharu dan berterima kasih atas kepedulian Bapak Bupati Bantaeng yang memberikan bantuan penyediaan lahan. Tahun lalu Bapak Bupati juga sudah melihat industri kami di Guangxi, urainya.
Kedatangan kami ke Bantaeng juga merupakan bukti keseriusan kami untuk terjalin harapan kerja sama yang sama-sama kami tunggu, tambah Lou Yongkui. Bupati Bantaeng juga menyambut baik keseriusan mitranya dari BUMN China yang bergerak di bidang pengolahan tapioka. Ini merupakan realisasi dari undangan ke Guangxi saat berlangsung pelaksanaan APEC pada Oktober 2009 yang lalu, ujarnya. Menurut Bupati Bantaeng, mitra kerjanya dari China itu berharap agar Bantaeng menjadi pelopor hadirnya industri tapioka di Sulsel. Mereka juga menjanjikan teknologi pengembangan produksi.
Secara normal, produksi ubi hanya mencapai 40 ton/ha. Namun dengan tambahan teknologi, produksi tersebut bisa meningkat menjadi 70 ton/ha. Bila industri sudah terbangun, diharapkan daerah tetangga bisa menjadi pemasok bahan baku ubi tersebut, urainya. Selain areal pertanaman di Kecamatan Pa’jukukang, beberapa daerah seperti Wajo, Jeneponto dan beberapa daerah lainnya sudah menjanjikan areal penanaman ubi kayu untuk memenuhi permintaan industri yang berpangkalan di Kawasan Industri Bantaeng (KIBA). Bupati Bantaeng berharap kehadiran industri ini dapat menekan angka pengangguran sebab industri tepung ubi berkapasitas 10 ribu ton/tahun ini akan menyerap banyak tenaga kerja.
Bonthain Beach Hotel
Sunday, February 7, 2010Investasi yang luar biasa besar nilainya akan ditanamkan oleh investor dengan rencana pembangunan Hotel di Kabupaten Bantaeng. Hunian kelas moderen sebagai salah satu sarana pendukung dalam meningkatkan prospek pariwisata di Kabupaten Bantaeng. Dengan berbagai potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Bantaeng, diharapkan mampu menjadi daerah tujuan wisata di wilayah selatan-selatan Propinsi Sulawesi Selatan. Sehingga nantinya, para wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang Blackinnovationawards goes to campus ke Bonthain menjadi betah karena ketersediaan fasilitas yang lebih keren.
Bonthain Beach Hotel dibangun dengan konsep bertaraf nasional, mampu menyediakan kamar sebanyak 100 buah dengan berbagai fasilitas penunjang (data sementara yang berhasil dihimpun), antara lain :
Ruang Pertemuan
Restoran
Layanan Informasi bagi Wisatawan
Telepon Sambungan Internasional
Postcards and Postal Agent
Internet Cafe yang cepat
Kolam Renang
Hot Shower
Layanan Antar dan Jemput
Pelayanan Kesehatan yang ontime 24 jam
Adapun Pembangunannya akan dilaksanakan tahun ini. Pencanangan pembangunan hotel tersebut rencananya segera dalam waktu dekat ini. Berdasarkan informasi dari Tim Perencana Pembangunan Hotel yang disampaikan kepada Black Community and Black In News of Bonthain, kalau tidak aral melintang hari Kamis nanti, tepanya tanggal 18 Pebruari 2010, rencana dimaksud akan dilaksanakan. Jadi bakalan diadain Peletakan Batu Pertama di kawasan Revitalisasi Pantau Seruni Bantaeng (look at the map of Bonthain).
Ambae.exe turut ikut ambil bagian dalam rencana Pembangunan Bonthain Beach Hotel. General Manager Ambae.exe menyatakan bahwa telah dibuat desain Logo dan beberapa desain lainnya dalam rangka persiapan acara kamis depan.
Desain hasil racikan Ambae.exe dapat dilihat disini :
1. Logo Bonthain Beach Hotel
2. Logo dan Arti Logo Bonthain Beach Hotel
3. Spanduk Bonthain Beach Hotel (Primer)
4. Spanduk Bonthain Beach Hotel (Sekunder)
5. Peta Lokasi Pembangunan Bonthain Beach Hotel & RSUD Bantaeng
6. Peta Lokasi Penempatan Spanduk Bonthain Beach Hotel
ARTI DAN MAKNA LOGO
Secara umum Logo tersebut menggambarkan kondisi Bantaeng yang terdiri dari 3 dimensi yakni Laut, Dataran Rendah dan Dataran Tinggi).
Bentuk menyerupai huruf/abjad "b" kecil dengan warna Biru Tua/Biru Langit mewakili nama "bonthain beach hotel". Warna Biru pada bentuk tersebut melambangkan Dataran Tinggi (Gunung dan Hutan) yang penuh ketenangan dan ketenteraman yang dapat dirasakan di kota Butta Toa. Dibalut garis tipis berwarna Hijau melambangkan sejuknya menikmati alam Bonthain.
Bentuk menyerupai sehelai daun pada salah satu ujung huruf "b" kecil dengan warna dasar Hijau, melambangkan alam Bantaeng yang sebagian besar merupakan daerah potensial. Konsep Hijaukan Bantaeng dijadikan dasar pembangunan "bonthain beach hotel", mengingat lokasi pembangunan hotel adalah "New Place" hasil Revitalisasi Pantai Seruni Bantaeng.
Bentuk menyerupai gundukan tanah/gunung berwarna Cokelat Muda, melambangkan daratan/dataran rendah di wilayah Bantaeng sebagai Butta Toa (Tanah Tua). Bentukan ini pula menggambarkan lokasi pembangunan "bonthain beach hotel".
Penempatan huruf "b" kecil di atas gundukan tanah berwarna cokelat, menggambarkan kondisi real dimana lokasi pembangunan "bonthain beach hotel". Lokasinya merupakan wilayah laut yang ditimbun dan membentuk daratan baru sebagai dasar "The New Bantaeng".
Bentuk menyerupai lautan berwarna Biru Muda/Biru Laut disertai dua buah kapal yang saling berjauhan, melambangkan wilayah perairan Bantaeng yang membentuk Selat telah menjadi wilayah persinggahan bagi kapal mengingat amat aman dari terjangan ombak besar. Di wilayah sekitar hotel ini pula telah menjadi area yang indah untuk menikmati sunset dan pemandangan alam lainnya yang dibalut ke dalam wisata multi dimensi yakni Laut, Dataran Rendah dan Dataran Tinggi. Konsep pantai dikembangkan dari pembangunan hotel tersebut, mengingat indahnya Bantaeng, khususnya di wilayah pantai Seruni Bantaeng.
Tulisan "bonthain beach hotel" berwarna merah, melambangkan nama dari hotel tersebut. Pemilihan warna pada tulisan, melambangkan keberanian dan tekad yang kuat untuk mewujudkan Bantaeng yang lebih maju. Keberanian untuk terus menarik investor agar menanamkan investasinya di Bantaeng. Sedangkan kata "Bonthain" itu sendiri merupakan sebutan Kabupaten Bantaeng. Sejak lama telah menjadi nama pertama yang diberikan oleh bangsa Belanda di zaman penjajahan pada kota yang pernah menjadi basis pemerintahannya/pusat pemerintahan formal Hindia Belanda (Afdeling).
Tiap obyek kecuali bentukan huruf "b" kecil, dikelilingi garis berwarna Biru. Bahkan pada bagian bawah dari ketiga obyek (laut, dataran rendah dan dataran tinggi), dengan sangat jelas menekankan ketenangan dan ketenteraman yang selalu dijaga di kota ini, khususnya keamanan dalam berinvestasi dan keamanan untuk berkunjung menikmati bentang alam Bantaeng yang indah. Dengan harapan para investor tidak merasa was-was untuk menanamkan investasinya yang akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Selain Pencanangan Pembangunan Bonthain Beach Hotel, akan dirangkaikan pula dengan :
1. Pencanangan Pembangunan Pabrik Infus di Kecamatan Eremerasa
2. Pengembangan RSUD Prof. DR. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng
3. Ekspor Perdana Pengolahan Hasil Industri Pabrik Pengalengan Ikan
Rupanya Bonthain semakin berbenah diri ke arah yang lebih maju dengan konsep The New Bantaeng yang didengung-dengungkan Pemerintah. Bupati Bantaeng (DR. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M. Agr) yang menahkodai Bonthain, telah menelorkan hasil nyata. Sebagai awal untuk mewujudkan The New Bantaeng, telah dilaksanakan Revitalisasi Pantai Seruni Bantaeng. Wilayah Perairan Pantai Seruni yang ditimbun menelan dana sebesar ± Rp 30 M. Garis Pantai kini berubah sejak ditimbun karena telah menjadi daratan baru. Nah, salah satu bangunan yang akan berdiri tegak di atasnya adalah Bonthain Beach Hotel. Pihak ketiga yang menanamkan modalnya merupakan salah satu Perusahaan Nasional. Pemerintah menyiapkan lahan saja, sementara dana pembangunannya sepenuhnya berasal dari investor tersebut.
Bonthain Beach Hotel dibangun dengan konsep bertaraf nasional, mampu menyediakan kamar sebanyak 100 buah dengan berbagai fasilitas penunjang (data sementara yang berhasil dihimpun), antara lain :
Ruang Pertemuan
Restoran
Layanan Informasi bagi Wisatawan
Telepon Sambungan Internasional
Postcards and Postal Agent
Internet Cafe yang cepat
Kolam Renang
Hot Shower
Layanan Antar dan Jemput
Pelayanan Kesehatan yang ontime 24 jam
Adapun Pembangunannya akan dilaksanakan tahun ini. Pencanangan pembangunan hotel tersebut rencananya segera dalam waktu dekat ini. Berdasarkan informasi dari Tim Perencana Pembangunan Hotel yang disampaikan kepada Black Community and Black In News of Bonthain, kalau tidak aral melintang hari Kamis nanti, tepanya tanggal 18 Pebruari 2010, rencana dimaksud akan dilaksanakan. Jadi bakalan diadain Peletakan Batu Pertama di kawasan Revitalisasi Pantau Seruni Bantaeng (look at the map of Bonthain).
Ambae.exe turut ikut ambil bagian dalam rencana Pembangunan Bonthain Beach Hotel. General Manager Ambae.exe menyatakan bahwa telah dibuat desain Logo dan beberapa desain lainnya dalam rangka persiapan acara kamis depan.
Desain hasil racikan Ambae.exe dapat dilihat disini :
1. Logo Bonthain Beach Hotel
2. Logo dan Arti Logo Bonthain Beach Hotel
3. Spanduk Bonthain Beach Hotel (Primer)
4. Spanduk Bonthain Beach Hotel (Sekunder)
5. Peta Lokasi Pembangunan Bonthain Beach Hotel & RSUD Bantaeng
6. Peta Lokasi Penempatan Spanduk Bonthain Beach Hotel
ARTI DAN MAKNA LOGO
Secara umum Logo tersebut menggambarkan kondisi Bantaeng yang terdiri dari 3 dimensi yakni Laut, Dataran Rendah dan Dataran Tinggi).
Bentuk menyerupai huruf/abjad "b" kecil dengan warna Biru Tua/Biru Langit mewakili nama "bonthain beach hotel". Warna Biru pada bentuk tersebut melambangkan Dataran Tinggi (Gunung dan Hutan) yang penuh ketenangan dan ketenteraman yang dapat dirasakan di kota Butta Toa. Dibalut garis tipis berwarna Hijau melambangkan sejuknya menikmati alam Bonthain.
Bentuk menyerupai sehelai daun pada salah satu ujung huruf "b" kecil dengan warna dasar Hijau, melambangkan alam Bantaeng yang sebagian besar merupakan daerah potensial. Konsep Hijaukan Bantaeng dijadikan dasar pembangunan "bonthain beach hotel", mengingat lokasi pembangunan hotel adalah "New Place" hasil Revitalisasi Pantai Seruni Bantaeng.
Bentuk menyerupai gundukan tanah/gunung berwarna Cokelat Muda, melambangkan daratan/dataran rendah di wilayah Bantaeng sebagai Butta Toa (Tanah Tua). Bentukan ini pula menggambarkan lokasi pembangunan "bonthain beach hotel".
Penempatan huruf "b" kecil di atas gundukan tanah berwarna cokelat, menggambarkan kondisi real dimana lokasi pembangunan "bonthain beach hotel". Lokasinya merupakan wilayah laut yang ditimbun dan membentuk daratan baru sebagai dasar "The New Bantaeng".
Bentuk menyerupai lautan berwarna Biru Muda/Biru Laut disertai dua buah kapal yang saling berjauhan, melambangkan wilayah perairan Bantaeng yang membentuk Selat telah menjadi wilayah persinggahan bagi kapal mengingat amat aman dari terjangan ombak besar. Di wilayah sekitar hotel ini pula telah menjadi area yang indah untuk menikmati sunset dan pemandangan alam lainnya yang dibalut ke dalam wisata multi dimensi yakni Laut, Dataran Rendah dan Dataran Tinggi. Konsep pantai dikembangkan dari pembangunan hotel tersebut, mengingat indahnya Bantaeng, khususnya di wilayah pantai Seruni Bantaeng.
Tulisan "bonthain beach hotel" berwarna merah, melambangkan nama dari hotel tersebut. Pemilihan warna pada tulisan, melambangkan keberanian dan tekad yang kuat untuk mewujudkan Bantaeng yang lebih maju. Keberanian untuk terus menarik investor agar menanamkan investasinya di Bantaeng. Sedangkan kata "Bonthain" itu sendiri merupakan sebutan Kabupaten Bantaeng. Sejak lama telah menjadi nama pertama yang diberikan oleh bangsa Belanda di zaman penjajahan pada kota yang pernah menjadi basis pemerintahannya/pusat pemerintahan formal Hindia Belanda (Afdeling).
Tiap obyek kecuali bentukan huruf "b" kecil, dikelilingi garis berwarna Biru. Bahkan pada bagian bawah dari ketiga obyek (laut, dataran rendah dan dataran tinggi), dengan sangat jelas menekankan ketenangan dan ketenteraman yang selalu dijaga di kota ini, khususnya keamanan dalam berinvestasi dan keamanan untuk berkunjung menikmati bentang alam Bantaeng yang indah. Dengan harapan para investor tidak merasa was-was untuk menanamkan investasinya yang akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Selain Pencanangan Pembangunan Bonthain Beach Hotel, akan dirangkaikan pula dengan :
1. Pencanangan Pembangunan Pabrik Infus di Kecamatan Eremerasa
2. Pengembangan RSUD Prof. DR. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng
3. Ekspor Perdana Pengolahan Hasil Industri Pabrik Pengalengan Ikan
Rupanya Bonthain semakin berbenah diri ke arah yang lebih maju dengan konsep The New Bantaeng yang didengung-dengungkan Pemerintah. Bupati Bantaeng (DR. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M. Agr) yang menahkodai Bonthain, telah menelorkan hasil nyata. Sebagai awal untuk mewujudkan The New Bantaeng, telah dilaksanakan Revitalisasi Pantai Seruni Bantaeng. Wilayah Perairan Pantai Seruni yang ditimbun menelan dana sebesar ± Rp 30 M. Garis Pantai kini berubah sejak ditimbun karena telah menjadi daratan baru. Nah, salah satu bangunan yang akan berdiri tegak di atasnya adalah Bonthain Beach Hotel. Pihak ketiga yang menanamkan modalnya merupakan salah satu Perusahaan Nasional. Pemerintah menyiapkan lahan saja, sementara dana pembangunannya sepenuhnya berasal dari investor tersebut.
Bonthain
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor