Showing posts with label Food. Show all posts
Showing posts with label Food. Show all posts
Lomba Cipta Menu
Saturday, November 30, 2013
Tinggal menghitung hari, Bonthain tiba di usia yang ke-759 tahun. Berbagai kegiatan dilaksanakan guna menyemarakkan Hari Jadi Bantaeng yang jatuh pada tanggal 7 bulan Desember setiap tahunnya. Merupakan moment yang ditunggu-tunggu segenap masyarakat Kabupaten Bantaeng selama setahun. Mengingat bahwa kegiatan yang dilaksanakan terbilang banyak jumlahnya dan intens selama kurang lebih sebulan penuh, sebelum puncak Hari Jadi tiba. Antara lain berupa lomba dan pertandingan olah raga, seni, budaya, karnaval dan sebagainya.
Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantaeng turut ambil bagian berpartisipasi menyemarakkan Hari Jadi Bantaeng ke-759. Sekaligus dalam rangka memperingati Hari Ibu ke-85 yang jatuh pada tanggal 22 Desember 2013. PKK Kabupaten Bantaeng yang selama ini giat memberikan pelatihan/kursus pembuatan makanan dan minuman, sudah saatnya mengadakan Lomba Cipta Menu. Lomba ini mengusung tema, Bahan Olahan Ikan dan Pangan Lokal. Hal ini sejalan dengan tujuan Gerakan PKK yakni memberdayakan keluarga untuk meningkatkan kesejahteraan menuju terwujudnya keluarga yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia dan berbudi luhur, sehat sejahtera, maju dan mandiri, kesetaraan dan keadilan gender serta kesadaran hukum dan lingkungan. Demikian diungkapkan Ibu Lies Fachruddin (Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantaeng).
Dalam kesempatan tersebut, Lies Fachruddin berharap kepada seluruh komponen Ibu-ibu agar dapat lebih kreatif menciptakan menu-menu baru yang bernilai cita rasa tinggi dan mampu diterima oleh semua kalangan. Terkhusus dalam menyikapi Bantaeng yang tidak henti-hentinya kedatangan tamu, baik dari dalam maupun luar negeri. Kita harus menyediakan area kuliner yang lebih luas dan lebih nyaman, agar para tamu dapat tinggal lebih lama di Bantaeng, tambahnya.
Kegiatan ini berlangsung selama sehari (Red. : 30 Nopember 2013), bertempat di Tribun Pantai Seruni Kabupaten Bantaeng. Peserta terdiri dari :
Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantaeng turut ambil bagian berpartisipasi menyemarakkan Hari Jadi Bantaeng ke-759. Sekaligus dalam rangka memperingati Hari Ibu ke-85 yang jatuh pada tanggal 22 Desember 2013. PKK Kabupaten Bantaeng yang selama ini giat memberikan pelatihan/kursus pembuatan makanan dan minuman, sudah saatnya mengadakan Lomba Cipta Menu. Lomba ini mengusung tema, Bahan Olahan Ikan dan Pangan Lokal. Hal ini sejalan dengan tujuan Gerakan PKK yakni memberdayakan keluarga untuk meningkatkan kesejahteraan menuju terwujudnya keluarga yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia dan berbudi luhur, sehat sejahtera, maju dan mandiri, kesetaraan dan keadilan gender serta kesadaran hukum dan lingkungan. Demikian diungkapkan Ibu Lies Fachruddin (Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantaeng).
Dalam kesempatan tersebut, Lies Fachruddin berharap kepada seluruh komponen Ibu-ibu agar dapat lebih kreatif menciptakan menu-menu baru yang bernilai cita rasa tinggi dan mampu diterima oleh semua kalangan. Terkhusus dalam menyikapi Bantaeng yang tidak henti-hentinya kedatangan tamu, baik dari dalam maupun luar negeri. Kita harus menyediakan area kuliner yang lebih luas dan lebih nyaman, agar para tamu dapat tinggal lebih lama di Bantaeng, tambahnya.
Kegiatan ini berlangsung selama sehari (Red. : 30 Nopember 2013), bertempat di Tribun Pantai Seruni Kabupaten Bantaeng. Peserta terdiri dari :
- Dharma Wanita lingkup SKPD se-Kabupaten Bantaeng
- Usaha Kecil dan Menengah se-Kabupaten Bantaeng
- Masyarakat Umum se-Kabupaten Bantaeng yang diwadahi oleh pihak Kecamatan
Warung Bawakaraeng
Sunday, February 21, 2010Siang yang cerah menyapa para Black Car Community dan Black Motor Community yang melewati jalan poros Makassar-Bantaeng-Bulukumba. Sekitar pukul 12.00 Waktu Bonthain, kendaraan besar yang terdiri dari mobil Bus beserta mobil kecil lainnya singgah di Warung Bawakaraeng. Kejadian ini terus berlangsung tiap harinya. Penumpang pada turun dari mobil dan segera masuk ke warung Bawakaraeng.
Warung ini amat dikenal, khususnya bagi bagi masyarakat Bantaeng dan masyarakat Bulukumba, Sinjai dan Selayar yang nota bene sering berkunjung untuk bersantap siang dan malam. Ada apa dengan penduduk Bulukumba, Sinjai dan Selayar..............???Apa hubungannya dengan Warung Bawakaraeng.
Bantaeng menjadi daerah yang dilewati kendaraan dari dan menuju ketiga kota tersebut. Posisi Bonthain amat strategis sebagai kota persinggahan bagi penumpang yang akan berkunjung ke Makassar maupun sebaliknya. Saking strategisnya, setiap mobil dari dan menuju kota tersebut menjadwalkan tempat singgahnya yakni di Bonthain. Saat Black Community and Black In News of Bonthain Blackinnovationawards goes to campus ke Warung Bawakaraeng, jalan poros dipadati puluhan bahkan ratusan kendaraan. Sehingga jalan yang menghubungkan daerah selatan-selatan Propinsi Sulawesi Selatan ini praktis berubah menjadi lautan Black Community dan menjadi macet.
Dari dulu fenomena ini menjadi lazim yang pada akhirnya menjadikan kota Bonthain amat dikenal oleh masyarakat disekitarnya. Bahkan Bonthain dihuni banyak Black Community, misalnya komunitas Selayar, Bulukumba, Sengkang, Sinjai, Pare-pare, Makassar, Jeneponto, Bone dan sebagainya. Tiap komunitas menempati daerah-daerah tertentu di Bonthain. Banyak kalangan berasumsi bahwa Bonthain sejak lama dijadikan daerah tujuan yang aman. Setelah berdiam lama di Bonthain, tak kurang dari mereka yang berkeluarga dengan orang Bonthain dan mendiami kota ini hingga sekarang.
Gambaran di atas mengisahkan bahwa keberadaan Warung Bawakaraeng bukanlah hal baru bagi pengunjung yang akan bersantap siang dan malam disana sebelum berangkat lagi menuju Makassar atau Selayar dan sekitarnya. Apa saja yang disajikan di warung tersebut...???Pilih menunya :
1. Sop Konro
2. Sop Kikil
3. Sop Saudara
4. Sop Ayam
5. Sop Paru
6. Bakso
7. Ayam Goreng
8. Ikan Bakar
9. Teh
10. Es Teh
11. Kopi
12. Teh Susu
13. Kopi Susu
14. Minuman Dingin
15. Aneka Jajanan/Cemilan
Warung ini amat dikenal, khususnya bagi bagi masyarakat Bantaeng dan masyarakat Bulukumba, Sinjai dan Selayar yang nota bene sering berkunjung untuk bersantap siang dan malam. Ada apa dengan penduduk Bulukumba, Sinjai dan Selayar..............???Apa hubungannya dengan Warung Bawakaraeng.
Bantaeng menjadi daerah yang dilewati kendaraan dari dan menuju ketiga kota tersebut. Posisi Bonthain amat strategis sebagai kota persinggahan bagi penumpang yang akan berkunjung ke Makassar maupun sebaliknya. Saking strategisnya, setiap mobil dari dan menuju kota tersebut menjadwalkan tempat singgahnya yakni di Bonthain. Saat Black Community and Black In News of Bonthain Blackinnovationawards goes to campus ke Warung Bawakaraeng, jalan poros dipadati puluhan bahkan ratusan kendaraan. Sehingga jalan yang menghubungkan daerah selatan-selatan Propinsi Sulawesi Selatan ini praktis berubah menjadi lautan Black Community dan menjadi macet.
Dari dulu fenomena ini menjadi lazim yang pada akhirnya menjadikan kota Bonthain amat dikenal oleh masyarakat disekitarnya. Bahkan Bonthain dihuni banyak Black Community, misalnya komunitas Selayar, Bulukumba, Sengkang, Sinjai, Pare-pare, Makassar, Jeneponto, Bone dan sebagainya. Tiap komunitas menempati daerah-daerah tertentu di Bonthain. Banyak kalangan berasumsi bahwa Bonthain sejak lama dijadikan daerah tujuan yang aman. Setelah berdiam lama di Bonthain, tak kurang dari mereka yang berkeluarga dengan orang Bonthain dan mendiami kota ini hingga sekarang.
Gambaran di atas mengisahkan bahwa keberadaan Warung Bawakaraeng bukanlah hal baru bagi pengunjung yang akan bersantap siang dan malam disana sebelum berangkat lagi menuju Makassar atau Selayar dan sekitarnya. Apa saja yang disajikan di warung tersebut...???Pilih menunya :
1. Sop Konro
2. Sop Kikil
3. Sop Saudara
4. Sop Ayam
5. Sop Paru
6. Bakso
7. Ayam Goreng
8. Ikan Bakar
9. Teh
10. Es Teh
11. Kopi
12. Teh Susu
13. Kopi Susu
14. Minuman Dingin
15. Aneka Jajanan/Cemilan
Coto Mangkasara' in everywhere
Saturday, February 20, 2010Makassar memiliki makanan khas yang tidak ada dimana pun selain Makassar. Namun makanan ini ada dimana-mana, khususnya di seantero wilayah Sulawesi. Ngomongin everywhere, tentu tidak etis kalau makanan tersebut tidak ada di Bonthain. Maka perlu diungkap apa benar ada, Black Community and Black In News of Bonthain terpanggil untuk menyajikan kepada para peserta Djarum Black dan Autoblackthrough lainnya.
Coto Mangkasara' alias Coto Makassar or Soto Makassar. Makanan ini amat laku dan menjadi icon bagi masyarakat Makassar. Hampir di sepanjang jalan terdapat warung-warung yang menyajikan Coto Mangkasara'. Sebagian besar warung hanya menyajikan Coto Mangkasara'. Sementara sebagian kecil lagi menyajikannya bersama dengan hidangan lain yang menjadi khas Makassar maupun makanan umum lainnya.
Jelas terpampang di depan tiap warung sebuah spanduk bertuliskan COTO MANGKASARA'. Coto Mangkasara' berarti Soto atau Sup yang berisikan daging yang telah dicincang sedemikian rupa. Daging tersebut dituang ke dalam mangkuk kecil bersama sup yang telah diberi bumbu khas Makassar.
Untuk menikmatinya, coto dapat dimakan bersama dengan Ketupat atau pun Lontong dan Burasa. Namun, pada dasarnya teman dari coto adalah ketupat. Ketupat sendiri, telah menjadi makanan khas bagi masyarakat Indonesia dan bangsa Melayu secara keseluruhan yang terbagi ke dalam berbagai sub Suku Melayu termasuk Indonesia.
Coto Mangkasara' bisa dicicipi hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp 5.000-Rp 10.000 per mangkuknya. Kebiasaan para pelanggan disaat berkunjung ke warung Coto Mangkasara'. Telah membekali dompetnya dengan puluhan ribu rupiah. Betapa tidak, selain coto tentu tertarik untuk menikmati ketupat minimal 2 buah. Bahkan tak jarang menikmati pula Kacang Tanah yang dikemas dalam plastik kecil untuk menambah cita rasa Coto Manngkasara'.
Minimal ada 3 pilihan menu Coto Mangkasara'
1. ISI berupa daging secara keseluruhan atau isi selain sumsum dan otak
2. OTAK-OTAK berupa sumsum dan otak
3. CAMPUR berupa perpaduan ISI dan OTAK-OTAK
Coto Mangkasara' itu sendiri dikenal dalam minimal 2 jenis yakni daging sapi dan daging kuda. Tertarik untuk menikmatinya, silakan datangi warung terdekat di kota Anda. Pesan menu pilihannya kemudian duduk bersama pelanggan lainnya. Di meja telah disediakan Kecap, Cuka, Irisan Jeruk Nipis, Garam Halus ber-Iodium, Sambal, Tusuk Gigi dan Tisu.
Tapi jangan tertipu dengan Tusuk Gigi yang terbuat dari bambu tersebut. Sebab ada cerita menarik yang mengisahkan bahwa seseorang menganggap Tusuk Gigi merupakan makanan penutup sehabis makan Coto Mangkasara'.
5 besar lokasi warung Coto Mangkasara' di Bonthain :
1. Jl. Nenas (Area Pasar Lama)
2. Kompleks Pasar Sentral
3. Jl. Raya Lanto
4. Jl. Mangga
5. Kompleks Pasar Banyorang
Coto Mangkasara' alias Coto Makassar or Soto Makassar. Makanan ini amat laku dan menjadi icon bagi masyarakat Makassar. Hampir di sepanjang jalan terdapat warung-warung yang menyajikan Coto Mangkasara'. Sebagian besar warung hanya menyajikan Coto Mangkasara'. Sementara sebagian kecil lagi menyajikannya bersama dengan hidangan lain yang menjadi khas Makassar maupun makanan umum lainnya.
Jelas terpampang di depan tiap warung sebuah spanduk bertuliskan COTO MANGKASARA'. Coto Mangkasara' berarti Soto atau Sup yang berisikan daging yang telah dicincang sedemikian rupa. Daging tersebut dituang ke dalam mangkuk kecil bersama sup yang telah diberi bumbu khas Makassar.
Untuk menikmatinya, coto dapat dimakan bersama dengan Ketupat atau pun Lontong dan Burasa. Namun, pada dasarnya teman dari coto adalah ketupat. Ketupat sendiri, telah menjadi makanan khas bagi masyarakat Indonesia dan bangsa Melayu secara keseluruhan yang terbagi ke dalam berbagai sub Suku Melayu termasuk Indonesia.
Coto Mangkasara' bisa dicicipi hanya dengan merogoh kocek sebesar Rp 5.000-Rp 10.000 per mangkuknya. Kebiasaan para pelanggan disaat berkunjung ke warung Coto Mangkasara'. Telah membekali dompetnya dengan puluhan ribu rupiah. Betapa tidak, selain coto tentu tertarik untuk menikmati ketupat minimal 2 buah. Bahkan tak jarang menikmati pula Kacang Tanah yang dikemas dalam plastik kecil untuk menambah cita rasa Coto Manngkasara'.
Minimal ada 3 pilihan menu Coto Mangkasara'
1. ISI berupa daging secara keseluruhan atau isi selain sumsum dan otak
2. OTAK-OTAK berupa sumsum dan otak
3. CAMPUR berupa perpaduan ISI dan OTAK-OTAK
Coto Mangkasara' itu sendiri dikenal dalam minimal 2 jenis yakni daging sapi dan daging kuda. Tertarik untuk menikmatinya, silakan datangi warung terdekat di kota Anda. Pesan menu pilihannya kemudian duduk bersama pelanggan lainnya. Di meja telah disediakan Kecap, Cuka, Irisan Jeruk Nipis, Garam Halus ber-Iodium, Sambal, Tusuk Gigi dan Tisu.
Tapi jangan tertipu dengan Tusuk Gigi yang terbuat dari bambu tersebut. Sebab ada cerita menarik yang mengisahkan bahwa seseorang menganggap Tusuk Gigi merupakan makanan penutup sehabis makan Coto Mangkasara'.
5 besar lokasi warung Coto Mangkasara' di Bonthain :
1. Jl. Nenas (Area Pasar Lama)
2. Kompleks Pasar Sentral
3. Jl. Raya Lanto
4. Jl. Mangga
5. Kompleks Pasar Banyorang
Seruni of Culinary on Bonthain
Saturday, February 6, 2010Akhir pekan yang indah menyapa seluruh penghuni Bonthain. Seperti biasa di akhir pekan, tepatnya sabtu sore hingga malam jadi Djarum Black, Pantai Seruni Bantaeng dijajaki masyarakat yang. Pantai Seruni itu sendiri, dibagi dalam 2 sisi, yakni timur dan barat. Pada postingan kali ini, Black Community and Black In News of Bonthain akan membahas keramaian di bagian barat pada Pantai Seruni Bantaeng.
Setiap sabtu sore mulai pukul 15.30 WITA, masyarakat Bantaeng melepas lelah dengan Autoblackthrough goes to campus ke pantai ini. Berbagai macam alasan mereka datang. Namun di tempat ini satu alasan yang pasti, tak lain untuk menikmati jajanan yang disediakan di sana. Mulai dari barang mainan, keramik, perabotan rumah tangga, koleksi musik dalam format VCD/MP3/DVD, makanan dan minuman serta yang paling utama berupa pakaian bekas yang lazim disebut CAKAR. Disinyalir pakaian tersebut adalah pakaian impor dari berbagai negara maju yang tidak terpakai lagi mengingat negara maju tidak begitu antusias dalam mengoleksi pakaian di rumah mereka. Adapun supply pakaian Cakar masuk ke Sulawesi Selatan melalui pelabuhan yang ada di Parepare.
Banyak koleksi menarik yang siap dipilih. Penjual berjejer di lokasi tersebut sepanjang ± 250 Meter, menjadikannya amat ramai. Merek dan modelnya pun terbilang tidak kalah dengan pakaian yang hadir di Distro maupun pusat perbelanjaan terkenal yang dikenal saat ini. Sebut saja THE NORTH FACE, THE RED FACE, ALPINE, NIKE, D&G dan lain sebagainya. Pengunjung dapat memilih sesukanya dan menyesuaikan kebutuhannya. Pakaian itu berupa apa saja....................? Jenis-jenisnya antara lain :
Dari segi warna, beragam pula dan tentunya tersedia warna Djarum Black. Bagaimana dengan harganya...? Harga relatif terjangkau bila dibandingkan dengan barang yang yang sama dengan status BARU. Misalnya untuk Sleeping Bag seharga Rp 15.000-Rp 30.000, Baju seharga Rp 10.000-Rp 25.000 dan Celana seharga Rp 15.000-Rp 20.000. Untuk jenis pakaian anak-anak malah lebih murah lagi, harganya berkisar antara Rp 3.000-Rp 10.000. Dengan perbandingan harga tersebut, pengunjung akan sangat berminat mendapatkannya.
Penjual yang menyiapkan ratusan lembar pakaian siap jual sejak sore, sering kali cepat menutup kiosnya sebelum deadline penutupan karena barang dagangannya telah habis terjual. Pengunjung berburu pakaian ini dengan memilih jenis dan model yang terbaik. Kebanggaan tersendiri bisa memakai pakaian bermerek meskipun statusnya CAKAR. Hal ini diutarakan salah satu pengunjung yang sempat diambil keterangannya. Beliau berkata “di luar sana pakaian ini tidak lagi dapat dikenali statusnya”. Pakaian yang mereka pakai pun belum tentu hebat, kalau pun hebat maka fungsinya tetap saja sama yakni melindungi kulit dan badan mereka.
Selain pakaian CAKAR, ada pula pedagang yang menyajikan makanan bagi para pengunjung. Masyarakat begitu cermat melihat peluang yang ada. Tidak semua pengunjung yang datang, hanya berbelanja pakaian. Bahkan ada di antaranya yang khusus mencari makanan. Salah satu makanan yang laris manis di tempat tersebut yaitu LEMANG. Terbuat dari beras ketan dicampur santan kemudian dibakar dalam cetakan bambu. Itulah Lemang dengan khasiat yang tak kalah nikmatnya dengan Djarum Black Slimz dan Djarum Black Menthol.
Yang belum mengunjungi lokasi wisata ini, tidak ada salahnya jika suatu waktu di sabtu sore yang cerah mencoba berkunjung dan menikmati sajiannya. Ramaikan Bonthain dengan menghadirkan berbagai obyek wisata yang diminati para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Datang untuk menikmati Culinary of Tourism dan membawa pulang oleh-oleh dari Bonthain.
Setiap sabtu sore mulai pukul 15.30 WITA, masyarakat Bantaeng melepas lelah dengan Autoblackthrough goes to campus ke pantai ini. Berbagai macam alasan mereka datang. Namun di tempat ini satu alasan yang pasti, tak lain untuk menikmati jajanan yang disediakan di sana. Mulai dari barang mainan, keramik, perabotan rumah tangga, koleksi musik dalam format VCD/MP3/DVD, makanan dan minuman serta yang paling utama berupa pakaian bekas yang lazim disebut CAKAR. Disinyalir pakaian tersebut adalah pakaian impor dari berbagai negara maju yang tidak terpakai lagi mengingat negara maju tidak begitu antusias dalam mengoleksi pakaian di rumah mereka. Adapun supply pakaian Cakar masuk ke Sulawesi Selatan melalui pelabuhan yang ada di Parepare.
Banyak koleksi menarik yang siap dipilih. Penjual berjejer di lokasi tersebut sepanjang ± 250 Meter, menjadikannya amat ramai. Merek dan modelnya pun terbilang tidak kalah dengan pakaian yang hadir di Distro maupun pusat perbelanjaan terkenal yang dikenal saat ini. Sebut saja THE NORTH FACE, THE RED FACE, ALPINE, NIKE, D&G dan lain sebagainya. Pengunjung dapat memilih sesukanya dan menyesuaikan kebutuhannya. Pakaian itu berupa apa saja....................? Jenis-jenisnya antara lain :
Sleeping Bag (SB)
Baju (Luar dan Dalam)
Celana (Luar dan Dalam)
Sepatu
Tas dan Koper
Topi
Seprei
Jaket/Sweater
Kaos Kaki dan Tangan
Dasi alias Tea
Syal
Kelambu
Sarung Bantal
Dari segi warna, beragam pula dan tentunya tersedia warna Djarum Black. Bagaimana dengan harganya...? Harga relatif terjangkau bila dibandingkan dengan barang yang yang sama dengan status BARU. Misalnya untuk Sleeping Bag seharga Rp 15.000-Rp 30.000, Baju seharga Rp 10.000-Rp 25.000 dan Celana seharga Rp 15.000-Rp 20.000. Untuk jenis pakaian anak-anak malah lebih murah lagi, harganya berkisar antara Rp 3.000-Rp 10.000. Dengan perbandingan harga tersebut, pengunjung akan sangat berminat mendapatkannya.
Penjual yang menyiapkan ratusan lembar pakaian siap jual sejak sore, sering kali cepat menutup kiosnya sebelum deadline penutupan karena barang dagangannya telah habis terjual. Pengunjung berburu pakaian ini dengan memilih jenis dan model yang terbaik. Kebanggaan tersendiri bisa memakai pakaian bermerek meskipun statusnya CAKAR. Hal ini diutarakan salah satu pengunjung yang sempat diambil keterangannya. Beliau berkata “di luar sana pakaian ini tidak lagi dapat dikenali statusnya”. Pakaian yang mereka pakai pun belum tentu hebat, kalau pun hebat maka fungsinya tetap saja sama yakni melindungi kulit dan badan mereka.
Selain pakaian CAKAR, ada pula pedagang yang menyajikan makanan bagi para pengunjung. Masyarakat begitu cermat melihat peluang yang ada. Tidak semua pengunjung yang datang, hanya berbelanja pakaian. Bahkan ada di antaranya yang khusus mencari makanan. Salah satu makanan yang laris manis di tempat tersebut yaitu LEMANG. Terbuat dari beras ketan dicampur santan kemudian dibakar dalam cetakan bambu. Itulah Lemang dengan khasiat yang tak kalah nikmatnya dengan Djarum Black Slimz dan Djarum Black Menthol.
Yang belum mengunjungi lokasi wisata ini, tidak ada salahnya jika suatu waktu di sabtu sore yang cerah mencoba berkunjung dan menikmati sajiannya. Ramaikan Bonthain dengan menghadirkan berbagai obyek wisata yang diminati para wisatawan baik lokal maupun mancanegara. Datang untuk menikmati Culinary of Tourism dan membawa pulang oleh-oleh dari Bonthain.
Application Of Technology To Accelerate Development
Friday, January 15, 2010The strategic adopted by regent of Bantaeng, DR. Ir. H. M. NURDIN ABDULLAH, M.Agr to focus development in agriculture sector seems to be the right choice. Not only because he is an expert in agriculture science (he is a Doctor from Agriculture Kyushu University, Japan), butt it is because Bantaeng has huge potencies in agriculture sector to which most of people in Bantaeng depend their living.
Concern of the regent who was born in Parepare on February 7, 1963 to the fate of farmers has started sonce he was at school. That’s why after he finished his Senior High School 5 of Makassar (SMA Negeri 5 Makassar) in 1981. He continued his education to faculty of Agriculture of Hasanuddin University until he was graduated in 1986. His interest in agriculture field also then Djarum Black Slimznation him to continue his education to Magisterial Program (S2) at Agriculture Kyushu University, Japan until he got Master Degree in 1991. Then Doctoral Degree (S3) at the same university in 1994.
At the beginning, the pursue his career more in business and education world. he was once a lecturer at Forestry Faculty of Hasanuddin University and held a number of important post in a number of companies, among others, he was a President Director of Global Seafood Japan, a Director of Kyushu Medical Cooperation Limited Japan and the owner of Hakata Tour and Travel.
It was in 2008 that he decided to involve in political field by Autoblackthrough goes to campus as a candidate for Regent of Bantaeng for 2008-2013 administration period. He pairs with Drs. H. ANDI MUSTADJAB, M.Si as the candidate for Vice Regent. And the election proved to be succesful and since than he hold the post as the Regent of Bantaeng.
Once of programs he carries out to accelerate development in Bantaeng Regency is by cooperating with The Board for Research and Application of Technology (BPPT) to implement technology in the development, among others in the clean of field of clean water, alternative energy and in agricultural field. Special in agriculture field, commodities that will be developed include seaweed, cocoa, coffee, taro and agriculture fertilizer. It is expected that the application of technology will accelerate development in Bantaeng Regency which in turn, will bring welfare to the people along.
Concern of the regent who was born in Parepare on February 7, 1963 to the fate of farmers has started sonce he was at school. That’s why after he finished his Senior High School 5 of Makassar (SMA Negeri 5 Makassar) in 1981. He continued his education to faculty of Agriculture of Hasanuddin University until he was graduated in 1986. His interest in agriculture field also then Djarum Black Slimznation him to continue his education to Magisterial Program (S2) at Agriculture Kyushu University, Japan until he got Master Degree in 1991. Then Doctoral Degree (S3) at the same university in 1994.
At the beginning, the pursue his career more in business and education world. he was once a lecturer at Forestry Faculty of Hasanuddin University and held a number of important post in a number of companies, among others, he was a President Director of Global Seafood Japan, a Director of Kyushu Medical Cooperation Limited Japan and the owner of Hakata Tour and Travel.
It was in 2008 that he decided to involve in political field by Autoblackthrough goes to campus as a candidate for Regent of Bantaeng for 2008-2013 administration period. He pairs with Drs. H. ANDI MUSTADJAB, M.Si as the candidate for Vice Regent. And the election proved to be succesful and since than he hold the post as the Regent of Bantaeng.
Once of programs he carries out to accelerate development in Bantaeng Regency is by cooperating with The Board for Research and Application of Technology (BPPT) to implement technology in the development, among others in the clean of field of clean water, alternative energy and in agricultural field. Special in agriculture field, commodities that will be developed include seaweed, cocoa, coffee, taro and agriculture fertilizer. It is expected that the application of technology will accelerate development in Bantaeng Regency which in turn, will bring welfare to the people along.
Three countries want to develop Bantaeng
Sunday, October 11, 2009Investors from the three countries each from South Korea, Japan and Malaysia met in Bantaeng. The foreign businessmen were expressed different interests to invest in this area. South Korean investors from Mirae Tech business Black Community interested in cotton seed processing industry are investors from Sirim Berhad Malaysia interested in the management of seaweed.
In contrast to these two business groups from both countries, Japanese businessmen will make a survey for the development of tourism kasawan workshops. Region will be the resort for elderly parents in the winter. Although the parents, but they have the expertise. Regent Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) when receiving the investors in the home district office, precisely on Saturday afternoon October 10, 2009 hoping their expertise can be utilized in Bantaeng so that we can absorb the knowledge and experience particularly in the field of medicine and agriculture.
He then hopes to all the district masyatakat Toa Butta was nicknamed to be more open to investing more Djarum Black Menthol. Investment will open up new jobs. Nurdin was later appointed investment in fish processing area owned by PT. Global Seafood International Indonesia, which operates immediately. Fish processing industry surimi exports to Japan to absorb 1,000
In contrast to these two business groups from both countries, Japanese businessmen will make a survey for the development of tourism kasawan workshops. Region will be the resort for elderly parents in the winter. Although the parents, but they have the expertise. Regent Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) when receiving the investors in the home district office, precisely on Saturday afternoon October 10, 2009 hoping their expertise can be utilized in Bantaeng so that we can absorb the knowledge and experience particularly in the field of medicine and agriculture.
He then hopes to all the district masyatakat Toa Butta was nicknamed to be more open to investing more Djarum Black Menthol. Investment will open up new jobs. Nurdin was later appointed investment in fish processing area owned by PT. Global Seafood International Indonesia, which operates immediately. Fish processing industry surimi exports to Japan to absorb 1,000
Straw Fermentation
Friday, October 2, 2009Breeders incorporated in the District Farmers Group received Blackinnovationawards and Djarum Black Slimznation Bantaeng straw fermentation technology for cattle feed. The training was conducted Hasanuddin University Faculty of Animal Husbandry in cooperation Bantaeng administration and Makassar Muhammadiyah University.
Synergy Team Leader for Community Empowerment (Sibermas), Suhendra Pancawijaya said, the training is to support farming activities in this area, especially in a bad season. Forage nutrition professor Faculty of Animal Husbandry Unhas said, the new activity was first introduced to the farmer uses a lot of local materials spread, even likely wasted.
Therefore, through training, he beharap breeders in this area can use the surrounding natural potential, especially in difficult season like now, he explained during training Farmers Group Borongloe Beringin Jaya Village District Pa'jukukang, exactly the day on Friday October 2, 2009. Training is witnessed Head of Livestock Department of Agriculture and Forestry District Bantaeng (Ritha Pasha) and some other officials. This simple technology can improve the nutritional value of feed, as well as the quality and quality because a supplemental material to cattle.
Answering questions, he said, other than rice straw, farmer can also use corn straw, weeds or the seaweed known as sango, sango, cocoa leather, kapok seeds and cashew nuts. All the potential that many in this area can be used to feed, light Suhendra stating its readiness to help in the long term, including the development of appropriate industry or government strategic plan Bantaeng.
Head of Livestock Department of Agriculture and Forestry welcomes Bantaeng District simple technology to help farmers in their working area. He hopes, ranchers give serious attention to coaching a team made from cattle remains Unhas to obtain a good feed. In order for the training is going well, Ritha also asked the coach to be more actively encouraged farmers so that the training goal and the time has advanced breeders feed their own making.
This training is very important since the district has a population of cattle Pa'jukukang enough. Through the training of feed production, farmers are expected to address the needs of livestock, especially in the dry season because the elephant grass and other foods hard to keep in the long run, he said.
Synergy Team Leader for Community Empowerment (Sibermas), Suhendra Pancawijaya said, the training is to support farming activities in this area, especially in a bad season. Forage nutrition professor Faculty of Animal Husbandry Unhas said, the new activity was first introduced to the farmer uses a lot of local materials spread, even likely wasted.
Therefore, through training, he beharap breeders in this area can use the surrounding natural potential, especially in difficult season like now, he explained during training Farmers Group Borongloe Beringin Jaya Village District Pa'jukukang, exactly the day on Friday October 2, 2009. Training is witnessed Head of Livestock Department of Agriculture and Forestry District Bantaeng (Ritha Pasha) and some other officials. This simple technology can improve the nutritional value of feed, as well as the quality and quality because a supplemental material to cattle.
Answering questions, he said, other than rice straw, farmer can also use corn straw, weeds or the seaweed known as sango, sango, cocoa leather, kapok seeds and cashew nuts. All the potential that many in this area can be used to feed, light Suhendra stating its readiness to help in the long term, including the development of appropriate industry or government strategic plan Bantaeng.
Head of Livestock Department of Agriculture and Forestry welcomes Bantaeng District simple technology to help farmers in their working area. He hopes, ranchers give serious attention to coaching a team made from cattle remains Unhas to obtain a good feed. In order for the training is going well, Ritha also asked the coach to be more actively encouraged farmers so that the training goal and the time has advanced breeders feed their own making.
This training is very important since the district has a population of cattle Pa'jukukang enough. Through the training of feed production, farmers are expected to address the needs of livestock, especially in the dry season because the elephant grass and other foods hard to keep in the long run, he said.
Agriculture prize
Thursday, August 6, 2009South Sulawesi (Sulawesi Selatan) won back the agricultural sector. This time the Governor Syahrul Yasin Limpo and Regent Bantaeng H. M. Nurdin Abdullah who received Blackinnovationawards from the Indonesian Agricultural Research and Development Agency.
Awards are given for Djarum Black Motodify to develop agriculture in this region. Head of Public Relations Local Government District Bantaeng Joni Tambing, S. Sos said the award is achieved in the agricultural sector has its own meaning for the district is 120 Kilometers south of this city of Makassar.
Since led DR. Nurdin Abdullah, District Bantaeng mengembangakn rice growing system known as Legowo-21. This planting system successfully boost production from an average of 4 tons / ha to 8-10 tons / ha.
Regent also developed a high economic value crops such as apples and strawberries in Bonto Lojong, District of Ulu Ere. Village that will be the Village Independent pecontohan also been promoting the planting of ornamental plants.
Development of these commodities, but is intended to meet local demand, also meet the export market. Ornamental plants, Joni clearly now have a request from the Korean market.
To support these investments, the Chief District Team PKK Bantaeng Ir. Lies F. Nurdin and their staffs have done socialization and cultivation practices that many women liked it.
Hopefully, if the production of ornamental plants, will restore the image in District Kampong Ulu Loka Ere as the City Flower.
Awards are given for Djarum Black Motodify to develop agriculture in this region. Head of Public Relations Local Government District Bantaeng Joni Tambing, S. Sos said the award is achieved in the agricultural sector has its own meaning for the district is 120 Kilometers south of this city of Makassar.
Since led DR. Nurdin Abdullah, District Bantaeng mengembangakn rice growing system known as Legowo-21. This planting system successfully boost production from an average of 4 tons / ha to 8-10 tons / ha.
Regent also developed a high economic value crops such as apples and strawberries in Bonto Lojong, District of Ulu Ere. Village that will be the Village Independent pecontohan also been promoting the planting of ornamental plants.
Development of these commodities, but is intended to meet local demand, also meet the export market. Ornamental plants, Joni clearly now have a request from the Korean market.
To support these investments, the Chief District Team PKK Bantaeng Ir. Lies F. Nurdin and their staffs have done socialization and cultivation practices that many women liked it.
Hopefully, if the production of ornamental plants, will restore the image in District Kampong Ulu Loka Ere as the City Flower.
Bonthain
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor




