Showing posts with label Japan. Show all posts
Showing posts with label Japan. Show all posts
ToyoAce - Hasil Memulung di Jepang
Tuesday, January 27, 2015
Pantai Seruni kembali diramaikan ceremonial event dalam rangka Serah Terima bantuan hibah dari negeri Sakura.
Mobil Damkar sebanyak 6 unit, masing-masing mobil bermerek Toyota dengan tipe Hiace (nama kerennya : ToyoAce), terdiri dari 5 unit ukuran standar beroda 4 dan 1 unit ukuran mini yang juga beroda 4.
Mobil Ambulance (Paramedic Car) sebanyak 1 unit dilengkapi teknologi modern. Kemampuan armada ini dapat membantu Tim Medis melakukan operasi ringan dan beberapa tindakan penyelamatan darurat sebelum tiba di rumah sakit.
Mobil Bus Pariwisata sebanyak 1 unit dengan kapasitas 20 orang. Nantinya diharapkan dimanfaatkan untuk beberapa fungsi, antara lain transportasi pariwisata dan penjemputan tamu.
Ketiga jenis mobil tersebut merupakan mobil matic. Meski bukan mobil yang baru dibuka dari plastiknya, mobil tersebut terbilang belum terlalu tua. Jarak tempuh penggunaanya di Jepang pada kisaran 200.000 Km/unitnya (sesuai data pabrikan yang resmi dan kondisi fisik Speedometer).
Pemerintah Kabupaten Bantaeng sangat senang dengan semua sumbangsih Jepang selama ini. Kami haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Jepang, khususnya Ehime Toyota. Manfaat yang begitu besar dirasakan seluruh masyarakat Kabupaten Bantaeng dengan hadirnya armada dalam bentuk bantuan hibah ini. Tentunya menjadi tanggung jawab bersama Pemerintah dan masyarakat Butta Toa dalam menjaganya, tutur H. M. Nurdin Abdullah (Bupati Bantaeng).
Ditambahkan oleh orang nomor satu di daerah ini, APBD kita tidak mampu menyiapkan armada sebanyak ini. Sehingga kita patut bersyukur dan berterima kasih.
Tak hanya Kabupaten Bantaeng yang telah mendapatkan bantuan hibah. Daerah lainnya antara lain Kota Makassar sebanyak 17 unit Mobil Damkar dan 1 unit Mobil Ambulance, Kabupaten Jeneponto sebanyak 1 unit Mobil Damkar, Kabupaten Takalar sebanyak 1 unit Mobil Damkar dan Kabupaten Pinrang sebanyak 3 unit Mobil Damkar serta Kabupaten Gunung Kidul di tanah Jawa. Sementara untuk Kota Pare-pare dan Kabupaten Jeneponto yang rencananya kembali akan mendapat bantuan hibah, saat ini Mobil Damkar dalam proses pengiriman dari Jepang menuju Indonesia.
Kehadiran armada pada hari ini, oleh Pemerintah Kabupaten Bantaeng disiapkan untuk memperkuat layanan Brigade Siaga Bencana (BSB) Bonthain pada tingkat kecamatan. BSB yang di dalamnya antara lain mencakup unit Pemadam Kebakaran dan Tim Medis telah dibentuk pada beberapa kecamatan yakni Kecamatan Ulu Ere, Kecamatan Pa'jukukang dan Kecamatan Tompobulu. Ketiganya menjadi prioritas utama dengan pertimbangan jarak yang relatif jauh dari pusat Kota Bantaeng (markas utama BSB Bonthain).
Selamat kepada Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Bantaeng serta terima kasih kepada semua pihak yang berperan aktif didalamnya.
Mobil Damkar sebanyak 6 unit, masing-masing mobil bermerek Toyota dengan tipe Hiace (nama kerennya : ToyoAce), terdiri dari 5 unit ukuran standar beroda 4 dan 1 unit ukuran mini yang juga beroda 4.
Mobil Ambulance (Paramedic Car) sebanyak 1 unit dilengkapi teknologi modern. Kemampuan armada ini dapat membantu Tim Medis melakukan operasi ringan dan beberapa tindakan penyelamatan darurat sebelum tiba di rumah sakit.
Mobil Bus Pariwisata sebanyak 1 unit dengan kapasitas 20 orang. Nantinya diharapkan dimanfaatkan untuk beberapa fungsi, antara lain transportasi pariwisata dan penjemputan tamu.
Ketiga jenis mobil tersebut merupakan mobil matic. Meski bukan mobil yang baru dibuka dari plastiknya, mobil tersebut terbilang belum terlalu tua. Jarak tempuh penggunaanya di Jepang pada kisaran 200.000 Km/unitnya (sesuai data pabrikan yang resmi dan kondisi fisik Speedometer).
Pemerintah Kabupaten Bantaeng sangat senang dengan semua sumbangsih Jepang selama ini. Kami haturkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Jepang, khususnya Ehime Toyota. Manfaat yang begitu besar dirasakan seluruh masyarakat Kabupaten Bantaeng dengan hadirnya armada dalam bentuk bantuan hibah ini. Tentunya menjadi tanggung jawab bersama Pemerintah dan masyarakat Butta Toa dalam menjaganya, tutur H. M. Nurdin Abdullah (Bupati Bantaeng).
Ditambahkan oleh orang nomor satu di daerah ini, APBD kita tidak mampu menyiapkan armada sebanyak ini. Sehingga kita patut bersyukur dan berterima kasih.
Tak hanya Kabupaten Bantaeng yang telah mendapatkan bantuan hibah. Daerah lainnya antara lain Kota Makassar sebanyak 17 unit Mobil Damkar dan 1 unit Mobil Ambulance, Kabupaten Jeneponto sebanyak 1 unit Mobil Damkar, Kabupaten Takalar sebanyak 1 unit Mobil Damkar dan Kabupaten Pinrang sebanyak 3 unit Mobil Damkar serta Kabupaten Gunung Kidul di tanah Jawa. Sementara untuk Kota Pare-pare dan Kabupaten Jeneponto yang rencananya kembali akan mendapat bantuan hibah, saat ini Mobil Damkar dalam proses pengiriman dari Jepang menuju Indonesia.
Kehadiran armada pada hari ini, oleh Pemerintah Kabupaten Bantaeng disiapkan untuk memperkuat layanan Brigade Siaga Bencana (BSB) Bonthain pada tingkat kecamatan. BSB yang di dalamnya antara lain mencakup unit Pemadam Kebakaran dan Tim Medis telah dibentuk pada beberapa kecamatan yakni Kecamatan Ulu Ere, Kecamatan Pa'jukukang dan Kecamatan Tompobulu. Ketiganya menjadi prioritas utama dengan pertimbangan jarak yang relatif jauh dari pusat Kota Bantaeng (markas utama BSB Bonthain).
Selamat kepada Pemerintah dan Masyarakat Kabupaten Bantaeng serta terima kasih kepada semua pihak yang berperan aktif didalamnya.
7 Unit Damkar Siap Menghuni Bonthain
Monday, March 3, 2014
Gebrakan demi gebrakan dilakukan The Doctor of Bonthain. Sejak memimpin Bantaeng Butta Toa di awal tahun 2008 silam, berbagai perubahan nampak berseliwerang di Kabupaten Bantaeng. Pemadam Kebakaran tidak terlepas dari perhatiannya. Bahkan tercurah perhatian yang amat besar terhadap unit kerja yang berada di bawah pengawasan langsung Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda) Kabupaten Bantaeng.
Mimpi H. M. Nurdin Abdullah telah tercipta dengan dijadikannya Kabupaten Bantaeng sebagai daerah percontohan nasional, khususnya di bidang penanganan bencana. Kabupaten Bantaeng semakin dikenal di kancah nasional berkat kesigapan aparatur yang bertugas di Brigade Siaga Bencana (BSB) Bonthain. Didalamnnya terdapat unit respon yang siap siaga selama 24 jam sehari, antara lain Pemadam Kebakaran, Medis, ORARI, PMI dan Tagana.
Tahun 2014, Bonthain akan kedatangan kembali beberapa unit kendaraan dengan teknologi modern untuk memperkuat Brigade Siaga Bencana Bonthain, yakni :
The Doctor of Bonthain (sapaan akrab H. M. Nurdin Abdullah) mengajak kepada seluruh peserta Apel untuk mengheningkan cipta sejenak, mengirimkan do'a kepada almarhum Ilham (Boby) yang telah meninggal dunia beberapa waktu lalu saat menjalankan tugasnya sebagai Satgas Pemadam Kebakaran. Dalam kesempatan tersebut, H. M. Nurdin Abdullah membacakan Sambutan Tertulis Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia (Gamawan Fauzi) yang berlangsung sekitar 20 menit.
Gamawan Fauzi mengajak kepada seluruh Pemerintah Daerah untuk proaktif melakukan penanganan kebakaran secara preventif bukan sekedar responsif saja. Asap yang ditimbulkan dari kebakaran, baik lingkungan permukiman maupun hutan mmemberi dampak yang sangat signifikan terhadap meningkatnya emisi gas sampai pada angka 470 Mega Ton. Asap tersebut seringkali menjadi faktor perselisihan, mengingat asap mampu melintasi batas wilayah daerah dan batas wilayah negara yang menimbulkan protes dari negara lain.
Peringatan HUT Damkar ke-95 kali ini mengambil tema "Mari kita cegah bersama kebakaran dan bencana pencemaran asap untuk mendukung lingkungan hidup dan penurunan emisi gas rumah kaca". Pemerintah Daerah selayaknya melakukan serangkaian penanganan kebakaran melalui sosialisasi terhadap bahaya kebakaran dan inspeksi terhadap kepemilikan peralatan standar pemadam kebakaran kepada pemilik usaha maupun masyarakat. Sehingga emisi gas dapat dikurangi dalam rangka peningkatan kualitas lingkungan yang lebih nyaman dan sejuk.
Hal senada disampaikan pula oleh H. Abdullah Taibe (Kepala Bapedalda Kabupaten Bantaeng) kepada Tim Bonthain setelah apel pagi tadi. Dikonfirmasi perihal waktu kedatangan mobil tersebut, H. Abdullah Taibe mengungkapkan, "Dalam waktu dekat, Bupati Bantaeng akan melakukan sejumlah kunjungan ke Jepang untuk membahas proses pengiriman kendaraan tersebut menuju Indonesia hingga tiba di Kabupaten Bantaeng."
Mimpi H. M. Nurdin Abdullah telah tercipta dengan dijadikannya Kabupaten Bantaeng sebagai daerah percontohan nasional, khususnya di bidang penanganan bencana. Kabupaten Bantaeng semakin dikenal di kancah nasional berkat kesigapan aparatur yang bertugas di Brigade Siaga Bencana (BSB) Bonthain. Didalamnnya terdapat unit respon yang siap siaga selama 24 jam sehari, antara lain Pemadam Kebakaran, Medis, ORARI, PMI dan Tagana.
Tahun 2014, Bonthain akan kedatangan kembali beberapa unit kendaraan dengan teknologi modern untuk memperkuat Brigade Siaga Bencana Bonthain, yakni :
- 1 Unit Mobil Pemadam Kebakaran dengan fasilitas Lift yang kapasitasnya lebih kecil dari Mobil Damkar yang sudah ada sebelumnya.
- 1 Unit Mobil Pemadam Kebakaran dengan kapasitas angkat 2 Ton yang juga dilengkapi dengan fasilitas Lift.
- 5 Unit Mobil Pemadam Kebakaran untuk skala kecil/biasa.
- 2 Unit Mobil Ambulance berteknologi modern yang mampu melakukan ICU berjalan dengan merek Nissan Elgrand.
- 1 Unit Mobil Bis.
The Doctor of Bonthain (sapaan akrab H. M. Nurdin Abdullah) mengajak kepada seluruh peserta Apel untuk mengheningkan cipta sejenak, mengirimkan do'a kepada almarhum Ilham (Boby) yang telah meninggal dunia beberapa waktu lalu saat menjalankan tugasnya sebagai Satgas Pemadam Kebakaran. Dalam kesempatan tersebut, H. M. Nurdin Abdullah membacakan Sambutan Tertulis Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia (Gamawan Fauzi) yang berlangsung sekitar 20 menit.
Gamawan Fauzi mengajak kepada seluruh Pemerintah Daerah untuk proaktif melakukan penanganan kebakaran secara preventif bukan sekedar responsif saja. Asap yang ditimbulkan dari kebakaran, baik lingkungan permukiman maupun hutan mmemberi dampak yang sangat signifikan terhadap meningkatnya emisi gas sampai pada angka 470 Mega Ton. Asap tersebut seringkali menjadi faktor perselisihan, mengingat asap mampu melintasi batas wilayah daerah dan batas wilayah negara yang menimbulkan protes dari negara lain.
Peringatan HUT Damkar ke-95 kali ini mengambil tema "Mari kita cegah bersama kebakaran dan bencana pencemaran asap untuk mendukung lingkungan hidup dan penurunan emisi gas rumah kaca". Pemerintah Daerah selayaknya melakukan serangkaian penanganan kebakaran melalui sosialisasi terhadap bahaya kebakaran dan inspeksi terhadap kepemilikan peralatan standar pemadam kebakaran kepada pemilik usaha maupun masyarakat. Sehingga emisi gas dapat dikurangi dalam rangka peningkatan kualitas lingkungan yang lebih nyaman dan sejuk.
Hal senada disampaikan pula oleh H. Abdullah Taibe (Kepala Bapedalda Kabupaten Bantaeng) kepada Tim Bonthain setelah apel pagi tadi. Dikonfirmasi perihal waktu kedatangan mobil tersebut, H. Abdullah Taibe mengungkapkan, "Dalam waktu dekat, Bupati Bantaeng akan melakukan sejumlah kunjungan ke Jepang untuk membahas proses pengiriman kendaraan tersebut menuju Indonesia hingga tiba di Kabupaten Bantaeng."
Boby bukan Damkar biasa
Thursday, October 17, 2013
Bonthain berkabung sepeninggal salah seorang tokoh muda Bantaeng. Ilham bin Ridwan yang kerap disapa Boby, meninggalkan seorang isteri dan 2 orang anak. Boby dikenal oleh hampir semua warga Kabupaten Bantaeng, mulai dari masyarakat biasa, pengusaha, pihak berwajib hingga pejabat Pemerintah Kabupaten Bantaeng. Bahkan, dikenal sampai ke kota Bulukumba, Sinjai, Selayar, Jeneponto, Gowa, Takalar dan Jeneponto serta negeri seberang yakni Jepang. Sosok beliau yang ramah, giat dan tekun dalam bekerja serta penuh tanggung jawab menjadikannya sebagai tokoh teladan bagi banyak pihak.
Dalam kesehariannya, Boby aktif sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil pada Unit Satuan Tugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Bantaeng. Damkar merupakan salah satu unit yang tergabung ke dalam Brigade Siaga Bencana (BSB) Bonthain, di bawah koordinasi langsung/induk Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda) Kabupaten Bantaeng.
Pahlawan layak disandangnya, sehingga Pemerintah Kabupaten Bantaeng menganugerahi Penghargaan berupa Kenaikan Pangkat 1 Tingkat Anumerta menjadi Golongan II/c. "Pemerintah Kabupaten Bantaeng dan segenap masyarakat merasakan kesedihan yang mendalam. Atas nama Pemerintah, saya menganugerahi kenaikan pangkat 1 tingkat dari Golongan II/b menjadi Golongan II/c terhadap pengabdiannya selama ini. Dan atas jasa-jasanya dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai abdi negara yang baik yang membawanya wafat pada hari ini." Demikian diungkapkan H. M. Nurdin Abdullah (Bupati Bantaeng) dalam sambutan singkatnya pada Upacara Kebesaran Pemadam Kebakaran di depan makam almarhum dan ribuan pelayat yang mengantarnya.
Boby mengalami kecelakaan lalu lintas di Kampung Binamungang, Desa Onto, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng pada hari Senin tanggal 16 Oktober 2013, sekitar pukul 06:00 Wita pagi. Kondisi jalan yang menurun dan terjal serta mesin mobil yang mati membuat Boby sebagai pengemudi tidak dapat mengendalikan kendaraannya. Dua orang kru Damkar yang berada di bagian belakang mobil, sempat melompat sebelum mobil terjerembab ke dalam jurang sedalam 75 meter. Dony yang berada di sebelah kiri driver, tidak sempat melompat. Sehingga Dony mengalami luka berat yang serius pada beberapa bagian tubuhnya. Sedangkan Boby, mati di tempat setelah tertimpa kendaraannya sendiri yang terbalik ke kanan. Tutur saksi mata di TKP yang kemudian disesuaikan dengan keterangan saksi mata dari dua rekan almarhum yang selamat.
Jenazah kemudian dibawa menuju rumah duka di Jl. St. Hasanuddin I, Kampung Be'lang bagian Timur, Kelurahan Bonto Atu, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng. Berita ini kemudian menyebar dengan cepat ke setiap penjuru daerah. Rekan dan keluarga dari Jakarta sampai Selayar berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir. Dari pantauan Admin Bonthain, ratusan ribu orang hadir sampai mengantar ke peristirahatan terakhir almarhum Boby.
Hal terpedih yang dialami bukan saja karena kehilangan sosok yang dicintainya. Isteri almarhum Boby sedang melaksanakan kewajiban Wukuf di Arafah dalam rangkaian ibadah Haji tahun ini. Sehingga kesedihan semakin mendalam dirasakan, khususnya bagi anak bungsu almarhum yang masih berusia 3 tahun.
Semoga saja keluarga diberi ketabahan menghadapi musibah yang tidak lain datangnya dari Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai bagian anugerah yang tidak terelakkan. Dan kepada almarhum diberi tempat yang layak disisi-NYA atas segala amal perbuatannya selama hidup di dunia. Amin.
Dalam kesehariannya, Boby aktif sebagai seorang Pegawai Negeri Sipil pada Unit Satuan Tugas Pemadam Kebakaran (Damkar) Kabupaten Bantaeng. Damkar merupakan salah satu unit yang tergabung ke dalam Brigade Siaga Bencana (BSB) Bonthain, di bawah koordinasi langsung/induk Badan Pengendalian Dampak Lingkungan Hidup Daerah (Bapedalda) Kabupaten Bantaeng.
Pahlawan layak disandangnya, sehingga Pemerintah Kabupaten Bantaeng menganugerahi Penghargaan berupa Kenaikan Pangkat 1 Tingkat Anumerta menjadi Golongan II/c. "Pemerintah Kabupaten Bantaeng dan segenap masyarakat merasakan kesedihan yang mendalam. Atas nama Pemerintah, saya menganugerahi kenaikan pangkat 1 tingkat dari Golongan II/b menjadi Golongan II/c terhadap pengabdiannya selama ini. Dan atas jasa-jasanya dalam menjalankan tugas dan tanggung jawabnya sebagai abdi negara yang baik yang membawanya wafat pada hari ini." Demikian diungkapkan H. M. Nurdin Abdullah (Bupati Bantaeng) dalam sambutan singkatnya pada Upacara Kebesaran Pemadam Kebakaran di depan makam almarhum dan ribuan pelayat yang mengantarnya.
Boby mengalami kecelakaan lalu lintas di Kampung Binamungang, Desa Onto, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng pada hari Senin tanggal 16 Oktober 2013, sekitar pukul 06:00 Wita pagi. Kondisi jalan yang menurun dan terjal serta mesin mobil yang mati membuat Boby sebagai pengemudi tidak dapat mengendalikan kendaraannya. Dua orang kru Damkar yang berada di bagian belakang mobil, sempat melompat sebelum mobil terjerembab ke dalam jurang sedalam 75 meter. Dony yang berada di sebelah kiri driver, tidak sempat melompat. Sehingga Dony mengalami luka berat yang serius pada beberapa bagian tubuhnya. Sedangkan Boby, mati di tempat setelah tertimpa kendaraannya sendiri yang terbalik ke kanan. Tutur saksi mata di TKP yang kemudian disesuaikan dengan keterangan saksi mata dari dua rekan almarhum yang selamat.
Jenazah kemudian dibawa menuju rumah duka di Jl. St. Hasanuddin I, Kampung Be'lang bagian Timur, Kelurahan Bonto Atu, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng. Berita ini kemudian menyebar dengan cepat ke setiap penjuru daerah. Rekan dan keluarga dari Jakarta sampai Selayar berdatangan untuk memberikan penghormatan terakhir. Dari pantauan Admin Bonthain, ratusan ribu orang hadir sampai mengantar ke peristirahatan terakhir almarhum Boby.
Hal terpedih yang dialami bukan saja karena kehilangan sosok yang dicintainya. Isteri almarhum Boby sedang melaksanakan kewajiban Wukuf di Arafah dalam rangkaian ibadah Haji tahun ini. Sehingga kesedihan semakin mendalam dirasakan, khususnya bagi anak bungsu almarhum yang masih berusia 3 tahun.
Semoga saja keluarga diberi ketabahan menghadapi musibah yang tidak lain datangnya dari Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai bagian anugerah yang tidak terelakkan. Dan kepada almarhum diberi tempat yang layak disisi-NYA atas segala amal perbuatannya selama hidup di dunia. Amin.
Damkar Cilik
Saturday, May 18, 2013
Pendidikan anak usia dini merupakan tonggak tumbuh kembangnya generasi penerus yang akan melanjutkan perjuangan anak bangsa pada era berikutnya. Sedini mungkin, anak-anak harus dibekali pendidikan yang positif. Anak-anak harus memahami banyak hal sebelum terjun ke masyarakat yang heterogen dengan berbagai pengaruh di dalamnya. Pendidik diharapkan lebih kreatif agar anak didik mampu mencintai pendidikan itu sendiri.
Menyikapi hal tersebut, Lembaga Pendidikan Kartini Bonthain yang terdiri dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Penitipan Anak (TPA), Taman Kanak-kanak (TK) dan Kelompok Bermain (KB) mengajak anak didiknya untuk mengenali lingkungan sekitarnya. Bekerja sama dengan Unit Pemadam Kebakaran Bonthain yang tergabung dalam Brigade Siaga Bencana (BSB) Bonthain, lembaga tersebut mengajak anak didiknya untuk mengenal lebih dekat tentang Pemadam Kebakaran.
Mereka diajak berkeliling kota Bonthain dalam sesi patroli penanggulangan bahaya kebakaran. Selanjutnya, anak-anak dipertontonkan teknik memadamkan api dan penyelamatan yang dilakukan oleh para Kru Damkar Bonthain. Tidak hanya itu, guru beserta anak didiknya mendapat kesempatan untuk mencoba berbagai peralatan milik Damkar pada sesi Latihan di Kawasan Reklamasi Pantai Seruni Bonthain. Mereka didampingi para kru dan dilengkapi alat pengaman sesuai prosedur standar.
Rencana berikutnya, anak-anak akan kami bawa mengunjungi Kepolisian Resort Bantaeng, Tagana Bonthain, Kodim 1410 Bantaeng dan institusi lainnya. Di usia anak yang banyak menginginkan bermain, mereka perlu diperkenalkan dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga mereka tidak jenuh dengan lingkungan sekolah. Kami tetap mendampingi mereka dengan penjelasan-penjelasan singkat dan mudah dipahami. Demikian disampaikan Ibu Suhemy (salah seorang Guru PAUD Kartini).
Ketika mereka kembali ke sekolah, banyak cerita yang akan mereka perbincangkan dari kegiatan ini. Dan dengan kegiatan ini pula, banyak hal yang dapat kami kembangkan sebagai bahan ajar berikutnya terhadap para anak didik kami, tambahnya.
Menyikapi hal tersebut, Lembaga Pendidikan Kartini Bonthain yang terdiri dari Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Penitipan Anak (TPA), Taman Kanak-kanak (TK) dan Kelompok Bermain (KB) mengajak anak didiknya untuk mengenali lingkungan sekitarnya. Bekerja sama dengan Unit Pemadam Kebakaran Bonthain yang tergabung dalam Brigade Siaga Bencana (BSB) Bonthain, lembaga tersebut mengajak anak didiknya untuk mengenal lebih dekat tentang Pemadam Kebakaran.
Mereka diajak berkeliling kota Bonthain dalam sesi patroli penanggulangan bahaya kebakaran. Selanjutnya, anak-anak dipertontonkan teknik memadamkan api dan penyelamatan yang dilakukan oleh para Kru Damkar Bonthain. Tidak hanya itu, guru beserta anak didiknya mendapat kesempatan untuk mencoba berbagai peralatan milik Damkar pada sesi Latihan di Kawasan Reklamasi Pantai Seruni Bonthain. Mereka didampingi para kru dan dilengkapi alat pengaman sesuai prosedur standar.
Rencana berikutnya, anak-anak akan kami bawa mengunjungi Kepolisian Resort Bantaeng, Tagana Bonthain, Kodim 1410 Bantaeng dan institusi lainnya. Di usia anak yang banyak menginginkan bermain, mereka perlu diperkenalkan dengan lingkungan sekitarnya. Sehingga mereka tidak jenuh dengan lingkungan sekolah. Kami tetap mendampingi mereka dengan penjelasan-penjelasan singkat dan mudah dipahami. Demikian disampaikan Ibu Suhemy (salah seorang Guru PAUD Kartini).
Ketika mereka kembali ke sekolah, banyak cerita yang akan mereka perbincangkan dari kegiatan ini. Dan dengan kegiatan ini pula, banyak hal yang dapat kami kembangkan sebagai bahan ajar berikutnya terhadap para anak didik kami, tambahnya.
Jepang Olah Sampah
Thursday, April 11, 2013
Nippon pernah jadi musuh bebuyutan Merah Putih. Setelah sekian tahun berlalu, kedua rumpun ini perlahan-lahan membentuk sebuah ikatan yang kuat. Berawal dari silaturahmi, lalu berujung pada kerja sama yang saling menguntungkan telah mengubah permusuhan menjadi persahabatan. Tidaklah logis dengan mengungkit masa lalu yang suram dan menjadikannya dasar pemikiran atas perencanaan ke depan. Masa lalu perlu diingat sebagai point penting dengan mengubahnya menjadi lebih baik.
Jepang yang pernah terpuruk jauh ke dalam jurang kehancuran sejak bom atom Hiroshima, ternyata dapat bangkit dan melampaui kesuksesannya di era Perang Dunia II. Tentunya, mereka memiliki cara tersendiri untuk bisa bangkit. Lantas, kenapa Indonesia tidak berupaya mengikuti jejak negeri Sakura.
Bonthain memiliki inisiatif tersendiri menyikapi hal tersebut. Kerja sama terus dilakukan antara Bonthain dengan Jepang. Sister City merupakan salah satu bentuk kerja sama tepat guna yang telah diterapkan di Bonthain dengan beberapa kota yang ada di negeri Sakura. Keberhasilan Jepang bersama program-program yang dijalankannya, diterapkan pula di Bonthain dengan menyesuaikan kondisi yang ada.
Tidak mengherankan bila menyebut nama Bonthain, lalu orang-orang di luar Bonthain berkata "Saya kenal karena kebersihannya, keindahannya dan keramah tamahannya".
Keberhasilan dalam Pengelolaan Kebersihan Kota Bonthain memicu Kabupaten/Kota lainnya di Indonesia untuk datang belajar dan berharap dapat mengaplikasikannya di daerahnya masing-masing. Nurdin Abdullah mengungkapkan "Lima tahun silam, Bonthain sering dilanda banjir. Lalu dibangunlah Cekdam untuk mengontrol banjir. Alhamdulillah sampai sekarang, masyarakat Bonthain tenang-tenang saja ketika hujan deras mengguyur kota Bonthain. Setelah Bonthain bebas banjir, kota mulai dibenahi dengan Sistem Pengelolaan Kebersihan Kota. Sampah di jalanan disapu dan diangkut ke TPA. Tempat sampah disiapkan di seluruh pelosok kota Bonthain."
Kami sangat berterima kasih kepada Pemerintah Jepang yang telah banyak membantu Pemerintah Kabupaten Bantaeng. Mobil Pemadam Kebakaran yang kami miliki adalah Bantuan Hibah Jepang. Begitu pula dengan mobil Ambulance dan sebagainya. Lalu sekarang, baru tiba mobil Pengolah Sampah sebanyak 2 unit, tambah Nurdin Abdullah.
Bantuan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jepang begitu peduli terhadap kemajuan Bonthain. Maka dari itu, kepedulian masyarakat Bonthain harus lebih besar.
Jepang yang pernah terpuruk jauh ke dalam jurang kehancuran sejak bom atom Hiroshima, ternyata dapat bangkit dan melampaui kesuksesannya di era Perang Dunia II. Tentunya, mereka memiliki cara tersendiri untuk bisa bangkit. Lantas, kenapa Indonesia tidak berupaya mengikuti jejak negeri Sakura.
Bonthain memiliki inisiatif tersendiri menyikapi hal tersebut. Kerja sama terus dilakukan antara Bonthain dengan Jepang. Sister City merupakan salah satu bentuk kerja sama tepat guna yang telah diterapkan di Bonthain dengan beberapa kota yang ada di negeri Sakura. Keberhasilan Jepang bersama program-program yang dijalankannya, diterapkan pula di Bonthain dengan menyesuaikan kondisi yang ada.
Tidak mengherankan bila menyebut nama Bonthain, lalu orang-orang di luar Bonthain berkata "Saya kenal karena kebersihannya, keindahannya dan keramah tamahannya".
Keberhasilan dalam Pengelolaan Kebersihan Kota Bonthain memicu Kabupaten/Kota lainnya di Indonesia untuk datang belajar dan berharap dapat mengaplikasikannya di daerahnya masing-masing. Nurdin Abdullah mengungkapkan "Lima tahun silam, Bonthain sering dilanda banjir. Lalu dibangunlah Cekdam untuk mengontrol banjir. Alhamdulillah sampai sekarang, masyarakat Bonthain tenang-tenang saja ketika hujan deras mengguyur kota Bonthain. Setelah Bonthain bebas banjir, kota mulai dibenahi dengan Sistem Pengelolaan Kebersihan Kota. Sampah di jalanan disapu dan diangkut ke TPA. Tempat sampah disiapkan di seluruh pelosok kota Bonthain."
Kami sangat berterima kasih kepada Pemerintah Jepang yang telah banyak membantu Pemerintah Kabupaten Bantaeng. Mobil Pemadam Kebakaran yang kami miliki adalah Bantuan Hibah Jepang. Begitu pula dengan mobil Ambulance dan sebagainya. Lalu sekarang, baru tiba mobil Pengolah Sampah sebanyak 2 unit, tambah Nurdin Abdullah.
Bantuan ini harus dimanfaatkan sebaik-baiknya. Jepang begitu peduli terhadap kemajuan Bonthain. Maka dari itu, kepedulian masyarakat Bonthain harus lebih besar.
Dutch Journalist visited Bonthain
Saturday, April 3, 2010
Jurnalis dari Negeri Belanda (Wendy van den Hurk) berkunjung ke Kabupaten Bantaeng. Jurnalis dari Koran PZC (www.pzc.nl) yang ditemani General Manager AMBAE, Koodinator Liputan Harian Fajar (Ruslan Ramli) dan Kabag. Humas Kabupaten Bantaeng melakukan penelusuran sejarah kedatangan Belanda di Bantaeng. Wendy van den Hurk yang juga bekerja pada perusahaan media online di negeri Kincir Angin tersebut juga melihat dari dekat perkembangan pembangunan, termasuk program pengembangan tanaman hias (bunga potong) Krissan di Loka, Kecamatan Ulu Ere.
Selama berada di Bonthain, Wendy mendatangi bangunan peninggalan Belanda, seperti :
1. Gereja Protestan yang dibangun pada tahun 1939
2. Kantor KODIM 1410 Bantaeng yang merupakan bekas kantor Pemerintahan Belanda
3. Rumah Tahanan (Rutan)
4. Pekuburan Belanda yang terletak di Jl. Pemuda Bantaeng
Selain itu, wartawati PZC itu juga berencana mengunjungi "Balla Tujua ri Onto", Insya Allah besok 4 April 2010. Lokasi ini merupakan situs sejarah yang pernah menjadi ibukota BONTHAIN (nama Bantaeng pada zaman Belanda). Selain melihat langsung kondisi lapangan, jurnalis dari Negeri Keju itu banyak mendapat masukan dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Andi Pawiloi Kr. Nippong).
Wendy bersama General Manager AMBAE dan Koodinator Liputan Harian Fajar (Ruslan Ramli) melalui Kabag. Humas Kabupaten Bantaeng berkesempatan bertatap muka dengan Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah). Bupati Bantaeng yang menerima kedatangan Tim tersebut berharap, Wendy bisa menulis tentang kabupaten yang pernah dipimpin 86 Residen ini. Kita tak mungkin melupakan sejarah. Namun seiring dengan kemajuan zaman, kami berharap Pemerintah Belanda bisa member perhatian kepada daerah dimana dia juga pernah hadir, urainya.
Untuk itu, Nurdin berharap melalui tulisan PZC akan ada perhatian Pemerintah Belanda untuk turut memajukan pembangunan di Kabupaten berjuluk Butta Toa ini, tambahnya. Pada zaman Belanda, Bantaeng sangat maju. Selain menjadi pusat pemerintahan yang membawahi Kabupaten Jeneponto, Bulukumba hingga Selayar, daerah ini juga menjadi pusat pendidikan dan ekonomi di bagian selatan Sulsel.
Kini, banyak perubahan, namun masih juga banyak masyarakat miskin yang memerlukan perhatian untuk ditingkatkan kesejahteraannya. Karena itu, bila memungkinkan Pemda Kabupaten berharap ke depan dapat dilakukan kerja sama dalam bentuk kota kembar (Sister City). Tahap awal, Pemda Kabupaten Bantaeng akan melakukan kerja sama erat dalam bentuk Sister City dengan salah satu kota di Jepang yakni Matsuyama. Negeri Matahari Terbit itu juga akan menyerahkan mobil Ambulance, Pemadam Kebakaran dan Sepeda.
Pada kesempatan itu juga akan dilakukan penanaman secara massal bunga Sakura. Ia berharap, kerja sama antar kota ini akan lebih memudahkan pengembangan Sumber Daya Manusia untuk menunjang pengembangan daerah. Nurdin Abdullah juga mengemukakan keinginannya melestarikan bangunan tua yang dibangun Belanda tersebut dalam bentuk museum. Dengan begitu, ia berharap menjadi spirit bagi generasi muda untuk memajukan daerah.
Selama berada di Bonthain, Wendy mendatangi bangunan peninggalan Belanda, seperti :
1. Gereja Protestan yang dibangun pada tahun 1939
2. Kantor KODIM 1410 Bantaeng yang merupakan bekas kantor Pemerintahan Belanda
3. Rumah Tahanan (Rutan)
4. Pekuburan Belanda yang terletak di Jl. Pemuda Bantaeng
Selain itu, wartawati PZC itu juga berencana mengunjungi "Balla Tujua ri Onto", Insya Allah besok 4 April 2010. Lokasi ini merupakan situs sejarah yang pernah menjadi ibukota BONTHAIN (nama Bantaeng pada zaman Belanda). Selain melihat langsung kondisi lapangan, jurnalis dari Negeri Keju itu banyak mendapat masukan dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Andi Pawiloi Kr. Nippong).
Wendy bersama General Manager AMBAE dan Koodinator Liputan Harian Fajar (Ruslan Ramli) melalui Kabag. Humas Kabupaten Bantaeng berkesempatan bertatap muka dengan Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah). Bupati Bantaeng yang menerima kedatangan Tim tersebut berharap, Wendy bisa menulis tentang kabupaten yang pernah dipimpin 86 Residen ini. Kita tak mungkin melupakan sejarah. Namun seiring dengan kemajuan zaman, kami berharap Pemerintah Belanda bisa member perhatian kepada daerah dimana dia juga pernah hadir, urainya.
Untuk itu, Nurdin berharap melalui tulisan PZC akan ada perhatian Pemerintah Belanda untuk turut memajukan pembangunan di Kabupaten berjuluk Butta Toa ini, tambahnya. Pada zaman Belanda, Bantaeng sangat maju. Selain menjadi pusat pemerintahan yang membawahi Kabupaten Jeneponto, Bulukumba hingga Selayar, daerah ini juga menjadi pusat pendidikan dan ekonomi di bagian selatan Sulsel.
Kini, banyak perubahan, namun masih juga banyak masyarakat miskin yang memerlukan perhatian untuk ditingkatkan kesejahteraannya. Karena itu, bila memungkinkan Pemda Kabupaten berharap ke depan dapat dilakukan kerja sama dalam bentuk kota kembar (Sister City). Tahap awal, Pemda Kabupaten Bantaeng akan melakukan kerja sama erat dalam bentuk Sister City dengan salah satu kota di Jepang yakni Matsuyama. Negeri Matahari Terbit itu juga akan menyerahkan mobil Ambulance, Pemadam Kebakaran dan Sepeda.
Pada kesempatan itu juga akan dilakukan penanaman secara massal bunga Sakura. Ia berharap, kerja sama antar kota ini akan lebih memudahkan pengembangan Sumber Daya Manusia untuk menunjang pengembangan daerah. Nurdin Abdullah juga mengemukakan keinginannya melestarikan bangunan tua yang dibangun Belanda tersebut dalam bentuk museum. Dengan begitu, ia berharap menjadi spirit bagi generasi muda untuk memajukan daerah.
Tanam dan Panen Talas
Wednesday, March 31, 2010
Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (DR. Ir. Syamsul Alam) bersama Staf Ahli Bupati Bantaeng Bidang Pertanian (DR. Mokhtar A. Nawir), Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas (Prof DR. Veni Hadju), Staf Ahli Bupati Bidang Hukum (Imran Arief, SH) melakukan panen talas di Talakaya, Desa Bonto Tangga Kecamatan Ulu Ere. Panen dilakukan di areal seluas 1 Ha milik Saharuddin. Talas hasil panen yang ditanam Oktober 2009 lalu akan disuplai ke PT. Global Seafood International Indonesia (GSII) untuk selanjutnya diekspor ke Jepang.
Rencana ekspor akan dilakukan April 2010, kata Kadis Pertanian dan Peternakan. Tanaman yang sedang dikembangkan di areal seluas 25 Ha Bantaeng ini diharapkan terus berkembang di tengah masyarakat untuk memenuhi permintaan pasar ekspor Jepang. Negara matahari terbit itu membutuhkan talas yang cukup besar. Khusus kebutuhan PT. GSII sebanyak 10 ton/hari diharapkan dapat dipenuhi petani.
Kepala Bidang Distribusi Pangan Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Bantaeng (Ir. H. M. Yasser) pada kesempatan itu mengatakan "Pengembangan talas di wilayah kerjanya untuk 2010 mencapai 50 Ha". Dari jumlah tersebut penentuan lokasinya akan disesuaikan dengan agroklimat tanah. Itu dilakukan agar pengembangannya lebih baik dibanding 2009 yang masih merupakan uji coba. Dari pengalaman 2009 itulah dilakukan perbaikan perencanaan, sebab ada lahan yang tidak cocok, urainya.
Yasser mengatakan, dari 50 Ha yang dicadangkan, 65% berlokasi di Kecamatan Ulu Ere. Sedangkan sisanya di Kecamatan Sinoa dan Tompobulu Kabupaten Bantaeng. Untuk menunjang rencana pengembangan tersebut, Badan Ketahanan Pangan melalui Bagian Pelatihan dan Penyuluhan berupaya memberi pemahaman dan pembinaan kepada masyarakat.
Hal itu akan dilakukan dalam bentuk demplot agar masyarakat bisa melihat langsung tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta berkhasiat untuk penyakit kanker dan diabetes ini, terang Kepala Bidang Pelatihan dan Penyuluhan (Budi Taufiq). Selain itu, pihaknya juga siap melakukan pendampingan sebab petani biasanya hanya mau melihat bukti. Ia optimistis, petani akan tertarik karena talas memiliki pasar yang baik.
Rencana ekspor akan dilakukan April 2010, kata Kadis Pertanian dan Peternakan. Tanaman yang sedang dikembangkan di areal seluas 25 Ha Bantaeng ini diharapkan terus berkembang di tengah masyarakat untuk memenuhi permintaan pasar ekspor Jepang. Negara matahari terbit itu membutuhkan talas yang cukup besar. Khusus kebutuhan PT. GSII sebanyak 10 ton/hari diharapkan dapat dipenuhi petani.
Kepala Bidang Distribusi Pangan Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Bantaeng (Ir. H. M. Yasser) pada kesempatan itu mengatakan "Pengembangan talas di wilayah kerjanya untuk 2010 mencapai 50 Ha". Dari jumlah tersebut penentuan lokasinya akan disesuaikan dengan agroklimat tanah. Itu dilakukan agar pengembangannya lebih baik dibanding 2009 yang masih merupakan uji coba. Dari pengalaman 2009 itulah dilakukan perbaikan perencanaan, sebab ada lahan yang tidak cocok, urainya.
Yasser mengatakan, dari 50 Ha yang dicadangkan, 65% berlokasi di Kecamatan Ulu Ere. Sedangkan sisanya di Kecamatan Sinoa dan Tompobulu Kabupaten Bantaeng. Untuk menunjang rencana pengembangan tersebut, Badan Ketahanan Pangan melalui Bagian Pelatihan dan Penyuluhan berupaya memberi pemahaman dan pembinaan kepada masyarakat.
Hal itu akan dilakukan dalam bentuk demplot agar masyarakat bisa melihat langsung tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta berkhasiat untuk penyakit kanker dan diabetes ini, terang Kepala Bidang Pelatihan dan Penyuluhan (Budi Taufiq). Selain itu, pihaknya juga siap melakukan pendampingan sebab petani biasanya hanya mau melihat bukti. Ia optimistis, petani akan tertarik karena talas memiliki pasar yang baik.
Ekspor Teripang ke Hongkong
Friday, March 26, 2010
Setelah ekspor ikan dalam bentuk Surimi Beku (frozen) ke Jepang dan Biji Kapuk ke Korea, Kabupaten Bantaeng segera melakukan ekspor Teripang ke Hongkong. Ekspor berjumlah 4,20 ton senilai Rp 3 miliar lebih tersebut akan dilakukan UD. Mamampang Jaya, perusahaan lokal yang bermitra dengan perusahaan Fhilipina dan Malaysia. Kepastian ekspor tersebut dilaporkan, Saing (pimpinan perusahaan tersebut).
Menurut Saing yang datang bersama Andi Baso (Kr. Baso) serta mitra usaha dari Malaysia dan Fhilipina, bahan baku teripang diperoleh dari daerah sekitar Kabupaten Bantaeng seperti Selayar dan beberapa propinsi lain di Indonesia, termasuk dari Papua. Teripang yang berdatangan dari berbagai daerah dan propinsi tersebut kami kumpul dan pada saatnya kami ekspor, tandas Saing yang dibenarkan kerabatnya. Ia kemudian meminta Bupati agar berkesempatan melepas ekspor ke Hongkong tersebut.
Bupati Bantaeng menyambut baik kesiapan UD. Mamampang Jaya melakukan ekspor Teripang ke Hongkong. Meski potensinya tidak berada di Bantaeng, namun kami menyambut baik karena ada perusahaan lokal yang berbasis ekspor, ujarnya. Pemerintah, terang Nurdin Abdullah mendorong pengusaha untuk meningkatkan daya saing produksinya agar bisa menjadi komoditi yang dilirik pasar dunia. Kami akan mendorong terus pembangunan industri untuk memajukan daerah ini, tambahnya lagi.
Selain ekspor Teripang, pada April juga akan dilepas ekspor talas ke Jepang untuk melengkapi berbagai potensi ekspor di daerah ini, jelas Bupati Bantaeng. Menjawab pertanyaan, Saing mengatakan, pelaksanaan ekspor tinggal menunggu proses administrasi yang diperkirakan selesai pekan ini.
Menurut Saing yang datang bersama Andi Baso (Kr. Baso) serta mitra usaha dari Malaysia dan Fhilipina, bahan baku teripang diperoleh dari daerah sekitar Kabupaten Bantaeng seperti Selayar dan beberapa propinsi lain di Indonesia, termasuk dari Papua. Teripang yang berdatangan dari berbagai daerah dan propinsi tersebut kami kumpul dan pada saatnya kami ekspor, tandas Saing yang dibenarkan kerabatnya. Ia kemudian meminta Bupati agar berkesempatan melepas ekspor ke Hongkong tersebut.
Bupati Bantaeng menyambut baik kesiapan UD. Mamampang Jaya melakukan ekspor Teripang ke Hongkong. Meski potensinya tidak berada di Bantaeng, namun kami menyambut baik karena ada perusahaan lokal yang berbasis ekspor, ujarnya. Pemerintah, terang Nurdin Abdullah mendorong pengusaha untuk meningkatkan daya saing produksinya agar bisa menjadi komoditi yang dilirik pasar dunia. Kami akan mendorong terus pembangunan industri untuk memajukan daerah ini, tambahnya lagi.
Selain ekspor Teripang, pada April juga akan dilepas ekspor talas ke Jepang untuk melengkapi berbagai potensi ekspor di daerah ini, jelas Bupati Bantaeng. Menjawab pertanyaan, Saing mengatakan, pelaksanaan ekspor tinggal menunggu proses administrasi yang diperkirakan selesai pekan ini.
Bonthain pimpin Persada
Saturday, March 20, 2010
Prof. DR. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M.Agr kembali dipercaya memimpin organisasi yang menghimpun alumni dari Jepang, PERSADA (Perhimpunan Alumni dari Jepang) Makassar periode 2010-2015. H. M. Nurdin Abdullah yang juga Bupati Bantaeng itu dipilih secara aklamasi dalam Musyawarah Daerah (Musda). Acara tersebut berlangsung Sabtu, 20 Maret 2010 yang dihadiri senior Persada seperti Prof. DR. dr. Husni Tanra, Prof. DR. dr. Razak Datu, Prof. Dr. Muslimin, Prof. DR. Dadang Ahmad dan sejumlah petinggi organisasi itu di Bantaeng.
Sebelum menetapkan kembali H. M. Nurdin Abdullah sebagai Ketua terpilih, Husni Tanra yang memimpin sidang bersama Razak Datu terlebih dahulu memberi kesempatan kepada pengurus dan anggota yang berminat menjadi orang nomor satu di organisasi nirlaba tersebut. Namun baik pengurus senior maupun junior tetap menyebut nama Nurdin Abdullah sebagai sosok yang masih pantas memimpin Persada.
Kami masih membutuhkan figur seperti Nurdin, terang peserta yang mewakili unsur perempuan. Saat memberi sambutan, Guru Besar Fakultas Kedokteran UNHAS (Prof. DR. dr. Husni Tanra) mengemukakan kekagumannya terhadap Nurdin Abdullah yang berhasil membangun Bonthain. Kita malu sekaligus bangga sebab teman kita bisa memajukan kabupaten tertinggal. Sementara kami yang tinggal di kampus tidak bisa memajukan mahasiswa. Anak-anak hanya tau demo dan merusak padahal itu contoh kehidupan bar-bar. Bukan kehidupan yang beradap, urainya.
Karena itu, ia berharap PERSADA bisa memberi sumbangsih dan berperan mengurangi kondisi yang kurang menguntungkan tersebut. Khusus kepada Nurdin Abdullah, Husni mengatakan, sudah menjadi kebanggaan bangsa sebab Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono juga menyebut nama Nurdin ketika akan berangkat ke luar negeri. Kita butuh simbiosis mutualisme dan Nurdin sudah membawa nama harum. Semoga kita juga semua tertular keharuman yang sudah diukir tersebut, urainya.
Untuk menjalankan roda organisasi, Nurdin Abdullah menunjuk Dr. Rudi Jamaluddin sebagai Ketua Harian dan Diyah Yumeina sebagai Sekretaris. Sebelumnya juga diperkenalkan 5 anggota baru Persada. Ketua Umum Persada terpilih berharap, kepengurusan 2010-2015 bisa membawa organisasi lebih baik. Persada tidak boleh vakum. Karena itu, ia mengajak semua pengurus dan anggota untuk bersama-sama membersarkan organisasi ini melalui sumbangan pemikiran dan sejenisnya. Sumbangsih pemikiran sangat diharapkan sebab Persada secara rutin mengikuti pertemuan dengan pihak Jepang yang biasanya dihadiri Duta Besar Jepang untuk Indonesia serta Konsulatnya. Pada pertemuan tersebut, biasanya membahas banyak hal, urainya.
Sebelum menetapkan kembali H. M. Nurdin Abdullah sebagai Ketua terpilih, Husni Tanra yang memimpin sidang bersama Razak Datu terlebih dahulu memberi kesempatan kepada pengurus dan anggota yang berminat menjadi orang nomor satu di organisasi nirlaba tersebut. Namun baik pengurus senior maupun junior tetap menyebut nama Nurdin Abdullah sebagai sosok yang masih pantas memimpin Persada.
Kami masih membutuhkan figur seperti Nurdin, terang peserta yang mewakili unsur perempuan. Saat memberi sambutan, Guru Besar Fakultas Kedokteran UNHAS (Prof. DR. dr. Husni Tanra) mengemukakan kekagumannya terhadap Nurdin Abdullah yang berhasil membangun Bonthain. Kita malu sekaligus bangga sebab teman kita bisa memajukan kabupaten tertinggal. Sementara kami yang tinggal di kampus tidak bisa memajukan mahasiswa. Anak-anak hanya tau demo dan merusak padahal itu contoh kehidupan bar-bar. Bukan kehidupan yang beradap, urainya.
Karena itu, ia berharap PERSADA bisa memberi sumbangsih dan berperan mengurangi kondisi yang kurang menguntungkan tersebut. Khusus kepada Nurdin Abdullah, Husni mengatakan, sudah menjadi kebanggaan bangsa sebab Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono juga menyebut nama Nurdin ketika akan berangkat ke luar negeri. Kita butuh simbiosis mutualisme dan Nurdin sudah membawa nama harum. Semoga kita juga semua tertular keharuman yang sudah diukir tersebut, urainya.
Untuk menjalankan roda organisasi, Nurdin Abdullah menunjuk Dr. Rudi Jamaluddin sebagai Ketua Harian dan Diyah Yumeina sebagai Sekretaris. Sebelumnya juga diperkenalkan 5 anggota baru Persada. Ketua Umum Persada terpilih berharap, kepengurusan 2010-2015 bisa membawa organisasi lebih baik. Persada tidak boleh vakum. Karena itu, ia mengajak semua pengurus dan anggota untuk bersama-sama membersarkan organisasi ini melalui sumbangan pemikiran dan sejenisnya. Sumbangsih pemikiran sangat diharapkan sebab Persada secara rutin mengikuti pertemuan dengan pihak Jepang yang biasanya dihadiri Duta Besar Jepang untuk Indonesia serta Konsulatnya. Pada pertemuan tersebut, biasanya membahas banyak hal, urainya.
Export Talas from Bonthain to Sakura
Wednesday, March 10, 2010
Harga talas dunia cukup menjanjikan untuk petani di daerah. Meski tak disebutkan harga pasaran tingkat dunia saat ini akibat fluktuasi mata uang dolar AS dan Jepang namun Bupati Bantaeng mengatakan, rata-rata Rp 5000/kg saja, petani sudah bisa bernafas lega sebab talas bisa berproduksi 40 ton/ha. Bupati Bantaeng mengatakan, talas memiliki pasar luas di manca Negara. Salah satu negara yang sudah siap menampung produksi talas dari Bonthain adalah Jepang. Negeri matahari terbit itu sudah mengakui kualitas talas Bonthain sebagai talas berkualitas tinggi
Berdasarkan hasil penelitian Jepang, talas Bonthain lebih baik dari talas Jepang dan China. Jepang dikenal sebagai negara terbanyak mengkonsumsi talas yang dipasok dari China. Karena itu, kita bertekad memenuhi pasar talas Jepang, kata Nurdin yang menyatakan rencana ekspor talas mulai April 2010. Insya Allah, mulai April kita juga sudah bisa mengekspor talas ke Jepang, tandasnya. Selain talas, Kabupaten Bantaeng melalui PT. Global Seafood Internasional Indonesia (GSII) juga sudah melakukan ekspor hasil laut ke negeri Sakura tersebut. Ekspor dalam bentuk ikan olahan (Surimi) tersebut berlangsung sejak Januari 2010.
Bupati Bantaeng optimistis, bila ekspor berjalan lancar, semakin banyak masyarakat yang akan menikmati hasilnya. Ia kemudian mengingatkan masyarakat, terutama yang berprofesi sebagai nelayan agar dapat memenuhi kebutuhan ikan industri pengolahan ikan yang bepangkalan di Kecamatan Pa’jukukang tersebut. Industri tersebut membutuhkan ikan 40 ton/hari yang selama ini dipasok dari Kalimantan, Sulawesi Tengah dan Barat serta beberapa daerah lainnya, termasuk Makassar. Ia kemudian mengajak masyarakat agar memberi perhatian terhadap komoditi yang bisa meningkatkan kesejahteraan. Khusus talas, hingga kini baru dikembangkan pada areal seluas 25 Ha di beberapa kecamatan.
Karena itu, tak ada salahnya bila masyarakat juga mengembangkan tanaman ini, pintanya. Masih menurut Bupati Bantaeng, potensi daerah ini cukup menjanjikan. Kita punya laut, punya daratan untuk penanaman padi dan punya gunung yang bisa ditanami berbagai jenis tanaman. Karena itu kita gagal bila masyarakat masih miskin. Nurdin kemudian mengajak semua pihak untuk memerangi kemiskinan di daerah ini. Pemerintah bertekad mengurangi dan bila perlu menghilangkan kemiskinan di Bonthain. Karena itu, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menyatukan visi ciptakan keamanan dan kedamaian serta menghimpun kekuatan untuk membangun daerah.
Hanya kebersamaanlah yang bisa kita lakukan untuk membangun, tandasnya seraya mengemukakan program perbaikan infrastruktur, terutama jalan yang dapat memudahkan transfortasi ke sentra produksi. Di bidang kesehatan, Bupati Bantaeng itu juga mengingatkan masyarakat agar memanfaatkan fasilitas kesehatan gratis yang sudah disiapkan Pemda Bantaeng. Bila terjadi sesuatu, cukup hubungi telepon 113. Ambulance bersama dokter dan tenaga medisnya akan meluncur ke lokasi, terangnya.
Berdasarkan hasil penelitian Jepang, talas Bonthain lebih baik dari talas Jepang dan China. Jepang dikenal sebagai negara terbanyak mengkonsumsi talas yang dipasok dari China. Karena itu, kita bertekad memenuhi pasar talas Jepang, kata Nurdin yang menyatakan rencana ekspor talas mulai April 2010. Insya Allah, mulai April kita juga sudah bisa mengekspor talas ke Jepang, tandasnya. Selain talas, Kabupaten Bantaeng melalui PT. Global Seafood Internasional Indonesia (GSII) juga sudah melakukan ekspor hasil laut ke negeri Sakura tersebut. Ekspor dalam bentuk ikan olahan (Surimi) tersebut berlangsung sejak Januari 2010.
Bupati Bantaeng optimistis, bila ekspor berjalan lancar, semakin banyak masyarakat yang akan menikmati hasilnya. Ia kemudian mengingatkan masyarakat, terutama yang berprofesi sebagai nelayan agar dapat memenuhi kebutuhan ikan industri pengolahan ikan yang bepangkalan di Kecamatan Pa’jukukang tersebut. Industri tersebut membutuhkan ikan 40 ton/hari yang selama ini dipasok dari Kalimantan, Sulawesi Tengah dan Barat serta beberapa daerah lainnya, termasuk Makassar. Ia kemudian mengajak masyarakat agar memberi perhatian terhadap komoditi yang bisa meningkatkan kesejahteraan. Khusus talas, hingga kini baru dikembangkan pada areal seluas 25 Ha di beberapa kecamatan.
Karena itu, tak ada salahnya bila masyarakat juga mengembangkan tanaman ini, pintanya. Masih menurut Bupati Bantaeng, potensi daerah ini cukup menjanjikan. Kita punya laut, punya daratan untuk penanaman padi dan punya gunung yang bisa ditanami berbagai jenis tanaman. Karena itu kita gagal bila masyarakat masih miskin. Nurdin kemudian mengajak semua pihak untuk memerangi kemiskinan di daerah ini. Pemerintah bertekad mengurangi dan bila perlu menghilangkan kemiskinan di Bonthain. Karena itu, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menyatukan visi ciptakan keamanan dan kedamaian serta menghimpun kekuatan untuk membangun daerah.
Hanya kebersamaanlah yang bisa kita lakukan untuk membangun, tandasnya seraya mengemukakan program perbaikan infrastruktur, terutama jalan yang dapat memudahkan transfortasi ke sentra produksi. Di bidang kesehatan, Bupati Bantaeng itu juga mengingatkan masyarakat agar memanfaatkan fasilitas kesehatan gratis yang sudah disiapkan Pemda Bantaeng. Bila terjadi sesuatu, cukup hubungi telepon 113. Ambulance bersama dokter dan tenaga medisnya akan meluncur ke lokasi, terangnya.
Prime Export of Surimi-Gate To The World
Friday, February 26, 2010
Strategis, kata ini dapat disandang kota Bonthain. Letaknya yang berada di ujung Utara Laut Flores menjadikan kota ini amat strategis sebagai daerah yang memiliki potensi perikanan dan kelautan yang cukup menjanjikan. Apa yang dijanjikan BONTHAIN.................? Black Community and Black In News of Bonthain akan mengulas sedikit informasi berkaitan dengan hal tersebut.
Bersamaan dengan Pencanangan Bonthain Beach Hotel di Kawasan Revitalisasi Pantai Seruni Bantaeng, turut pula diresmikan industri lainnya di Kecamatan Pa'jukukang. Industri Pengolahan Ikan milik investment PT. Global Seafood International Indonesia diresmikan oleh Wakil Gubernur Sulawesi Selatan sejak didirikan tahun 2008 dan mulai beroperasi akhir 2009.
Peresmian tersebut ditandai dengan Penadatanganan Prasasti oleh Bapak r. H. Agus Arifin Nu’mang (Wakil Gubernur Sulawesi Selatan) dan Bapak Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M. Agr(Bupati Bantaeng). Pemecahan Kendi pada salah satu Black Car Community pun menandai Pelepasan Ekspor Perdana Hasil industri dimaksud.
PT. GLOBAL SEAFOOD INTERNATIONAL INDONESIA (GSII) merupakan kombinasi dari dua negara yaitu Indonesia dan Jepang, dengan komposisi tenaga yang berpengalaman menangani hasil laut, terutama surimi, dari Jepang serta tenaga-tenaga manajemen yang berasal dari Indonesia. Dengan kombinasi seperti ini diharapkan PT. GSII akan dapat berkembang dengan signifikan. Produk utama PT. GSII adalah SURIMI atau ikan giling yang berbahan dasar dari ikan merah jenis Kurisi atau dalam bahasa Jepang dikenal dengan Itoyori. Pasar produk surimi PT. GSII adalah Jepang, Korea dan Hongkong. Pasar Eropa dan Amerika merupakan target pasar selanjutnya seiring dengan berkembangnya PT. GSII. PT. GSII memiliki motto GATE TO THE WORLD, motto ini menggambarkan keinginan kuat dalam memasarkan produk ke seluruh dunia.
Industri berskala internasional ini terletak di Jl. Poros Bantaeng–Bulukumba Km. 131, Desa Pa’jukukang, Kecamatan Pa’jukukang, Kabupaten Bantaeng, Propinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.
Nilai investasi yang terbilang besar ditanamkan investor Jepang pada industri tersebut, yakni sebesar 4o milyar rupiah. Namun, hasilnya pun bukan skala kecil. Bahan Baku yang dibutuhkan berupa ikan merah jenis Kurisi sebanyak 900 ton/ bulan, Sorbitol sebanyak 12 ton / bulan dan Gula sebanyak 12 ton/bulan. Dari bahan-bahan yang dikerjakan sebanyak 1.000 orang pekerja ini, dalam sebulan mampu diproduksi Surimi ± 300 ton/bulan atau setara dengan 15 Black Car Community (container) per bulannya.
Kehadiran industri besar di kota yang sangat kecil ini ternyata mampu mengubah banyak hal. Antara lain adalah mengurangi tingkat pengangguran, mempercepat laju perekonomian dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah.
Bersamaan dengan Pencanangan Bonthain Beach Hotel di Kawasan Revitalisasi Pantai Seruni Bantaeng, turut pula diresmikan industri lainnya di Kecamatan Pa'jukukang. Industri Pengolahan Ikan milik investment PT. Global Seafood International Indonesia diresmikan oleh Wakil Gubernur Sulawesi Selatan sejak didirikan tahun 2008 dan mulai beroperasi akhir 2009.
Peresmian tersebut ditandai dengan Penadatanganan Prasasti oleh Bapak r. H. Agus Arifin Nu’mang (Wakil Gubernur Sulawesi Selatan) dan Bapak Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M. Agr(Bupati Bantaeng). Pemecahan Kendi pada salah satu Black Car Community pun menandai Pelepasan Ekspor Perdana Hasil industri dimaksud.
PT. GLOBAL SEAFOOD INTERNATIONAL INDONESIA (GSII) merupakan kombinasi dari dua negara yaitu Indonesia dan Jepang, dengan komposisi tenaga yang berpengalaman menangani hasil laut, terutama surimi, dari Jepang serta tenaga-tenaga manajemen yang berasal dari Indonesia. Dengan kombinasi seperti ini diharapkan PT. GSII akan dapat berkembang dengan signifikan. Produk utama PT. GSII adalah SURIMI atau ikan giling yang berbahan dasar dari ikan merah jenis Kurisi atau dalam bahasa Jepang dikenal dengan Itoyori. Pasar produk surimi PT. GSII adalah Jepang, Korea dan Hongkong. Pasar Eropa dan Amerika merupakan target pasar selanjutnya seiring dengan berkembangnya PT. GSII. PT. GSII memiliki motto GATE TO THE WORLD, motto ini menggambarkan keinginan kuat dalam memasarkan produk ke seluruh dunia.
Industri berskala internasional ini terletak di Jl. Poros Bantaeng–Bulukumba Km. 131, Desa Pa’jukukang, Kecamatan Pa’jukukang, Kabupaten Bantaeng, Propinsi Sulawesi Selatan, Indonesia.
Nilai investasi yang terbilang besar ditanamkan investor Jepang pada industri tersebut, yakni sebesar 4o milyar rupiah. Namun, hasilnya pun bukan skala kecil. Bahan Baku yang dibutuhkan berupa ikan merah jenis Kurisi sebanyak 900 ton/ bulan, Sorbitol sebanyak 12 ton / bulan dan Gula sebanyak 12 ton/bulan. Dari bahan-bahan yang dikerjakan sebanyak 1.000 orang pekerja ini, dalam sebulan mampu diproduksi Surimi ± 300 ton/bulan atau setara dengan 15 Black Car Community (container) per bulannya.
Kehadiran industri besar di kota yang sangat kecil ini ternyata mampu mengubah banyak hal. Antara lain adalah mengurangi tingkat pengangguran, mempercepat laju perekonomian dan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah.
Bonthain
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor






























































