Showing posts with label Talas. Show all posts
Showing posts with label Talas. Show all posts
Masjid penunjang Kawasan Agrowisata
Monday, April 12, 2010Kawasan Agrowisata Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng segera memiliki Masjid yang lebih representatif. Masjid ini diperuntukkan guna menunjang kehadiran wisatawan yang berkunjung ke kawasan tersebut. Rencana kehadiran masjid tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan masjid berlantai dua di Bangkeng Bonto, Desa Bonto Lojong yang dilakukan Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah), Pengusaha SulSel (H. Saharuddin dan Thiawudi Wikarso).
Pembangunan masjid di atas tanah seluas 12 X 15 Meter tersebut diprediksi bakal menghabiskan dana sebesar ± Rp 300-an juta. H. Tahir dari panitia masjid memperoleh dana swadaya masyarakat sebesar Rp 30 juta dalam mengawali pembangunan masjid dimaksud. Bupati Bantaeng bersama para tokoh pengusaha pun memberikan bantuan sebesar Rp 30 juta. Sehingga total dana awal pembangunan masjid tersebut mencapai Rp 60 juta. Sisanya masih diharapkan bantuan dari masyarakat Bangkeng Bonto dan lainnya. Ia berharap, kehadiran masjid ini dapat menunjang program Pemda untuk menjadikan Kecamatan Ulu Ere menjadi kawasan Agrowisata, urainya.
Bupati Bantaeng pada kesempatan tersebut berharap, pembangunan fasilitas ibadah ini dapat diselesaikan sesuai rencana agar segera dapat digunakan. Ini menjadi tanggung jawab kita semua untuk membantu penyelesaiannya, tandasnya. Ia kemudian menyambut baik keikhlasan panitia yang peduli terhadap pentingnya fasilitas ibadah dalam menyambut kedatangan wisatawan ke kawasan Agrowisata ini. Masih menurut Bupati, Bonthain yang memiliki tiga klaster (Pantai, Dataran Rendah dan Dataran Tinggi/Pegunungan) memiliki karakteristik dan potensi tersendiri. Kawasan pantai dimanfaatkan untuk pengembangan rumput laut. Sementara dataran rendah untuk pengembangan pertanian, khususnya padi yang sudah berhasil menangkar 20 varietas termasuk hybrid. Hasil pertanian tersebut diharapkan membawa Bonthain menjadi kabupaten benih berbasis teknologi untuk mensuplai daerah sekitar dan SulSel pada umumnya. Sedangkan pada dataran tinggi dikembangkan tanaman produktif yang banyak disukai masyarakat seperti strawberry dan apel. Khusus apel diharapkan sudah bisa dinikmati pada 2011, urainya. Selain kedua komoditi itu, kecamatan berjarak 30 kilometer dari Kota Bantaeng ini juga mengembangkan bunga potong krissan.
Pengembangan bunga tersebut selain untuk menunjang kunjungan yang akan memenuhi Bonto Lojong, juga diharapkan dapat mensuplai kebutuhan bunga Kota Makassar. Bahkan, untuk jangka panjang komoditi bunga tersebut juga diharapkan bisa diekspor ke mancanegara. Selama ini Bonthain sudah mengekspor hasil perikanan dalam bentuk Surimi beku yang dilakukan PT. Global Seafood International Indonesia (GSII) ke Jepang. Selain itu, Perusahaan Daerah Baji Minasa juga mengekspor biji kapuk ke Korea. Dalam tenggat waktu yang tidak terlalu lama, PT. GSII juga akan mengekspor talas ke Jepang dan akan segera disusul ekspor jagung ke Korea serta ekspor tapioka ke China dan gula aren ke Malaysia, urainya.
Pembangunan masjid di atas tanah seluas 12 X 15 Meter tersebut diprediksi bakal menghabiskan dana sebesar ± Rp 300-an juta. H. Tahir dari panitia masjid memperoleh dana swadaya masyarakat sebesar Rp 30 juta dalam mengawali pembangunan masjid dimaksud. Bupati Bantaeng bersama para tokoh pengusaha pun memberikan bantuan sebesar Rp 30 juta. Sehingga total dana awal pembangunan masjid tersebut mencapai Rp 60 juta. Sisanya masih diharapkan bantuan dari masyarakat Bangkeng Bonto dan lainnya. Ia berharap, kehadiran masjid ini dapat menunjang program Pemda untuk menjadikan Kecamatan Ulu Ere menjadi kawasan Agrowisata, urainya.
Bupati Bantaeng pada kesempatan tersebut berharap, pembangunan fasilitas ibadah ini dapat diselesaikan sesuai rencana agar segera dapat digunakan. Ini menjadi tanggung jawab kita semua untuk membantu penyelesaiannya, tandasnya. Ia kemudian menyambut baik keikhlasan panitia yang peduli terhadap pentingnya fasilitas ibadah dalam menyambut kedatangan wisatawan ke kawasan Agrowisata ini. Masih menurut Bupati, Bonthain yang memiliki tiga klaster (Pantai, Dataran Rendah dan Dataran Tinggi/Pegunungan) memiliki karakteristik dan potensi tersendiri. Kawasan pantai dimanfaatkan untuk pengembangan rumput laut. Sementara dataran rendah untuk pengembangan pertanian, khususnya padi yang sudah berhasil menangkar 20 varietas termasuk hybrid. Hasil pertanian tersebut diharapkan membawa Bonthain menjadi kabupaten benih berbasis teknologi untuk mensuplai daerah sekitar dan SulSel pada umumnya. Sedangkan pada dataran tinggi dikembangkan tanaman produktif yang banyak disukai masyarakat seperti strawberry dan apel. Khusus apel diharapkan sudah bisa dinikmati pada 2011, urainya. Selain kedua komoditi itu, kecamatan berjarak 30 kilometer dari Kota Bantaeng ini juga mengembangkan bunga potong krissan.
Pengembangan bunga tersebut selain untuk menunjang kunjungan yang akan memenuhi Bonto Lojong, juga diharapkan dapat mensuplai kebutuhan bunga Kota Makassar. Bahkan, untuk jangka panjang komoditi bunga tersebut juga diharapkan bisa diekspor ke mancanegara. Selama ini Bonthain sudah mengekspor hasil perikanan dalam bentuk Surimi beku yang dilakukan PT. Global Seafood International Indonesia (GSII) ke Jepang. Selain itu, Perusahaan Daerah Baji Minasa juga mengekspor biji kapuk ke Korea. Dalam tenggat waktu yang tidak terlalu lama, PT. GSII juga akan mengekspor talas ke Jepang dan akan segera disusul ekspor jagung ke Korea serta ekspor tapioka ke China dan gula aren ke Malaysia, urainya.
Resi Gudang menjaga Stabilitas Harga
Friday, April 9, 2010Pemerintah Kabupaten Bantaeng mempersiapkan strategi baru untuk mencegah jatuhnya harga pada saat panen berlangsung. Strategi tersebut diwujudkan dalam bentuk Resi Gudang. Dengan resi gudang yang akan dikeluarkan melalui Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang bekerjasama dengan pihak Perbankan, harga bisa bertahan. Pada saat harga jatuh komoditi yang ada di gudang tetap disimpan. Kita keluarkan pada saat harga membaik, kata Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah). Komoditi yang rawan mengalami fluktuasi harga adalah jagung, beras, rumput laut dan beberapa jenis komoditi. Hal ini diungkapkan pada perayaan Maulid Nabi Besar Muhammad SAW yang dilakukan warga Pa’taneteang, Kecamatan Tompobulu yang dipusatkan di Masjid Nurut Thawalib Bungeng.
Komoditi itu, pada saat panen raya secara otomatis akan mengalami penurunan harga. Sedangkan komoditi baru berupa Talas cukup aman karena pasarnya cukup baik. Komoditi yang satu ini mampu menghasilkan 40 ton/Ha saat panen. Dengan harga Rp 5.000/Kg saja, petani talas akan menghasilkan Rp 200 juta sekali panen, tambah Nurdin Abdullah yang mengajak masyarakat untuk menggeluti tanaman berkhasiat anti kanker dan diabetes ini. Berapa pun produksi talas milik petani, semuanya akan diserap PT. Global Seafood International Indonesia (GSII), perusahaan yang akan mengolah talas menjadi komoditas ekspor ke Jepang, ujarnya.
Perusahaan kerja sama Jepang Indonesia itu membutuhkan talas 40 ton/hari untuk memenuhi pasar Negeri Sakura tersebut. Negara Matahari Terbit itu selama ini mendatangkan talas dari China dan beberapa negara lainnya. Meski begitu, berdasarkan hasil penelitian, ternyata talas Bantaeng lebih baik dibanding talas dari China maupun talas Jepang sendiri. Karena itu, ia berharap kerja sama yang baik antara masyarakat, pemerintah dan dunia usaha. Ketiga komponen ini harus saling membantu agar pembangunan yang bertumpu pada peningkatan kesejahteraan masyarakat terus tumbuh, pinta Bupati. Ia kemudian mengemukakan pertumbuhan selama 1,7 bulan memimpin daerah berjuluk Butta Toa ini.
Dalam kurun waktu tersebut, sejumlah industri sudah melakukan ekspor seperti PT. GSII yang sudah melakukan ekspor produk hasil perikanan dalam bentuk surimi (Bantaeng Surimi) ke Jepang. Perusahaan ini juga segera melakukan ekspor talas, juga ke negara yang pernah hancur pada perang dunia kedua tersebut. Sedangkan Perusahaan Daerah (Perusda) Baji Minasa sudah melakukan ekspor biji kapuk ke Korea. Insya Allah, dalam waktu yang tidak terlalu lama, Perusahaan Milik Negara (BUMN) China juga akan membangun industri tapioka dan disusul BUMN Malaysia yang akan membangun industri cuka dari aren, terangnya.
Semua industri yang berpangkalan di Bantaeng, termasuk industri pengisian gas elpiji 3 Kg yang segera beroperasi, tentu menyerap tenaga kerja dan pada saatnya tentu akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bantaeng. Menyinggung soal pemanfaatan lahan kering, khususnya di Layoa dan Pa’jukukang, Bupati Bantaeng mengatakan, akan segera dibangun Cekdam Batumassong. Pembangunan cekdam tersebut akan memanfaatkan 30% air Sungai Bialo. Sisanya akan dimanfaatkan oleh Kabupaten Bulukumba yang merupakan Kabupaten tetangga terdekat di bagian Timur Bonthain. Bila fasilitas ini berhasil dibangun, maka lahan kering di Layoa dan Pa’jukukang akan berubah menjadi lahan subur. Karena itu, ia berharap warga Pa’taneteang turut menjaga sumber air yang akan menghidupi ke dua desa yang selama ini selalu gagal panen, pintanya.
Komoditi itu, pada saat panen raya secara otomatis akan mengalami penurunan harga. Sedangkan komoditi baru berupa Talas cukup aman karena pasarnya cukup baik. Komoditi yang satu ini mampu menghasilkan 40 ton/Ha saat panen. Dengan harga Rp 5.000/Kg saja, petani talas akan menghasilkan Rp 200 juta sekali panen, tambah Nurdin Abdullah yang mengajak masyarakat untuk menggeluti tanaman berkhasiat anti kanker dan diabetes ini. Berapa pun produksi talas milik petani, semuanya akan diserap PT. Global Seafood International Indonesia (GSII), perusahaan yang akan mengolah talas menjadi komoditas ekspor ke Jepang, ujarnya.
Perusahaan kerja sama Jepang Indonesia itu membutuhkan talas 40 ton/hari untuk memenuhi pasar Negeri Sakura tersebut. Negara Matahari Terbit itu selama ini mendatangkan talas dari China dan beberapa negara lainnya. Meski begitu, berdasarkan hasil penelitian, ternyata talas Bantaeng lebih baik dibanding talas dari China maupun talas Jepang sendiri. Karena itu, ia berharap kerja sama yang baik antara masyarakat, pemerintah dan dunia usaha. Ketiga komponen ini harus saling membantu agar pembangunan yang bertumpu pada peningkatan kesejahteraan masyarakat terus tumbuh, pinta Bupati. Ia kemudian mengemukakan pertumbuhan selama 1,7 bulan memimpin daerah berjuluk Butta Toa ini.
Dalam kurun waktu tersebut, sejumlah industri sudah melakukan ekspor seperti PT. GSII yang sudah melakukan ekspor produk hasil perikanan dalam bentuk surimi (Bantaeng Surimi) ke Jepang. Perusahaan ini juga segera melakukan ekspor talas, juga ke negara yang pernah hancur pada perang dunia kedua tersebut. Sedangkan Perusahaan Daerah (Perusda) Baji Minasa sudah melakukan ekspor biji kapuk ke Korea. Insya Allah, dalam waktu yang tidak terlalu lama, Perusahaan Milik Negara (BUMN) China juga akan membangun industri tapioka dan disusul BUMN Malaysia yang akan membangun industri cuka dari aren, terangnya.
Semua industri yang berpangkalan di Bantaeng, termasuk industri pengisian gas elpiji 3 Kg yang segera beroperasi, tentu menyerap tenaga kerja dan pada saatnya tentu akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat Bantaeng. Menyinggung soal pemanfaatan lahan kering, khususnya di Layoa dan Pa’jukukang, Bupati Bantaeng mengatakan, akan segera dibangun Cekdam Batumassong. Pembangunan cekdam tersebut akan memanfaatkan 30% air Sungai Bialo. Sisanya akan dimanfaatkan oleh Kabupaten Bulukumba yang merupakan Kabupaten tetangga terdekat di bagian Timur Bonthain. Bila fasilitas ini berhasil dibangun, maka lahan kering di Layoa dan Pa’jukukang akan berubah menjadi lahan subur. Karena itu, ia berharap warga Pa’taneteang turut menjaga sumber air yang akan menghidupi ke dua desa yang selama ini selalu gagal panen, pintanya.
Tanam dan Panen Talas
Wednesday, March 31, 2010Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (DR. Ir. Syamsul Alam) bersama Staf Ahli Bupati Bantaeng Bidang Pertanian (DR. Mokhtar A. Nawir), Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas (Prof DR. Veni Hadju), Staf Ahli Bupati Bidang Hukum (Imran Arief, SH) melakukan panen talas di Talakaya, Desa Bonto Tangga Kecamatan Ulu Ere. Panen dilakukan di areal seluas 1 Ha milik Saharuddin. Talas hasil panen yang ditanam Oktober 2009 lalu akan disuplai ke PT. Global Seafood International Indonesia (GSII) untuk selanjutnya diekspor ke Jepang.
Rencana ekspor akan dilakukan April 2010, kata Kadis Pertanian dan Peternakan. Tanaman yang sedang dikembangkan di areal seluas 25 Ha Bantaeng ini diharapkan terus berkembang di tengah masyarakat untuk memenuhi permintaan pasar ekspor Jepang. Negara matahari terbit itu membutuhkan talas yang cukup besar. Khusus kebutuhan PT. GSII sebanyak 10 ton/hari diharapkan dapat dipenuhi petani.
Kepala Bidang Distribusi Pangan Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Bantaeng (Ir. H. M. Yasser) pada kesempatan itu mengatakan "Pengembangan talas di wilayah kerjanya untuk 2010 mencapai 50 Ha". Dari jumlah tersebut penentuan lokasinya akan disesuaikan dengan agroklimat tanah. Itu dilakukan agar pengembangannya lebih baik dibanding 2009 yang masih merupakan uji coba. Dari pengalaman 2009 itulah dilakukan perbaikan perencanaan, sebab ada lahan yang tidak cocok, urainya.
Yasser mengatakan, dari 50 Ha yang dicadangkan, 65% berlokasi di Kecamatan Ulu Ere. Sedangkan sisanya di Kecamatan Sinoa dan Tompobulu Kabupaten Bantaeng. Untuk menunjang rencana pengembangan tersebut, Badan Ketahanan Pangan melalui Bagian Pelatihan dan Penyuluhan berupaya memberi pemahaman dan pembinaan kepada masyarakat.
Hal itu akan dilakukan dalam bentuk demplot agar masyarakat bisa melihat langsung tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta berkhasiat untuk penyakit kanker dan diabetes ini, terang Kepala Bidang Pelatihan dan Penyuluhan (Budi Taufiq). Selain itu, pihaknya juga siap melakukan pendampingan sebab petani biasanya hanya mau melihat bukti. Ia optimistis, petani akan tertarik karena talas memiliki pasar yang baik.
Rencana ekspor akan dilakukan April 2010, kata Kadis Pertanian dan Peternakan. Tanaman yang sedang dikembangkan di areal seluas 25 Ha Bantaeng ini diharapkan terus berkembang di tengah masyarakat untuk memenuhi permintaan pasar ekspor Jepang. Negara matahari terbit itu membutuhkan talas yang cukup besar. Khusus kebutuhan PT. GSII sebanyak 10 ton/hari diharapkan dapat dipenuhi petani.
Kepala Bidang Distribusi Pangan Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Bantaeng (Ir. H. M. Yasser) pada kesempatan itu mengatakan "Pengembangan talas di wilayah kerjanya untuk 2010 mencapai 50 Ha". Dari jumlah tersebut penentuan lokasinya akan disesuaikan dengan agroklimat tanah. Itu dilakukan agar pengembangannya lebih baik dibanding 2009 yang masih merupakan uji coba. Dari pengalaman 2009 itulah dilakukan perbaikan perencanaan, sebab ada lahan yang tidak cocok, urainya.
Yasser mengatakan, dari 50 Ha yang dicadangkan, 65% berlokasi di Kecamatan Ulu Ere. Sedangkan sisanya di Kecamatan Sinoa dan Tompobulu Kabupaten Bantaeng. Untuk menunjang rencana pengembangan tersebut, Badan Ketahanan Pangan melalui Bagian Pelatihan dan Penyuluhan berupaya memberi pemahaman dan pembinaan kepada masyarakat.
Hal itu akan dilakukan dalam bentuk demplot agar masyarakat bisa melihat langsung tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta berkhasiat untuk penyakit kanker dan diabetes ini, terang Kepala Bidang Pelatihan dan Penyuluhan (Budi Taufiq). Selain itu, pihaknya juga siap melakukan pendampingan sebab petani biasanya hanya mau melihat bukti. Ia optimistis, petani akan tertarik karena talas memiliki pasar yang baik.
bantu petani Talas in Bonthain
Sunday, March 28, 2010Bank SulSel Cabang Bantaeng menyatakan siap membantu petani talas yang akan mengembangkan tanamannya. Kami siap membantu petani talas yang ingin mengembangkan tanamannya karena talas memiliki prospek pasar yang baik, kata Pimpinan Bank SulSel Cabang Bantaeng (Irfan Wiraguna Roem). Irfan mengatakan, saat ini sudah dua petani yang sedang dalam tahap proses bantuan pembiayaan.
Untuk memudahkan tambahan modal tersebut, Bank SulSel akan membukakan rekening. Ini juga untuk memudahkan transaksi dari PT. GSII kepada petani. Kami berharap, hasil pembelian talas oleh Global Seafood bisa langsung ke rekening petani yang ada di Bank Sulsel Bantaeng, urainya.
Masih menurut Irfan Wiraguna, modal pengembangan usaha tani ini bisa mencapai Rp 50 juta, tambahnya. Karena itu, mulai musim tanam 2010, akan dilihat besaran komponen biaya produksi yang dikeluarkan petani. Kita akan segera menghitung besaran komponen biaya produksi yang dikeluarkan petani, tambah DR. Mokhtar Nawir. Staf Ahli Bupati Bidang Pertanian itu kemudian mengemukakan komponen pupuk yang diproduksi sendiri.
Yang jelas, biaya produksi talas lebih rendah dibanding kentang, ujarnya. Rata-rata biaya produksi untuk kentang mencapai Rp. 35 juta/Ha dengan produksi 10-15 ton/Ha. Dari segi penyakit, kentang juga lebih rentang sehingga resiko kegagalannya lebih besar, sementara talas memiliki resiko lebih kecil. Talas mengandung kolagen yang dapat mencegah kanker dan diabetes. Selain itu, juga berfungsi sebagai penghalus kulit.
Untuk memudahkan tambahan modal tersebut, Bank SulSel akan membukakan rekening. Ini juga untuk memudahkan transaksi dari PT. GSII kepada petani. Kami berharap, hasil pembelian talas oleh Global Seafood bisa langsung ke rekening petani yang ada di Bank Sulsel Bantaeng, urainya.
Masih menurut Irfan Wiraguna, modal pengembangan usaha tani ini bisa mencapai Rp 50 juta, tambahnya. Karena itu, mulai musim tanam 2010, akan dilihat besaran komponen biaya produksi yang dikeluarkan petani. Kita akan segera menghitung besaran komponen biaya produksi yang dikeluarkan petani, tambah DR. Mokhtar Nawir. Staf Ahli Bupati Bidang Pertanian itu kemudian mengemukakan komponen pupuk yang diproduksi sendiri.
Yang jelas, biaya produksi talas lebih rendah dibanding kentang, ujarnya. Rata-rata biaya produksi untuk kentang mencapai Rp. 35 juta/Ha dengan produksi 10-15 ton/Ha. Dari segi penyakit, kentang juga lebih rentang sehingga resiko kegagalannya lebih besar, sementara talas memiliki resiko lebih kecil. Talas mengandung kolagen yang dapat mencegah kanker dan diabetes. Selain itu, juga berfungsi sebagai penghalus kulit.
Ekspor Teripang ke Hongkong
Friday, March 26, 2010Setelah ekspor ikan dalam bentuk Surimi Beku (frozen) ke Jepang dan Biji Kapuk ke Korea, Kabupaten Bantaeng segera melakukan ekspor Teripang ke Hongkong. Ekspor berjumlah 4,20 ton senilai Rp 3 miliar lebih tersebut akan dilakukan UD. Mamampang Jaya, perusahaan lokal yang bermitra dengan perusahaan Fhilipina dan Malaysia. Kepastian ekspor tersebut dilaporkan, Saing (pimpinan perusahaan tersebut).
Menurut Saing yang datang bersama Andi Baso (Kr. Baso) serta mitra usaha dari Malaysia dan Fhilipina, bahan baku teripang diperoleh dari daerah sekitar Kabupaten Bantaeng seperti Selayar dan beberapa propinsi lain di Indonesia, termasuk dari Papua. Teripang yang berdatangan dari berbagai daerah dan propinsi tersebut kami kumpul dan pada saatnya kami ekspor, tandas Saing yang dibenarkan kerabatnya. Ia kemudian meminta Bupati agar berkesempatan melepas ekspor ke Hongkong tersebut.
Bupati Bantaeng menyambut baik kesiapan UD. Mamampang Jaya melakukan ekspor Teripang ke Hongkong. Meski potensinya tidak berada di Bantaeng, namun kami menyambut baik karena ada perusahaan lokal yang berbasis ekspor, ujarnya. Pemerintah, terang Nurdin Abdullah mendorong pengusaha untuk meningkatkan daya saing produksinya agar bisa menjadi komoditi yang dilirik pasar dunia. Kami akan mendorong terus pembangunan industri untuk memajukan daerah ini, tambahnya lagi.
Selain ekspor Teripang, pada April juga akan dilepas ekspor talas ke Jepang untuk melengkapi berbagai potensi ekspor di daerah ini, jelas Bupati Bantaeng. Menjawab pertanyaan, Saing mengatakan, pelaksanaan ekspor tinggal menunggu proses administrasi yang diperkirakan selesai pekan ini.
Menurut Saing yang datang bersama Andi Baso (Kr. Baso) serta mitra usaha dari Malaysia dan Fhilipina, bahan baku teripang diperoleh dari daerah sekitar Kabupaten Bantaeng seperti Selayar dan beberapa propinsi lain di Indonesia, termasuk dari Papua. Teripang yang berdatangan dari berbagai daerah dan propinsi tersebut kami kumpul dan pada saatnya kami ekspor, tandas Saing yang dibenarkan kerabatnya. Ia kemudian meminta Bupati agar berkesempatan melepas ekspor ke Hongkong tersebut.
Bupati Bantaeng menyambut baik kesiapan UD. Mamampang Jaya melakukan ekspor Teripang ke Hongkong. Meski potensinya tidak berada di Bantaeng, namun kami menyambut baik karena ada perusahaan lokal yang berbasis ekspor, ujarnya. Pemerintah, terang Nurdin Abdullah mendorong pengusaha untuk meningkatkan daya saing produksinya agar bisa menjadi komoditi yang dilirik pasar dunia. Kami akan mendorong terus pembangunan industri untuk memajukan daerah ini, tambahnya lagi.
Selain ekspor Teripang, pada April juga akan dilepas ekspor talas ke Jepang untuk melengkapi berbagai potensi ekspor di daerah ini, jelas Bupati Bantaeng. Menjawab pertanyaan, Saing mengatakan, pelaksanaan ekspor tinggal menunggu proses administrasi yang diperkirakan selesai pekan ini.
Export Talas from Bonthain to Sakura
Wednesday, March 10, 2010Harga talas dunia cukup menjanjikan untuk petani di daerah. Meski tak disebutkan harga pasaran tingkat dunia saat ini akibat fluktuasi mata uang dolar AS dan Jepang namun Bupati Bantaeng mengatakan, rata-rata Rp 5000/kg saja, petani sudah bisa bernafas lega sebab talas bisa berproduksi 40 ton/ha. Bupati Bantaeng mengatakan, talas memiliki pasar luas di manca Negara. Salah satu negara yang sudah siap menampung produksi talas dari Bonthain adalah Jepang. Negeri matahari terbit itu sudah mengakui kualitas talas Bonthain sebagai talas berkualitas tinggi
Berdasarkan hasil penelitian Jepang, talas Bonthain lebih baik dari talas Jepang dan China. Jepang dikenal sebagai negara terbanyak mengkonsumsi talas yang dipasok dari China. Karena itu, kita bertekad memenuhi pasar talas Jepang, kata Nurdin yang menyatakan rencana ekspor talas mulai April 2010. Insya Allah, mulai April kita juga sudah bisa mengekspor talas ke Jepang, tandasnya. Selain talas, Kabupaten Bantaeng melalui PT. Global Seafood Internasional Indonesia (GSII) juga sudah melakukan ekspor hasil laut ke negeri Sakura tersebut. Ekspor dalam bentuk ikan olahan (Surimi) tersebut berlangsung sejak Januari 2010.
Bupati Bantaeng optimistis, bila ekspor berjalan lancar, semakin banyak masyarakat yang akan menikmati hasilnya. Ia kemudian mengingatkan masyarakat, terutama yang berprofesi sebagai nelayan agar dapat memenuhi kebutuhan ikan industri pengolahan ikan yang bepangkalan di Kecamatan Pa’jukukang tersebut. Industri tersebut membutuhkan ikan 40 ton/hari yang selama ini dipasok dari Kalimantan, Sulawesi Tengah dan Barat serta beberapa daerah lainnya, termasuk Makassar. Ia kemudian mengajak masyarakat agar memberi perhatian terhadap komoditi yang bisa meningkatkan kesejahteraan. Khusus talas, hingga kini baru dikembangkan pada areal seluas 25 Ha di beberapa kecamatan.
Karena itu, tak ada salahnya bila masyarakat juga mengembangkan tanaman ini, pintanya. Masih menurut Bupati Bantaeng, potensi daerah ini cukup menjanjikan. Kita punya laut, punya daratan untuk penanaman padi dan punya gunung yang bisa ditanami berbagai jenis tanaman. Karena itu kita gagal bila masyarakat masih miskin. Nurdin kemudian mengajak semua pihak untuk memerangi kemiskinan di daerah ini. Pemerintah bertekad mengurangi dan bila perlu menghilangkan kemiskinan di Bonthain. Karena itu, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menyatukan visi ciptakan keamanan dan kedamaian serta menghimpun kekuatan untuk membangun daerah.
Hanya kebersamaanlah yang bisa kita lakukan untuk membangun, tandasnya seraya mengemukakan program perbaikan infrastruktur, terutama jalan yang dapat memudahkan transfortasi ke sentra produksi. Di bidang kesehatan, Bupati Bantaeng itu juga mengingatkan masyarakat agar memanfaatkan fasilitas kesehatan gratis yang sudah disiapkan Pemda Bantaeng. Bila terjadi sesuatu, cukup hubungi telepon 113. Ambulance bersama dokter dan tenaga medisnya akan meluncur ke lokasi, terangnya.
Berdasarkan hasil penelitian Jepang, talas Bonthain lebih baik dari talas Jepang dan China. Jepang dikenal sebagai negara terbanyak mengkonsumsi talas yang dipasok dari China. Karena itu, kita bertekad memenuhi pasar talas Jepang, kata Nurdin yang menyatakan rencana ekspor talas mulai April 2010. Insya Allah, mulai April kita juga sudah bisa mengekspor talas ke Jepang, tandasnya. Selain talas, Kabupaten Bantaeng melalui PT. Global Seafood Internasional Indonesia (GSII) juga sudah melakukan ekspor hasil laut ke negeri Sakura tersebut. Ekspor dalam bentuk ikan olahan (Surimi) tersebut berlangsung sejak Januari 2010.
Bupati Bantaeng optimistis, bila ekspor berjalan lancar, semakin banyak masyarakat yang akan menikmati hasilnya. Ia kemudian mengingatkan masyarakat, terutama yang berprofesi sebagai nelayan agar dapat memenuhi kebutuhan ikan industri pengolahan ikan yang bepangkalan di Kecamatan Pa’jukukang tersebut. Industri tersebut membutuhkan ikan 40 ton/hari yang selama ini dipasok dari Kalimantan, Sulawesi Tengah dan Barat serta beberapa daerah lainnya, termasuk Makassar. Ia kemudian mengajak masyarakat agar memberi perhatian terhadap komoditi yang bisa meningkatkan kesejahteraan. Khusus talas, hingga kini baru dikembangkan pada areal seluas 25 Ha di beberapa kecamatan.
Karena itu, tak ada salahnya bila masyarakat juga mengembangkan tanaman ini, pintanya. Masih menurut Bupati Bantaeng, potensi daerah ini cukup menjanjikan. Kita punya laut, punya daratan untuk penanaman padi dan punya gunung yang bisa ditanami berbagai jenis tanaman. Karena itu kita gagal bila masyarakat masih miskin. Nurdin kemudian mengajak semua pihak untuk memerangi kemiskinan di daerah ini. Pemerintah bertekad mengurangi dan bila perlu menghilangkan kemiskinan di Bonthain. Karena itu, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menyatukan visi ciptakan keamanan dan kedamaian serta menghimpun kekuatan untuk membangun daerah.
Hanya kebersamaanlah yang bisa kita lakukan untuk membangun, tandasnya seraya mengemukakan program perbaikan infrastruktur, terutama jalan yang dapat memudahkan transfortasi ke sentra produksi. Di bidang kesehatan, Bupati Bantaeng itu juga mengingatkan masyarakat agar memanfaatkan fasilitas kesehatan gratis yang sudah disiapkan Pemda Bantaeng. Bila terjadi sesuatu, cukup hubungi telepon 113. Ambulance bersama dokter dan tenaga medisnya akan meluncur ke lokasi, terangnya.
Bonthain
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor