Showing posts with label Ramadhan. Show all posts
Showing posts with label Ramadhan. Show all posts
Ribuan Warga Bantaeng Kebagian Sedekah
Wednesday, July 15, 2015
Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) bersama Ketua Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantaeng (Hj. Liestiaty F. Nurdin) berkunjung ke Dusun Ma'lero, Desa Biangloe, Kecamatan Pa'jukukang (15/07). Di kampung tersebut, Bupati yang oleh warga masyarakat menyebutnya "Doktoroka" mengumpulkan warga masyarakat di sebuah Masjid. Dimana "Masjid Hj. Nuraeny Abdullah" merupakan Masjid pertama yang dibangun oleh H. M. Nurdin Abdullah, jauh sebelum dirinya terpilih sebagai Bupati Bantaeng yang dilantik sejak Agustus 2008 silam.
Warga menyatakan rasa bersyukur dan terima kasih yang mendalam atas kunjungan Bupati Bantaeng. Menurutnya, baru kali ini mereka mendapatkan pemimpin yang benar-benar peduli terhadap masyarakat kalangan bawah. "Dia tidak lupa dengan kami pak. Disinilah pak Nurdin datang pertama sebelum menjadi Bupati. Seandainya bisa pak, dia saja yang menjadi Bupati Bantaeng seterusnya", tutur seorang warga usia lanjut yang diungkapkannya dalam bahasa Makassar.
Hal ini dibenarkan oleh warga lainnya yang kemudian meneriakkan "Bupatiku". Ada pula yang melakukan sujud syukur setelah mendapatkan sedekah. Sementara itu para warga tidak segan-segan mencium tangan H. M. Nurdin Abdullah dan Hj. Liestiaty F. Nurdin sambil menangis penuh haru.
Sedikitnya 300 orang mendapat pakaian berupa sarung dan uang tunai. Begitu pula anak-anak, pun mendapatkan uang tunai sebagai hadiah lebaran. Dengan sedekah ini, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga dalam menghadapi Idul Fitri 1436 H.
Sebelumnya, sejak pagi hingga siang ribuan warga juga kebagian sedekah dari keluarga H. M. Nurdin Abdullah. Kegiatan tersebut berlangsung di kediaman pribadinya di bilangan Jalan Lingkar Bantaeng.
Warga menyatakan rasa bersyukur dan terima kasih yang mendalam atas kunjungan Bupati Bantaeng. Menurutnya, baru kali ini mereka mendapatkan pemimpin yang benar-benar peduli terhadap masyarakat kalangan bawah. "Dia tidak lupa dengan kami pak. Disinilah pak Nurdin datang pertama sebelum menjadi Bupati. Seandainya bisa pak, dia saja yang menjadi Bupati Bantaeng seterusnya", tutur seorang warga usia lanjut yang diungkapkannya dalam bahasa Makassar.
Hal ini dibenarkan oleh warga lainnya yang kemudian meneriakkan "Bupatiku". Ada pula yang melakukan sujud syukur setelah mendapatkan sedekah. Sementara itu para warga tidak segan-segan mencium tangan H. M. Nurdin Abdullah dan Hj. Liestiaty F. Nurdin sambil menangis penuh haru.
Sedikitnya 300 orang mendapat pakaian berupa sarung dan uang tunai. Begitu pula anak-anak, pun mendapatkan uang tunai sebagai hadiah lebaran. Dengan sedekah ini, diharapkan dapat memenuhi kebutuhan rumah tangga dalam menghadapi Idul Fitri 1436 H.
Sebelumnya, sejak pagi hingga siang ribuan warga juga kebagian sedekah dari keluarga H. M. Nurdin Abdullah. Kegiatan tersebut berlangsung di kediaman pribadinya di bilangan Jalan Lingkar Bantaeng.
FORIMBA Berbagi Takjil
Tuesday, July 7, 2015
Puluhan anggota komunitas motor yang tergabung dalam Forum Riders Motor Bantaeng, bagi-bagi takjil kepada para pengendara becak yang ada di Kabupaten Bantaeng. Kegiatan tersebut merupakan salah satu wujud kepedulian komunitas motor kepada sesama, khususnya umat muslim yang akan berbuka puasa.
Forum Riders Motor Bantaeng yang lebih sering dikenal dengan nama FORIMBA, merupakan salah satu forum yang menaungi beberapa klub motor yang ada di Kabupaten Bantaeng. Kegiatan dimaksud dikemas dalam bentuk bhakti sosial. Sebanyak 400 paket takjil atau makanan untuk berbuka puasa habis terbagi kepada para pengendara becak dan pengguna jalan yang melintas dikawasan Jalan Raya Lanto Bantaeng.
Aksi berbagi takjil tersebut dimulai sekitar pukul 17.00 Wita, tepat di depan KODIM 1410 Bantaeng. Diawali dengan membagi-bagikan kupon kepada para pengendara becak di sekitar persimpangan jalan raya Bantaeng. Dengan kupon tersebut diharapkan dapat datang dan mendapatkan takjil yang akan dibagikan.
"Berbagi takjil ini adalah wujud kepedulian komunitas pencinta motor untuk berbagi kepada sesama dibulan suci yang mulia, dengan harapan bermanfaat bagi pengendara yang mungkin sulit untuk berbuka tepat waktu", ujar Syahrul Bayan selaku Ketua Dewan Pembina Forimba.
Masih Syahrul Bayan, "Ramadhan ini adalah momentum kita belajar dan peduli terhadap sesama. Ketika Forimba sudah melakukan hal seperti ini, berharap bisa dicontoh pada hal-hal lainnya, sehingga bermanfaat buat semuanya. Kedepannya akan kita tingkatkan lagi kegiatan yang bersifat sosial.
Kegiatan bhakti sosial seperti ini rutin digelar setiap tahunnya di bulan Ramadhan, dengan harapan tiap tahunnya jumlah takjil yang dibagikan bisa lebih banyak.
Forum Riders Motor Bantaeng yang lebih sering dikenal dengan nama FORIMBA, merupakan salah satu forum yang menaungi beberapa klub motor yang ada di Kabupaten Bantaeng. Kegiatan dimaksud dikemas dalam bentuk bhakti sosial. Sebanyak 400 paket takjil atau makanan untuk berbuka puasa habis terbagi kepada para pengendara becak dan pengguna jalan yang melintas dikawasan Jalan Raya Lanto Bantaeng.
Aksi berbagi takjil tersebut dimulai sekitar pukul 17.00 Wita, tepat di depan KODIM 1410 Bantaeng. Diawali dengan membagi-bagikan kupon kepada para pengendara becak di sekitar persimpangan jalan raya Bantaeng. Dengan kupon tersebut diharapkan dapat datang dan mendapatkan takjil yang akan dibagikan.
"Berbagi takjil ini adalah wujud kepedulian komunitas pencinta motor untuk berbagi kepada sesama dibulan suci yang mulia, dengan harapan bermanfaat bagi pengendara yang mungkin sulit untuk berbuka tepat waktu", ujar Syahrul Bayan selaku Ketua Dewan Pembina Forimba.
Masih Syahrul Bayan, "Ramadhan ini adalah momentum kita belajar dan peduli terhadap sesama. Ketika Forimba sudah melakukan hal seperti ini, berharap bisa dicontoh pada hal-hal lainnya, sehingga bermanfaat buat semuanya. Kedepannya akan kita tingkatkan lagi kegiatan yang bersifat sosial.
Kegiatan bhakti sosial seperti ini rutin digelar setiap tahunnya di bulan Ramadhan, dengan harapan tiap tahunnya jumlah takjil yang dibagikan bisa lebih banyak.
GRATIS Buka Puasa Bersama di Pantai Seruni Bantaeng
Thursday, June 25, 2015
Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) bersama dengan masyarakat umum dan sejumlah aparatur Pemerintah bergabung di Tribun Pantai Seruni Bantaeng. Di tempat ini berlangsung Buka Puasa Bersama. Dimana kegiatan ini digelar setiap hari selama bulan suci Ramadhan 1436 H.
Masih dengan pakaian kerjanya yang baru saja tiba dari Makassar. Sebelum menuju kediaman pribadinya di bilangan Bonto Atu Bantaeng, dirinya langsung merapat ke tempat ini.
Beberapa aparatur Pemerintah yang baru saja kembali dari tempat kerjanya dan sedang berada di Pantai Seruni, juga ikut bergabung dengan warga Muslim lainnya untuk berbuka bersama.
Hadir pada kesempatan itu, Ketua GOW Kabupaten Bantaeng (Hj. Aisyah Yasin) bersama beberapa anggota TP. PKK Kabupaten Bantaeng. Selain itu tampak pula puluhan mahasiswa Universitas Hasanuddin yang sedang melaksanakan KKN Profesi di daerah ini.
Kehadiran pemegang tertinggi Pemerintahan daerah ini, menjadi kebanggaan tersendiri bagi segenap warga masyarakat. "Saya senang sekali pak, karena pak Bupati itu selalu mendatangi warga. Seperti bapak lihat sekarang. Kalau orang lain, mungkin tidak akan datang dengan pakaian seperti itu. Apalagi duduk bersama masyarakat biasa dan juga pengunjung Pantai Seruni ini." tutur Hatta (salah seorang warga Bantaeng).
Bentuk perhatian yang ditunjukkannya benar-benar dirasakan oleh warga. Berbaur dengan siapapun, tanpa memandang status dan latar belakangnya.
Dengan sikap seperti itu, warga justru semakin segan dan hormat. Namun tidak bagi Nurdin Abdullah. Tak jarang sang Bupati menyuguhkan penganan kepada warga yang menantikan saat berbuka puasa. Seperti halnya sore itu, duduk bersama warga sambil membagikan es buah dan kue lapis.
"Saya mengajak kepada seluruh warga untuk berbagi melalui kegiatan buka puasa bersama. Mereka yang berlebih bisa memberikan bantuan berupa takjil. Dan siapa saja bisa berbuka puasa disini. Kita juga bisa mempererat tali silaturahmi." harap Nurdin Abdullah.
Khalayak ramai dapat menikmati sajian buka puasa secara GRATIS hingga 30 Ramadhan 1436 H. Aktifitas bernuansa Islami ini bermula sejak 2 hari lalu (21/06), bertepatan dengan Pembukaan Pasar Ramadhan.
Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menambah semarak bulan suci Ramadhan. Sekaligus meramaikan destinasi wisata Pantai Seruni yang sudah menjadi idola bagi penikmat kuliner pada khususnya.
Masih dengan pakaian kerjanya yang baru saja tiba dari Makassar. Sebelum menuju kediaman pribadinya di bilangan Bonto Atu Bantaeng, dirinya langsung merapat ke tempat ini.
Beberapa aparatur Pemerintah yang baru saja kembali dari tempat kerjanya dan sedang berada di Pantai Seruni, juga ikut bergabung dengan warga Muslim lainnya untuk berbuka bersama.
Hadir pada kesempatan itu, Ketua GOW Kabupaten Bantaeng (Hj. Aisyah Yasin) bersama beberapa anggota TP. PKK Kabupaten Bantaeng. Selain itu tampak pula puluhan mahasiswa Universitas Hasanuddin yang sedang melaksanakan KKN Profesi di daerah ini.
Kehadiran pemegang tertinggi Pemerintahan daerah ini, menjadi kebanggaan tersendiri bagi segenap warga masyarakat. "Saya senang sekali pak, karena pak Bupati itu selalu mendatangi warga. Seperti bapak lihat sekarang. Kalau orang lain, mungkin tidak akan datang dengan pakaian seperti itu. Apalagi duduk bersama masyarakat biasa dan juga pengunjung Pantai Seruni ini." tutur Hatta (salah seorang warga Bantaeng).
Bentuk perhatian yang ditunjukkannya benar-benar dirasakan oleh warga. Berbaur dengan siapapun, tanpa memandang status dan latar belakangnya.
Dengan sikap seperti itu, warga justru semakin segan dan hormat. Namun tidak bagi Nurdin Abdullah. Tak jarang sang Bupati menyuguhkan penganan kepada warga yang menantikan saat berbuka puasa. Seperti halnya sore itu, duduk bersama warga sambil membagikan es buah dan kue lapis.
"Saya mengajak kepada seluruh warga untuk berbagi melalui kegiatan buka puasa bersama. Mereka yang berlebih bisa memberikan bantuan berupa takjil. Dan siapa saja bisa berbuka puasa disini. Kita juga bisa mempererat tali silaturahmi." harap Nurdin Abdullah.
Khalayak ramai dapat menikmati sajian buka puasa secara GRATIS hingga 30 Ramadhan 1436 H. Aktifitas bernuansa Islami ini bermula sejak 2 hari lalu (21/06), bertepatan dengan Pembukaan Pasar Ramadhan.
Melalui kegiatan ini diharapkan dapat menambah semarak bulan suci Ramadhan. Sekaligus meramaikan destinasi wisata Pantai Seruni yang sudah menjadi idola bagi penikmat kuliner pada khususnya.
Jalin Sinergitas Melalui Buka Puasa Bersama Muballiq

Sejumlah muballiq se-Kabupaten Bantaeng berkumpul di Rumah Jabatan Bupati Bantaeng (21/06). Kehadiran para muballiq tersebut dalam rangka Buka Puasa Bersama yang dilaksanakan Pemerintah Kabupaten Bantaeng.
Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) yang menerima para muballiq, didampingi Wakil Bupati Bantaeng (H. Muhammad Yasin) dan Sekretaris Daerah Kabupaten Bantaeng (H. Abdul Gani). Disamping itu hadir pula Kepala Kementerian Agama Kabupaten Bantaeng (H. Anwar Abu Bakar), Asisten I Bidang Administrasi Sekretariat Daerah Kabupaten Bantaeng (Muhammad Hero), beberapa Kepala SKPD dan Camat.
Menjelang saat berbuka puasa, H. M. Nurdin Abdullah memberikan beberapa wejangan dan pencerahan di hadapan para muballiq. Menurutnya Indonesia akan hebat bisa dimulai dari Bantaeng. Pemerintah dan masyarakat bersama-sama membangun daerah ini demi kemaslahatan bangsa yang akan dinikmati generasi berikutnya.
"Olehnya itu, perlu kita memberikan pemahaman kepada masyarakat. Ditetapkannya Bantaeng melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2015 sebagai salah satu kawasan industri strategis di luar Pulau Jawa telah memberi peluang sebesar-besarnya untuk kita maju. Bantaeng ini harus menjadi contoh bagi daerah lain untuk menjadikan Indonesia semakin hebat dan diakui dunia." tambah Nurdin.
Kegiatan ini digelar untuk memupuk persatuan serta kebersamaan antara Pemerintah dengan seluruh Muballiq dan Tokoh Agama di daerah ini. Melalui kegiatan tersebut diharapkan akan terbangun sinergitas dalam mengubah dan menumbuh kembangkan mindset masyarakat untuk selalu taat beragama.
Terlebih lagi dalam mengisi bulan suci Ramadhan ini agar diisi dengan serangkaian kegiatan bernilai ibadah seperti puasa, Shalat Tarwih, Ceramah Islamiyah serta Safari Ramadhan ke beberapa Masjid di seluruh wilayah Kabupaten Bantaeng.
Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) yang menerima para muballiq, didampingi Wakil Bupati Bantaeng (H. Muhammad Yasin) dan Sekretaris Daerah Kabupaten Bantaeng (H. Abdul Gani). Disamping itu hadir pula Kepala Kementerian Agama Kabupaten Bantaeng (H. Anwar Abu Bakar), Asisten I Bidang Administrasi Sekretariat Daerah Kabupaten Bantaeng (Muhammad Hero), beberapa Kepala SKPD dan Camat.
Menjelang saat berbuka puasa, H. M. Nurdin Abdullah memberikan beberapa wejangan dan pencerahan di hadapan para muballiq. Menurutnya Indonesia akan hebat bisa dimulai dari Bantaeng. Pemerintah dan masyarakat bersama-sama membangun daerah ini demi kemaslahatan bangsa yang akan dinikmati generasi berikutnya.
"Olehnya itu, perlu kita memberikan pemahaman kepada masyarakat. Ditetapkannya Bantaeng melalui Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2015 sebagai salah satu kawasan industri strategis di luar Pulau Jawa telah memberi peluang sebesar-besarnya untuk kita maju. Bantaeng ini harus menjadi contoh bagi daerah lain untuk menjadikan Indonesia semakin hebat dan diakui dunia." tambah Nurdin.
Kegiatan ini digelar untuk memupuk persatuan serta kebersamaan antara Pemerintah dengan seluruh Muballiq dan Tokoh Agama di daerah ini. Melalui kegiatan tersebut diharapkan akan terbangun sinergitas dalam mengubah dan menumbuh kembangkan mindset masyarakat untuk selalu taat beragama.
Terlebih lagi dalam mengisi bulan suci Ramadhan ini agar diisi dengan serangkaian kegiatan bernilai ibadah seperti puasa, Shalat Tarwih, Ceramah Islamiyah serta Safari Ramadhan ke beberapa Masjid di seluruh wilayah Kabupaten Bantaeng.
Pasar Ramadhan Bantu Penuhi Kebutuhan Berbuka Puasa Masyarakat Bantaeng

Pasar Ramadhan kembali digelar di Kabupaten Bantaeng. Dilaksanakan oleh Pemerintah Kabupaten Bantaeng melalui Dinas Koperasi dan UKM Kabupaten Bantaeng bekerja sama dengan Tim Penggerak PKK Kabupaten Bantaeng.
Kegiatan ini akan dilangsungkan selama bulan suci Ramadhan 1436 H. Dibuka secara resmi oleh Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) didampingi Ketua TP. PKK Kabupaten Bantaeng (Hj. Liestiaty F. Nurdin).
Pembukaan ditandai dengan pengguntingan pita oleh Hj. Liestiaty F. Nurdin. Pasar Ramadhan ini merupakan kegiatan tahunan di daerah ini. Dimana menghadirkan seluruh kebutuhan untuk berbuka puasa.
Bupati Bantaeng dalam sambutannya menyampaikan bahwa apapun yang kita lakukan selama bulan suci Ramadhan ini, pahalanya akan dilipat gandakan oleh Allah Swt. Pasar Ramadhan ini merupakan sebuah wadah yang menyiapkan seluruh kebutuhan untuk berbuka puasa. Oleh karena itu, ini adalah momen yang sangat bagus sekali untuk bersama-sama melaksanakan ibadah puasa, sekaligus membantu masyarakat di sekitar kita.
Tampak hadir Sekretaris Daerah Kabupaten Bantaeng (H. Abdul Gani), Asisten I Bidang Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Bantaeng (Muhammad Hero), Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Bantaeng (Syamsul Suli), Ketua GOW Kabupaten Bantaeng (Hj. Aisyah Yasin), Ketua DWP Kabupaten Bantaeng (Hj. Nuraeni Gani) dan beberapa Kepala SKPD lingkup Pemerintah Kabupaten Bantaeng. Juga hadir seluruh anggota TP. PKK, GOW dan DWP se-Kabupaten Bantaeng.
Masyarakat begitu antusias mengunjungi setiap stand yang disiapkan. Bertempat di salah satu sudut Pantai Seruni Bantaeng, sebagian besar stand diisi oleh para pedagang di Kabupaten Bantaeng. Mereka adalah pedagang yang tergabung ke dalam UKM dan IKM binaan TP. Penggerak PKK Kabupaten Bantaeng. Sehingga benar-benar dijamin kebersihan dan higienis dari semua jenis makanan yang dijual.
Tak hanya takjil, seperti es buah, es pallu butung, pisang ijo, cendol, kue lapis dan sebaianya yang dijual para pedagang. Dapat pula dijumpai beraneka ragam kerajinan tangan hasil kreasi pengrajin seperti tas, dompet, kain dan sebagainya.
Pada kesempatan yang sama H. M Nurdin Abdullah dan Hj. Liestiaty F. Nurdin menyerahkan bantuan berupa modal usaha kepada para pedagang Pasar Ramadhan. Sebanyak 20 pedagang mendapat bantuan uang tunai yang nantinya diharapkan digunakan untuk menyiapkan segala kebutuhan masyarakat yang berkunjung ke tempat tersebut.
Rombongan yang dipimpin Bupati Bantaeng, selanjutnya meninjau secara langsung aktifitas Pasar Ramadhan. Berbagai dagangan diborong olehnya, sekaligus memberi semangat kepada para pedagang untuk menjaga kualitas maupun kebersihan dagangannya serta stand yang dikelolanya.
Kegiatan ini akan dilangsungkan selama bulan suci Ramadhan 1436 H. Dibuka secara resmi oleh Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) didampingi Ketua TP. PKK Kabupaten Bantaeng (Hj. Liestiaty F. Nurdin).
Pembukaan ditandai dengan pengguntingan pita oleh Hj. Liestiaty F. Nurdin. Pasar Ramadhan ini merupakan kegiatan tahunan di daerah ini. Dimana menghadirkan seluruh kebutuhan untuk berbuka puasa.
Bupati Bantaeng dalam sambutannya menyampaikan bahwa apapun yang kita lakukan selama bulan suci Ramadhan ini, pahalanya akan dilipat gandakan oleh Allah Swt. Pasar Ramadhan ini merupakan sebuah wadah yang menyiapkan seluruh kebutuhan untuk berbuka puasa. Oleh karena itu, ini adalah momen yang sangat bagus sekali untuk bersama-sama melaksanakan ibadah puasa, sekaligus membantu masyarakat di sekitar kita.
Tampak hadir Sekretaris Daerah Kabupaten Bantaeng (H. Abdul Gani), Asisten I Bidang Pemerintahan Sekretariat Daerah Kabupaten Bantaeng (Muhammad Hero), Asisten II Bidang Ekonomi dan Pembangunan Sekretariat Daerah Kabupaten Bantaeng (Syamsul Suli), Ketua GOW Kabupaten Bantaeng (Hj. Aisyah Yasin), Ketua DWP Kabupaten Bantaeng (Hj. Nuraeni Gani) dan beberapa Kepala SKPD lingkup Pemerintah Kabupaten Bantaeng. Juga hadir seluruh anggota TP. PKK, GOW dan DWP se-Kabupaten Bantaeng.
Masyarakat begitu antusias mengunjungi setiap stand yang disiapkan. Bertempat di salah satu sudut Pantai Seruni Bantaeng, sebagian besar stand diisi oleh para pedagang di Kabupaten Bantaeng. Mereka adalah pedagang yang tergabung ke dalam UKM dan IKM binaan TP. Penggerak PKK Kabupaten Bantaeng. Sehingga benar-benar dijamin kebersihan dan higienis dari semua jenis makanan yang dijual.
Tak hanya takjil, seperti es buah, es pallu butung, pisang ijo, cendol, kue lapis dan sebaianya yang dijual para pedagang. Dapat pula dijumpai beraneka ragam kerajinan tangan hasil kreasi pengrajin seperti tas, dompet, kain dan sebagainya.
Pada kesempatan yang sama H. M Nurdin Abdullah dan Hj. Liestiaty F. Nurdin menyerahkan bantuan berupa modal usaha kepada para pedagang Pasar Ramadhan. Sebanyak 20 pedagang mendapat bantuan uang tunai yang nantinya diharapkan digunakan untuk menyiapkan segala kebutuhan masyarakat yang berkunjung ke tempat tersebut.
Rombongan yang dipimpin Bupati Bantaeng, selanjutnya meninjau secara langsung aktifitas Pasar Ramadhan. Berbagai dagangan diborong olehnya, sekaligus memberi semangat kepada para pedagang untuk menjaga kualitas maupun kebersihan dagangannya serta stand yang dikelolanya.
Sisa Lebaran
Wednesday, August 31, 2011Shalat Idul Fitri baru saja selesai digelar untuk kedua kalinya. Kembali terjadi perulangan fenomena yang sama seperti yang terjadi pada tahun-tahun sebelumnya. Meski tidak bisa dipungkiri bahwa Lebaran tahun ini menyisakan cerita berbeda dari yang pernah ada. Setelah sebelumnya terjadi penundaan, pembatalan atau apa pun istilahnya, Alhamdulillah umat Muslim di seluruh dunia telah menunaikan Shalat Idul Fitri. Meninggalkan Ramadhan dan senantiasa merayakan hari kemenangan setelah berpuasa sebulan penuh. Tujuh (7) kali Takbir pada raka’at pertama selain Takbiratul Ihram dan lima (5) kali Takbir pada raka’at kedua selain Takbiratul Qiyam. Kemudian sang khatib kembali mengumandangkan Takbir, Tahmid dan Tasbih seraya mengingatkan kepada kita semua akan Perintah-NYA dan menjauhi larangan-NYA. Shalat idul Fitri merupakan inti sari dari pelaksanaan lebaran yang akan berlanjut pada sesi Silaturahim. Saling bermaafan, menyadari tiap kesalahan yang pernah diperbuat, baik disengaja maupun tidak disengaja. Menyodorkan tangan dan menjabat tangan kepada sesamanya. Dengan tulus memohon maaf dari hati yang paling dalam seraya berkata Minal Aidin Wal Faidzin. Maafkan semua kesalahanku saudaraku, aku menyesal dan berjanji untuk tidak mengulanginya di masa mendatang.
Sejak dua hari ini, santer diperdebatkan di tiap sudut dunia nyata maupun dunia maya perihal perbedaan penetapan dan pelaksanaan lebaran. Sesungguhnya hal ini tidak patut diperdebatkan sehebat-hebatnya. Wajarlah kalau setiap insan bertanya sembari memberontak dalam hatinya karena kekecewaan bercampur jengkel. Tapi, layakkah kita menyalahkan pihak tertentu dan menganggap diri ini yang paling benar. Kiranya tidak layak berlaku seperti itu meskipun pada hakikatnya pihak tertentu telah berlaku salah dan pihak lainnya berlaku benar. Kembalikanlah semuanya pada Allah Swt. Allah Maha Mengetahui atas apa pun yang ada di langit dan yang ada di bumi. Allah Maha mengampuni atas segala kesalahan yang diperbuat hamba-NYA. Iyyaka Na’budu Waiyyaka Nastain (Hanya kepada-NYA kita memohon dan hanya kepada-NYA kita berserah).
Ramadhan telah mengajarkan kita bersabar dan menahan segala amarah. Mendekatkan diri pada Yang Kuasa melalui media ibadah, baik Shalat, Puasa, Zakat, Tadarrus dan sebagainya. Akankah perilaku kita kembali ke jalan yang dimurkai Allah Swt seiring dengan berakhirnya Ramadhan...??? 1 Syawal 1432 H mengantar kita pada titik Nol (0). Tak ubahnya bayi yang baru lahir dari rahim ibunya. Hari ini kita diperhadapkan pada awal menuju sebelas bulan yang penuh dengan cobaan terberat. Setiap coretan yang kita torehkan akan kita pertanggung jawabkan di akhirat kelak.
Lebaran menyisakan banyak cerita, kegembiraan bercampur kecewa dan kesedihan bercampur bahagia. Beberapa peninggalan lebaran kali ini :
Ketupat
Merayakan lebaran tanpa makanan yang satu ini, rasanya hampa. Lebaran yang tertunda membuat berang kaum Muslimah. Di Bonthain dikenal beberapa jenis makanan khas lebaran antara lain Katupa’, Salonde', Gagape’, Burasa’, Lappa’-lappa’, Lekese’, Dake, Ipi’, Lammang dan Songkolo’. Beragam makanan ini harus siap sedia sebelum lebaran tiba. Karena penundaan oleh Pemerintah, ibu-ibu harus merelakan makanan tersebut menunggu sehari lagi. Daripada terkesan terjadi pembiaran, Sahur di hari terakhir ditemani makanan lebaran.
Full
Sehari sebelumnya telah dilaksanakan Shalat Ied di berbagai tempat. Mirip kejadian tahun lalu, perbedaan ini telah membagi jama’ah Ied untuk melaksanakan Shalat Ied. Masjid/Mushallah maupun Tanah Tapang di berbagai lokasi tidaklah sepadat yang bisa dibayangkan. Sebagian besar umat Muslim yang telah merayakan lebaran kemarin, pada hari ini cukup menjadi penonton menyaksikan umat Muslim lainnya berbondong-bondong menuju lokasi pelaksanaan Shalat Ied. Kemacetan lalu lintas akibat pengguna jalan yang membludak pun dapat diminimalkan.
Mudik
Indonesia memiliki tradisi unik yang tidak dimiliki sebagian besar negara lainnya di dunia ini. Mudik merupakan bagian tak terpisahkan dari Lebaran itu sendiri. Sebelumnya, pemudik merasa khawatir terlambat tiba di kampung halamannya. Hal ini terus menghantui pikiran para pemudik karena padatnya arus mudik dimana-mana. Namun, kekhawatiran itu cukup berkurang dengan ditundanya lebaran sehari dari jadwal yang ditetapkan sebelumnya.
Introspeksi
Perbedaan menjadi tanggung jawab Pemerintah. Betapa tidak, Pemerintah adalah Imam bagi masyarakat bangsa ini. Namun kesalahan belum tentu sepenuhnya menjadi tanggung Pemerintah. Siapa pun yang salah, kiranya janganlah diperdebatkan lagi. Sekali lagi, kita kembalikan pada Allah Swt. Tapi, tidak sampai disitu lantas selesai permasalahan ini. Pemerintah bersama semua pihak harus introspeksi diri, termasuk kita semua sebagai masyarakat yang menjadi obyek ketetapan diimaksud. Sebagian kalangan beranggapan bahwa awal perbedaan ini disebabkan oleh munculnya beberapa mazhab yang ada di negeri Merah Putih ini. Indonesia dikenal dengan keberagamannya, tapi janganlah keberagaman itu menjadikan selalu berseberangan satu sama lain. Mari menyatukan kesemuanya itu yang nantinya akan berdampak pula pada penyelesaian tiap masalah yang bergulir di negeri ini.
Libur
Lebaran memberikan kebahagian tersendiri, khususnya bagi para Tenaga Kerja baik itu Pegawai Negeri, Karyawan atau pun Buruh. jauh-jauh hari, Pemerintah telah menetapkan Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama menyambut Hari Raya Idul Fitri. Ditetapkannya hari lebaran pada 2 hari yang berbeda berakibat pada bertambahnya hari libur, minimal sehari. Mungkin perihal ini tidak berlaku pada instansi resmi Pemerintah atau pun Perusahaan ternama di negeri ini. Tapi, bisa saja berlaku pada perusahaan/usaha kecil dan menengah. Kita anggap saja sebuah keluarga telah menetapkan masa libur selama 5 hari kepada Pembantu Rumah Tangga yang bekerja di rumahnya. Berarti Pembantu tersebut harus kembali masuk kerja pada tanggal 5 September 2011. Mengingat sang Pembantu merayakan lebaran pada tanggal 31 Agustus 2011, maka seharusnya hari kerjanya dimulai pada tanggal 6 September 2011. Bertambah atau berkurangnya hari libur seseorang bergantung pada aturan main yang diterapkan pada tempat kerja bersangkutan.
Puasa
Bagi saudara Muslim yang merayakan lebaran kemarin, Puasa Ramadhan hanya berlangsung selama 29 hari lamanya. Dengan asumsi bahwa 1 Ramadhan 1432 H dimulai pada tanggal 1 Agustus 2011. Namun bagi mereka yang merayakan lebaran hari ini, secara otomatis telah melaksanakan Puasa Ramadhan selama 30 hari lamanya.
Ugal-ugalan
Pada dasarnya puncak pawai takbiran berlangsung sehari sebelumnya atau pada Senin malam tanggal 29 Agustus 2011. Namun, kekecewaan dirasakan oleh sebagian besar pihak. Penetapan 1 Syawal 1432 H diumumkan pada saat pawai takbiran berlangsung. Kekecewaan itu, menjadi faktor utama para peserta pawai Takbiran untuk tidak lagi ambil bagian pada pawai Takbiran malam berikutnya. Meskipun penurunannya tidak terjadi secara signifikan, paling tidak dapat meminimalisir perilaku ugal-ugalan di jalan raya khususnya pengendara roda dua.
Tarwih
Shalat Tarwih disunnahkan bagi kaum Muslimin hanya pada bulan suci Ramadhan. Sunnah bukan berarti tidak penting karena selama Ramadhan umat Muslimin diharapkan mengerjakan berbagai ibadah. Dengan harapan semua ibadah yang dikerjakan bernilai amalan di sisi Allah Swt. “Saya tidak puasa lagi hari ini karena semalam saya tidak melaksanakan Shalat Tarwih dan Shalat Witir. Kenapa bisa...??? Bukannya saya pengikut Muhammadiyah atau Nahdhatul Ulama, saya tetap penganut Ulil Amri. Masalahnya, saya tidak tahu perihal penundaan lebaran ini karena saya terlampau cepat tidur. Demikian dituturkan Daeng Arif (salah seorang warga Bonthain). Baginya tarwih itu menjadi penanda bahwa esok dirinya masih harus berpuasa. Berarti dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat tidak melaksanakan Shalat Tarwih dan Shalat Witir pada malam ke-30 Ramadhan. Ada yang tetap melaksanakannya dan esoknya kembali berpuasa di hari akhir Ramadhan. Ada pula yang lebih memilih untuk tidak Shalat Tarwih maupun Shalat Witir dan esoknya (kemaren, RED) melaksanakan Shalat Idul Fitri.
Baru
Berburu hal-hal baru menjelang lebaran bukanlah fenomena baru di negeri ini. Ketimbang di awal Ramadhan, kaum Muslimin di seantero Indonesia lebih memilih membeli pakaian baru pada detik-detik terakhir Ramadhan. Dengan ditundanya lebaran oleh Pemerintah, maka cukup sehari lagi peluang untuk berbelanja ria bagi masyarakat.
Panen
Daging yang sedianya dicicipi pada hari lebaran kemarin, oleh kalangan yang merayakan lebaran hari ini harus rela membeli lagi daging yang baru di pasar. Para penjual daging dan bahan makanan pokok lainnya di pasar mendulang untung lebih banyak, jauh dibanding perkiraannya semula. Sama halnya dengan penjual pulsa di Counter/Gerai/Agen Pulsa Handphone. Banyak orderan pulsa elektrik, banyak pula pemasukan baginya. SMS berisi ucapan lebaran harus terkirim kepada keluarga dan teman-teman. Apalagi bagi mereka yang doyan bergelut dengan dunia maya.
Media
Ada saja bahan publikasi media cetak maupun media elektronik dan media online. Terjadinya perseteruan antara dua kubu yang menetapkan 1 Syawal 1432 H, menjadi bahan siar bagi beberapa media. Aktual, tajam dan membingungkan bagi masyarakat. Kalangan tertentu tidak mau tinggal diam, sebagian dari penghuni bumi ini memanfaatkan perseteruan tersebut. Lagi-lagi, telah terjadi pembengkakan masalah yang seharusnya tidak perlu diperbesar.
Silaturahim
Lebaran ditandai pula dengan ajang silaturahim kepada keluarga dan teman. Sehari sebelumnya, sebagian umat Muslimin telah merayakan lebaran. Namun, silaturahim terasa masih belum ramai karena sebagian kalangan yang lainnya baru merayakan lebaran hari ini.
Angpao
Anak-anak bergembira saat lebaran tiba. Orang tua harus menyiapkan uang recehan dan membagikannya kepada anak-anak. Bagi anak-anak tidak masalah lebaran dilaksanakan setiap hari sepanjang tahun. Setiap perayaan mereka harus mengumpulkan angpao guna modal jajan di warung tetangga.
Koran
Mengapa koran perlu dibahas...??? Terkhusus bagi mereka yang melaksanakan Shalat Idul Fitri di tanah lapang, sudah menjadi tradisi bila koran menjadi pengalas Sajadah. Berangkat dari rumah menuju tanah lapang harus siap sedia koran selembar menemani perayaan lebaran. Koran digunakan bukan sekedar gagah-gagahan, di pagi buta tanah lapang masih dibasahi embun. Terlebih lagi bilamana lokasi tanah lapang tersebut kondisinya kotor karena debu atau pun becek karena semalam sebelumnya diguyur hujan. Namun yang namanya manusia biasa, koran yang sedari tadi setia menemaninya langsung dicampakkan begitu saja setelah melaksanakan Shalat Ied. Lokasi pelaksanaan Shalat Ied pun berubah wajah menjadi tempat pembuangan sampah koran. Alhasil yang dipusingkan adalah para petugas kebersihan yang semestinya pada hari lebaran bersilaturahim dan berkumpul bersama keluarganya.
Dan masih banyak lagi sisa lebaran. Dari semua peninggalan itu, marilah kita introspeksi diri masing-masing. Khusus kepada Pemerintah, diharapkan kedepannya lebih bijak dalam mengambil keputusan yang tepat. Perbedaan yang terjadi selama ini harusnya dicarikan jalan terbaik. Sehingga masyarakat lebih menghargai dan menghormati kepemimpinan Pemerintahan yang sedang berjalan.
Bagi kita semua yang telah merayakan Idul Fitri 1432 H, baik bagi Anda yang merayakannya kemarin maupun hari ini, Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon maaf lahir dan bathin seraya berharap sejak 1 Syawal 1432 H ini, Allah Swt selalu memberikan petunjuk dan Inayah-NYA kepada kita semua.
Sejak dua hari ini, santer diperdebatkan di tiap sudut dunia nyata maupun dunia maya perihal perbedaan penetapan dan pelaksanaan lebaran. Sesungguhnya hal ini tidak patut diperdebatkan sehebat-hebatnya. Wajarlah kalau setiap insan bertanya sembari memberontak dalam hatinya karena kekecewaan bercampur jengkel. Tapi, layakkah kita menyalahkan pihak tertentu dan menganggap diri ini yang paling benar. Kiranya tidak layak berlaku seperti itu meskipun pada hakikatnya pihak tertentu telah berlaku salah dan pihak lainnya berlaku benar. Kembalikanlah semuanya pada Allah Swt. Allah Maha Mengetahui atas apa pun yang ada di langit dan yang ada di bumi. Allah Maha mengampuni atas segala kesalahan yang diperbuat hamba-NYA. Iyyaka Na’budu Waiyyaka Nastain (Hanya kepada-NYA kita memohon dan hanya kepada-NYA kita berserah).
Ramadhan telah mengajarkan kita bersabar dan menahan segala amarah. Mendekatkan diri pada Yang Kuasa melalui media ibadah, baik Shalat, Puasa, Zakat, Tadarrus dan sebagainya. Akankah perilaku kita kembali ke jalan yang dimurkai Allah Swt seiring dengan berakhirnya Ramadhan...??? 1 Syawal 1432 H mengantar kita pada titik Nol (0). Tak ubahnya bayi yang baru lahir dari rahim ibunya. Hari ini kita diperhadapkan pada awal menuju sebelas bulan yang penuh dengan cobaan terberat. Setiap coretan yang kita torehkan akan kita pertanggung jawabkan di akhirat kelak.
Lebaran menyisakan banyak cerita, kegembiraan bercampur kecewa dan kesedihan bercampur bahagia. Beberapa peninggalan lebaran kali ini :
Ketupat
Merayakan lebaran tanpa makanan yang satu ini, rasanya hampa. Lebaran yang tertunda membuat berang kaum Muslimah. Di Bonthain dikenal beberapa jenis makanan khas lebaran antara lain Katupa’, Salonde', Gagape’, Burasa’, Lappa’-lappa’, Lekese’, Dake, Ipi’, Lammang dan Songkolo’. Beragam makanan ini harus siap sedia sebelum lebaran tiba. Karena penundaan oleh Pemerintah, ibu-ibu harus merelakan makanan tersebut menunggu sehari lagi. Daripada terkesan terjadi pembiaran, Sahur di hari terakhir ditemani makanan lebaran.
Full
Sehari sebelumnya telah dilaksanakan Shalat Ied di berbagai tempat. Mirip kejadian tahun lalu, perbedaan ini telah membagi jama’ah Ied untuk melaksanakan Shalat Ied. Masjid/Mushallah maupun Tanah Tapang di berbagai lokasi tidaklah sepadat yang bisa dibayangkan. Sebagian besar umat Muslim yang telah merayakan lebaran kemarin, pada hari ini cukup menjadi penonton menyaksikan umat Muslim lainnya berbondong-bondong menuju lokasi pelaksanaan Shalat Ied. Kemacetan lalu lintas akibat pengguna jalan yang membludak pun dapat diminimalkan.
Mudik
Indonesia memiliki tradisi unik yang tidak dimiliki sebagian besar negara lainnya di dunia ini. Mudik merupakan bagian tak terpisahkan dari Lebaran itu sendiri. Sebelumnya, pemudik merasa khawatir terlambat tiba di kampung halamannya. Hal ini terus menghantui pikiran para pemudik karena padatnya arus mudik dimana-mana. Namun, kekhawatiran itu cukup berkurang dengan ditundanya lebaran sehari dari jadwal yang ditetapkan sebelumnya.
Introspeksi
Perbedaan menjadi tanggung jawab Pemerintah. Betapa tidak, Pemerintah adalah Imam bagi masyarakat bangsa ini. Namun kesalahan belum tentu sepenuhnya menjadi tanggung Pemerintah. Siapa pun yang salah, kiranya janganlah diperdebatkan lagi. Sekali lagi, kita kembalikan pada Allah Swt. Tapi, tidak sampai disitu lantas selesai permasalahan ini. Pemerintah bersama semua pihak harus introspeksi diri, termasuk kita semua sebagai masyarakat yang menjadi obyek ketetapan diimaksud. Sebagian kalangan beranggapan bahwa awal perbedaan ini disebabkan oleh munculnya beberapa mazhab yang ada di negeri Merah Putih ini. Indonesia dikenal dengan keberagamannya, tapi janganlah keberagaman itu menjadikan selalu berseberangan satu sama lain. Mari menyatukan kesemuanya itu yang nantinya akan berdampak pula pada penyelesaian tiap masalah yang bergulir di negeri ini.
Libur
Lebaran memberikan kebahagian tersendiri, khususnya bagi para Tenaga Kerja baik itu Pegawai Negeri, Karyawan atau pun Buruh. jauh-jauh hari, Pemerintah telah menetapkan Hari Libur Nasional dan Cuti Bersama menyambut Hari Raya Idul Fitri. Ditetapkannya hari lebaran pada 2 hari yang berbeda berakibat pada bertambahnya hari libur, minimal sehari. Mungkin perihal ini tidak berlaku pada instansi resmi Pemerintah atau pun Perusahaan ternama di negeri ini. Tapi, bisa saja berlaku pada perusahaan/usaha kecil dan menengah. Kita anggap saja sebuah keluarga telah menetapkan masa libur selama 5 hari kepada Pembantu Rumah Tangga yang bekerja di rumahnya. Berarti Pembantu tersebut harus kembali masuk kerja pada tanggal 5 September 2011. Mengingat sang Pembantu merayakan lebaran pada tanggal 31 Agustus 2011, maka seharusnya hari kerjanya dimulai pada tanggal 6 September 2011. Bertambah atau berkurangnya hari libur seseorang bergantung pada aturan main yang diterapkan pada tempat kerja bersangkutan.
Puasa
Bagi saudara Muslim yang merayakan lebaran kemarin, Puasa Ramadhan hanya berlangsung selama 29 hari lamanya. Dengan asumsi bahwa 1 Ramadhan 1432 H dimulai pada tanggal 1 Agustus 2011. Namun bagi mereka yang merayakan lebaran hari ini, secara otomatis telah melaksanakan Puasa Ramadhan selama 30 hari lamanya.
Ugal-ugalan
Pada dasarnya puncak pawai takbiran berlangsung sehari sebelumnya atau pada Senin malam tanggal 29 Agustus 2011. Namun, kekecewaan dirasakan oleh sebagian besar pihak. Penetapan 1 Syawal 1432 H diumumkan pada saat pawai takbiran berlangsung. Kekecewaan itu, menjadi faktor utama para peserta pawai Takbiran untuk tidak lagi ambil bagian pada pawai Takbiran malam berikutnya. Meskipun penurunannya tidak terjadi secara signifikan, paling tidak dapat meminimalisir perilaku ugal-ugalan di jalan raya khususnya pengendara roda dua.
Tarwih
Shalat Tarwih disunnahkan bagi kaum Muslimin hanya pada bulan suci Ramadhan. Sunnah bukan berarti tidak penting karena selama Ramadhan umat Muslimin diharapkan mengerjakan berbagai ibadah. Dengan harapan semua ibadah yang dikerjakan bernilai amalan di sisi Allah Swt. “Saya tidak puasa lagi hari ini karena semalam saya tidak melaksanakan Shalat Tarwih dan Shalat Witir. Kenapa bisa...??? Bukannya saya pengikut Muhammadiyah atau Nahdhatul Ulama, saya tetap penganut Ulil Amri. Masalahnya, saya tidak tahu perihal penundaan lebaran ini karena saya terlampau cepat tidur. Demikian dituturkan Daeng Arif (salah seorang warga Bonthain). Baginya tarwih itu menjadi penanda bahwa esok dirinya masih harus berpuasa. Berarti dapat disimpulkan bahwa sebagian besar masyarakat tidak melaksanakan Shalat Tarwih dan Shalat Witir pada malam ke-30 Ramadhan. Ada yang tetap melaksanakannya dan esoknya kembali berpuasa di hari akhir Ramadhan. Ada pula yang lebih memilih untuk tidak Shalat Tarwih maupun Shalat Witir dan esoknya (kemaren, RED) melaksanakan Shalat Idul Fitri.
Baru
Berburu hal-hal baru menjelang lebaran bukanlah fenomena baru di negeri ini. Ketimbang di awal Ramadhan, kaum Muslimin di seantero Indonesia lebih memilih membeli pakaian baru pada detik-detik terakhir Ramadhan. Dengan ditundanya lebaran oleh Pemerintah, maka cukup sehari lagi peluang untuk berbelanja ria bagi masyarakat.
Panen
Daging yang sedianya dicicipi pada hari lebaran kemarin, oleh kalangan yang merayakan lebaran hari ini harus rela membeli lagi daging yang baru di pasar. Para penjual daging dan bahan makanan pokok lainnya di pasar mendulang untung lebih banyak, jauh dibanding perkiraannya semula. Sama halnya dengan penjual pulsa di Counter/Gerai/Agen Pulsa Handphone. Banyak orderan pulsa elektrik, banyak pula pemasukan baginya. SMS berisi ucapan lebaran harus terkirim kepada keluarga dan teman-teman. Apalagi bagi mereka yang doyan bergelut dengan dunia maya.
Media
Ada saja bahan publikasi media cetak maupun media elektronik dan media online. Terjadinya perseteruan antara dua kubu yang menetapkan 1 Syawal 1432 H, menjadi bahan siar bagi beberapa media. Aktual, tajam dan membingungkan bagi masyarakat. Kalangan tertentu tidak mau tinggal diam, sebagian dari penghuni bumi ini memanfaatkan perseteruan tersebut. Lagi-lagi, telah terjadi pembengkakan masalah yang seharusnya tidak perlu diperbesar.
Silaturahim
Lebaran ditandai pula dengan ajang silaturahim kepada keluarga dan teman. Sehari sebelumnya, sebagian umat Muslimin telah merayakan lebaran. Namun, silaturahim terasa masih belum ramai karena sebagian kalangan yang lainnya baru merayakan lebaran hari ini.
Angpao
Anak-anak bergembira saat lebaran tiba. Orang tua harus menyiapkan uang recehan dan membagikannya kepada anak-anak. Bagi anak-anak tidak masalah lebaran dilaksanakan setiap hari sepanjang tahun. Setiap perayaan mereka harus mengumpulkan angpao guna modal jajan di warung tetangga.
Koran
Mengapa koran perlu dibahas...??? Terkhusus bagi mereka yang melaksanakan Shalat Idul Fitri di tanah lapang, sudah menjadi tradisi bila koran menjadi pengalas Sajadah. Berangkat dari rumah menuju tanah lapang harus siap sedia koran selembar menemani perayaan lebaran. Koran digunakan bukan sekedar gagah-gagahan, di pagi buta tanah lapang masih dibasahi embun. Terlebih lagi bilamana lokasi tanah lapang tersebut kondisinya kotor karena debu atau pun becek karena semalam sebelumnya diguyur hujan. Namun yang namanya manusia biasa, koran yang sedari tadi setia menemaninya langsung dicampakkan begitu saja setelah melaksanakan Shalat Ied. Lokasi pelaksanaan Shalat Ied pun berubah wajah menjadi tempat pembuangan sampah koran. Alhasil yang dipusingkan adalah para petugas kebersihan yang semestinya pada hari lebaran bersilaturahim dan berkumpul bersama keluarganya.
Dan masih banyak lagi sisa lebaran. Dari semua peninggalan itu, marilah kita introspeksi diri masing-masing. Khusus kepada Pemerintah, diharapkan kedepannya lebih bijak dalam mengambil keputusan yang tepat. Perbedaan yang terjadi selama ini harusnya dicarikan jalan terbaik. Sehingga masyarakat lebih menghargai dan menghormati kepemimpinan Pemerintahan yang sedang berjalan.
Bagi kita semua yang telah merayakan Idul Fitri 1432 H, baik bagi Anda yang merayakannya kemarin maupun hari ini, Minal Aidin Wal Faidzin. Mohon maaf lahir dan bathin seraya berharap sejak 1 Syawal 1432 H ini, Allah Swt selalu memberikan petunjuk dan Inayah-NYA kepada kita semua.
1 Syawal 1432 H
Monday, August 29, 2011Berbahagialah umat Muslim di seluruh penjuru dunia ini, begitu pula kaum Muslimin dan Muslimah yang mendiami kota kecil BONTHAIN. Sebulan penuh menunaikan ibadah Puasa Wajib dan berbagai ibadah lainnya. Ramadhan segera beranjak menuju pembaringannya. Mungkin esok, mungkin pula lusa tergantung pada perhitungan dan keyakinan masing-masing pribadi umat Muslim. Bulan penuh ampunan telah mengajarkan banyak hal pada sekalian umat Muslim. Menahan lapar, dahaga dan nafsu sebulan penuh bukanlah perkara mudah. Bulan Ramadhan telah mengajarkan pula agar segala perbedaan ditanggapi dengan kepala dingin dan tidak perlu membesar-besarkan masalah yang ada. Tiap perbedaan memiliki dasar keyakinan yang berbeda pula. Hanya orang-orang beriman yang layak melaluinya dengan baik dan berharap menjadi orang yang bertaqwa di hadapan Allah Swt seperti dijanjikan oleh-NYA, La Allakum Tattakun.
Saat fajar terbit dari peraduannya esok atau pun lusa, 1 Syawal 1432 H bakal menemui kita semua. Ramadhan pun segera melaporkan kepada Allah Swt setiap perbuatan yang telah dilakukan umat-NYA selama Ramadhan mengisi hidup kita sekalian. Bagi mereka yang melaksanakan Shalat Fardhu, Puasa, Shalat Tarwih, Shalat Tahajjud, Shalat Witir, Shalat Dhuha, Tadarrusan, Berzakat, Berinfaq, Bersedekah dan ibadah lainnya Insya Allah akan mendapat ganjaran yang setimpal dari Allah Swt.
Kemenangan dirasakan semua umat Islam dengan datangnya Idul Fitri 1432 H. Dengan kemenangan itu dan berakhirnya Ramadhan bukan berarti menjadi pertanda baik karena terbebas dari Ramadhan itu sendiri. Namun, kesedihan justru dirasakan karena Ramadhan telah beranjak pergi. Semoga saja kita masih dapat dipertemukan Ramadhan berikutnya, Amin Ya Allah.
Berbagai kegiatan menyambut 1 Syawal 1432 H pun dilaksanakan di BONTHAIN. Pemerintah Kabupaten Bantaeng telah menyiapkan beberapa lokasi pelaksanaan Shalat Ied, baik di dalam kota maupun di pedalaman Bonthain. Untuk wilayah perkotaan, mengingat Bonthain amat kecil, maka tidak banyak lokasi yang harus disiapkan. Lokasi Reklamasi Pantai Seruni Bantaeng dijadikan pusat pelaksanaan Shalat Ied tingkat Kabupaten Bantaeng. Berlokasi di Jl. Seruni Bantaeng (Seruni Beach Bonthain), Kelurahan Pallantikang, Kecamatan Bantaeng. Lokasi tersebut dikenal dengan nama The New Bantaeng yang oleh Pemerintah Kabupaten Bantaeng disiapkan untuk pembangunan Mega Proyek seperti Rumah Sakit Modern (RSUD Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu), Bonthain Beach Hotel dan beberapa perencanaan lainnya di masa mendatang. Untuk lebih jelasnya lihat Peta Bonthain.
Di samping lokasi tersebut di atas, disiapkan pula beberapa Masjid dan Tanah Lapang dalam kota Bonthain sebagai alternatif pelaksanaan Shalat Ied, antara lain Masjid Muhajirin Be'lang (Jl. T. A. Gani Bantaeng) dan Lapangan Panaikang (Depan Kantor Kecamatan Bissappu, Kampung Panaikang, Kelurahan Bonto Manai, Kecamatan Bissappu). Di pedalaman Bonthain, telah disiapkan Tanah Lapang dan Masjid, khusus masjid yang kerap digunakan untuk pelaksanaan Shalat Jum'at. Kesemua lokasi tersebut telah diatur oleh Panitia Hari besar Islam (PHBI) Kabupaten Bantaeng.
Kegiatan lainnya menjelang 1 Syawal 1432 H dilaksanakan oleh Badan Komunikasi Pemuda Remaja Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Bantaeng, antara lain :
1 Syawal 1432 H masih 2 hari lagi ke depan atau mungkin juga telah tiba esok bagi yang meyakininya. Namun oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama RI menyatakan bahwa 1 Syawal 1432 H jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011. Melalui kesempatan ini, tak lupa terucap permohonan maaf dari Tim Bonthain atas segala kesalahan dan khilaf yang pernah diperbuat sampai sejauh ini. Minal Aidin Wal Faidzin, Takabbalallahu Minna Wa Minkum. Mohon Maaf Lahir dan Bathin kepada segenap pengunjung dan penikmat Bonthain. Semoga Allah Swt mengampuni segala dosa dan kesalahan kita di hari yang Fitrah ini.
Saat fajar terbit dari peraduannya esok atau pun lusa, 1 Syawal 1432 H bakal menemui kita semua. Ramadhan pun segera melaporkan kepada Allah Swt setiap perbuatan yang telah dilakukan umat-NYA selama Ramadhan mengisi hidup kita sekalian. Bagi mereka yang melaksanakan Shalat Fardhu, Puasa, Shalat Tarwih, Shalat Tahajjud, Shalat Witir, Shalat Dhuha, Tadarrusan, Berzakat, Berinfaq, Bersedekah dan ibadah lainnya Insya Allah akan mendapat ganjaran yang setimpal dari Allah Swt.
Kemenangan dirasakan semua umat Islam dengan datangnya Idul Fitri 1432 H. Dengan kemenangan itu dan berakhirnya Ramadhan bukan berarti menjadi pertanda baik karena terbebas dari Ramadhan itu sendiri. Namun, kesedihan justru dirasakan karena Ramadhan telah beranjak pergi. Semoga saja kita masih dapat dipertemukan Ramadhan berikutnya, Amin Ya Allah.
Berbagai kegiatan menyambut 1 Syawal 1432 H pun dilaksanakan di BONTHAIN. Pemerintah Kabupaten Bantaeng telah menyiapkan beberapa lokasi pelaksanaan Shalat Ied, baik di dalam kota maupun di pedalaman Bonthain. Untuk wilayah perkotaan, mengingat Bonthain amat kecil, maka tidak banyak lokasi yang harus disiapkan. Lokasi Reklamasi Pantai Seruni Bantaeng dijadikan pusat pelaksanaan Shalat Ied tingkat Kabupaten Bantaeng. Berlokasi di Jl. Seruni Bantaeng (Seruni Beach Bonthain), Kelurahan Pallantikang, Kecamatan Bantaeng. Lokasi tersebut dikenal dengan nama The New Bantaeng yang oleh Pemerintah Kabupaten Bantaeng disiapkan untuk pembangunan Mega Proyek seperti Rumah Sakit Modern (RSUD Prof. Dr. H. M. Anwar Makkatutu), Bonthain Beach Hotel dan beberapa perencanaan lainnya di masa mendatang. Untuk lebih jelasnya lihat Peta Bonthain.
Di samping lokasi tersebut di atas, disiapkan pula beberapa Masjid dan Tanah Lapang dalam kota Bonthain sebagai alternatif pelaksanaan Shalat Ied, antara lain Masjid Muhajirin Be'lang (Jl. T. A. Gani Bantaeng) dan Lapangan Panaikang (Depan Kantor Kecamatan Bissappu, Kampung Panaikang, Kelurahan Bonto Manai, Kecamatan Bissappu). Di pedalaman Bonthain, telah disiapkan Tanah Lapang dan Masjid, khusus masjid yang kerap digunakan untuk pelaksanaan Shalat Jum'at. Kesemua lokasi tersebut telah diatur oleh Panitia Hari besar Islam (PHBI) Kabupaten Bantaeng.
Kegiatan lainnya menjelang 1 Syawal 1432 H dilaksanakan oleh Badan Komunikasi Pemuda Remaja Indonesia (BKPRMI) Kabupaten Bantaeng, antara lain :
- Lomba Takbiran
- Lomba Miniatur Masjid dan Mushallah
- Lomba Kebersihan Masjid dan Mushallah
1 Syawal 1432 H masih 2 hari lagi ke depan atau mungkin juga telah tiba esok bagi yang meyakininya. Namun oleh Pemerintah Republik Indonesia melalui Kementerian Agama RI menyatakan bahwa 1 Syawal 1432 H jatuh pada tanggal 31 Agustus 2011. Melalui kesempatan ini, tak lupa terucap permohonan maaf dari Tim Bonthain atas segala kesalahan dan khilaf yang pernah diperbuat sampai sejauh ini. Minal Aidin Wal Faidzin, Takabbalallahu Minna Wa Minkum. Mohon Maaf Lahir dan Bathin kepada segenap pengunjung dan penikmat Bonthain. Semoga Allah Swt mengampuni segala dosa dan kesalahan kita di hari yang Fitrah ini.
Current Price Developments
Sunday, September 5, 2010Puasa Ramadhan kini telah melewati hari yang ke-26, lebaran ada di depan mata. Berdasarkan penanggalan Masehi, Hari Raya Idul Fitri 1431 H Insya Allah jatuh pada hari Jum'at tanggal 10 September 2010. Umat Islam di seluruh pelosok tanah air tinggal menunggu keputusan Kementerian Agama Republik Indonesia perihal penetapan 1 Syawal 1431 H. Bertolak dari hal tersebut, puasa Ramadhan tersisa 5 hari lagi (H-5 lebaran).
Menjelang lebaran tahun ini, seperti biasanya kesibukan dimana-mana semakin nampak. Kesibukan paling nampak ditunjukkan kaum ibu rumah tangga dan cewek. Pasar, toko dan pusat perdagangan lainnya menjadi incaran mereka. Berbagai kebutuhan rumah tangga menjadi faktor utama kehadirannya disana. Di antaranya berupa kebutuhan akan Sembilan Bahan Pokok (Sembako). Namun tidak sampai disitu saja, kebutuhan lainnya pun ikut menyertai. Semarak lebaran yang dinanti telah menyatu di hati umat Islam sejak lama.
Baju baru, nuansa baru dan hari yang baru. Pada dasarnya, hakikat lebaran tidaklah mesti dengan baju baru atau pun segalanya harus baru. Fitrah berarti kembali menjadi baru layaknya bayi baru lahir dari rahim sang ibu. Tapi sekali lagi, suasana yang semarak di hari lebaran ikut terbantu dengan hadirnya hal-hal baru dalam kehidupan tiap individu. Persiapan demi persiapan pun segera disusun sedemikian rupa. Sejak pertengahan Puasa Ramadhan, pusat pertokoan kian ramai dikunjungi pelanggan yang ingin mendapatkan baju baru. Pasar tradisional hingga pasar moderen dikunjungi demi memenuhi kebutuhan dapur.
Fenomena ini terjadi hampir di seluruh pelosok tanah air termasuk di Bonthain. Dari pantauan Tim Bonthain, Pasar Sentral Bantaeng yang berlokasi di tengah kota Bonthain semakin ramai dan penuh sesak beberapa hari terakhir. Perubahan harga pun tak lepas dari perubahan jumlah pengunjung. Secara umum harga kebutuhan rumah tangga mengalami peningkatan signifikan. Bagi pembeli, harga yang tinggi terhadap barang yang dibutuhkan tetap akan dibelinya. Hal ini dimanfaatkan para penjual dengan menaikkan harga secara sepihak. Mentega misalnya, pada salah seorang penjual dipatok dengan harga Rp 13.000,-/Kg. Sementara di penjual lainnya dipatok seharga Rp 15.000,-/Kg. Kondisi tersebut amat merugikan pembeli, sedangkan penjual diuntungkan. Hal ini terjadi karena faktor kebutuhan yang mendesak. Semuanya menjadi primer, bahkan kebutuhan sekunder atau tersier pun akan berubah menjadi primer disaat mendesak sifatnya.
Kenaikan harga ini, patutlah diketahui masyarakat sebelum beranjak ke pasar. Dengan tujuan agar calon pembeli dapat mempersiapkan anggaran yang akan dibawanya ke pasar. Dalam hal ini management keuangan harus menjadi prioritas agar kelangsungan hidup rumah tangga tetap terjaga dan stabil. Kalau hal ini diabaikan, bisa saja kebutuhan akan barang tertentu tidak terpenuhi. Sementara barang lainnya melebihi batas maksimum dari yang dibutuhkan. Olehnya itu, Tim Bonthain yang bekerja sejak awal Puasa terus mengikuti perkembangan harga di Bonthain khususnya di Pasar Sentral Bantaeng. Berikut disajikan daftar beberapa bahan keperluan paling penting menjelang Lebaran.
Semoga Price List di atas dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya masyarakat Butta Toa (Bonthain). Termasuk masyarakat tetangga yakni Butta Turatea (Jeneponto) dan Butta Panrita Lopi (Bulukumba) yang sering berbelanja di Bonthain, mengingat jaraknya dapat ditempuh hanya dalam waktu ± 30 menit perjalanan.
Menjelang lebaran tahun ini, seperti biasanya kesibukan dimana-mana semakin nampak. Kesibukan paling nampak ditunjukkan kaum ibu rumah tangga dan cewek. Pasar, toko dan pusat perdagangan lainnya menjadi incaran mereka. Berbagai kebutuhan rumah tangga menjadi faktor utama kehadirannya disana. Di antaranya berupa kebutuhan akan Sembilan Bahan Pokok (Sembako). Namun tidak sampai disitu saja, kebutuhan lainnya pun ikut menyertai. Semarak lebaran yang dinanti telah menyatu di hati umat Islam sejak lama.
Baju baru, nuansa baru dan hari yang baru. Pada dasarnya, hakikat lebaran tidaklah mesti dengan baju baru atau pun segalanya harus baru. Fitrah berarti kembali menjadi baru layaknya bayi baru lahir dari rahim sang ibu. Tapi sekali lagi, suasana yang semarak di hari lebaran ikut terbantu dengan hadirnya hal-hal baru dalam kehidupan tiap individu. Persiapan demi persiapan pun segera disusun sedemikian rupa. Sejak pertengahan Puasa Ramadhan, pusat pertokoan kian ramai dikunjungi pelanggan yang ingin mendapatkan baju baru. Pasar tradisional hingga pasar moderen dikunjungi demi memenuhi kebutuhan dapur.
Fenomena ini terjadi hampir di seluruh pelosok tanah air termasuk di Bonthain. Dari pantauan Tim Bonthain, Pasar Sentral Bantaeng yang berlokasi di tengah kota Bonthain semakin ramai dan penuh sesak beberapa hari terakhir. Perubahan harga pun tak lepas dari perubahan jumlah pengunjung. Secara umum harga kebutuhan rumah tangga mengalami peningkatan signifikan. Bagi pembeli, harga yang tinggi terhadap barang yang dibutuhkan tetap akan dibelinya. Hal ini dimanfaatkan para penjual dengan menaikkan harga secara sepihak. Mentega misalnya, pada salah seorang penjual dipatok dengan harga Rp 13.000,-/Kg. Sementara di penjual lainnya dipatok seharga Rp 15.000,-/Kg. Kondisi tersebut amat merugikan pembeli, sedangkan penjual diuntungkan. Hal ini terjadi karena faktor kebutuhan yang mendesak. Semuanya menjadi primer, bahkan kebutuhan sekunder atau tersier pun akan berubah menjadi primer disaat mendesak sifatnya.
Kenaikan harga ini, patutlah diketahui masyarakat sebelum beranjak ke pasar. Dengan tujuan agar calon pembeli dapat mempersiapkan anggaran yang akan dibawanya ke pasar. Dalam hal ini management keuangan harus menjadi prioritas agar kelangsungan hidup rumah tangga tetap terjaga dan stabil. Kalau hal ini diabaikan, bisa saja kebutuhan akan barang tertentu tidak terpenuhi. Sementara barang lainnya melebihi batas maksimum dari yang dibutuhkan. Olehnya itu, Tim Bonthain yang bekerja sejak awal Puasa terus mengikuti perkembangan harga di Bonthain khususnya di Pasar Sentral Bantaeng. Berikut disajikan daftar beberapa bahan keperluan paling penting menjelang Lebaran.
Semoga Price List di atas dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya masyarakat Butta Toa (Bonthain). Termasuk masyarakat tetangga yakni Butta Turatea (Jeneponto) dan Butta Panrita Lopi (Bulukumba) yang sering berbelanja di Bonthain, mengingat jaraknya dapat ditempuh hanya dalam waktu ± 30 menit perjalanan.
Bonthain
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor