Showing posts with label Proklamasi. Show all posts
Showing posts with label Proklamasi. Show all posts
Renungan Suci Mengenang Pahlawan
Sunday, August 17, 2014
Mengenang para pahlawan yang telah mendahului kita, dapat dilakukan dengan beragam cara, model dalam kondisi dan waktu sepanjang masa. Salah satu ritual berkala yang sering dilaksanakan berupa Malam Renungan Suci. Perangkat Pemerintah maupun masyarakat umum, secara bersama-sama berkumpul di tempat yang dianggap sakral dan lebih dekat dengan pahlawan Kemerdekaan. Di Indonesia, dipilihlah Taman Makam Pahlawan sebagai lokasi pelaksanaannya. Waktu pelaksanaan pun ditetapkan pada malam pergantian tanggal 16 Agustus ke tanggal 17 Agustus tiap tahunnya.
Di Kabupaten Bantaeng, Taman Makam Pahlawan Sasayya merupakan satu-satunya pekuburan resmi bagi para pahlawan, khususnya pahlawan dengan berlatar belakang militer (TNI dan Kepolisian RI). Pekuburan ini berlokasi di Jl. Pahlawan, Kampung Sasayya, Kelurahan Bonto Sunggu, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng. Posisi yang cukup strategis, terletak di perlintasan Jalan Negara yang menghubungkan antara Kabupaten Bantaeng dan Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Jeneponto dan Kotamadya Makassar.
Tepat pukul 00:00 Wita, pemimpin upacara menyiapkan pasukan yang terdiri dari Pasukan TNI, POLRI, Muspida, Pemadam Kebakaran, Satuan Polisi Pamong Praja, Tagana, Polisi Kehutanan, FKPPI, Pramuka dan Gabungan Organisasi Pemuda dan Kemasyarakatan. Bertindak sebagai pembina upacara, Kapolres Bantaeng (AKBP I Made Sunarta) dan dihadiri langsung oleh Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) bersama jajaran SKPD se-Kabupaten Bantaeng.
Sepintas, kegiatan ini hanya seremonial semata. Malam Renungan Suci bukanlah acara resmi kenegaraan. Dalam pelaksanaannya, diharapkan dapat mengenang kembali jasa-jasa para pahlawan, terutama Pahlawan Kemerdekaan. Berkat kegigihannya dalam memperjuangan kemerdekaan dari tangan penjajah, sehingga udara kebebasan dapat kita nikmati hingga sekarang. Melalui kegiatan ini pula memberi pelajaran berharga akan pentingnya sikap saling menghargai dan saling menghormati antara sesama manusia. Benih persatuan dan kesatuan serta kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia harus tetap terpatri di dalam jiwa setiap Warga Negara Indonesia. Setiap perbedaan yang ada, merupakan anugerah yang sangat berharga. Keberagaman tidak dijadikan penghalang dalam memajukan Republik Indonesia.
Di era reformasi yang sudah melangkah jauh dari titik awal kemerdekaan, sudah sepatutnya bangsa ini semakin maju. Kemajuan itu dapat diraih dengan sebaik-baiknya, melalui kerja keras seluruh Warga Negara Indonesia. Perjuangan para pahlawan kemerdekaan harus pula berlanjut dan terus diperjuangkan oleh pahlawan-pahlawan berikutnya. Dirgahayu Republik Indonesia ke-69. Merdeka...!!!
Di Kabupaten Bantaeng, Taman Makam Pahlawan Sasayya merupakan satu-satunya pekuburan resmi bagi para pahlawan, khususnya pahlawan dengan berlatar belakang militer (TNI dan Kepolisian RI). Pekuburan ini berlokasi di Jl. Pahlawan, Kampung Sasayya, Kelurahan Bonto Sunggu, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng. Posisi yang cukup strategis, terletak di perlintasan Jalan Negara yang menghubungkan antara Kabupaten Bantaeng dan Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Jeneponto dan Kotamadya Makassar.
Tepat pukul 00:00 Wita, pemimpin upacara menyiapkan pasukan yang terdiri dari Pasukan TNI, POLRI, Muspida, Pemadam Kebakaran, Satuan Polisi Pamong Praja, Tagana, Polisi Kehutanan, FKPPI, Pramuka dan Gabungan Organisasi Pemuda dan Kemasyarakatan. Bertindak sebagai pembina upacara, Kapolres Bantaeng (AKBP I Made Sunarta) dan dihadiri langsung oleh Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) bersama jajaran SKPD se-Kabupaten Bantaeng.
Sepintas, kegiatan ini hanya seremonial semata. Malam Renungan Suci bukanlah acara resmi kenegaraan. Dalam pelaksanaannya, diharapkan dapat mengenang kembali jasa-jasa para pahlawan, terutama Pahlawan Kemerdekaan. Berkat kegigihannya dalam memperjuangan kemerdekaan dari tangan penjajah, sehingga udara kebebasan dapat kita nikmati hingga sekarang. Melalui kegiatan ini pula memberi pelajaran berharga akan pentingnya sikap saling menghargai dan saling menghormati antara sesama manusia. Benih persatuan dan kesatuan serta kecintaan terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia harus tetap terpatri di dalam jiwa setiap Warga Negara Indonesia. Setiap perbedaan yang ada, merupakan anugerah yang sangat berharga. Keberagaman tidak dijadikan penghalang dalam memajukan Republik Indonesia.
Di era reformasi yang sudah melangkah jauh dari titik awal kemerdekaan, sudah sepatutnya bangsa ini semakin maju. Kemajuan itu dapat diraih dengan sebaik-baiknya, melalui kerja keras seluruh Warga Negara Indonesia. Perjuangan para pahlawan kemerdekaan harus pula berlanjut dan terus diperjuangkan oleh pahlawan-pahlawan berikutnya. Dirgahayu Republik Indonesia ke-69. Merdeka...!!!
Pesisir Bantaeng Gemari Permainan Rakyat
Friday, August 15, 2014.jpg)
Suasana kampung Mattoanging tidaklah semeriah kampung lainnya di Kabupaten Bantaeng pada hari-hari biasa dalam setahun. Kampung ini terletak tidak jauh dari Tugu Adipura Bonthain. Untuk mengunjunginya, tidak harus dengan mobil saja. Tetapi cukup dengan mengendarai sepeda motor pun, kita akan tiba di kampung tersebut dalam waktu singkat, berkisar 10-15 menit dari pusat kota Bantaeng. Namun demikian, jangan sampai terlewatkan begitu saja. Hal ini bisa saja terjadi karena area yang begitu mungil ini berada di jalur akses keluar masuk Pelabuhan Mattoanging Bonthain. Maka sebaiknya pengunjung melalui jalan desa yang berada di sisi Barat, yang berujung pada Rusunawa dan Pelabuhan Bonthain.
Kemeriahan tampak beberapa hari terakhir dengan dilaksanakannya berbagai pertandingan olah raga. Peserta berasal dari masyarakat setempat yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan. Kegiatan dimaksud rencananya akan berlangsung sampai tanggal 16 Agustus 2014.
Emilk Azis (Ketua Karang Taruna Desa Bonto Jai, Kecamatan Bissappu) mengemukakan, Sebanyak 15 macam perlombaan yang kami laksanakan disini, yakni :
Pemenang menjadi tujuan dari hasil akhir dari permainan. Namun, hadirnya permainan ini tidak hanya berburu pemenang semata. Semarak dan kegembiraan anak-anak bermain bersama keluarga dan temannya, menjadi faktor penyemangat persaudaraan yang kian pudar akibat modernisasi.
Pertandingan sudah berlangsung sejak 3 hari lalu. Beberapa perlombaan, seperti Longga', Tarik Tambang dan Makan Kerupuk telah selesai dipertandingkan kemarin. Pertandingan ini lebih meriah dari hari ini, karena banyak keluarganya yang turut serta menonton dan bersorak ria mendukung anaknya untuk tiba di garis finish lebih awal. Lebih semarak lagi saat perlombaan memasak yang diikuti oleh kaum Ibu Rumah Tangga, tambah Emilk.
Sementara untuk permainan Bom-bom, mungkin tidak jadi dilaksanakan. Hal ini terkait dengan kondisi lokasi yang tidak memungkinkan. Keterbatasan lapangan menjadi faktor utama, sehingga kami berinisiatif untuk membatalkannya. Solusi untuk memisah lokasi pertandingan di tempat lain tidaklah efektif. Karena akan mengurangi kemeriahan pelaksanaan lomba. Tak hanya itu, Lomba Dayung dan Panjat Pinang termasuk yang akan dipertimbangkan untuk dilaksanakan pada puncak acara besok. Mengingat kondisi angin yang bertiup kencang dari arah laut.
Faktor lain yang lebih penting adalah kebersamaan masyarakat Desa Bonto Jai yang masih kental dengan gotong royong. Dimana, beberapa hari lalu desa kami berduka atas meninggalnya dua warga. Sehingga disepakati untuk lebih mementingkan kebersamaan yang sudah terjaga dengan baik dibanding melanjutkan kegiatan ini. Warga akan mengikuti Tausyiyah yang dilaksanakan mulai malam ini, berturut-turut selama 6 hari di kedua rumah duka.
Namun demikian, kami telah berupaya semaksimal mungkin untuk membangkitkan kembali dan membudayakan Permainan Rakyat. Salah satu permainan tersebut, yakni Hadang (Benteng) akan diperlombakan di Tingkat Kabupaten, sekaligus untuk menyemarakkan pelaksanaan PORDA XV Tahun 2014 yang dipusatkan di Kabupaten Bantaeng pada tanggal 9-16 September 2014. Demikian diuraikan Emilk.
Kemeriahan tampak beberapa hari terakhir dengan dilaksanakannya berbagai pertandingan olah raga. Peserta berasal dari masyarakat setempat yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan. Kegiatan dimaksud rencananya akan berlangsung sampai tanggal 16 Agustus 2014.
Emilk Azis (Ketua Karang Taruna Desa Bonto Jai, Kecamatan Bissappu) mengemukakan, Sebanyak 15 macam perlombaan yang kami laksanakan disini, yakni :
- Sepak Bola Mini
- Sepak Takraw
- Catur
- Bola Voly
- Lomba Dayung
- Lomba Lari Karung
- Bom-bom
- Tarik Tambang
- Lomba Memasak
- Panjat Pinang
- Lomba Lari Kelereng
- Lomba Makan Kerupuk
- Hadang/Asing (Benteng)
- Addang (Dam)
- Longga' (Engrang)
Pemenang menjadi tujuan dari hasil akhir dari permainan. Namun, hadirnya permainan ini tidak hanya berburu pemenang semata. Semarak dan kegembiraan anak-anak bermain bersama keluarga dan temannya, menjadi faktor penyemangat persaudaraan yang kian pudar akibat modernisasi.
Pertandingan sudah berlangsung sejak 3 hari lalu. Beberapa perlombaan, seperti Longga', Tarik Tambang dan Makan Kerupuk telah selesai dipertandingkan kemarin. Pertandingan ini lebih meriah dari hari ini, karena banyak keluarganya yang turut serta menonton dan bersorak ria mendukung anaknya untuk tiba di garis finish lebih awal. Lebih semarak lagi saat perlombaan memasak yang diikuti oleh kaum Ibu Rumah Tangga, tambah Emilk.
Sementara untuk permainan Bom-bom, mungkin tidak jadi dilaksanakan. Hal ini terkait dengan kondisi lokasi yang tidak memungkinkan. Keterbatasan lapangan menjadi faktor utama, sehingga kami berinisiatif untuk membatalkannya. Solusi untuk memisah lokasi pertandingan di tempat lain tidaklah efektif. Karena akan mengurangi kemeriahan pelaksanaan lomba. Tak hanya itu, Lomba Dayung dan Panjat Pinang termasuk yang akan dipertimbangkan untuk dilaksanakan pada puncak acara besok. Mengingat kondisi angin yang bertiup kencang dari arah laut.
Faktor lain yang lebih penting adalah kebersamaan masyarakat Desa Bonto Jai yang masih kental dengan gotong royong. Dimana, beberapa hari lalu desa kami berduka atas meninggalnya dua warga. Sehingga disepakati untuk lebih mementingkan kebersamaan yang sudah terjaga dengan baik dibanding melanjutkan kegiatan ini. Warga akan mengikuti Tausyiyah yang dilaksanakan mulai malam ini, berturut-turut selama 6 hari di kedua rumah duka.
Namun demikian, kami telah berupaya semaksimal mungkin untuk membangkitkan kembali dan membudayakan Permainan Rakyat. Salah satu permainan tersebut, yakni Hadang (Benteng) akan diperlombakan di Tingkat Kabupaten, sekaligus untuk menyemarakkan pelaksanaan PORDA XV Tahun 2014 yang dipusatkan di Kabupaten Bantaeng pada tanggal 9-16 September 2014. Demikian diuraikan Emilk.
Long Walk of Indonesia 65th Anniversary
Thursday, August 5, 2010Kemeriahan Agustusan tak lepas dari berbagai event yang diadakan jelang puncak peringatan Hari Ulang Tahun Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia. Tak hanya di kota, namun hingga ke pelosok desa, event-event tertentu diadakan. Keikutsertaan masyarakat tentunya menjadikan perayaan ini menjadi lebih semarak. Di samping sebagai ajang tontonan tahunan, tanpa disadari kegiatan ini mampu mempererat tali silaturahmi sesama Warga Negara Indonesia.
Seolah tiada terasa, 65 tahun silam negara ini memproklamirkan kemerdekaannya. Banyak perkembangan, banyak perubahan dan banyak pula perbedaan sejak 17 Agustus 1945. Semoga Indonesia makin maju di masa mendatang.
Tahun ini, kembali beberapa kegiatan diadakan dalam rangka memperingati HUT RI ke-65. Salah satunya berupa Lomba Gerak Jalan antar pelajar se-Kabupaten Bantaeng. Di Bonthain, perlombaan ini terbilang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Betapa tidak, keikutsertaan komunitas-komunitas selain pelajar memberi nuansa tersendiri. Tak heran, jika penonton yang memadati sepanjang jalan yang dilewati peserta lomba, seakan terpaku melihat barisan demi barisan melewatinya.
Apa yang berbeda...???
Judulnya Lomba Gerak Jalan antar Pelajar se-Kabupaten Bantaeng. Pada tahun-tahun sebelumnya, komunitas Non pelajar berlomba dalam kategori Non Pelajar/Instansi/Organisasi. Namun, di antara barisan pelajar ini, muncul tak terduga barisan lain yang bukan pelajar. Di antaranya, barisan dari Komunitas Waria Bonthain. Antusias penonton yang ingin menyaksikan penampilan Tim ini terbilang tinggi. Layaknya penduduk kampung terpencil, tiba-tiba kedatangan artis ibukota yang siap menghibur mereka.
Kreasi unik dipersembahkan oleh Tim Gerak Jalan dari Komunitas Waria Bonthain. Tidak kalah dengan para pelajar yang tiap hari latihan di sekolah masing-masing. Pelajaran Baris-berbaris (PBB) bagi pelajar bukan hal baru, melainkan telah tertanam sejak usia hijau. Tetapi, siapa bisa menyangka ada barisan non pelajar yang lebih yahud gayanya. Dari jauh, mereka tak jauh beda dengan cewe’-cewe’ belia umur 17-an tahun.
Dibalut make-up dan pakaian kemilau ala pemain Marching Band, variasi demi variasi ditampilkan. Tiap gerakan mereka, diikuti dengan sorak sorai penonton. Aduhai Non, salah satu teriakan yang terdengar di sepanjang jalur. Sebagian pula meneriakkan kalimat-kalimat yang kiranya kurang mengenakkan di hati Tim dimaksud.
Satu hal yang pasti dengan hadirnya Tim tersebut, bahwa dengan segala perbedaan yang nampak ternyata dapat disatukan melalui event ini. Bagi penonton, rasanya lain atas hadirnya mereka. Tentunya dengan predikat WARIA yang disandangnya, seolah kehadirannya kurang pantas di mata sebagian penonton. Bagi WARIA, justru menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Terlebih bagi Komunitas mereka, kebanggaan ini akan dibawa serta di dalamnya. Hingga pada akhirnya, cerita ini akan selalu hadir di tiap perbincangan pagi, siang dan malam khususnya dalam wilayah Bonthain yang amat kecil. Perlu rekan-rekan BLOGGER ketahui bahwa Komunitas Waria Bonthain menjadi salah satu yang terbesar di wilayah Selatan-selatan Propinsi Sulawesi Selatan.
Tim Bonthain salut dengan penampilan mereka di ajang kali ini. Semoga Tim-tim lain dapat mengikuti jejaknya, meski bukan dalam event Gerak Jalan. Lebih hebat lagi andai kehadirannya mampu memajukan Bonthain dan Indonesia pada umumnya ke arah yang lebih baik.
Mari menyamakan persepsi, memajukan Nusantara. Jangan tercerai berai hanya karena perbedaan kecil pada awalnya. Untuk sesama penghuni Indonesia tercinta, selamat merayakan HUT Proklamasi RI ke-65, MERDEKA...!!!
Seolah tiada terasa, 65 tahun silam negara ini memproklamirkan kemerdekaannya. Banyak perkembangan, banyak perubahan dan banyak pula perbedaan sejak 17 Agustus 1945. Semoga Indonesia makin maju di masa mendatang.
Tahun ini, kembali beberapa kegiatan diadakan dalam rangka memperingati HUT RI ke-65. Salah satunya berupa Lomba Gerak Jalan antar pelajar se-Kabupaten Bantaeng. Di Bonthain, perlombaan ini terbilang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Betapa tidak, keikutsertaan komunitas-komunitas selain pelajar memberi nuansa tersendiri. Tak heran, jika penonton yang memadati sepanjang jalan yang dilewati peserta lomba, seakan terpaku melihat barisan demi barisan melewatinya.
Judulnya Lomba Gerak Jalan antar Pelajar se-Kabupaten Bantaeng. Pada tahun-tahun sebelumnya, komunitas Non pelajar berlomba dalam kategori Non Pelajar/Instansi/Organisasi. Namun, di antara barisan pelajar ini, muncul tak terduga barisan lain yang bukan pelajar. Di antaranya, barisan dari Komunitas Waria Bonthain. Antusias penonton yang ingin menyaksikan penampilan Tim ini terbilang tinggi. Layaknya penduduk kampung terpencil, tiba-tiba kedatangan artis ibukota yang siap menghibur mereka.
Kreasi unik dipersembahkan oleh Tim Gerak Jalan dari Komunitas Waria Bonthain. Tidak kalah dengan para pelajar yang tiap hari latihan di sekolah masing-masing. Pelajaran Baris-berbaris (PBB) bagi pelajar bukan hal baru, melainkan telah tertanam sejak usia hijau. Tetapi, siapa bisa menyangka ada barisan non pelajar yang lebih yahud gayanya. Dari jauh, mereka tak jauh beda dengan cewe’-cewe’ belia umur 17-an tahun.
Dibalut make-up dan pakaian kemilau ala pemain Marching Band, variasi demi variasi ditampilkan. Tiap gerakan mereka, diikuti dengan sorak sorai penonton. Aduhai Non, salah satu teriakan yang terdengar di sepanjang jalur. Sebagian pula meneriakkan kalimat-kalimat yang kiranya kurang mengenakkan di hati Tim dimaksud.
Satu hal yang pasti dengan hadirnya Tim tersebut, bahwa dengan segala perbedaan yang nampak ternyata dapat disatukan melalui event ini. Bagi penonton, rasanya lain atas hadirnya mereka. Tentunya dengan predikat WARIA yang disandangnya, seolah kehadirannya kurang pantas di mata sebagian penonton. Bagi WARIA, justru menjadi sebuah kebanggaan tersendiri. Terlebih bagi Komunitas mereka, kebanggaan ini akan dibawa serta di dalamnya. Hingga pada akhirnya, cerita ini akan selalu hadir di tiap perbincangan pagi, siang dan malam khususnya dalam wilayah Bonthain yang amat kecil. Perlu rekan-rekan BLOGGER ketahui bahwa Komunitas Waria Bonthain menjadi salah satu yang terbesar di wilayah Selatan-selatan Propinsi Sulawesi Selatan.
Tim Bonthain salut dengan penampilan mereka di ajang kali ini. Semoga Tim-tim lain dapat mengikuti jejaknya, meski bukan dalam event Gerak Jalan. Lebih hebat lagi andai kehadirannya mampu memajukan Bonthain dan Indonesia pada umumnya ke arah yang lebih baik.
Mari menyamakan persepsi, memajukan Nusantara. Jangan tercerai berai hanya karena perbedaan kecil pada awalnya. Untuk sesama penghuni Indonesia tercinta, selamat merayakan HUT Proklamasi RI ke-65, MERDEKA...!!!
Bonthain
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor








