Showing posts with label PT. Global Seafood International Indonesia. Show all posts
Showing posts with label PT. Global Seafood International Indonesia. Show all posts
Masjid penunjang Kawasan Agrowisata
Monday, April 12, 2010Kawasan Agrowisata Kecamatan Ulu Ere Kabupaten Bantaeng segera memiliki Masjid yang lebih representatif. Masjid ini diperuntukkan guna menunjang kehadiran wisatawan yang berkunjung ke kawasan tersebut. Rencana kehadiran masjid tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama pembangunan masjid berlantai dua di Bangkeng Bonto, Desa Bonto Lojong yang dilakukan Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah), Pengusaha SulSel (H. Saharuddin dan Thiawudi Wikarso).
Pembangunan masjid di atas tanah seluas 12 X 15 Meter tersebut diprediksi bakal menghabiskan dana sebesar ± Rp 300-an juta. H. Tahir dari panitia masjid memperoleh dana swadaya masyarakat sebesar Rp 30 juta dalam mengawali pembangunan masjid dimaksud. Bupati Bantaeng bersama para tokoh pengusaha pun memberikan bantuan sebesar Rp 30 juta. Sehingga total dana awal pembangunan masjid tersebut mencapai Rp 60 juta. Sisanya masih diharapkan bantuan dari masyarakat Bangkeng Bonto dan lainnya. Ia berharap, kehadiran masjid ini dapat menunjang program Pemda untuk menjadikan Kecamatan Ulu Ere menjadi kawasan Agrowisata, urainya.
Bupati Bantaeng pada kesempatan tersebut berharap, pembangunan fasilitas ibadah ini dapat diselesaikan sesuai rencana agar segera dapat digunakan. Ini menjadi tanggung jawab kita semua untuk membantu penyelesaiannya, tandasnya. Ia kemudian menyambut baik keikhlasan panitia yang peduli terhadap pentingnya fasilitas ibadah dalam menyambut kedatangan wisatawan ke kawasan Agrowisata ini. Masih menurut Bupati, Bonthain yang memiliki tiga klaster (Pantai, Dataran Rendah dan Dataran Tinggi/Pegunungan) memiliki karakteristik dan potensi tersendiri. Kawasan pantai dimanfaatkan untuk pengembangan rumput laut. Sementara dataran rendah untuk pengembangan pertanian, khususnya padi yang sudah berhasil menangkar 20 varietas termasuk hybrid. Hasil pertanian tersebut diharapkan membawa Bonthain menjadi kabupaten benih berbasis teknologi untuk mensuplai daerah sekitar dan SulSel pada umumnya. Sedangkan pada dataran tinggi dikembangkan tanaman produktif yang banyak disukai masyarakat seperti strawberry dan apel. Khusus apel diharapkan sudah bisa dinikmati pada 2011, urainya. Selain kedua komoditi itu, kecamatan berjarak 30 kilometer dari Kota Bantaeng ini juga mengembangkan bunga potong krissan.
Pengembangan bunga tersebut selain untuk menunjang kunjungan yang akan memenuhi Bonto Lojong, juga diharapkan dapat mensuplai kebutuhan bunga Kota Makassar. Bahkan, untuk jangka panjang komoditi bunga tersebut juga diharapkan bisa diekspor ke mancanegara. Selama ini Bonthain sudah mengekspor hasil perikanan dalam bentuk Surimi beku yang dilakukan PT. Global Seafood International Indonesia (GSII) ke Jepang. Selain itu, Perusahaan Daerah Baji Minasa juga mengekspor biji kapuk ke Korea. Dalam tenggat waktu yang tidak terlalu lama, PT. GSII juga akan mengekspor talas ke Jepang dan akan segera disusul ekspor jagung ke Korea serta ekspor tapioka ke China dan gula aren ke Malaysia, urainya.
Pembangunan masjid di atas tanah seluas 12 X 15 Meter tersebut diprediksi bakal menghabiskan dana sebesar ± Rp 300-an juta. H. Tahir dari panitia masjid memperoleh dana swadaya masyarakat sebesar Rp 30 juta dalam mengawali pembangunan masjid dimaksud. Bupati Bantaeng bersama para tokoh pengusaha pun memberikan bantuan sebesar Rp 30 juta. Sehingga total dana awal pembangunan masjid tersebut mencapai Rp 60 juta. Sisanya masih diharapkan bantuan dari masyarakat Bangkeng Bonto dan lainnya. Ia berharap, kehadiran masjid ini dapat menunjang program Pemda untuk menjadikan Kecamatan Ulu Ere menjadi kawasan Agrowisata, urainya.
Bupati Bantaeng pada kesempatan tersebut berharap, pembangunan fasilitas ibadah ini dapat diselesaikan sesuai rencana agar segera dapat digunakan. Ini menjadi tanggung jawab kita semua untuk membantu penyelesaiannya, tandasnya. Ia kemudian menyambut baik keikhlasan panitia yang peduli terhadap pentingnya fasilitas ibadah dalam menyambut kedatangan wisatawan ke kawasan Agrowisata ini. Masih menurut Bupati, Bonthain yang memiliki tiga klaster (Pantai, Dataran Rendah dan Dataran Tinggi/Pegunungan) memiliki karakteristik dan potensi tersendiri. Kawasan pantai dimanfaatkan untuk pengembangan rumput laut. Sementara dataran rendah untuk pengembangan pertanian, khususnya padi yang sudah berhasil menangkar 20 varietas termasuk hybrid. Hasil pertanian tersebut diharapkan membawa Bonthain menjadi kabupaten benih berbasis teknologi untuk mensuplai daerah sekitar dan SulSel pada umumnya. Sedangkan pada dataran tinggi dikembangkan tanaman produktif yang banyak disukai masyarakat seperti strawberry dan apel. Khusus apel diharapkan sudah bisa dinikmati pada 2011, urainya. Selain kedua komoditi itu, kecamatan berjarak 30 kilometer dari Kota Bantaeng ini juga mengembangkan bunga potong krissan.
Pengembangan bunga tersebut selain untuk menunjang kunjungan yang akan memenuhi Bonto Lojong, juga diharapkan dapat mensuplai kebutuhan bunga Kota Makassar. Bahkan, untuk jangka panjang komoditi bunga tersebut juga diharapkan bisa diekspor ke mancanegara. Selama ini Bonthain sudah mengekspor hasil perikanan dalam bentuk Surimi beku yang dilakukan PT. Global Seafood International Indonesia (GSII) ke Jepang. Selain itu, Perusahaan Daerah Baji Minasa juga mengekspor biji kapuk ke Korea. Dalam tenggat waktu yang tidak terlalu lama, PT. GSII juga akan mengekspor talas ke Jepang dan akan segera disusul ekspor jagung ke Korea serta ekspor tapioka ke China dan gula aren ke Malaysia, urainya.
Tanam dan Panen Talas
Wednesday, March 31, 2010Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan (DR. Ir. Syamsul Alam) bersama Staf Ahli Bupati Bantaeng Bidang Pertanian (DR. Mokhtar A. Nawir), Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Unhas (Prof DR. Veni Hadju), Staf Ahli Bupati Bidang Hukum (Imran Arief, SH) melakukan panen talas di Talakaya, Desa Bonto Tangga Kecamatan Ulu Ere. Panen dilakukan di areal seluas 1 Ha milik Saharuddin. Talas hasil panen yang ditanam Oktober 2009 lalu akan disuplai ke PT. Global Seafood International Indonesia (GSII) untuk selanjutnya diekspor ke Jepang.
Rencana ekspor akan dilakukan April 2010, kata Kadis Pertanian dan Peternakan. Tanaman yang sedang dikembangkan di areal seluas 25 Ha Bantaeng ini diharapkan terus berkembang di tengah masyarakat untuk memenuhi permintaan pasar ekspor Jepang. Negara matahari terbit itu membutuhkan talas yang cukup besar. Khusus kebutuhan PT. GSII sebanyak 10 ton/hari diharapkan dapat dipenuhi petani.
Kepala Bidang Distribusi Pangan Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Bantaeng (Ir. H. M. Yasser) pada kesempatan itu mengatakan "Pengembangan talas di wilayah kerjanya untuk 2010 mencapai 50 Ha". Dari jumlah tersebut penentuan lokasinya akan disesuaikan dengan agroklimat tanah. Itu dilakukan agar pengembangannya lebih baik dibanding 2009 yang masih merupakan uji coba. Dari pengalaman 2009 itulah dilakukan perbaikan perencanaan, sebab ada lahan yang tidak cocok, urainya.
Yasser mengatakan, dari 50 Ha yang dicadangkan, 65% berlokasi di Kecamatan Ulu Ere. Sedangkan sisanya di Kecamatan Sinoa dan Tompobulu Kabupaten Bantaeng. Untuk menunjang rencana pengembangan tersebut, Badan Ketahanan Pangan melalui Bagian Pelatihan dan Penyuluhan berupaya memberi pemahaman dan pembinaan kepada masyarakat.
Hal itu akan dilakukan dalam bentuk demplot agar masyarakat bisa melihat langsung tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta berkhasiat untuk penyakit kanker dan diabetes ini, terang Kepala Bidang Pelatihan dan Penyuluhan (Budi Taufiq). Selain itu, pihaknya juga siap melakukan pendampingan sebab petani biasanya hanya mau melihat bukti. Ia optimistis, petani akan tertarik karena talas memiliki pasar yang baik.
Rencana ekspor akan dilakukan April 2010, kata Kadis Pertanian dan Peternakan. Tanaman yang sedang dikembangkan di areal seluas 25 Ha Bantaeng ini diharapkan terus berkembang di tengah masyarakat untuk memenuhi permintaan pasar ekspor Jepang. Negara matahari terbit itu membutuhkan talas yang cukup besar. Khusus kebutuhan PT. GSII sebanyak 10 ton/hari diharapkan dapat dipenuhi petani.
Kepala Bidang Distribusi Pangan Badan Ketahanan Pangan Kabupaten Bantaeng (Ir. H. M. Yasser) pada kesempatan itu mengatakan "Pengembangan talas di wilayah kerjanya untuk 2010 mencapai 50 Ha". Dari jumlah tersebut penentuan lokasinya akan disesuaikan dengan agroklimat tanah. Itu dilakukan agar pengembangannya lebih baik dibanding 2009 yang masih merupakan uji coba. Dari pengalaman 2009 itulah dilakukan perbaikan perencanaan, sebab ada lahan yang tidak cocok, urainya.
Yasser mengatakan, dari 50 Ha yang dicadangkan, 65% berlokasi di Kecamatan Ulu Ere. Sedangkan sisanya di Kecamatan Sinoa dan Tompobulu Kabupaten Bantaeng. Untuk menunjang rencana pengembangan tersebut, Badan Ketahanan Pangan melalui Bagian Pelatihan dan Penyuluhan berupaya memberi pemahaman dan pembinaan kepada masyarakat.
Hal itu akan dilakukan dalam bentuk demplot agar masyarakat bisa melihat langsung tanaman yang memiliki nilai ekonomi tinggi serta berkhasiat untuk penyakit kanker dan diabetes ini, terang Kepala Bidang Pelatihan dan Penyuluhan (Budi Taufiq). Selain itu, pihaknya juga siap melakukan pendampingan sebab petani biasanya hanya mau melihat bukti. Ia optimistis, petani akan tertarik karena talas memiliki pasar yang baik.
bantu petani Talas in Bonthain
Sunday, March 28, 2010Bank SulSel Cabang Bantaeng menyatakan siap membantu petani talas yang akan mengembangkan tanamannya. Kami siap membantu petani talas yang ingin mengembangkan tanamannya karena talas memiliki prospek pasar yang baik, kata Pimpinan Bank SulSel Cabang Bantaeng (Irfan Wiraguna Roem). Irfan mengatakan, saat ini sudah dua petani yang sedang dalam tahap proses bantuan pembiayaan.
Untuk memudahkan tambahan modal tersebut, Bank SulSel akan membukakan rekening. Ini juga untuk memudahkan transaksi dari PT. GSII kepada petani. Kami berharap, hasil pembelian talas oleh Global Seafood bisa langsung ke rekening petani yang ada di Bank Sulsel Bantaeng, urainya.
Masih menurut Irfan Wiraguna, modal pengembangan usaha tani ini bisa mencapai Rp 50 juta, tambahnya. Karena itu, mulai musim tanam 2010, akan dilihat besaran komponen biaya produksi yang dikeluarkan petani. Kita akan segera menghitung besaran komponen biaya produksi yang dikeluarkan petani, tambah DR. Mokhtar Nawir. Staf Ahli Bupati Bidang Pertanian itu kemudian mengemukakan komponen pupuk yang diproduksi sendiri.
Yang jelas, biaya produksi talas lebih rendah dibanding kentang, ujarnya. Rata-rata biaya produksi untuk kentang mencapai Rp. 35 juta/Ha dengan produksi 10-15 ton/Ha. Dari segi penyakit, kentang juga lebih rentang sehingga resiko kegagalannya lebih besar, sementara talas memiliki resiko lebih kecil. Talas mengandung kolagen yang dapat mencegah kanker dan diabetes. Selain itu, juga berfungsi sebagai penghalus kulit.
Untuk memudahkan tambahan modal tersebut, Bank SulSel akan membukakan rekening. Ini juga untuk memudahkan transaksi dari PT. GSII kepada petani. Kami berharap, hasil pembelian talas oleh Global Seafood bisa langsung ke rekening petani yang ada di Bank Sulsel Bantaeng, urainya.
Masih menurut Irfan Wiraguna, modal pengembangan usaha tani ini bisa mencapai Rp 50 juta, tambahnya. Karena itu, mulai musim tanam 2010, akan dilihat besaran komponen biaya produksi yang dikeluarkan petani. Kita akan segera menghitung besaran komponen biaya produksi yang dikeluarkan petani, tambah DR. Mokhtar Nawir. Staf Ahli Bupati Bidang Pertanian itu kemudian mengemukakan komponen pupuk yang diproduksi sendiri.
Yang jelas, biaya produksi talas lebih rendah dibanding kentang, ujarnya. Rata-rata biaya produksi untuk kentang mencapai Rp. 35 juta/Ha dengan produksi 10-15 ton/Ha. Dari segi penyakit, kentang juga lebih rentang sehingga resiko kegagalannya lebih besar, sementara talas memiliki resiko lebih kecil. Talas mengandung kolagen yang dapat mencegah kanker dan diabetes. Selain itu, juga berfungsi sebagai penghalus kulit.
Audisi Direksi PDAM Bonthain
Thursday, March 25, 2010Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Kabupaten Bantaeng akan segera diaudit. Audit dilakukan oleh sebuah tim independen yang dibentuk Pemerintah Kabupaten Bantaeng sebagai pemegang saham mayoritas PDAM. Kepala Bagian Humas dan Protokol Pemkab Bantaeng (Syahrul Bayan) mengatakan, audit dilakukan setelah mempelajari laporan Direksi PDAM atas kinerja 2009. Usai audit akan disusul pendaftaran calon direksi yang dibuka untuk umum.
Masih menurut Kabag Humas dan Protokol Pemkab Bantaeng, audisi calon direksi dilakukan sehubungan berakhirnya masa jabatan Direkri PDAM periode 4 tahun lalu. Ini dilakukan sesuai Perda Nomor 1 Tahun 1988 tentang Pendirian PDAM Kabupaten Bantaeng dan Permendagri Nomor 2 Tahun 2007 tentang Organ dan Kepegawaian PDAM. Melalui audisi tersebut, diharapkan muncul ide dan gagasan yang dapat membawa perusahaan daerah yang bergerak di bidang penyediaan air bersih tersebut memberikan keuntungan signifikan.
Menanggapi aksi demo di DPRD Kabupaten Bantaeng, Syahrul Bayan mengatakan, aksi tersebut tak perlu terjadi bila masyarakat memahami kegiatan yang sudah dilakukan Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) bersama Wakilnya (H. A. Asli Mustadjab). Dalam 1 tahun 8 bulan, Nurdin Abdullah memimpin kabupaten berjarak 120 kilometer arah selatan Kota Makassar ini, terjadi pertumbuhan ekonomi yang cukup baik ditandai dengan pembangunan berbagai sektor. Selain pembangunan fisik seperti Cekdam, Instalasi Penjernihan Air Minum (IPA) PDAM bernilai puluhan miliar rupiah, di sektor penyediaan pangan terjadi lonjakan produksi beras hingga 3 kali lipat.
Di sektor penyediaan pangan, Badan Ketahanan Pangan sudah melakukan penangkaran benih berbasis teknologi yang dapat memenuhi kebutuhan wilayah bagian selatan SulSel. Ke depan, penyediaan benih berkualitas termasuk jenis hybrida tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan Sulsel, jelas Syahrul Bayan. Menyinggung soal program Rp 1 Miliar/Desa yang disebut-sebut hanya sebuah janji, ia mengatakan, terjadi kesalahpahaman. Program Rp 1 miliar tersebut bukanlah program bagi-bagi uang ke desa secara Cash. Melainkan berbentuk program melalui kegiatan masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Melalui program tersebut sangat jelas terjadi pemerataan pembangunan dan memenuhi hak-hak desa. Bahkan ada desa yang lebih dari Rp 1 Miliar seperti yang dilakukan di Desa Bonto Lojong yang sudah mencapai puluhan miliar, urainya. Dana yang bergulir ke desa tersebut tak hanya dari APBD tetapi juga APBN termasuk dari PNPM Mandiri, dana pembantuan serta dana dekon yang sudah bergulir di desa dan dilakukan secara transparan. Kabag. Humas dan Protokol juga menyayangkan berita yang tidak melihat kenyataan lapangan, termasuk saat demonstran diterima DPRD. Disana hadir Kadis Koperasi dan UKM (Bachtiar Karim), Kabag. Umum (Andi Mappatoba), Kabag. Pemerintahan (A. Irfandy Langgara), Kepala Kantor Kesbang Linmas (M. Yusuf), Sekretaris DPRD (Haryoto Harsoyo) dan Kabag. Humas dan Protokol (Syahrul Bayan). Jadi tidak benar bila pihak eksekutif tidak hadir pada pertemuan di DPRD, tandasnya.
Masih menurut Syahrul Bayan, sangat keliru bila masih ada pihak yang menyebut tidak ada perkembangan di Kabupaten Bantaeng sebab pembangunan dilakukan secara transparan, itu sebabnya sejumlah industri strategis hadir di Butta Toa. Kehadiran industri strategis tersebut menjawab masalah ketenagakerjaan dan pengentasan kemiskinan. Ini merupakan komitmen Pemda untuk menghapus kemiskinan di Bantaeng, terangnya. Industri strategis tersebut sudah melakukan ekspor ke Jepang dan Korea. Industri pengolahan ikan milik PT. Global Seafood International Indonesia misalnya, telah mengekspor ke Jepang sebanyak 60 ton, termasuk 20 ton yang dilepas Wakil Gubernur SulSel Agus Arifin Nu’mang pada pelepasan ekspor perdana beberapa waktu lalu.
Masih menurut Kabag Humas dan Protokol Pemkab Bantaeng, audisi calon direksi dilakukan sehubungan berakhirnya masa jabatan Direkri PDAM periode 4 tahun lalu. Ini dilakukan sesuai Perda Nomor 1 Tahun 1988 tentang Pendirian PDAM Kabupaten Bantaeng dan Permendagri Nomor 2 Tahun 2007 tentang Organ dan Kepegawaian PDAM. Melalui audisi tersebut, diharapkan muncul ide dan gagasan yang dapat membawa perusahaan daerah yang bergerak di bidang penyediaan air bersih tersebut memberikan keuntungan signifikan.
Menanggapi aksi demo di DPRD Kabupaten Bantaeng, Syahrul Bayan mengatakan, aksi tersebut tak perlu terjadi bila masyarakat memahami kegiatan yang sudah dilakukan Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) bersama Wakilnya (H. A. Asli Mustadjab). Dalam 1 tahun 8 bulan, Nurdin Abdullah memimpin kabupaten berjarak 120 kilometer arah selatan Kota Makassar ini, terjadi pertumbuhan ekonomi yang cukup baik ditandai dengan pembangunan berbagai sektor. Selain pembangunan fisik seperti Cekdam, Instalasi Penjernihan Air Minum (IPA) PDAM bernilai puluhan miliar rupiah, di sektor penyediaan pangan terjadi lonjakan produksi beras hingga 3 kali lipat.
Di sektor penyediaan pangan, Badan Ketahanan Pangan sudah melakukan penangkaran benih berbasis teknologi yang dapat memenuhi kebutuhan wilayah bagian selatan SulSel. Ke depan, penyediaan benih berkualitas termasuk jenis hybrida tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan Sulsel, jelas Syahrul Bayan. Menyinggung soal program Rp 1 Miliar/Desa yang disebut-sebut hanya sebuah janji, ia mengatakan, terjadi kesalahpahaman. Program Rp 1 miliar tersebut bukanlah program bagi-bagi uang ke desa secara Cash. Melainkan berbentuk program melalui kegiatan masing-masing Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
Melalui program tersebut sangat jelas terjadi pemerataan pembangunan dan memenuhi hak-hak desa. Bahkan ada desa yang lebih dari Rp 1 Miliar seperti yang dilakukan di Desa Bonto Lojong yang sudah mencapai puluhan miliar, urainya. Dana yang bergulir ke desa tersebut tak hanya dari APBD tetapi juga APBN termasuk dari PNPM Mandiri, dana pembantuan serta dana dekon yang sudah bergulir di desa dan dilakukan secara transparan. Kabag. Humas dan Protokol juga menyayangkan berita yang tidak melihat kenyataan lapangan, termasuk saat demonstran diterima DPRD. Disana hadir Kadis Koperasi dan UKM (Bachtiar Karim), Kabag. Umum (Andi Mappatoba), Kabag. Pemerintahan (A. Irfandy Langgara), Kepala Kantor Kesbang Linmas (M. Yusuf), Sekretaris DPRD (Haryoto Harsoyo) dan Kabag. Humas dan Protokol (Syahrul Bayan). Jadi tidak benar bila pihak eksekutif tidak hadir pada pertemuan di DPRD, tandasnya.
Masih menurut Syahrul Bayan, sangat keliru bila masih ada pihak yang menyebut tidak ada perkembangan di Kabupaten Bantaeng sebab pembangunan dilakukan secara transparan, itu sebabnya sejumlah industri strategis hadir di Butta Toa. Kehadiran industri strategis tersebut menjawab masalah ketenagakerjaan dan pengentasan kemiskinan. Ini merupakan komitmen Pemda untuk menghapus kemiskinan di Bantaeng, terangnya. Industri strategis tersebut sudah melakukan ekspor ke Jepang dan Korea. Industri pengolahan ikan milik PT. Global Seafood International Indonesia misalnya, telah mengekspor ke Jepang sebanyak 60 ton, termasuk 20 ton yang dilepas Wakil Gubernur SulSel Agus Arifin Nu’mang pada pelepasan ekspor perdana beberapa waktu lalu.
Barter Komoditi antara kota Bonthain dan kota Baru
Sunday, March 21, 2010Kapal Ikan Cahaya Sejati 3 dari Kota Baru, Kalimantan Selatan (Kalsel) merapat di Pelabuhan Mattoanging Bantaeng, tepatnya 21 maret 2010. Kapal tersebut membawa ikan merah 17 ton untuk kebutuhan PT. Global Seafood International Indonesia (GSII). Kehadiran kapal tersebut mendapat perhatian khusus, selain menjadi kapal yang pertama merapat di pelabuhan tersebut, Cahaya Sejati 3 juga menjadi awal dimulainya perdagangan ikan secara langsung dari Kota Baru ke Bonthain untuk memenuhi pasokan ke industri pengolahan ikan PT. GSII.
Bupati Bantaeng (Prof. DR. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M. Agr) bersama Ketua Tim Penggerak PKK (Hj. Lies F. Nurdin), Asisten Bidang Ekbang (H. M Yasin), Direktur Operasional Perusda Baji Minasa (Arifuddin) dan sejumlah sejumlah petinggi lainnya menyaksikan kedatangan kapal ikan tersebut. H. Baharuddin, pemilik 3 unit Kapal Cahaya Sejati yang menjadi mitra Perusda Baji Minasa Bantaeng menyatakan kesiapannya memenuhi permintaan Perusda Baji Minasa yang memasok kebutuhan ikan PT. GSII. Perusahaan Jepang-Indonesia tersebut membutuhkan ikan segar sebanyak 40 ton/hari. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Perusda mendatangkan ikan dari berbagai propinsi dan daerah, termasuk dari Kota Baru Kalimantan Selatan.
Untuk menjangkau Pelabuhan Mattoanging Bantaeng, jelas Baharuddin diperlukan waktu 30 jam. Dari daerah ini, Cahaya Sejati akan membawa kasur dan garam ke Kota Baru Kalsel. Bupati Bantaeng menyambut baik kedatangan kapal ikan dari Kota Baru, Kalsel tersebut. Ia berharap pasokan ikan dari daerah tersebut berkelanjutan di masa mendatang. Nurdin Abdullah juga berharap kapal-kapal yang merapat bisa memanfaatkan potensi daerah ini. Potensi yang bisa dimanfaatkan tersebut, selain beras juga sejumlah sayuran dan kebutuhan lainnya untuk masyarakat Kalsel. Bupati mengakui, izin untuk Pelabuhan Mattoanging dalam tahap pengurusan. Namun tak masalah bila sudah ada kapal yang memanfaatkan. Tentang suplai kebutuhan air bersih, Bupati Bantaeng mengatakan, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bantaeng siap mensuplai. PDAM kita siap memenuhi kebutuhan air bersih, tandasnya.
Bupati Bantaeng (Prof. DR. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M. Agr) bersama Ketua Tim Penggerak PKK (Hj. Lies F. Nurdin), Asisten Bidang Ekbang (H. M Yasin), Direktur Operasional Perusda Baji Minasa (Arifuddin) dan sejumlah sejumlah petinggi lainnya menyaksikan kedatangan kapal ikan tersebut. H. Baharuddin, pemilik 3 unit Kapal Cahaya Sejati yang menjadi mitra Perusda Baji Minasa Bantaeng menyatakan kesiapannya memenuhi permintaan Perusda Baji Minasa yang memasok kebutuhan ikan PT. GSII. Perusahaan Jepang-Indonesia tersebut membutuhkan ikan segar sebanyak 40 ton/hari. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, Perusda mendatangkan ikan dari berbagai propinsi dan daerah, termasuk dari Kota Baru Kalimantan Selatan.
Untuk menjangkau Pelabuhan Mattoanging Bantaeng, jelas Baharuddin diperlukan waktu 30 jam. Dari daerah ini, Cahaya Sejati akan membawa kasur dan garam ke Kota Baru Kalsel. Bupati Bantaeng menyambut baik kedatangan kapal ikan dari Kota Baru, Kalsel tersebut. Ia berharap pasokan ikan dari daerah tersebut berkelanjutan di masa mendatang. Nurdin Abdullah juga berharap kapal-kapal yang merapat bisa memanfaatkan potensi daerah ini. Potensi yang bisa dimanfaatkan tersebut, selain beras juga sejumlah sayuran dan kebutuhan lainnya untuk masyarakat Kalsel. Bupati mengakui, izin untuk Pelabuhan Mattoanging dalam tahap pengurusan. Namun tak masalah bila sudah ada kapal yang memanfaatkan. Tentang suplai kebutuhan air bersih, Bupati Bantaeng mengatakan, Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Bantaeng siap mensuplai. PDAM kita siap memenuhi kebutuhan air bersih, tandasnya.
Export Talas from Bonthain to Sakura
Wednesday, March 10, 2010Harga talas dunia cukup menjanjikan untuk petani di daerah. Meski tak disebutkan harga pasaran tingkat dunia saat ini akibat fluktuasi mata uang dolar AS dan Jepang namun Bupati Bantaeng mengatakan, rata-rata Rp 5000/kg saja, petani sudah bisa bernafas lega sebab talas bisa berproduksi 40 ton/ha. Bupati Bantaeng mengatakan, talas memiliki pasar luas di manca Negara. Salah satu negara yang sudah siap menampung produksi talas dari Bonthain adalah Jepang. Negeri matahari terbit itu sudah mengakui kualitas talas Bonthain sebagai talas berkualitas tinggi
Berdasarkan hasil penelitian Jepang, talas Bonthain lebih baik dari talas Jepang dan China. Jepang dikenal sebagai negara terbanyak mengkonsumsi talas yang dipasok dari China. Karena itu, kita bertekad memenuhi pasar talas Jepang, kata Nurdin yang menyatakan rencana ekspor talas mulai April 2010. Insya Allah, mulai April kita juga sudah bisa mengekspor talas ke Jepang, tandasnya. Selain talas, Kabupaten Bantaeng melalui PT. Global Seafood Internasional Indonesia (GSII) juga sudah melakukan ekspor hasil laut ke negeri Sakura tersebut. Ekspor dalam bentuk ikan olahan (Surimi) tersebut berlangsung sejak Januari 2010.
Bupati Bantaeng optimistis, bila ekspor berjalan lancar, semakin banyak masyarakat yang akan menikmati hasilnya. Ia kemudian mengingatkan masyarakat, terutama yang berprofesi sebagai nelayan agar dapat memenuhi kebutuhan ikan industri pengolahan ikan yang bepangkalan di Kecamatan Pa’jukukang tersebut. Industri tersebut membutuhkan ikan 40 ton/hari yang selama ini dipasok dari Kalimantan, Sulawesi Tengah dan Barat serta beberapa daerah lainnya, termasuk Makassar. Ia kemudian mengajak masyarakat agar memberi perhatian terhadap komoditi yang bisa meningkatkan kesejahteraan. Khusus talas, hingga kini baru dikembangkan pada areal seluas 25 Ha di beberapa kecamatan.
Karena itu, tak ada salahnya bila masyarakat juga mengembangkan tanaman ini, pintanya. Masih menurut Bupati Bantaeng, potensi daerah ini cukup menjanjikan. Kita punya laut, punya daratan untuk penanaman padi dan punya gunung yang bisa ditanami berbagai jenis tanaman. Karena itu kita gagal bila masyarakat masih miskin. Nurdin kemudian mengajak semua pihak untuk memerangi kemiskinan di daerah ini. Pemerintah bertekad mengurangi dan bila perlu menghilangkan kemiskinan di Bonthain. Karena itu, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menyatukan visi ciptakan keamanan dan kedamaian serta menghimpun kekuatan untuk membangun daerah.
Hanya kebersamaanlah yang bisa kita lakukan untuk membangun, tandasnya seraya mengemukakan program perbaikan infrastruktur, terutama jalan yang dapat memudahkan transfortasi ke sentra produksi. Di bidang kesehatan, Bupati Bantaeng itu juga mengingatkan masyarakat agar memanfaatkan fasilitas kesehatan gratis yang sudah disiapkan Pemda Bantaeng. Bila terjadi sesuatu, cukup hubungi telepon 113. Ambulance bersama dokter dan tenaga medisnya akan meluncur ke lokasi, terangnya.
Berdasarkan hasil penelitian Jepang, talas Bonthain lebih baik dari talas Jepang dan China. Jepang dikenal sebagai negara terbanyak mengkonsumsi talas yang dipasok dari China. Karena itu, kita bertekad memenuhi pasar talas Jepang, kata Nurdin yang menyatakan rencana ekspor talas mulai April 2010. Insya Allah, mulai April kita juga sudah bisa mengekspor talas ke Jepang, tandasnya. Selain talas, Kabupaten Bantaeng melalui PT. Global Seafood Internasional Indonesia (GSII) juga sudah melakukan ekspor hasil laut ke negeri Sakura tersebut. Ekspor dalam bentuk ikan olahan (Surimi) tersebut berlangsung sejak Januari 2010.
Bupati Bantaeng optimistis, bila ekspor berjalan lancar, semakin banyak masyarakat yang akan menikmati hasilnya. Ia kemudian mengingatkan masyarakat, terutama yang berprofesi sebagai nelayan agar dapat memenuhi kebutuhan ikan industri pengolahan ikan yang bepangkalan di Kecamatan Pa’jukukang tersebut. Industri tersebut membutuhkan ikan 40 ton/hari yang selama ini dipasok dari Kalimantan, Sulawesi Tengah dan Barat serta beberapa daerah lainnya, termasuk Makassar. Ia kemudian mengajak masyarakat agar memberi perhatian terhadap komoditi yang bisa meningkatkan kesejahteraan. Khusus talas, hingga kini baru dikembangkan pada areal seluas 25 Ha di beberapa kecamatan.
Karena itu, tak ada salahnya bila masyarakat juga mengembangkan tanaman ini, pintanya. Masih menurut Bupati Bantaeng, potensi daerah ini cukup menjanjikan. Kita punya laut, punya daratan untuk penanaman padi dan punya gunung yang bisa ditanami berbagai jenis tanaman. Karena itu kita gagal bila masyarakat masih miskin. Nurdin kemudian mengajak semua pihak untuk memerangi kemiskinan di daerah ini. Pemerintah bertekad mengurangi dan bila perlu menghilangkan kemiskinan di Bonthain. Karena itu, ia mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk menyatukan visi ciptakan keamanan dan kedamaian serta menghimpun kekuatan untuk membangun daerah.
Hanya kebersamaanlah yang bisa kita lakukan untuk membangun, tandasnya seraya mengemukakan program perbaikan infrastruktur, terutama jalan yang dapat memudahkan transfortasi ke sentra produksi. Di bidang kesehatan, Bupati Bantaeng itu juga mengingatkan masyarakat agar memanfaatkan fasilitas kesehatan gratis yang sudah disiapkan Pemda Bantaeng. Bila terjadi sesuatu, cukup hubungi telepon 113. Ambulance bersama dokter dan tenaga medisnya akan meluncur ke lokasi, terangnya.
COMING SOON...Hospital in Seruni
Thursday, February 11, 2010Langkah konkrit dilakukan Pemerintah Kabupaten Bantaeng dalam meningkatkan pembangunan di daerah ini. Masih ingat kan, artikel sebelumnya yang berjudul Bonthain Beach Hotel. Telah digambarkan sedikit pada artikel tersebut oleh Black Community and Black In News of Bonthain. Saatnya berbenah diri, dan aplikasinya benar-benar meyakinkan.
Penguasa Bonthain periode 2008-2013 (DR. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M.Agr) memiliki keinginan yang kuat dalam mewujudkan Bonthain yang lebih maju ke depannya. Sebuah rumah sakit moderen akan dibangun bersamaan dengan Bonthain Beach Hotel. Rumah sakit yang nantinya diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Bantaeng. Bahkan lebih luas lagi hingga ke daerah tetangga yakni Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Jeneponto dan Kabupaten Selayar.
Insya Allah disini akan dibangun RSUD Prof. DR. H. M. Anwar Makkatutu Kabupaten Bantaeng
Kalimat ini tertulis pada spanduk yang dibentangkan di lokasi rencana pembangunan rumah sakit tersebut.
Setelah Autoblackthrough goes to campus dan bertemu dengan Tim Pencanangan Pembangunan beberapa proyek besar di Bonthain ini, Black Community and Black In News of Bonthain mendapatkan informasi akurat bahwa rencananya tanggal 19 Pebruari 2010 akan dilaksanakan pencanangan. Ambae.exe sebagai salah satu bagian dari Tim tersebut memberikan beberapa keterangan. General Manager Ambae.exe mengungkapkan bahwa pada lokasi Revitalisasi Pantai Seruni Bantaeng akan dibangun beberapa bangunan megah. Di antaranya adalah RSUD, Hotel dan taman-taman yang sejuk yang akan mengisi Open/Free Space. Ini tahap pertama dan akan diikuti dengan pembangunan lainnya dalam waktu dekat ini. Selain itu, pada lokasi lainnya juga akan dibangun fasilitas lainnya, antara lain, Pabrik Infus di Kecamatan Eremerasa.
Bahkan pada hari Jum'at bersamaan dengan pencanangan Hotel dan RSUD tersebut, akan dilaksanakan pula Pelepasan Ekspor Perdana Hasil Industri Pabrik Pengalengan Ikan milik PT. Global Seafood International Indonesia.
Seperti apa wajah RSUD setelah dibangun nantinya. Rekan-rekan dapat melihat dan mendownload Desainnya disini :
Penguasa Bonthain periode 2008-2013 (DR. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M.Agr) memiliki keinginan yang kuat dalam mewujudkan Bonthain yang lebih maju ke depannya. Sebuah rumah sakit moderen akan dibangun bersamaan dengan Bonthain Beach Hotel. Rumah sakit yang nantinya diharapkan dapat memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan bagi masyarakat Bantaeng. Bahkan lebih luas lagi hingga ke daerah tetangga yakni Kabupaten Bulukumba, Kabupaten Sinjai, Kabupaten Jeneponto dan Kabupaten Selayar.
Kalimat ini tertulis pada spanduk yang dibentangkan di lokasi rencana pembangunan rumah sakit tersebut.
Setelah Autoblackthrough goes to campus dan bertemu dengan Tim Pencanangan Pembangunan beberapa proyek besar di Bonthain ini, Black Community and Black In News of Bonthain mendapatkan informasi akurat bahwa rencananya tanggal 19 Pebruari 2010 akan dilaksanakan pencanangan. Ambae.exe sebagai salah satu bagian dari Tim tersebut memberikan beberapa keterangan. General Manager Ambae.exe mengungkapkan bahwa pada lokasi Revitalisasi Pantai Seruni Bantaeng akan dibangun beberapa bangunan megah. Di antaranya adalah RSUD, Hotel dan taman-taman yang sejuk yang akan mengisi Open/Free Space. Ini tahap pertama dan akan diikuti dengan pembangunan lainnya dalam waktu dekat ini. Selain itu, pada lokasi lainnya juga akan dibangun fasilitas lainnya, antara lain, Pabrik Infus di Kecamatan Eremerasa.
Bahkan pada hari Jum'at bersamaan dengan pencanangan Hotel dan RSUD tersebut, akan dilaksanakan pula Pelepasan Ekspor Perdana Hasil Industri Pabrik Pengalengan Ikan milik PT. Global Seafood International Indonesia.
Seperti apa wajah RSUD setelah dibangun nantinya. Rekan-rekan dapat melihat dan mendownload Desainnya disini :
Bonthain
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor