Showing posts with label Pariwisata. Show all posts
Showing posts with label Pariwisata. Show all posts
30 Menit Kembang Api Hiasi Bantaeng
Friday, January 1, 2016
Pesta Kembang Api menandai pergantian tahun 2015 menuju tahun 2016 di Kabupaten Bantaeng. Sejak siang hari (31/12/15) ribuan batang kembang api maupun petasan dalam berbagai model dan jenis telah disiapkan di Anjungan Pantai Seruni Bantaeng.
Puluhan ribu pengunjung mulai memadati Kawasan Pantai Seruni Bantaeng yang terbagi ke dalam beberapa area. Pengunjung mencapai sekitar 30 ribu orang, sebagian besar terkumpul pada area yang selama ini kerap menjadi pusat kunjungan. Antara lain Pusat Kuliner, Tribun, Alun-alun, Cafe Kartika dan Sport Center. Selebihnya berada di area Parkir Kendaraan roda 2 dan 4 yang terpisah lokasinya. Termasuk mengisi area-area lainnya seperti Jalan Akses Pantai, halaman RSUD dan Pusat Cakar Seruni.
Sementara untuk area Anjungan, tidak diperkenankan mendekat bahkan memasuki area di sekitarnya dalam radius 5-10 meter. Di tempat ini telah disusun rangkaian Kembang Api dalam kombinasi tertentu. Dimana material yang digunakan memerlukan pengawasan khusus dari pihak keamanan dibantu para teknisi yang secara khusus pula didatangkan dari luar Kabupaten Bantaeng untuk mengoperasikan Kembang Api dimaksud.
Para pengunjung tidak hanya datang sekedar untuk menyaksikan Pesta Kembang Api yang digelar. Sambil menanti, mereka mendatangi cafe dan warkop yang berjejalan di Pusat Kuliner dan kawasan Cafe Kartika. Saking padatnya, pengunjung harus rela antri. Hal ini disebabkan membengkaknya jumlah angka pengunjung dibanding jumlah cafe yang tersedia.
Di tempat terpisah, beberapa legislator Kabupaten Bantaeng menempati Warkop Selfie (Kompasiana : goo.gl/JsWhnw). Tampak bersama keluarganya antara lain A. Rilman Abdullah (Nasdem), Muhammad Asri, SE (PKB), Darwis, ST (PAN) dan Ir. Alim Bahri L. Tana (Demokrat). Juga hadir beberapa Tokoh Pemuda yang tidak asing di daerah ini, yakni Ansar, SE, Andi Risky, Muslim Ansar, SE, Saleh, Ince, Ahmad Yani, Nurlinda dan Muh. Nur Anshari.
Menikmati hidangan Kopi Bantaeng dan cemilan khas Pantai Seruni, para pengunjung Warkop Selfie sesekali berselfie ria dengan background nan cantik dan indah. "Tidak salah dinamakan Warkop Selfie. Kita berharap Warkop Selfie semakin ramai dan terus berkreasi di tahun 2016." puji Kr. Alim (legislator Demokrat) kepada pemiliknya (Budi A. Mubarak). Yang kemudian diamini Budi, "Insya Allah telah kami siapkan sejumlah menu spesial."
Lain halnya dengan Darwis (legislator PAN) dan Asri (legislator PKB), "Warkop ini sangat nyaman, meskipun cafe lainnya pun memiliki keunikan tersendiri. Namun, disini kita benar-benar dapat menyaksikan pemadangan yang berbeda dari cafe yang lain." ungkapnya.
"Keuntungan terbaiknya bahwa warga Kabupaten Bantaeng lebih banyak menghabiskan malam pergantian tahun baru di Bantaeng sendiri. Dibanding harus ke Makassar misalnya, kalau berbelanja di Bantaeng maka pedagang dan masyarakat Bantaeng juga yang menikmatinya." tambah Kr. Rilman (legislator Nasdem).
Malam yang semakin larut mengantar pergantian tahun semakin dekat. Tatkala sirine dibunyikan dan menggema ke seluruh sudut area Pantai Seruni. Diikuti kilatan cahaya dari area Anjungan, Pesta Kembang Api pun dimulai. Berlangsung sekitar 30 menit tanpa henti, angkasa Kabupaten Bantaeng terlihat terang layaknya siang hari. Disamping kembang api yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Bantaeng, pengunjung destinasi ini pun tidak mau kalah. Meski tidak mampu menyaingi durasi penampilannya, mereka pun mempertontonkan kembang api yang telah disiapkannya dari rumah.
Rasa puas dan kebahagiaan bercampur jadi satu melewati malam pergantian tahun. Selanjutnya mengawali tahun 2016 dengan penuh harapan agar kehidupan dan masa depannya lebih baik. Sembari berdo'a pada Yang Maha Kuasa semoga Kabupaten Bantaeng semakin berkembang dan maju di segala bidang.
Selamat tahun baru 2016, salam #AMBAE.
Puluhan ribu pengunjung mulai memadati Kawasan Pantai Seruni Bantaeng yang terbagi ke dalam beberapa area. Pengunjung mencapai sekitar 30 ribu orang, sebagian besar terkumpul pada area yang selama ini kerap menjadi pusat kunjungan. Antara lain Pusat Kuliner, Tribun, Alun-alun, Cafe Kartika dan Sport Center. Selebihnya berada di area Parkir Kendaraan roda 2 dan 4 yang terpisah lokasinya. Termasuk mengisi area-area lainnya seperti Jalan Akses Pantai, halaman RSUD dan Pusat Cakar Seruni.
Sementara untuk area Anjungan, tidak diperkenankan mendekat bahkan memasuki area di sekitarnya dalam radius 5-10 meter. Di tempat ini telah disusun rangkaian Kembang Api dalam kombinasi tertentu. Dimana material yang digunakan memerlukan pengawasan khusus dari pihak keamanan dibantu para teknisi yang secara khusus pula didatangkan dari luar Kabupaten Bantaeng untuk mengoperasikan Kembang Api dimaksud.
Para pengunjung tidak hanya datang sekedar untuk menyaksikan Pesta Kembang Api yang digelar. Sambil menanti, mereka mendatangi cafe dan warkop yang berjejalan di Pusat Kuliner dan kawasan Cafe Kartika. Saking padatnya, pengunjung harus rela antri. Hal ini disebabkan membengkaknya jumlah angka pengunjung dibanding jumlah cafe yang tersedia.
Di tempat terpisah, beberapa legislator Kabupaten Bantaeng menempati Warkop Selfie (Kompasiana : goo.gl/JsWhnw). Tampak bersama keluarganya antara lain A. Rilman Abdullah (Nasdem), Muhammad Asri, SE (PKB), Darwis, ST (PAN) dan Ir. Alim Bahri L. Tana (Demokrat). Juga hadir beberapa Tokoh Pemuda yang tidak asing di daerah ini, yakni Ansar, SE, Andi Risky, Muslim Ansar, SE, Saleh, Ince, Ahmad Yani, Nurlinda dan Muh. Nur Anshari.
Menikmati hidangan Kopi Bantaeng dan cemilan khas Pantai Seruni, para pengunjung Warkop Selfie sesekali berselfie ria dengan background nan cantik dan indah. "Tidak salah dinamakan Warkop Selfie. Kita berharap Warkop Selfie semakin ramai dan terus berkreasi di tahun 2016." puji Kr. Alim (legislator Demokrat) kepada pemiliknya (Budi A. Mubarak). Yang kemudian diamini Budi, "Insya Allah telah kami siapkan sejumlah menu spesial."
Lain halnya dengan Darwis (legislator PAN) dan Asri (legislator PKB), "Warkop ini sangat nyaman, meskipun cafe lainnya pun memiliki keunikan tersendiri. Namun, disini kita benar-benar dapat menyaksikan pemadangan yang berbeda dari cafe yang lain." ungkapnya.
"Keuntungan terbaiknya bahwa warga Kabupaten Bantaeng lebih banyak menghabiskan malam pergantian tahun baru di Bantaeng sendiri. Dibanding harus ke Makassar misalnya, kalau berbelanja di Bantaeng maka pedagang dan masyarakat Bantaeng juga yang menikmatinya." tambah Kr. Rilman (legislator Nasdem).
Malam yang semakin larut mengantar pergantian tahun semakin dekat. Tatkala sirine dibunyikan dan menggema ke seluruh sudut area Pantai Seruni. Diikuti kilatan cahaya dari area Anjungan, Pesta Kembang Api pun dimulai. Berlangsung sekitar 30 menit tanpa henti, angkasa Kabupaten Bantaeng terlihat terang layaknya siang hari. Disamping kembang api yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Bantaeng, pengunjung destinasi ini pun tidak mau kalah. Meski tidak mampu menyaingi durasi penampilannya, mereka pun mempertontonkan kembang api yang telah disiapkannya dari rumah.
Rasa puas dan kebahagiaan bercampur jadi satu melewati malam pergantian tahun. Selanjutnya mengawali tahun 2016 dengan penuh harapan agar kehidupan dan masa depannya lebih baik. Sembari berdo'a pada Yang Maha Kuasa semoga Kabupaten Bantaeng semakin berkembang dan maju di segala bidang.
Selamat tahun baru 2016, salam #AMBAE.
Bupati Bantaeng Ajak Muspida Panen Apel di Muntea
Sunday, February 1, 2015
Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) bersama jajaran Muspida Bantaeng yakni Ketua DPRD Bantaeng (H. Sahabuddin), Wakil Bupati Bantaeng (H. M. Yasin), Sekda Bantaeng (H. Abdul Gani) dan Tokoh Masyarakat Bantaeng, melakukan liburan agrowisata di beberapa titik yang terletak di 20 Km dari Kota Bantaeng, tepatnya di Desa Bonto Lojong Kecamatan Ulu Ere (Red. : Minggu, 1 Pebruari 2015).
Liburan agrowisata Ulu Ere ini, diawali dengan jogging pagi di seputaran reklamasi Pantai Seruni Bantaeng, bersama Kepala Kejaksaan Negeri Bantaeng (Erry Pudyanto Marwantono), Dandim 1410 Bantaeng (Heny Setyono), Wakil Ketua Pengadilan Negeri Bantaeng (Somadi), Ketua DPRD Bantaeng (H. Sahabuddin), Wakil Bupati Bantaeng (H. M. Yasin), Sekda Bantaeng (H. Abdul Gani) dan beberapa Tokoh Masyarakat Bantaeng serta beberapa warga masyarakat Komunitas Jalan Pagi Seruni. Tampak pula, mendampingi Ketua GOW (Hj. Aisyah Yasin) dan Ketua Dharma Wanita (Hj. Nuraeni Gani).
Dari Pantai Seruni, Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) yang merupakan salah satu tokoh inspiratif ini memboyong Muspida, dan Komunitas Jalan Pagi Seruni ini menuju Mini Showfarm yang terletak di Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere. Tampak Muspida dan pimpinan lainnya sumringah dengan canda tawa yang riang serta terlihat kekompakannya.
Sekitar 30 Menit berada di Mini Showfarm yang luasnya sekitar 0,50 Hektar, Nurdin Abdullah mengajak memetik apel varietas Manalagi dan Roombeauty serta Strawberry yang berada di Kawasan Agrowisata Muntea, sekitar 800-an Hektar di Desa Bonto Lojong.
"Alhamdulillah, hari ini kita bisa melihat sendiri keagungan-NYA dan kita bisa merasakan Apel Manalagi dan Roombeauty, strawberry dan lainnya yang mana merupakan hasil pengembangan agrowisata di 3 tahun terakhir di Bantaeng. Dari Puncak Muntea ini, kita bisa saksikan Kabupaten Kepulauan Selayar dan sebagian Kabupaten Bulukumba serta Jeneponto", ujar Nurdin Abdullah dihadapan warganya.
Lanjut H. M. Nurdin Abdullah yang bergelar Professor Pertanian ini akan terus mengembangkan kawasan agrowisata ini dengan mengembangkan tanaman apel, strawberry, daikong dan tanaman holtikultura lainnya. Sehingga Muntea ini akan terkenal nantinya. Dan kita sendiri bisa saksikan banyaknya warga wisatawan yang berkunjung ke tempat ini.
"Dari Kawasan Agrowisata Muntea yang produktif sekitar 800 Hektar ini, akan terus dikembangkan. Bahkan saat ini sementara tahap pengembangan untuk strawberry dari Negeri Sakura, Jepang. Dan kita bisa saksikan pada pagi ini sekitar 200-an wisatawan yang berkunjung pada pagi hari ini" ujar Ir. Kamrah selaku Kepala Bidang Holtikultura.
Hidayat Mahmud selaku Koordinator Komunitas Jalan Pagi Seruni Bantaeng menuturkan bahwa kebersamaan pagi ini, membuat kami bangga dengan Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) dan beserta jajaran Muspida, bahwa dengan kebersamaan ini akan menjadikan Bantaeng sebagai Kabupaten Yang Maju dan Sejahtera.
Tampak pula hadir dan ikut dalam rombongan liburan agrowisata ini, diantaranya Kadis Sosnakertrans (Syahrul Bayan), Camat Ulu Ere (Hj. Sohrah), Sekcam Ulu Ere (H. Hariyanto), Kabid Ekososbud Bappeda (Junaedy Bakri), Kabid Binamarga Dinas PUK (Edy) dan beberapa pejabat lainnya, diantaranya Kepala UPTD Holtikultura Loka (Baedawi).
Pada akhir kunjungan di Balai Benih Holtikultura di Desa Bonto Marannu, Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) menyaksikan secara langsung perbenihan dan adaptasi strawberry dari Jepang.
Release : Humas Bantaeng
Editor : Ambae.exe
Liburan agrowisata Ulu Ere ini, diawali dengan jogging pagi di seputaran reklamasi Pantai Seruni Bantaeng, bersama Kepala Kejaksaan Negeri Bantaeng (Erry Pudyanto Marwantono), Dandim 1410 Bantaeng (Heny Setyono), Wakil Ketua Pengadilan Negeri Bantaeng (Somadi), Ketua DPRD Bantaeng (H. Sahabuddin), Wakil Bupati Bantaeng (H. M. Yasin), Sekda Bantaeng (H. Abdul Gani) dan beberapa Tokoh Masyarakat Bantaeng serta beberapa warga masyarakat Komunitas Jalan Pagi Seruni. Tampak pula, mendampingi Ketua GOW (Hj. Aisyah Yasin) dan Ketua Dharma Wanita (Hj. Nuraeni Gani).
Dari Pantai Seruni, Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) yang merupakan salah satu tokoh inspiratif ini memboyong Muspida, dan Komunitas Jalan Pagi Seruni ini menuju Mini Showfarm yang terletak di Desa Bonto Lojong, Kecamatan Ulu Ere. Tampak Muspida dan pimpinan lainnya sumringah dengan canda tawa yang riang serta terlihat kekompakannya.
Sekitar 30 Menit berada di Mini Showfarm yang luasnya sekitar 0,50 Hektar, Nurdin Abdullah mengajak memetik apel varietas Manalagi dan Roombeauty serta Strawberry yang berada di Kawasan Agrowisata Muntea, sekitar 800-an Hektar di Desa Bonto Lojong.
"Alhamdulillah, hari ini kita bisa melihat sendiri keagungan-NYA dan kita bisa merasakan Apel Manalagi dan Roombeauty, strawberry dan lainnya yang mana merupakan hasil pengembangan agrowisata di 3 tahun terakhir di Bantaeng. Dari Puncak Muntea ini, kita bisa saksikan Kabupaten Kepulauan Selayar dan sebagian Kabupaten Bulukumba serta Jeneponto", ujar Nurdin Abdullah dihadapan warganya.
Lanjut H. M. Nurdin Abdullah yang bergelar Professor Pertanian ini akan terus mengembangkan kawasan agrowisata ini dengan mengembangkan tanaman apel, strawberry, daikong dan tanaman holtikultura lainnya. Sehingga Muntea ini akan terkenal nantinya. Dan kita sendiri bisa saksikan banyaknya warga wisatawan yang berkunjung ke tempat ini.
"Dari Kawasan Agrowisata Muntea yang produktif sekitar 800 Hektar ini, akan terus dikembangkan. Bahkan saat ini sementara tahap pengembangan untuk strawberry dari Negeri Sakura, Jepang. Dan kita bisa saksikan pada pagi ini sekitar 200-an wisatawan yang berkunjung pada pagi hari ini" ujar Ir. Kamrah selaku Kepala Bidang Holtikultura.
Hidayat Mahmud selaku Koordinator Komunitas Jalan Pagi Seruni Bantaeng menuturkan bahwa kebersamaan pagi ini, membuat kami bangga dengan Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) dan beserta jajaran Muspida, bahwa dengan kebersamaan ini akan menjadikan Bantaeng sebagai Kabupaten Yang Maju dan Sejahtera.
Tampak pula hadir dan ikut dalam rombongan liburan agrowisata ini, diantaranya Kadis Sosnakertrans (Syahrul Bayan), Camat Ulu Ere (Hj. Sohrah), Sekcam Ulu Ere (H. Hariyanto), Kabid Ekososbud Bappeda (Junaedy Bakri), Kabid Binamarga Dinas PUK (Edy) dan beberapa pejabat lainnya, diantaranya Kepala UPTD Holtikultura Loka (Baedawi).
Pada akhir kunjungan di Balai Benih Holtikultura di Desa Bonto Marannu, Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) menyaksikan secara langsung perbenihan dan adaptasi strawberry dari Jepang.
Release : Humas Bantaeng
Editor : Ambae.exe
Bissappu Waterfall
Saturday, February 27, 2010Sabtu tiba, insan sedunia pun segera menyusun jadwal untuk mengisi akhir pekan yang lebih ceria. Sebagian telah menyusun dan menyiapkan rencana sedari awal, sehingga hari ini mereka langsung Blackinnovationawards goes to campus ke lokasi wisata. Akan mengasyikkan tentunya jika dapat mengisi akhir pekan dengan ceria. Setelah bergelut dengan rutinitas masing-masing sejak Senin hingga Sabtu, terbayar sudah penat itu.
Cara membayarnya pun berbeda-beda, tergantung selera dan hobi masing-masing individu. Kali ini Black Community and Black In News of Bonthain mengajak rekan BLOGGER untuk mengunjungi salah satu obyek wisata di Bonthain.
Air Terjun Bissappu terletak di sebelah barat kota Bonthain. Bertolak dari pusat kota Bonthain, Bissappu Waterfall dapat ditempuh dalam waktu ± 10-15 menit perjalanan. Sama halnya dengan obyek wisata lainnya di kota Butta Toa ini, wisatawan dapat mengunjunginya dengan mengendarai Black Car Community (roda 4) atau Black Motor Community (roda 2). Jaraknya yang lumayan dekat, ± 5 Km memudahkan management waktu perjalanan pulang nantinya. Akses menuju lokasi, pengunjung akan melewati jalanan berkelok. Wisatawan akan dimanjakan dengan rimbunnya pohon jati di kedua sisi jalan hingga pusat obyek wisata tersebut.

Bagaimana dengan para wisatawan yang tidak memiliki kendaraan...???Wisatawan dapat menggunakan jasa Rental Mobil yang banyak disiapkan di Bonthain. Dapat pula dengan menggunakan kendaraan Angkutan Umum, antara lain Pete'-pete', Ojek dan Bendi.
Air Terjun Bissappu masuk dalam wilayah Administratif Desa Bonto Salluang Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng (Bonthain). Setibanya di lokasi tersebut, pengunjung harus menuruni tangga batu yang jumlahnya ribuan anak tangga yang berujung di sekitar bibir air terjun.
Menikmati liburan keluarga di tempat ini begitu mengasyikkan. Bersama keluarga, teman dan rekan kerja, dapat mencicipi makanan khas Makassar yakni Gogoso' dan Bayao Le'ba Pallu (lihat KAMUS Bahasa Makassar-Indonesia). Atau mungkin dengan membawa sendiri makanan dari rumah dan menyantapnya di atas Gazebo yang telah disediakan disana.
Selain menikmati makanan, wisatawan dapat berendam di sekitar bibir air terjun atau pun di tempat lainnya di sungai yang lebarnya mencapai ± 50 M.
Rekan-rekan mungkin telah banyak mengunjungi obyek air terjun di Indonesia maupun di luar Nusantara kita ini. Di lokasi ini, pengunjung dapat mendekat dan berendam di sekitar bibir air terjun. Air yang jatuh dari atas menyebar di sekitar bibir air terjun. Selanjutnya air tersebut tidak langsung muncul mengalir ke sungai, melainkan muncul ke atas permukaan setelah melewati tumpukan batu yang besar pada jarak ± 50-70 M. Meski demikian, patut menjadi perhatian agar tidak terlalu dekat ke dalamnya. Ya namanya air terjun, air jatuh pada ketinggian lebih dari 100 M. Kekuatan yang luar biasa diciptakan air terjun ini. Bahkan investor Belanda telah meliriknya untuk menanamkan investasinya disini. Rencananya akan mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Air. Mungkin pula Pemerintah punya rencana lain dengan obyek ini, yang jelas hingga saat ini masih digunakan sebagai obyek wisata.

Harapannya, lingkungan di sekitar obyek tersebut tetap terjaga kelestariannya. Betapa tidak, pengrusakan di lokasi obyek wisata telah banyak terjadi dimana-mana. Semoga di lokasi tersebut tidak demikian halnya.
Mengantisipasi hal tersebut, Pemerintah yang menjadi pengelola tempat ini melalui Dinas Pariwisata, tetap giat bersosialisasi agar pengunjung dapat menjaga kebersihan dan kelestarian di dalamnya.
Cara membayarnya pun berbeda-beda, tergantung selera dan hobi masing-masing individu. Kali ini Black Community and Black In News of Bonthain mengajak rekan BLOGGER untuk mengunjungi salah satu obyek wisata di Bonthain.
Air Terjun Bissappu terletak di sebelah barat kota Bonthain. Bertolak dari pusat kota Bonthain, Bissappu Waterfall dapat ditempuh dalam waktu ± 10-15 menit perjalanan. Sama halnya dengan obyek wisata lainnya di kota Butta Toa ini, wisatawan dapat mengunjunginya dengan mengendarai Black Car Community (roda 4) atau Black Motor Community (roda 2). Jaraknya yang lumayan dekat, ± 5 Km memudahkan management waktu perjalanan pulang nantinya. Akses menuju lokasi, pengunjung akan melewati jalanan berkelok. Wisatawan akan dimanjakan dengan rimbunnya pohon jati di kedua sisi jalan hingga pusat obyek wisata tersebut.
Bagaimana dengan para wisatawan yang tidak memiliki kendaraan...???Wisatawan dapat menggunakan jasa Rental Mobil yang banyak disiapkan di Bonthain. Dapat pula dengan menggunakan kendaraan Angkutan Umum, antara lain Pete'-pete', Ojek dan Bendi.
Air Terjun Bissappu masuk dalam wilayah Administratif Desa Bonto Salluang Kecamatan Bissappu Kabupaten Bantaeng (Bonthain). Setibanya di lokasi tersebut, pengunjung harus menuruni tangga batu yang jumlahnya ribuan anak tangga yang berujung di sekitar bibir air terjun.
Menikmati liburan keluarga di tempat ini begitu mengasyikkan. Bersama keluarga, teman dan rekan kerja, dapat mencicipi makanan khas Makassar yakni Gogoso' dan Bayao Le'ba Pallu (lihat KAMUS Bahasa Makassar-Indonesia). Atau mungkin dengan membawa sendiri makanan dari rumah dan menyantapnya di atas Gazebo yang telah disediakan disana.
Selain menikmati makanan, wisatawan dapat berendam di sekitar bibir air terjun atau pun di tempat lainnya di sungai yang lebarnya mencapai ± 50 M.
Rekan-rekan mungkin telah banyak mengunjungi obyek air terjun di Indonesia maupun di luar Nusantara kita ini. Di lokasi ini, pengunjung dapat mendekat dan berendam di sekitar bibir air terjun. Air yang jatuh dari atas menyebar di sekitar bibir air terjun. Selanjutnya air tersebut tidak langsung muncul mengalir ke sungai, melainkan muncul ke atas permukaan setelah melewati tumpukan batu yang besar pada jarak ± 50-70 M. Meski demikian, patut menjadi perhatian agar tidak terlalu dekat ke dalamnya. Ya namanya air terjun, air jatuh pada ketinggian lebih dari 100 M. Kekuatan yang luar biasa diciptakan air terjun ini. Bahkan investor Belanda telah meliriknya untuk menanamkan investasinya disini. Rencananya akan mendirikan Pembangkit Listrik Tenaga Air. Mungkin pula Pemerintah punya rencana lain dengan obyek ini, yang jelas hingga saat ini masih digunakan sebagai obyek wisata.
Harapannya, lingkungan di sekitar obyek tersebut tetap terjaga kelestariannya. Betapa tidak, pengrusakan di lokasi obyek wisata telah banyak terjadi dimana-mana. Semoga di lokasi tersebut tidak demikian halnya.
Mengantisipasi hal tersebut, Pemerintah yang menjadi pengelola tempat ini melalui Dinas Pariwisata, tetap giat bersosialisasi agar pengunjung dapat menjaga kebersihan dan kelestarian di dalamnya.
Bonthain Beach Hotel
Sunday, February 7, 2010Investasi yang luar biasa besar nilainya akan ditanamkan oleh investor dengan rencana pembangunan Hotel di Kabupaten Bantaeng. Hunian kelas moderen sebagai salah satu sarana pendukung dalam meningkatkan prospek pariwisata di Kabupaten Bantaeng. Dengan berbagai potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Bantaeng, diharapkan mampu menjadi daerah tujuan wisata di wilayah selatan-selatan Propinsi Sulawesi Selatan. Sehingga nantinya, para wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang Blackinnovationawards goes to campus ke Bonthain menjadi betah karena ketersediaan fasilitas yang lebih keren.
Bonthain Beach Hotel dibangun dengan konsep bertaraf nasional, mampu menyediakan kamar sebanyak 100 buah dengan berbagai fasilitas penunjang (data sementara yang berhasil dihimpun), antara lain :
Ruang Pertemuan
Restoran
Layanan Informasi bagi Wisatawan
Telepon Sambungan Internasional
Postcards and Postal Agent
Internet Cafe yang cepat
Kolam Renang
Hot Shower
Layanan Antar dan Jemput
Pelayanan Kesehatan yang ontime 24 jam
Adapun Pembangunannya akan dilaksanakan tahun ini. Pencanangan pembangunan hotel tersebut rencananya segera dalam waktu dekat ini. Berdasarkan informasi dari Tim Perencana Pembangunan Hotel yang disampaikan kepada Black Community and Black In News of Bonthain, kalau tidak aral melintang hari Kamis nanti, tepanya tanggal 18 Pebruari 2010, rencana dimaksud akan dilaksanakan. Jadi bakalan diadain Peletakan Batu Pertama di kawasan Revitalisasi Pantau Seruni Bantaeng (look at the map of Bonthain).
Ambae.exe turut ikut ambil bagian dalam rencana Pembangunan Bonthain Beach Hotel. General Manager Ambae.exe menyatakan bahwa telah dibuat desain Logo dan beberapa desain lainnya dalam rangka persiapan acara kamis depan.
Desain hasil racikan Ambae.exe dapat dilihat disini :
1. Logo Bonthain Beach Hotel
2. Logo dan Arti Logo Bonthain Beach Hotel
3. Spanduk Bonthain Beach Hotel (Primer)
4. Spanduk Bonthain Beach Hotel (Sekunder)
5. Peta Lokasi Pembangunan Bonthain Beach Hotel & RSUD Bantaeng
6. Peta Lokasi Penempatan Spanduk Bonthain Beach Hotel
ARTI DAN MAKNA LOGO
Secara umum Logo tersebut menggambarkan kondisi Bantaeng yang terdiri dari 3 dimensi yakni Laut, Dataran Rendah dan Dataran Tinggi).
Bentuk menyerupai huruf/abjad "b" kecil dengan warna Biru Tua/Biru Langit mewakili nama "bonthain beach hotel". Warna Biru pada bentuk tersebut melambangkan Dataran Tinggi (Gunung dan Hutan) yang penuh ketenangan dan ketenteraman yang dapat dirasakan di kota Butta Toa. Dibalut garis tipis berwarna Hijau melambangkan sejuknya menikmati alam Bonthain.
Bentuk menyerupai sehelai daun pada salah satu ujung huruf "b" kecil dengan warna dasar Hijau, melambangkan alam Bantaeng yang sebagian besar merupakan daerah potensial. Konsep Hijaukan Bantaeng dijadikan dasar pembangunan "bonthain beach hotel", mengingat lokasi pembangunan hotel adalah "New Place" hasil Revitalisasi Pantai Seruni Bantaeng.
Bentuk menyerupai gundukan tanah/gunung berwarna Cokelat Muda, melambangkan daratan/dataran rendah di wilayah Bantaeng sebagai Butta Toa (Tanah Tua). Bentukan ini pula menggambarkan lokasi pembangunan "bonthain beach hotel".
Penempatan huruf "b" kecil di atas gundukan tanah berwarna cokelat, menggambarkan kondisi real dimana lokasi pembangunan "bonthain beach hotel". Lokasinya merupakan wilayah laut yang ditimbun dan membentuk daratan baru sebagai dasar "The New Bantaeng".
Bentuk menyerupai lautan berwarna Biru Muda/Biru Laut disertai dua buah kapal yang saling berjauhan, melambangkan wilayah perairan Bantaeng yang membentuk Selat telah menjadi wilayah persinggahan bagi kapal mengingat amat aman dari terjangan ombak besar. Di wilayah sekitar hotel ini pula telah menjadi area yang indah untuk menikmati sunset dan pemandangan alam lainnya yang dibalut ke dalam wisata multi dimensi yakni Laut, Dataran Rendah dan Dataran Tinggi. Konsep pantai dikembangkan dari pembangunan hotel tersebut, mengingat indahnya Bantaeng, khususnya di wilayah pantai Seruni Bantaeng.
Tulisan "bonthain beach hotel" berwarna merah, melambangkan nama dari hotel tersebut. Pemilihan warna pada tulisan, melambangkan keberanian dan tekad yang kuat untuk mewujudkan Bantaeng yang lebih maju. Keberanian untuk terus menarik investor agar menanamkan investasinya di Bantaeng. Sedangkan kata "Bonthain" itu sendiri merupakan sebutan Kabupaten Bantaeng. Sejak lama telah menjadi nama pertama yang diberikan oleh bangsa Belanda di zaman penjajahan pada kota yang pernah menjadi basis pemerintahannya/pusat pemerintahan formal Hindia Belanda (Afdeling).
Tiap obyek kecuali bentukan huruf "b" kecil, dikelilingi garis berwarna Biru. Bahkan pada bagian bawah dari ketiga obyek (laut, dataran rendah dan dataran tinggi), dengan sangat jelas menekankan ketenangan dan ketenteraman yang selalu dijaga di kota ini, khususnya keamanan dalam berinvestasi dan keamanan untuk berkunjung menikmati bentang alam Bantaeng yang indah. Dengan harapan para investor tidak merasa was-was untuk menanamkan investasinya yang akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Selain Pencanangan Pembangunan Bonthain Beach Hotel, akan dirangkaikan pula dengan :
1. Pencanangan Pembangunan Pabrik Infus di Kecamatan Eremerasa
2. Pengembangan RSUD Prof. DR. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng
3. Ekspor Perdana Pengolahan Hasil Industri Pabrik Pengalengan Ikan
Rupanya Bonthain semakin berbenah diri ke arah yang lebih maju dengan konsep The New Bantaeng yang didengung-dengungkan Pemerintah. Bupati Bantaeng (DR. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M. Agr) yang menahkodai Bonthain, telah menelorkan hasil nyata. Sebagai awal untuk mewujudkan The New Bantaeng, telah dilaksanakan Revitalisasi Pantai Seruni Bantaeng. Wilayah Perairan Pantai Seruni yang ditimbun menelan dana sebesar ± Rp 30 M. Garis Pantai kini berubah sejak ditimbun karena telah menjadi daratan baru. Nah, salah satu bangunan yang akan berdiri tegak di atasnya adalah Bonthain Beach Hotel. Pihak ketiga yang menanamkan modalnya merupakan salah satu Perusahaan Nasional. Pemerintah menyiapkan lahan saja, sementara dana pembangunannya sepenuhnya berasal dari investor tersebut.
Bonthain Beach Hotel dibangun dengan konsep bertaraf nasional, mampu menyediakan kamar sebanyak 100 buah dengan berbagai fasilitas penunjang (data sementara yang berhasil dihimpun), antara lain :
Ruang Pertemuan
Restoran
Layanan Informasi bagi Wisatawan
Telepon Sambungan Internasional
Postcards and Postal Agent
Internet Cafe yang cepat
Kolam Renang
Hot Shower
Layanan Antar dan Jemput
Pelayanan Kesehatan yang ontime 24 jam
Adapun Pembangunannya akan dilaksanakan tahun ini. Pencanangan pembangunan hotel tersebut rencananya segera dalam waktu dekat ini. Berdasarkan informasi dari Tim Perencana Pembangunan Hotel yang disampaikan kepada Black Community and Black In News of Bonthain, kalau tidak aral melintang hari Kamis nanti, tepanya tanggal 18 Pebruari 2010, rencana dimaksud akan dilaksanakan. Jadi bakalan diadain Peletakan Batu Pertama di kawasan Revitalisasi Pantau Seruni Bantaeng (look at the map of Bonthain).
Ambae.exe turut ikut ambil bagian dalam rencana Pembangunan Bonthain Beach Hotel. General Manager Ambae.exe menyatakan bahwa telah dibuat desain Logo dan beberapa desain lainnya dalam rangka persiapan acara kamis depan.
Desain hasil racikan Ambae.exe dapat dilihat disini :
1. Logo Bonthain Beach Hotel
2. Logo dan Arti Logo Bonthain Beach Hotel
3. Spanduk Bonthain Beach Hotel (Primer)
4. Spanduk Bonthain Beach Hotel (Sekunder)
5. Peta Lokasi Pembangunan Bonthain Beach Hotel & RSUD Bantaeng
6. Peta Lokasi Penempatan Spanduk Bonthain Beach Hotel
ARTI DAN MAKNA LOGO
Secara umum Logo tersebut menggambarkan kondisi Bantaeng yang terdiri dari 3 dimensi yakni Laut, Dataran Rendah dan Dataran Tinggi).
Bentuk menyerupai huruf/abjad "b" kecil dengan warna Biru Tua/Biru Langit mewakili nama "bonthain beach hotel". Warna Biru pada bentuk tersebut melambangkan Dataran Tinggi (Gunung dan Hutan) yang penuh ketenangan dan ketenteraman yang dapat dirasakan di kota Butta Toa. Dibalut garis tipis berwarna Hijau melambangkan sejuknya menikmati alam Bonthain.
Bentuk menyerupai sehelai daun pada salah satu ujung huruf "b" kecil dengan warna dasar Hijau, melambangkan alam Bantaeng yang sebagian besar merupakan daerah potensial. Konsep Hijaukan Bantaeng dijadikan dasar pembangunan "bonthain beach hotel", mengingat lokasi pembangunan hotel adalah "New Place" hasil Revitalisasi Pantai Seruni Bantaeng.
Bentuk menyerupai gundukan tanah/gunung berwarna Cokelat Muda, melambangkan daratan/dataran rendah di wilayah Bantaeng sebagai Butta Toa (Tanah Tua). Bentukan ini pula menggambarkan lokasi pembangunan "bonthain beach hotel".
Penempatan huruf "b" kecil di atas gundukan tanah berwarna cokelat, menggambarkan kondisi real dimana lokasi pembangunan "bonthain beach hotel". Lokasinya merupakan wilayah laut yang ditimbun dan membentuk daratan baru sebagai dasar "The New Bantaeng".
Bentuk menyerupai lautan berwarna Biru Muda/Biru Laut disertai dua buah kapal yang saling berjauhan, melambangkan wilayah perairan Bantaeng yang membentuk Selat telah menjadi wilayah persinggahan bagi kapal mengingat amat aman dari terjangan ombak besar. Di wilayah sekitar hotel ini pula telah menjadi area yang indah untuk menikmati sunset dan pemandangan alam lainnya yang dibalut ke dalam wisata multi dimensi yakni Laut, Dataran Rendah dan Dataran Tinggi. Konsep pantai dikembangkan dari pembangunan hotel tersebut, mengingat indahnya Bantaeng, khususnya di wilayah pantai Seruni Bantaeng.
Tulisan "bonthain beach hotel" berwarna merah, melambangkan nama dari hotel tersebut. Pemilihan warna pada tulisan, melambangkan keberanian dan tekad yang kuat untuk mewujudkan Bantaeng yang lebih maju. Keberanian untuk terus menarik investor agar menanamkan investasinya di Bantaeng. Sedangkan kata "Bonthain" itu sendiri merupakan sebutan Kabupaten Bantaeng. Sejak lama telah menjadi nama pertama yang diberikan oleh bangsa Belanda di zaman penjajahan pada kota yang pernah menjadi basis pemerintahannya/pusat pemerintahan formal Hindia Belanda (Afdeling).
Tiap obyek kecuali bentukan huruf "b" kecil, dikelilingi garis berwarna Biru. Bahkan pada bagian bawah dari ketiga obyek (laut, dataran rendah dan dataran tinggi), dengan sangat jelas menekankan ketenangan dan ketenteraman yang selalu dijaga di kota ini, khususnya keamanan dalam berinvestasi dan keamanan untuk berkunjung menikmati bentang alam Bantaeng yang indah. Dengan harapan para investor tidak merasa was-was untuk menanamkan investasinya yang akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Selain Pencanangan Pembangunan Bonthain Beach Hotel, akan dirangkaikan pula dengan :
1. Pencanangan Pembangunan Pabrik Infus di Kecamatan Eremerasa
2. Pengembangan RSUD Prof. DR. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng
3. Ekspor Perdana Pengolahan Hasil Industri Pabrik Pengalengan Ikan
Rupanya Bonthain semakin berbenah diri ke arah yang lebih maju dengan konsep The New Bantaeng yang didengung-dengungkan Pemerintah. Bupati Bantaeng (DR. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M. Agr) yang menahkodai Bonthain, telah menelorkan hasil nyata. Sebagai awal untuk mewujudkan The New Bantaeng, telah dilaksanakan Revitalisasi Pantai Seruni Bantaeng. Wilayah Perairan Pantai Seruni yang ditimbun menelan dana sebesar ± Rp 30 M. Garis Pantai kini berubah sejak ditimbun karena telah menjadi daratan baru. Nah, salah satu bangunan yang akan berdiri tegak di atasnya adalah Bonthain Beach Hotel. Pihak ketiga yang menanamkan modalnya merupakan salah satu Perusahaan Nasional. Pemerintah menyiapkan lahan saja, sementara dana pembangunannya sepenuhnya berasal dari investor tersebut.
Bantaeng Butta toa
Thursday, January 7, 2010Secara geografis Kabupaten Bantaeng terletak pada titik 5o21'23"-5o35'26" lintang selatan dan 119o51'42"-120o5'26"bujur timur. Berjarak 125 Km kearah selatan dari Ibukota Propinsi Sulawesi Selatan. Luas wilayahnya mencapai 395,83 Km2, dengan jumlah penduduk 170.057 jiwa (2006) dengan rincian Laki-laki sebanyak 82.605 jiwa dan perempuan 87.452 jiwa. Terbagi atas 8 kecamatan serta 46 desa dan 21 kelurahan. Pada bagian utara daerah ini terdapat dataran tinggi yang meliputi pegunungan Lompobattang. Sedangkan di bagian selatan membujur dari barat ke timur terdapat dataran rendah yang meliputi pesisir pantai dan persawahan.
Kabupaten Bantaeng yang luasnya mencapai 0,63% dari luas Sulawesi Selatan, masih memiliki potensi alam untuk dikembangkan lebih lanjut. Lahan yang dimilikinya ±39.583 Ha. Di Kabupaten Bantaeng mempunyai hutan produksi terbatas 1.262 Hektar dan hutan lindung 2.773 hektar. secara keseluruhan luas kawasan hutan menurut fungsinya di kabupaten Bantaeng sebesar 6.222 Hektar (2006).
Karena sebagian besar penduduknya petani, maka wajar bila Bantaeng sangat mengandalkan sektor pertanian. Masuk dalam pengembangan Karaeng Lompo sebab memang jenis tanaman sayur-sayurannya sudah berkembang pesat selama ini. Kentang adalah salah satu tanaman holtikultura yang paling menonjol. Data terakhir menunjukkan bahwa produksi kentang mencapai 4.847 ton (2006). Selain kentang, holtikultura lainnya adalah kool 1.642 ton, wortel 325 ton, dan buah-buahan seperti pisang dan mangga. Perkembangan produksi perkebunan, khususnya komoditi utama mengalami peningkatan yang cukup berarti.
Sektor industri menjadi pilihan kedua untuk dikembangkan di Kabupaten Bantaeng yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pengembangan sektor industri sangat berpeluang dimasa mendatang, namun membutuhkan investor yang sangat kuat. Dengan perkembangan sektor industri, dampaknya sangat positif, sebab disamping meningkatkan pendapatan masyarakat juga menyerap banyak tenaga kerja. Industri-industri yang berkembang antara lain adalah industri pembersih biji kemiri, pembuatan gula merah, pertenunan godongan, pembuatan perabot rumah tangga dari kayu, anyaman bambu atau daun lontar, dan lain-lain.
Pariwisata
Sektor lain yang perlu diperhitungkan adalah sektor pariwisata. Kabupaten Bantaeng memiliki peninggalan sejarah yang tercatat dalam buku-buku sejarah. Peninggalan-peninggalan sejarah tersebut sangat menarik untuk dikunjungi. Tak heran memang jika pemerintah kabupaten setempat sangat menaruh perhatian terhadap pariwisata. Terbukti direnovasinya berbagai objek wisata alam menjadi tempat menarik, sepeti permandian alam Bissappu. Juga dipeliharanya peningalan-peninggalan sejarah seperti Balla Tujua yang merupakan kebanggaan masyarakat setempat.
Kabupaten Bantaeng terus berpacu dengan daerah lainnya dengan mengembangkan penataan kota melaui pembuatan taman, drainase, lampu jalan, dan lain-lain.
Source : Bantaeng Government
Kabupaten Bantaeng yang luasnya mencapai 0,63% dari luas Sulawesi Selatan, masih memiliki potensi alam untuk dikembangkan lebih lanjut. Lahan yang dimilikinya ±39.583 Ha. Di Kabupaten Bantaeng mempunyai hutan produksi terbatas 1.262 Hektar dan hutan lindung 2.773 hektar. secara keseluruhan luas kawasan hutan menurut fungsinya di kabupaten Bantaeng sebesar 6.222 Hektar (2006).
Karena sebagian besar penduduknya petani, maka wajar bila Bantaeng sangat mengandalkan sektor pertanian. Masuk dalam pengembangan Karaeng Lompo sebab memang jenis tanaman sayur-sayurannya sudah berkembang pesat selama ini. Kentang adalah salah satu tanaman holtikultura yang paling menonjol. Data terakhir menunjukkan bahwa produksi kentang mencapai 4.847 ton (2006). Selain kentang, holtikultura lainnya adalah kool 1.642 ton, wortel 325 ton, dan buah-buahan seperti pisang dan mangga. Perkembangan produksi perkebunan, khususnya komoditi utama mengalami peningkatan yang cukup berarti.
Sektor industri menjadi pilihan kedua untuk dikembangkan di Kabupaten Bantaeng yang dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. Pengembangan sektor industri sangat berpeluang dimasa mendatang, namun membutuhkan investor yang sangat kuat. Dengan perkembangan sektor industri, dampaknya sangat positif, sebab disamping meningkatkan pendapatan masyarakat juga menyerap banyak tenaga kerja. Industri-industri yang berkembang antara lain adalah industri pembersih biji kemiri, pembuatan gula merah, pertenunan godongan, pembuatan perabot rumah tangga dari kayu, anyaman bambu atau daun lontar, dan lain-lain.
Pariwisata
Sektor lain yang perlu diperhitungkan adalah sektor pariwisata. Kabupaten Bantaeng memiliki peninggalan sejarah yang tercatat dalam buku-buku sejarah. Peninggalan-peninggalan sejarah tersebut sangat menarik untuk dikunjungi. Tak heran memang jika pemerintah kabupaten setempat sangat menaruh perhatian terhadap pariwisata. Terbukti direnovasinya berbagai objek wisata alam menjadi tempat menarik, sepeti permandian alam Bissappu. Juga dipeliharanya peningalan-peninggalan sejarah seperti Balla Tujua yang merupakan kebanggaan masyarakat setempat.
Kabupaten Bantaeng terus berpacu dengan daerah lainnya dengan mengembangkan penataan kota melaui pembuatan taman, drainase, lampu jalan, dan lain-lain.
Source : Bantaeng Government
Bonthain
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor

