Showing posts with label Medical. Show all posts
Showing posts with label Medical. Show all posts
Terkapar diamuk Massa
Friday, February 4, 2011Kurang lebih 2 minggu terakhir ini, masyarakat Bonthain dihebohkan dengan isu keberadaan para penculik orang yang berkeliaran di wilayah Bonthain. Isu ini semakin berkembang, layaknya gosip tetangga dari mulut ke mulut cerita semakin dibumbui. Berbagai cerita bermunculan, ada yang beranggapan bahwa penculik mengincar organ tubuh manusia untuk diperjualbelikan. Namun, hal ini masih saja berupa isu. Akibat isu tersebut, masyarakat ketakutan. Orang tua merasakan kekhawatiran khususnya terhadap anaknya. Tidak seperti biasanya, siswa SMA sekalipun tidak luput dari pengawasan ketat orang tuanya. Hal ini ditandai dengan keaktifan orang tua mengantar dan menjemput anaknya dari dan ke sekolah. Jam belajar diperpanjang, sesi keluar rumah bagi sang anak dikurangi hanya untuk keperluan mendesak dan amat penting. Itu pun harus diantar orang tuanya ataupun keluarga dekat dan/atau temannya.
Di satu sisi, keuntungan dari isu ini adalah perilaku dan sikap yang ditunjukkan orang tua terhadap anaknya berubah drastis dari tidak peduli menjadi semakin sayang dan cinta terhadap anaknya. Di sisi lain, masyarakat dihantui ketakutan akan bahaya yang sewaktu-waktu mengancam keluarganya. Sikap masyarakat kemudian berbuah kewaspadaan. Gambar yang ditunjukkan merupakan korban amukan massa di Kampung Kaili, Kelurahan Bonto Jai, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng. Terjadi sekitar pukul 18.00-20.00 WITA tanggal 04 Pebruari 2011.
Oleh masyarakat, korban DISINYALIR merupakan pelaku dari sindikat penculikan anak dan orang dewasa akhir-akhir ini di wilayah Bantaeng. Lelaki paruh baya yang berusia ± 60 tahun ini mengalami luka berat dan nyaris sekarat akibat dikeroyok oleh massa yang geram dengan keberadaannya di wilayah mereka. Sampai informasi ini diturunkan, korban belum bisa dipastikan sebagai Pelaku, Tersangka atau pun apa statusnya oleh pihak berwajib. Sementara dengan kondisinya yang kian memburuk tersebut, pihak berwajib bersama dengan Tim Medis dari Brigade Siaga Bencana (BS) Bonthain merujuk korban ke Makassar untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Sebelumnya, korban diamankan di POLRES BANTAENG sampai pukul 22.30 WITA. Pihak berwajib mengambil tindakan tersebut sebagai langkah pengamanan terhadap korban dari amukan massa yang lebih parah lagi. Masyarakat Bantaeng pun kian dihebohkan dengan kejadian ini. Namun, perlu dipahami bersama bahwa masyarakat bersama semua unsur di dalamnya harus mengedepankan "Praduga Tak Bersalah". Betapa tidak, korban belum dapat diinterogasi mengingat kondisinya yang tidak stabil. Identitas berupa nama, alamat dan sebagainya belum dapat diketahui, termasuk kondisi kejiwaan korban.
Adapun kepastian status korban tersebut sebagai tersangka atau bukan, masyarakat diharapkan menunggu kesimpulan, keputusan dari hasil pemeriksaan/penyelidikan Pihak Berwajib. Hal penting yang harus dipahami dari kejadian ini sebagai berikut :
Di satu sisi, keuntungan dari isu ini adalah perilaku dan sikap yang ditunjukkan orang tua terhadap anaknya berubah drastis dari tidak peduli menjadi semakin sayang dan cinta terhadap anaknya. Di sisi lain, masyarakat dihantui ketakutan akan bahaya yang sewaktu-waktu mengancam keluarganya. Sikap masyarakat kemudian berbuah kewaspadaan. Gambar yang ditunjukkan merupakan korban amukan massa di Kampung Kaili, Kelurahan Bonto Jai, Kecamatan Bissappu, Kabupaten Bantaeng. Terjadi sekitar pukul 18.00-20.00 WITA tanggal 04 Pebruari 2011.
Oleh masyarakat, korban DISINYALIR merupakan pelaku dari sindikat penculikan anak dan orang dewasa akhir-akhir ini di wilayah Bantaeng. Lelaki paruh baya yang berusia ± 60 tahun ini mengalami luka berat dan nyaris sekarat akibat dikeroyok oleh massa yang geram dengan keberadaannya di wilayah mereka. Sampai informasi ini diturunkan, korban belum bisa dipastikan sebagai Pelaku, Tersangka atau pun apa statusnya oleh pihak berwajib. Sementara dengan kondisinya yang kian memburuk tersebut, pihak berwajib bersama dengan Tim Medis dari Brigade Siaga Bencana (BS) Bonthain merujuk korban ke Makassar untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut.
Sebelumnya, korban diamankan di POLRES BANTAENG sampai pukul 22.30 WITA. Pihak berwajib mengambil tindakan tersebut sebagai langkah pengamanan terhadap korban dari amukan massa yang lebih parah lagi. Masyarakat Bantaeng pun kian dihebohkan dengan kejadian ini. Namun, perlu dipahami bersama bahwa masyarakat bersama semua unsur di dalamnya harus mengedepankan "Praduga Tak Bersalah". Betapa tidak, korban belum dapat diinterogasi mengingat kondisinya yang tidak stabil. Identitas berupa nama, alamat dan sebagainya belum dapat diketahui, termasuk kondisi kejiwaan korban.
Adapun kepastian status korban tersebut sebagai tersangka atau bukan, masyarakat diharapkan menunggu kesimpulan, keputusan dari hasil pemeriksaan/penyelidikan Pihak Berwajib. Hal penting yang harus dipahami dari kejadian ini sebagai berikut :
- Jangan mudah terpancing isu yang belum pasti kebenarannya.
- Berdo'a terhadap kesembuhan si korban.
- Bersama-sama Kita serahkan dan menunggu keputusan pihak berwajib.
- Tetap waspada.
- Jangan terlalu fokus pada isu dan kejadian yang berkembang karena bisa saja pihak yang tidak bertanggung jawab memanfaatkan kejadian lainnya yang lebih parah semisal Pencurian karena masyarakat berbondong-bondong ke Polres Bantaeng, sementara rumahnya ditinggalkan dalam keadaan tak berpenghuni. Demikian halnya bahaya Kebakaran dan sebagainya.
Bonthain Beach Hotel
Sunday, February 7, 2010Investasi yang luar biasa besar nilainya akan ditanamkan oleh investor dengan rencana pembangunan Hotel di Kabupaten Bantaeng. Hunian kelas moderen sebagai salah satu sarana pendukung dalam meningkatkan prospek pariwisata di Kabupaten Bantaeng. Dengan berbagai potensi wisata yang dimiliki Kabupaten Bantaeng, diharapkan mampu menjadi daerah tujuan wisata di wilayah selatan-selatan Propinsi Sulawesi Selatan. Sehingga nantinya, para wisatawan baik lokal maupun mancanegara yang Blackinnovationawards goes to campus ke Bonthain menjadi betah karena ketersediaan fasilitas yang lebih keren.
Bonthain Beach Hotel dibangun dengan konsep bertaraf nasional, mampu menyediakan kamar sebanyak 100 buah dengan berbagai fasilitas penunjang (data sementara yang berhasil dihimpun), antara lain :
Ruang Pertemuan
Restoran
Layanan Informasi bagi Wisatawan
Telepon Sambungan Internasional
Postcards and Postal Agent
Internet Cafe yang cepat
Kolam Renang
Hot Shower
Layanan Antar dan Jemput
Pelayanan Kesehatan yang ontime 24 jam
Adapun Pembangunannya akan dilaksanakan tahun ini. Pencanangan pembangunan hotel tersebut rencananya segera dalam waktu dekat ini. Berdasarkan informasi dari Tim Perencana Pembangunan Hotel yang disampaikan kepada Black Community and Black In News of Bonthain, kalau tidak aral melintang hari Kamis nanti, tepanya tanggal 18 Pebruari 2010, rencana dimaksud akan dilaksanakan. Jadi bakalan diadain Peletakan Batu Pertama di kawasan Revitalisasi Pantau Seruni Bantaeng (look at the map of Bonthain).
Ambae.exe turut ikut ambil bagian dalam rencana Pembangunan Bonthain Beach Hotel. General Manager Ambae.exe menyatakan bahwa telah dibuat desain Logo dan beberapa desain lainnya dalam rangka persiapan acara kamis depan.
Desain hasil racikan Ambae.exe dapat dilihat disini :
1. Logo Bonthain Beach Hotel
2. Logo dan Arti Logo Bonthain Beach Hotel
3. Spanduk Bonthain Beach Hotel (Primer)
4. Spanduk Bonthain Beach Hotel (Sekunder)
5. Peta Lokasi Pembangunan Bonthain Beach Hotel & RSUD Bantaeng
6. Peta Lokasi Penempatan Spanduk Bonthain Beach Hotel
ARTI DAN MAKNA LOGO
Secara umum Logo tersebut menggambarkan kondisi Bantaeng yang terdiri dari 3 dimensi yakni Laut, Dataran Rendah dan Dataran Tinggi).
Bentuk menyerupai huruf/abjad "b" kecil dengan warna Biru Tua/Biru Langit mewakili nama "bonthain beach hotel". Warna Biru pada bentuk tersebut melambangkan Dataran Tinggi (Gunung dan Hutan) yang penuh ketenangan dan ketenteraman yang dapat dirasakan di kota Butta Toa. Dibalut garis tipis berwarna Hijau melambangkan sejuknya menikmati alam Bonthain.
Bentuk menyerupai sehelai daun pada salah satu ujung huruf "b" kecil dengan warna dasar Hijau, melambangkan alam Bantaeng yang sebagian besar merupakan daerah potensial. Konsep Hijaukan Bantaeng dijadikan dasar pembangunan "bonthain beach hotel", mengingat lokasi pembangunan hotel adalah "New Place" hasil Revitalisasi Pantai Seruni Bantaeng.
Bentuk menyerupai gundukan tanah/gunung berwarna Cokelat Muda, melambangkan daratan/dataran rendah di wilayah Bantaeng sebagai Butta Toa (Tanah Tua). Bentukan ini pula menggambarkan lokasi pembangunan "bonthain beach hotel".
Penempatan huruf "b" kecil di atas gundukan tanah berwarna cokelat, menggambarkan kondisi real dimana lokasi pembangunan "bonthain beach hotel". Lokasinya merupakan wilayah laut yang ditimbun dan membentuk daratan baru sebagai dasar "The New Bantaeng".
Bentuk menyerupai lautan berwarna Biru Muda/Biru Laut disertai dua buah kapal yang saling berjauhan, melambangkan wilayah perairan Bantaeng yang membentuk Selat telah menjadi wilayah persinggahan bagi kapal mengingat amat aman dari terjangan ombak besar. Di wilayah sekitar hotel ini pula telah menjadi area yang indah untuk menikmati sunset dan pemandangan alam lainnya yang dibalut ke dalam wisata multi dimensi yakni Laut, Dataran Rendah dan Dataran Tinggi. Konsep pantai dikembangkan dari pembangunan hotel tersebut, mengingat indahnya Bantaeng, khususnya di wilayah pantai Seruni Bantaeng.
Tulisan "bonthain beach hotel" berwarna merah, melambangkan nama dari hotel tersebut. Pemilihan warna pada tulisan, melambangkan keberanian dan tekad yang kuat untuk mewujudkan Bantaeng yang lebih maju. Keberanian untuk terus menarik investor agar menanamkan investasinya di Bantaeng. Sedangkan kata "Bonthain" itu sendiri merupakan sebutan Kabupaten Bantaeng. Sejak lama telah menjadi nama pertama yang diberikan oleh bangsa Belanda di zaman penjajahan pada kota yang pernah menjadi basis pemerintahannya/pusat pemerintahan formal Hindia Belanda (Afdeling).
Tiap obyek kecuali bentukan huruf "b" kecil, dikelilingi garis berwarna Biru. Bahkan pada bagian bawah dari ketiga obyek (laut, dataran rendah dan dataran tinggi), dengan sangat jelas menekankan ketenangan dan ketenteraman yang selalu dijaga di kota ini, khususnya keamanan dalam berinvestasi dan keamanan untuk berkunjung menikmati bentang alam Bantaeng yang indah. Dengan harapan para investor tidak merasa was-was untuk menanamkan investasinya yang akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Selain Pencanangan Pembangunan Bonthain Beach Hotel, akan dirangkaikan pula dengan :
1. Pencanangan Pembangunan Pabrik Infus di Kecamatan Eremerasa
2. Pengembangan RSUD Prof. DR. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng
3. Ekspor Perdana Pengolahan Hasil Industri Pabrik Pengalengan Ikan
Rupanya Bonthain semakin berbenah diri ke arah yang lebih maju dengan konsep The New Bantaeng yang didengung-dengungkan Pemerintah. Bupati Bantaeng (DR. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M. Agr) yang menahkodai Bonthain, telah menelorkan hasil nyata. Sebagai awal untuk mewujudkan The New Bantaeng, telah dilaksanakan Revitalisasi Pantai Seruni Bantaeng. Wilayah Perairan Pantai Seruni yang ditimbun menelan dana sebesar ± Rp 30 M. Garis Pantai kini berubah sejak ditimbun karena telah menjadi daratan baru. Nah, salah satu bangunan yang akan berdiri tegak di atasnya adalah Bonthain Beach Hotel. Pihak ketiga yang menanamkan modalnya merupakan salah satu Perusahaan Nasional. Pemerintah menyiapkan lahan saja, sementara dana pembangunannya sepenuhnya berasal dari investor tersebut.
Bonthain Beach Hotel dibangun dengan konsep bertaraf nasional, mampu menyediakan kamar sebanyak 100 buah dengan berbagai fasilitas penunjang (data sementara yang berhasil dihimpun), antara lain :
Ruang Pertemuan
Restoran
Layanan Informasi bagi Wisatawan
Telepon Sambungan Internasional
Postcards and Postal Agent
Internet Cafe yang cepat
Kolam Renang
Hot Shower
Layanan Antar dan Jemput
Pelayanan Kesehatan yang ontime 24 jam
Adapun Pembangunannya akan dilaksanakan tahun ini. Pencanangan pembangunan hotel tersebut rencananya segera dalam waktu dekat ini. Berdasarkan informasi dari Tim Perencana Pembangunan Hotel yang disampaikan kepada Black Community and Black In News of Bonthain, kalau tidak aral melintang hari Kamis nanti, tepanya tanggal 18 Pebruari 2010, rencana dimaksud akan dilaksanakan. Jadi bakalan diadain Peletakan Batu Pertama di kawasan Revitalisasi Pantau Seruni Bantaeng (look at the map of Bonthain).
Ambae.exe turut ikut ambil bagian dalam rencana Pembangunan Bonthain Beach Hotel. General Manager Ambae.exe menyatakan bahwa telah dibuat desain Logo dan beberapa desain lainnya dalam rangka persiapan acara kamis depan.
Desain hasil racikan Ambae.exe dapat dilihat disini :
1. Logo Bonthain Beach Hotel
2. Logo dan Arti Logo Bonthain Beach Hotel
3. Spanduk Bonthain Beach Hotel (Primer)
4. Spanduk Bonthain Beach Hotel (Sekunder)
5. Peta Lokasi Pembangunan Bonthain Beach Hotel & RSUD Bantaeng
6. Peta Lokasi Penempatan Spanduk Bonthain Beach Hotel
ARTI DAN MAKNA LOGO
Secara umum Logo tersebut menggambarkan kondisi Bantaeng yang terdiri dari 3 dimensi yakni Laut, Dataran Rendah dan Dataran Tinggi).
Bentuk menyerupai huruf/abjad "b" kecil dengan warna Biru Tua/Biru Langit mewakili nama "bonthain beach hotel". Warna Biru pada bentuk tersebut melambangkan Dataran Tinggi (Gunung dan Hutan) yang penuh ketenangan dan ketenteraman yang dapat dirasakan di kota Butta Toa. Dibalut garis tipis berwarna Hijau melambangkan sejuknya menikmati alam Bonthain.
Bentuk menyerupai sehelai daun pada salah satu ujung huruf "b" kecil dengan warna dasar Hijau, melambangkan alam Bantaeng yang sebagian besar merupakan daerah potensial. Konsep Hijaukan Bantaeng dijadikan dasar pembangunan "bonthain beach hotel", mengingat lokasi pembangunan hotel adalah "New Place" hasil Revitalisasi Pantai Seruni Bantaeng.
Bentuk menyerupai gundukan tanah/gunung berwarna Cokelat Muda, melambangkan daratan/dataran rendah di wilayah Bantaeng sebagai Butta Toa (Tanah Tua). Bentukan ini pula menggambarkan lokasi pembangunan "bonthain beach hotel".
Penempatan huruf "b" kecil di atas gundukan tanah berwarna cokelat, menggambarkan kondisi real dimana lokasi pembangunan "bonthain beach hotel". Lokasinya merupakan wilayah laut yang ditimbun dan membentuk daratan baru sebagai dasar "The New Bantaeng".
Bentuk menyerupai lautan berwarna Biru Muda/Biru Laut disertai dua buah kapal yang saling berjauhan, melambangkan wilayah perairan Bantaeng yang membentuk Selat telah menjadi wilayah persinggahan bagi kapal mengingat amat aman dari terjangan ombak besar. Di wilayah sekitar hotel ini pula telah menjadi area yang indah untuk menikmati sunset dan pemandangan alam lainnya yang dibalut ke dalam wisata multi dimensi yakni Laut, Dataran Rendah dan Dataran Tinggi. Konsep pantai dikembangkan dari pembangunan hotel tersebut, mengingat indahnya Bantaeng, khususnya di wilayah pantai Seruni Bantaeng.
Tulisan "bonthain beach hotel" berwarna merah, melambangkan nama dari hotel tersebut. Pemilihan warna pada tulisan, melambangkan keberanian dan tekad yang kuat untuk mewujudkan Bantaeng yang lebih maju. Keberanian untuk terus menarik investor agar menanamkan investasinya di Bantaeng. Sedangkan kata "Bonthain" itu sendiri merupakan sebutan Kabupaten Bantaeng. Sejak lama telah menjadi nama pertama yang diberikan oleh bangsa Belanda di zaman penjajahan pada kota yang pernah menjadi basis pemerintahannya/pusat pemerintahan formal Hindia Belanda (Afdeling).
Tiap obyek kecuali bentukan huruf "b" kecil, dikelilingi garis berwarna Biru. Bahkan pada bagian bawah dari ketiga obyek (laut, dataran rendah dan dataran tinggi), dengan sangat jelas menekankan ketenangan dan ketenteraman yang selalu dijaga di kota ini, khususnya keamanan dalam berinvestasi dan keamanan untuk berkunjung menikmati bentang alam Bantaeng yang indah. Dengan harapan para investor tidak merasa was-was untuk menanamkan investasinya yang akan meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD).
Selain Pencanangan Pembangunan Bonthain Beach Hotel, akan dirangkaikan pula dengan :
1. Pencanangan Pembangunan Pabrik Infus di Kecamatan Eremerasa
2. Pengembangan RSUD Prof. DR. Dr. H. M. Anwar Makkatutu Bantaeng
3. Ekspor Perdana Pengolahan Hasil Industri Pabrik Pengalengan Ikan
Rupanya Bonthain semakin berbenah diri ke arah yang lebih maju dengan konsep The New Bantaeng yang didengung-dengungkan Pemerintah. Bupati Bantaeng (DR. Ir. H. M. Nurdin Abdullah, M. Agr) yang menahkodai Bonthain, telah menelorkan hasil nyata. Sebagai awal untuk mewujudkan The New Bantaeng, telah dilaksanakan Revitalisasi Pantai Seruni Bantaeng. Wilayah Perairan Pantai Seruni yang ditimbun menelan dana sebesar ± Rp 30 M. Garis Pantai kini berubah sejak ditimbun karena telah menjadi daratan baru. Nah, salah satu bangunan yang akan berdiri tegak di atasnya adalah Bonthain Beach Hotel. Pihak ketiga yang menanamkan modalnya merupakan salah satu Perusahaan Nasional. Pemerintah menyiapkan lahan saja, sementara dana pembangunannya sepenuhnya berasal dari investor tersebut.
Evakuasi Pasien RSUD Jeneponto diangkut dengan OJEK
Tuesday, January 19, 2010Ratusan orang menyerang dan merusak sejumlah fasilitas di Rumah Sakit Umum (RSU) Lanto Dg Pasewang, Bontosunggu, Jeneponto, Senin (18/1).
Kaca jendela dan sejumlah fasilitas medis di RS tersebut hancur akibat dilempar massa yang emosi. Massa emosi karena rekan mereka bernama Guntur (30) tewas setalah ditikam di area RS oleh Sita yang bertugas sebagai satpam.
Menyusul insiden tersebut, polisi menambah kekuatan pasukan ke Jeneponto. Petugas pengendali massa (dalmas) dari Polres Takalar dan Polres Bantaeng dikerahkan ke tempat kejadian perkara (TKP).
"Ada bantua personel dari polres tetangga untuk membantu pemilihan keamana. Situasi di sana (Jeneponto) sudah berangsur kondusif," kata Kepala Bidang Humas Polda Sulselbar, Kombes Hery Subiansauri, tadi malam.
Sedangkan Direktur RSU Lanto Dg Paseweang, Dr Safrudin, mengatakan, pihaknya masih mengungsikan pasien ke puskesmas untuk mengindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Dari pantauan Tribun, ratusan polisi masih bersiaga di halaman RSU Lanto Dg Pasewang. Sejumlah personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkab Jeneponto juga diperbantukan.
Pakai Sangkur
Informasi yang dihimpun di lokasi menyebutkan, kejadiakn bermula saat Guntur yang tinggal di Kampung Pannara, Kelurahan Empoang Selatan, Kecamatan Binamu, Jeneponto datang ke RSU Jeneponto bersama rekannya bernama Aziz.
Korban sedang berada di dalam ruang instalasi gawat darurat (IGD). Namun karena dianggap mengganggu pasien di tempat itu, itu Sita menegurnya agar tenang.
Namun teguran itu tidak diterima oleh Guntur sehingga keduanya terlibat adu mulut dan berujung pada perkelahian. Saat perkelahian itu, Sita mengeluarkan sangkur yang ada dipinggangnya lalu menusuk korban satu kali di bagian perut.
"Korban tidak terima ditegur sehingga terjadi perkelahian. Kami sangat menyesalkan kejadian ini," kata Dr Safruddin.
Saksi di TKP, Allo, menyebutkan korban marah karena ditegur oleh Sita saat sedang bermain domino di koridor ruang IGD.
Dievakuasi
Setelah kasus penikaman tersebut, keluarga almarhum dari Kampung Pannara menyerang rumah sakit dengan batu senjata tajam. Sedikitnya tujuh jendela serta kaca pintu IGD dan ruang perawatan hancur dihantam batu.
Mereka tidak menerima anggota keluarganya ditikam. Massa juga berteriak-teriak dan mencari Sita untuk melakukan aksi balas dendam.
Sejumlah pasien yang sementara dirawat langsung dievakuasi ke Puskesmas Binamu dan sebagian dikembalikan ke rumah masing-masing.
"Kami tidak mau mengambil risiko dan saat itu emosi massa sudah tidak terkendali. Makanya jalan evakuasi terpaksa dilakukan," kata Safrudin.
Sementara sejumlah petugas medis, termasuk dokter dan perawat, untuk sementara tidak beraktivitas di RSU ini. Mereka masih menunggu pekembangan hingga situasi betul-betul kondusif.
"Kami khawatir kalau bertugas tiba-tiba ada serangan massa lagi. Jumlah mereka sangat banyak. Jadi kami memilih beristirahat dulu. Teman-teman yang tugas jaga saat kejadian masih trauma," kata seorang perawat yang enggan disebut namanya.
Sejak, Senin pagi pihak rumah sakit meminta sejumlah pasien dan pembesuk lainnya untuk meninggalkan tempat itu dan memintapolisi untuk mengamankan area RS.
Source : Tribun Timur
Kaca jendela dan sejumlah fasilitas medis di RS tersebut hancur akibat dilempar massa yang emosi. Massa emosi karena rekan mereka bernama Guntur (30) tewas setalah ditikam di area RS oleh Sita yang bertugas sebagai satpam.
Menyusul insiden tersebut, polisi menambah kekuatan pasukan ke Jeneponto. Petugas pengendali massa (dalmas) dari Polres Takalar dan Polres Bantaeng dikerahkan ke tempat kejadian perkara (TKP).
"Ada bantua personel dari polres tetangga untuk membantu pemilihan keamana. Situasi di sana (Jeneponto) sudah berangsur kondusif," kata Kepala Bidang Humas Polda Sulselbar, Kombes Hery Subiansauri, tadi malam.
Sedangkan Direktur RSU Lanto Dg Paseweang, Dr Safrudin, mengatakan, pihaknya masih mengungsikan pasien ke puskesmas untuk mengindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Dari pantauan Tribun, ratusan polisi masih bersiaga di halaman RSU Lanto Dg Pasewang. Sejumlah personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkab Jeneponto juga diperbantukan.
Pakai Sangkur
Informasi yang dihimpun di lokasi menyebutkan, kejadiakn bermula saat Guntur yang tinggal di Kampung Pannara, Kelurahan Empoang Selatan, Kecamatan Binamu, Jeneponto datang ke RSU Jeneponto bersama rekannya bernama Aziz.
Korban sedang berada di dalam ruang instalasi gawat darurat (IGD). Namun karena dianggap mengganggu pasien di tempat itu, itu Sita menegurnya agar tenang.
Namun teguran itu tidak diterima oleh Guntur sehingga keduanya terlibat adu mulut dan berujung pada perkelahian. Saat perkelahian itu, Sita mengeluarkan sangkur yang ada dipinggangnya lalu menusuk korban satu kali di bagian perut.
"Korban tidak terima ditegur sehingga terjadi perkelahian. Kami sangat menyesalkan kejadian ini," kata Dr Safruddin.
Saksi di TKP, Allo, menyebutkan korban marah karena ditegur oleh Sita saat sedang bermain domino di koridor ruang IGD.
Dievakuasi
Setelah kasus penikaman tersebut, keluarga almarhum dari Kampung Pannara menyerang rumah sakit dengan batu senjata tajam. Sedikitnya tujuh jendela serta kaca pintu IGD dan ruang perawatan hancur dihantam batu.
Mereka tidak menerima anggota keluarganya ditikam. Massa juga berteriak-teriak dan mencari Sita untuk melakukan aksi balas dendam.
Sejumlah pasien yang sementara dirawat langsung dievakuasi ke Puskesmas Binamu dan sebagian dikembalikan ke rumah masing-masing.
"Kami tidak mau mengambil risiko dan saat itu emosi massa sudah tidak terkendali. Makanya jalan evakuasi terpaksa dilakukan," kata Safrudin.
Sementara sejumlah petugas medis, termasuk dokter dan perawat, untuk sementara tidak beraktivitas di RSU ini. Mereka masih menunggu pekembangan hingga situasi betul-betul kondusif.
"Kami khawatir kalau bertugas tiba-tiba ada serangan massa lagi. Jumlah mereka sangat banyak. Jadi kami memilih beristirahat dulu. Teman-teman yang tugas jaga saat kejadian masih trauma," kata seorang perawat yang enggan disebut namanya.
Sejak, Senin pagi pihak rumah sakit meminta sejumlah pasien dan pembesuk lainnya untuk meninggalkan tempat itu dan memintapolisi untuk mengamankan area RS.
Source : Tribun Timur
Bonthain
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor