Showing posts with label Krissan. Show all posts
Showing posts with label Krissan. Show all posts
Study Flowers to Lembang
Sunday, April 4, 2010Camat Ulu Ere (H. Asri) bersama rombongan mengunjungi Lembang-Jawa Barat untuk belajar menata bunga. Kunjungan ke Lembang dilakukan karena kemiripan iklim antara kedua tempat. Mereka di Lembang untuk mengadopsi kondisi yang ada di daerah tersebut, termasuk penataan kota dan tanaman hiasnya. Ketika dilantik 17 Maret 2010, H. Asri mendapat tugas khusus pengembangan tanaman hias.
Mengingat Kecamatan Ulu Ere dijadikan kawasan Agrowisata. Selain strawberry dan apel yang sudah lebih dulu dikembangkan di wilayahnya, kini juga dikembangkan bunga jenis Krissan. Untuk pengembangan bunga tersebut, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bantaeng sudah melakukan kerja sama dengan Koya Garden Makassar untuk pemasarannya.
Agar penataan wilayah Kecamatan yang berada di kaki Gunung Lompobattang tersebut tertata, Camat Ulu Ere berupaya mengadopsi pengembangan tanaman hias di Jawa Barat. Selain ke Lembang, mantan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja yang didampingi Kabid. Hortikultura Dinas Pertanian dan Peternakan Kabaupaten Bantaeng (Ir. H. Suaib) juga mengunjungi PT. Alam Bunga Nusantara, perusahaan yang mengembangkan berbagai jenis bunga untuk kepentingan ekspor ke mancanegara.
Saya belajar banyak tentang pengembangan kota dan penataan taman, ujarnya seraya berharap, dari kunjungan ini bisa diterapkan di Ulu Ere. Sehingga kerja sama dengan perusahaan bunga bisa lebih dikembangkan. Salah satu yang perlu dilakukan untuk menunjang budidaya, jelas H. Asri yang juga mantan Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bantaeng itu, bahwa perlu ada peralatan penunjang seperti Green House yang memenuhi standar. Selain itu, perlu ada bapak angkat seperti yang dilakukan petani bunga di Lembang. Petani Lembang hanya menanam dan merawat, sedang bapak angkat memiliki pasar di berbagai daerah, urainya.
Mengingat Kecamatan Ulu Ere dijadikan kawasan Agrowisata. Selain strawberry dan apel yang sudah lebih dulu dikembangkan di wilayahnya, kini juga dikembangkan bunga jenis Krissan. Untuk pengembangan bunga tersebut, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bantaeng sudah melakukan kerja sama dengan Koya Garden Makassar untuk pemasarannya.
Agar penataan wilayah Kecamatan yang berada di kaki Gunung Lompobattang tersebut tertata, Camat Ulu Ere berupaya mengadopsi pengembangan tanaman hias di Jawa Barat. Selain ke Lembang, mantan Kepala Satuan Polisi Pamong Praja yang didampingi Kabid. Hortikultura Dinas Pertanian dan Peternakan Kabaupaten Bantaeng (Ir. H. Suaib) juga mengunjungi PT. Alam Bunga Nusantara, perusahaan yang mengembangkan berbagai jenis bunga untuk kepentingan ekspor ke mancanegara.
Saya belajar banyak tentang pengembangan kota dan penataan taman, ujarnya seraya berharap, dari kunjungan ini bisa diterapkan di Ulu Ere. Sehingga kerja sama dengan perusahaan bunga bisa lebih dikembangkan. Salah satu yang perlu dilakukan untuk menunjang budidaya, jelas H. Asri yang juga mantan Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bantaeng itu, bahwa perlu ada peralatan penunjang seperti Green House yang memenuhi standar. Selain itu, perlu ada bapak angkat seperti yang dilakukan petani bunga di Lembang. Petani Lembang hanya menanam dan merawat, sedang bapak angkat memiliki pasar di berbagai daerah, urainya.
Dutch Journalist visited Bonthain
Saturday, April 3, 2010Jurnalis dari Negeri Belanda (Wendy van den Hurk) berkunjung ke Kabupaten Bantaeng. Jurnalis dari Koran PZC (www.pzc.nl) yang ditemani General Manager AMBAE, Koodinator Liputan Harian Fajar (Ruslan Ramli) dan Kabag. Humas Kabupaten Bantaeng melakukan penelusuran sejarah kedatangan Belanda di Bantaeng. Wendy van den Hurk yang juga bekerja pada perusahaan media online di negeri Kincir Angin tersebut juga melihat dari dekat perkembangan pembangunan, termasuk program pengembangan tanaman hias (bunga potong) Krissan di Loka, Kecamatan Ulu Ere.
Selama berada di Bonthain, Wendy mendatangi bangunan peninggalan Belanda, seperti :
1. Gereja Protestan yang dibangun pada tahun 1939
2. Kantor KODIM 1410 Bantaeng yang merupakan bekas kantor Pemerintahan Belanda
3. Rumah Tahanan (Rutan)
4. Pekuburan Belanda yang terletak di Jl. Pemuda Bantaeng
Selain itu, wartawati PZC itu juga berencana mengunjungi "Balla Tujua ri Onto", Insya Allah besok 4 April 2010. Lokasi ini merupakan situs sejarah yang pernah menjadi ibukota BONTHAIN (nama Bantaeng pada zaman Belanda). Selain melihat langsung kondisi lapangan, jurnalis dari Negeri Keju itu banyak mendapat masukan dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Andi Pawiloi Kr. Nippong).
Wendy bersama General Manager AMBAE dan Koodinator Liputan Harian Fajar (Ruslan Ramli) melalui Kabag. Humas Kabupaten Bantaeng berkesempatan bertatap muka dengan Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah). Bupati Bantaeng yang menerima kedatangan Tim tersebut berharap, Wendy bisa menulis tentang kabupaten yang pernah dipimpin 86 Residen ini. Kita tak mungkin melupakan sejarah. Namun seiring dengan kemajuan zaman, kami berharap Pemerintah Belanda bisa member perhatian kepada daerah dimana dia juga pernah hadir, urainya.
Untuk itu, Nurdin berharap melalui tulisan PZC akan ada perhatian Pemerintah Belanda untuk turut memajukan pembangunan di Kabupaten berjuluk Butta Toa ini, tambahnya. Pada zaman Belanda, Bantaeng sangat maju. Selain menjadi pusat pemerintahan yang membawahi Kabupaten Jeneponto, Bulukumba hingga Selayar, daerah ini juga menjadi pusat pendidikan dan ekonomi di bagian selatan Sulsel.
Kini, banyak perubahan, namun masih juga banyak masyarakat miskin yang memerlukan perhatian untuk ditingkatkan kesejahteraannya. Karena itu, bila memungkinkan Pemda Kabupaten berharap ke depan dapat dilakukan kerja sama dalam bentuk kota kembar (Sister City). Tahap awal, Pemda Kabupaten Bantaeng akan melakukan kerja sama erat dalam bentuk Sister City dengan salah satu kota di Jepang yakni Matsuyama. Negeri Matahari Terbit itu juga akan menyerahkan mobil Ambulance, Pemadam Kebakaran dan Sepeda.
Pada kesempatan itu juga akan dilakukan penanaman secara massal bunga Sakura. Ia berharap, kerja sama antar kota ini akan lebih memudahkan pengembangan Sumber Daya Manusia untuk menunjang pengembangan daerah. Nurdin Abdullah juga mengemukakan keinginannya melestarikan bangunan tua yang dibangun Belanda tersebut dalam bentuk museum. Dengan begitu, ia berharap menjadi spirit bagi generasi muda untuk memajukan daerah.
Selama berada di Bonthain, Wendy mendatangi bangunan peninggalan Belanda, seperti :
1. Gereja Protestan yang dibangun pada tahun 1939
2. Kantor KODIM 1410 Bantaeng yang merupakan bekas kantor Pemerintahan Belanda
3. Rumah Tahanan (Rutan)
4. Pekuburan Belanda yang terletak di Jl. Pemuda Bantaeng
Selain itu, wartawati PZC itu juga berencana mengunjungi "Balla Tujua ri Onto", Insya Allah besok 4 April 2010. Lokasi ini merupakan situs sejarah yang pernah menjadi ibukota BONTHAIN (nama Bantaeng pada zaman Belanda). Selain melihat langsung kondisi lapangan, jurnalis dari Negeri Keju itu banyak mendapat masukan dari Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Andi Pawiloi Kr. Nippong).
Wendy bersama General Manager AMBAE dan Koodinator Liputan Harian Fajar (Ruslan Ramli) melalui Kabag. Humas Kabupaten Bantaeng berkesempatan bertatap muka dengan Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah). Bupati Bantaeng yang menerima kedatangan Tim tersebut berharap, Wendy bisa menulis tentang kabupaten yang pernah dipimpin 86 Residen ini. Kita tak mungkin melupakan sejarah. Namun seiring dengan kemajuan zaman, kami berharap Pemerintah Belanda bisa member perhatian kepada daerah dimana dia juga pernah hadir, urainya.
Untuk itu, Nurdin berharap melalui tulisan PZC akan ada perhatian Pemerintah Belanda untuk turut memajukan pembangunan di Kabupaten berjuluk Butta Toa ini, tambahnya. Pada zaman Belanda, Bantaeng sangat maju. Selain menjadi pusat pemerintahan yang membawahi Kabupaten Jeneponto, Bulukumba hingga Selayar, daerah ini juga menjadi pusat pendidikan dan ekonomi di bagian selatan Sulsel.
Kini, banyak perubahan, namun masih juga banyak masyarakat miskin yang memerlukan perhatian untuk ditingkatkan kesejahteraannya. Karena itu, bila memungkinkan Pemda Kabupaten berharap ke depan dapat dilakukan kerja sama dalam bentuk kota kembar (Sister City). Tahap awal, Pemda Kabupaten Bantaeng akan melakukan kerja sama erat dalam bentuk Sister City dengan salah satu kota di Jepang yakni Matsuyama. Negeri Matahari Terbit itu juga akan menyerahkan mobil Ambulance, Pemadam Kebakaran dan Sepeda.
Pada kesempatan itu juga akan dilakukan penanaman secara massal bunga Sakura. Ia berharap, kerja sama antar kota ini akan lebih memudahkan pengembangan Sumber Daya Manusia untuk menunjang pengembangan daerah. Nurdin Abdullah juga mengemukakan keinginannya melestarikan bangunan tua yang dibangun Belanda tersebut dalam bentuk museum. Dengan begitu, ia berharap menjadi spirit bagi generasi muda untuk memajukan daerah.
Koya Garden MoU with Bonthain
Saturday, March 27, 2010Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Bantaeng menjalin kerja sama dengan perusahaan bunga Koya Garden Makassar. Kerja sama yang ditandatangani Kadis Pertanian dan Perternakan (DR. Syamsul Alam) dan Direktur Koya Garden Makassar (Ny. Yeni Ariani Saleh) untuk penyediaan bunga potong tersebut dilakukan pada hari Selasa, 23 Maret 2010 yang lalu di Hotel Quality Makassar. Penandatanganan naskah Memorandum of Understanding (MOU) tersebut disaksikan Menteri Pertanian (Ir. H. Suswono, MMA), Dirjen Hortikultura (DR. Ir. Dimyati, Ms), Gubernur SulSel (Syahrul Yasin Limpo) dan sejumlah petinggi lainnya.
Kerja sama kemitraan antar kedua belah pihak dilakukan untuk pemesanan bunga potong jenis Krissan serta pembelian produk sekaligus dengan kegiatan pembinaan teknis lainnya. Sebagai upaya pemenuhan bunga potong dalam menunjang program pengembangan agribisnis tanaman hias di SulSel. Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura berharap kerja sama tersebut dapat meningkatkan penghasilan petani bunga di Bantaeng. Terlebih dengan adanya sinergi antara pengusaha bunga dengan hotel di Makassar melalui kerja sama antara Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dengan Flora Club Makassar.
Untuk menjamin kualitas bunga dari Bantaeng, Dinas Pertanian dan Hortikultura Sulsel menyiapkan mobil box agar warna dan kesegaran bunga tidak berubah, jelas Ir. Lutfi Halide. Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo juga menyambut baik kerja sama penjualan bunga yang sudah dimulai Kabupaten Bantaeng. Syahrul memuji kabupaten yang dipimpin H. M. Nurdin Abdullah tersebut yang sebelumnya juga sudah berhasil mengekspor produk perikanan Surimi Beku ke Jepang, biji kapuk ke Korea dan akan disusul ekspor talas juga ke Jepang.
Alhamdulillah, kita juga sudah mencatat rekor MURI melalui penanaman 2 juta pohon serta penebaran 2 juta ekor ikan yang dipusatkan di Kabupaten Pangkep pada hari Senin, 22 Maret 2010 lalu. Komoditi lain yang berhasil memasukkan dana triliunan rupiah berasal dari beras yang berhasil mencapai overstock 2 juta ton, disusul jagung 1,5 juta ton. Insya Allah akan disusul produksi kakao melalu Gerakan Nasional Kakao di Sulsel.
Pertumbuhan di bidang pertanian dan perkebunan tersebut meningkatkan pendapatan ekonomi dari Rp 9 juta menjadi Rp 13 juta/kapita. Ini belum termasuk keberhasilan ekspor udang ke Kanada, terang Syahrul yang disambut gempita. Meski begitu, untuk menjamin ketersediaan air, ia mengisyaratkan pembuatan embung. Kalau setiap kabupaten bisa membangun 10 unit embung, akan banyak tempat penyimpanan air secara sederhana dan biaya murah. Ini penting karena air adalah segalanya. Menghidupi banyak hal, tambahnya lagi.
Menteri Pertanian pada kesempatan itu juga memuji keberhasilan yang dibina langsung Gubernur Syahrul Yasin Limpo. Menurutnya, pertanian memiliki peran strategis, terutama menghadapi perubahan iklim. Lahan padi di Indonesia kini mencapai 12 juta ton, dan SulSel menjadi andalan karena itu sangat lumrah bila subsidi petani tetap berjalan. Diluar negeri juga begitu, petaninya juga disubsidi pemerintah, tandas Mentan.
Ia kemudian mengingatkan Pemerintah Daerah (Pemda) agar menyiasati penggunaan lahan. Jangan sampai lahan subur dijadikan perumahan. Carilah lahan marginal bila mau membangun rumah, terang Suswono. Bila lahan dibenahi dan petani melakukan penanaman dengan benar, petani berhak menikmati hasil yang baik. Meski begitu, masyarakat juga perlu dibiasakan mengkonsumsi komoditi non beras. Banyak tanaman yang memiliki sumber karbohidrat. Bila dibiasakan, konsumsi beras kita bisa menurun dan kelebihannya kita ekspor, urainya.
Kerja sama kemitraan antar kedua belah pihak dilakukan untuk pemesanan bunga potong jenis Krissan serta pembelian produk sekaligus dengan kegiatan pembinaan teknis lainnya. Sebagai upaya pemenuhan bunga potong dalam menunjang program pengembangan agribisnis tanaman hias di SulSel. Kepala Dinas Pertanian dan Hortikultura berharap kerja sama tersebut dapat meningkatkan penghasilan petani bunga di Bantaeng. Terlebih dengan adanya sinergi antara pengusaha bunga dengan hotel di Makassar melalui kerja sama antara Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) dengan Flora Club Makassar.
Untuk menjamin kualitas bunga dari Bantaeng, Dinas Pertanian dan Hortikultura Sulsel menyiapkan mobil box agar warna dan kesegaran bunga tidak berubah, jelas Ir. Lutfi Halide. Gubernur Sulsel Syahrul Yasin Limpo juga menyambut baik kerja sama penjualan bunga yang sudah dimulai Kabupaten Bantaeng. Syahrul memuji kabupaten yang dipimpin H. M. Nurdin Abdullah tersebut yang sebelumnya juga sudah berhasil mengekspor produk perikanan Surimi Beku ke Jepang, biji kapuk ke Korea dan akan disusul ekspor talas juga ke Jepang.
Alhamdulillah, kita juga sudah mencatat rekor MURI melalui penanaman 2 juta pohon serta penebaran 2 juta ekor ikan yang dipusatkan di Kabupaten Pangkep pada hari Senin, 22 Maret 2010 lalu. Komoditi lain yang berhasil memasukkan dana triliunan rupiah berasal dari beras yang berhasil mencapai overstock 2 juta ton, disusul jagung 1,5 juta ton. Insya Allah akan disusul produksi kakao melalu Gerakan Nasional Kakao di Sulsel.
Pertumbuhan di bidang pertanian dan perkebunan tersebut meningkatkan pendapatan ekonomi dari Rp 9 juta menjadi Rp 13 juta/kapita. Ini belum termasuk keberhasilan ekspor udang ke Kanada, terang Syahrul yang disambut gempita. Meski begitu, untuk menjamin ketersediaan air, ia mengisyaratkan pembuatan embung. Kalau setiap kabupaten bisa membangun 10 unit embung, akan banyak tempat penyimpanan air secara sederhana dan biaya murah. Ini penting karena air adalah segalanya. Menghidupi banyak hal, tambahnya lagi.
Menteri Pertanian pada kesempatan itu juga memuji keberhasilan yang dibina langsung Gubernur Syahrul Yasin Limpo. Menurutnya, pertanian memiliki peran strategis, terutama menghadapi perubahan iklim. Lahan padi di Indonesia kini mencapai 12 juta ton, dan SulSel menjadi andalan karena itu sangat lumrah bila subsidi petani tetap berjalan. Diluar negeri juga begitu, petaninya juga disubsidi pemerintah, tandas Mentan.
Ia kemudian mengingatkan Pemerintah Daerah (Pemda) agar menyiasati penggunaan lahan. Jangan sampai lahan subur dijadikan perumahan. Carilah lahan marginal bila mau membangun rumah, terang Suswono. Bila lahan dibenahi dan petani melakukan penanaman dengan benar, petani berhak menikmati hasil yang baik. Meski begitu, masyarakat juga perlu dibiasakan mengkonsumsi komoditi non beras. Banyak tanaman yang memiliki sumber karbohidrat. Bila dibiasakan, konsumsi beras kita bisa menurun dan kelebihannya kita ekspor, urainya.
Bonthain
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor