Showing posts with label Kebakaran. Show all posts
Showing posts with label Kebakaran. Show all posts
Pasar Allu-Jeneponto Terbakar
Saturday, August 20, 2011Kebakaran kembali melanda bagian selatan Sulawesi Selatan. Kali ini kebakaran terjadi di Kabupaten Jeneponto. Kota yang terbilang luas yang menghubungkan Kabupaten Bantaeng dan Kota Makassar. Sebuah Pasar yang terletak di Kampung Allu Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto rata dengan tanah setelah dilalap api sejak pukul 15.00 Wita. Sampai berita ini diturunkan, belum diketahui penyebab kebakaran tersebut. Kru Pemadam Kebakaran Bantaeng yang tiba dari lokasi kejadian mengungkapkan bahwa timnya mengalami beberapa kendala dalam memadamkan api yang berkobar. Mengingat kondisi kekeringan yang dialami Butta Turatea-Jeneponto sepanjang tahun mengakibatkan susahnya supplai air bagi Mobil Pemadam Kebakaran.
Ratusan kios musnah dan rata dengan tanah, ratusan juta kerugian dialami para pedagang yang mendiami Pasar Allu tersebut. Kebakaran berlangsung beberapa jam akibat susahnya air. Dua mobil Pemadam Kebakaran Jeneponto tiba di TKP sekitar pukul 16.00 Wita tidak mampu membendung kobaran api yang terus melalap kios demi kios. Kondisi ini memaksa Pemadam Kebakaran Jeneponto meminta bantuan Pemadam Kebakaran Takalar. Sekitar satu jam kemudian, tibalah di lokasi kejadian 1 mobil Pemadam Kebakaran Takalar. Namun, api masih terus berkobar dan semakin membesar.
Tindakan preventif kembali diambil untuk mengantisipasi meluasnya lokasi kebakaran di sekitar area pemukiman. Pemadam Kebakaran Bantaeng pun dihubungi agar dapat mengerahkan bantuannya dalam memadamkan kebakaran tersebut. Pemadam Kebakaran Bantaeng dengan sigap merespon permintaan dimaksud dengan segera meluncur ke TKP dan tiba sekitar pukul 04.45 Wita. Sebanyak tiga mobil dikerahkan bersama dengan puluhan kru.
Ketiga regu Pemadam Kebakaran akhirnya berhasil menjinakkan api sekitar pukul 22.30 Wita. Namun kondisi pasar telah ludes akibat amukan si jago merah. Nasib naas dialami para pedagang di Pasar Allu. Barang dagangan yang sedianya dipersiapkan menyambut Lebaran tahun ini telah musnah dan tinggal puing-puing bangunan kios.Baju baru, celana baru, kopiah baru, sajadah baru dan berbagai jenis pakaian baru yang siap jual tak lagi bisa dinikmati warga sekitar Pasar Allu.
Ratusan kios musnah dan rata dengan tanah, ratusan juta kerugian dialami para pedagang yang mendiami Pasar Allu tersebut. Kebakaran berlangsung beberapa jam akibat susahnya air. Dua mobil Pemadam Kebakaran Jeneponto tiba di TKP sekitar pukul 16.00 Wita tidak mampu membendung kobaran api yang terus melalap kios demi kios. Kondisi ini memaksa Pemadam Kebakaran Jeneponto meminta bantuan Pemadam Kebakaran Takalar. Sekitar satu jam kemudian, tibalah di lokasi kejadian 1 mobil Pemadam Kebakaran Takalar. Namun, api masih terus berkobar dan semakin membesar.
Tindakan preventif kembali diambil untuk mengantisipasi meluasnya lokasi kebakaran di sekitar area pemukiman. Pemadam Kebakaran Bantaeng pun dihubungi agar dapat mengerahkan bantuannya dalam memadamkan kebakaran tersebut. Pemadam Kebakaran Bantaeng dengan sigap merespon permintaan dimaksud dengan segera meluncur ke TKP dan tiba sekitar pukul 04.45 Wita. Sebanyak tiga mobil dikerahkan bersama dengan puluhan kru.
Ketiga regu Pemadam Kebakaran akhirnya berhasil menjinakkan api sekitar pukul 22.30 Wita. Namun kondisi pasar telah ludes akibat amukan si jago merah. Nasib naas dialami para pedagang di Pasar Allu. Barang dagangan yang sedianya dipersiapkan menyambut Lebaran tahun ini telah musnah dan tinggal puing-puing bangunan kios.Baju baru, celana baru, kopiah baru, sajadah baru dan berbagai jenis pakaian baru yang siap jual tak lagi bisa dinikmati warga sekitar Pasar Allu.
Pangkep berharap menyamai BONTHAIN
Friday, April 23, 2010Wakil rakyat yang tergabung dalam Komisi III DPRD Kabupaten Pangkep mempelajari Program Siaga Bencana yang dibentuk Pemda Kabupaten Bantaeng. Selain masalah penanggulangan bencana, khususnya kebakaran, wakil rakyat berbagai partai itu juga ingin mengetahui Program Kesehatan Gratis di daerah berjarak 120 Kilometer arah selatan Kota Makassar ini. Hal itu terungkap pada pertemuan Komisi III DPRD Kabupaten Pangkep dengan Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah) di Rumah Jabatan Bupati pada hari Jumat, 23 April 2010.
Pertemuan silaturahim tersebut dihadiri Wakil Ketua DPRD Bantaeng (Darwis), Sekretaris Komisi (Nurdin Halim, Fitriana Fachruddin, Yusuf Majide, Mappiare, Ali Sujanto, H. M. Said Baddu, Hj. Juriati, Sapri dan Anggota DPRD lainnya. Sedang tamu dari Kabupaten Penghasil Semen tersebut terdiri atas Ketua Komisi III (Umar Haya) dari PPP, H. Deppungeng dari PPP, Ardi Arsyad dari PKS, Dirham Ijar dari PDIP, H. Mansyur dari Partai Patriot dan A. Muh. Ridha dari Partai Demokrat. Ketua Komisi III DPRD Pangkep mengatakan, sebelum ke Bantaeng rombongan berjumlah 6 orang itu juga melakukan kegiatan yang sama di Kabupaten Gowa untuk bidang pendidikan.
Menurut Umar Haya, dalam 2-3 tahun terakhir, bencana kebakaran cukup meresahkan sebab mobil unit kebakaran yang ada hanya 2 yang siaga di kota. Kalau kebakaran terjadi di Segeri, dipastikan rumah yang terbakar sudah rata dengan tanah. Sulit dilakukan pertolongan karena jarak dan kondisi Damkar yang ada, urainya. Karena itulah, kami mendengar Bantaeng memiliki kedekatan dengan Toyota Jepang. Pangkep juga, tambah politisi dari PPP itu, masih ketinggalan di bidang pendidikan karena luas wilayah yang terdiri atas 117 pulau (23 tanpa penghuni) dengan jumlah penduduk di pulau sebanyak 40 ribu orang.
Pulau-pulau tersebut bahkan ada yang berbatasan dengan Lombok dan Madura. Karena itulah, indeks pendidikan berada pada nomor urut 23. Bupati Bantaeng dalam sambutan penerimaannya menyambut baik kehadiran para wakil rakyat Pangkep di Butta Toa. Menurut Bupati, wilayah kerjanya tidak memiliki pulau. Panjang pantai Bantaeng hanya 21 Kilometer dan sudah dipenuhi rumput laut. Ditunjang curah hujan selama 8 bulan dengan kondisi wilayah 3 klaster (laut, dataran rendah dan tinggi), BONTHAIN kini mengembangkan berbagai jenis sesuai kondisi. Di laut dikembangkan rumput laut, sedang pada dataran rendah dikembangkan padi dan jagung yang berproduksi 5 kali dalam 2 tahun. Salah satu jenis padi yang dikembangkan adalah jenis bromo yang khasiatnya sama dengan beras Jepang, urainya.
Kita juga sudah melakukan penangkaran sendiri untuk 20 jenis varietas unggulan yang sudah dapat memenuhi kebutuhan sendiri. Ke depan, kami berharap dapat mensuplai kebutuhan bibit Sulsel, terang Nurdin Abdullah. Penangkaran dilakukan sebagai tekad untuk menjadikan Kabupaten Bantaeng menjadi Kabupaten Penghasil Benih berbasis teknologi. Sedang di ketinggian dikembangkan tanaman endemik stroberi dan apel. Kawasan pengembangan stroberi dan apel tersebut sekaligus dijadikan kawasan agro wisata yang kini juga sudah dilengkapi bunga potong (Krissan). Komoditi lain yang sedang dikembangkan adalah talas (keladi/pacco) yang pasarnya langsung ke Jepang. Pengembangan talas tersebut hingga kini baru di areal 25 Ha.
Tahap awal, jelas Bupati Bantaeng ekspor talas hanya 8000 ton/tahun. Selain talas, ekspor yang sudah berjalan antara lain biji kapuk yang dilakukan Perusda Bajiminasa ke Korea Selatan serta ekspor hasil laut dalam bentuk Surimi beku ke Jepang. Ekspor ikan olahan tersebut dilakukan PT Global Seafood International Indonesia (GSII). Nurdin Abdullah berharap, Kabupaten Pangkep dapat mengambil bagian dalam kegiatan ekspor tersebut sebab Pangkep memiliki pulau-pulau. Kini, tambah Bupati Bantaeng lagi, Pemda akan membahas bersama para wakil rakyat di DPRD tentang kemungkinan pembebasan pembayaran PBB bagi masyarakat yang menanam talas.
Pembebasan pembayaran PBB tersebut dimaksudkan untuk merangsang masyarakat menanam komoditi yang mengandung khasiat pencegah kanker dan diabetes tersebut. Khusus masalah penyediaan Damkar dan Ambulance, Nurdin Abdullah mengatakan, tiap daerah memiliki peluang untuk menjalin hubungan dengan Toyota Jepang.
Pertemuan silaturahim tersebut dihadiri Wakil Ketua DPRD Bantaeng (Darwis), Sekretaris Komisi (Nurdin Halim, Fitriana Fachruddin, Yusuf Majide, Mappiare, Ali Sujanto, H. M. Said Baddu, Hj. Juriati, Sapri dan Anggota DPRD lainnya. Sedang tamu dari Kabupaten Penghasil Semen tersebut terdiri atas Ketua Komisi III (Umar Haya) dari PPP, H. Deppungeng dari PPP, Ardi Arsyad dari PKS, Dirham Ijar dari PDIP, H. Mansyur dari Partai Patriot dan A. Muh. Ridha dari Partai Demokrat. Ketua Komisi III DPRD Pangkep mengatakan, sebelum ke Bantaeng rombongan berjumlah 6 orang itu juga melakukan kegiatan yang sama di Kabupaten Gowa untuk bidang pendidikan.
Menurut Umar Haya, dalam 2-3 tahun terakhir, bencana kebakaran cukup meresahkan sebab mobil unit kebakaran yang ada hanya 2 yang siaga di kota. Kalau kebakaran terjadi di Segeri, dipastikan rumah yang terbakar sudah rata dengan tanah. Sulit dilakukan pertolongan karena jarak dan kondisi Damkar yang ada, urainya. Karena itulah, kami mendengar Bantaeng memiliki kedekatan dengan Toyota Jepang. Pangkep juga, tambah politisi dari PPP itu, masih ketinggalan di bidang pendidikan karena luas wilayah yang terdiri atas 117 pulau (23 tanpa penghuni) dengan jumlah penduduk di pulau sebanyak 40 ribu orang.
Pulau-pulau tersebut bahkan ada yang berbatasan dengan Lombok dan Madura. Karena itulah, indeks pendidikan berada pada nomor urut 23. Bupati Bantaeng dalam sambutan penerimaannya menyambut baik kehadiran para wakil rakyat Pangkep di Butta Toa. Menurut Bupati, wilayah kerjanya tidak memiliki pulau. Panjang pantai Bantaeng hanya 21 Kilometer dan sudah dipenuhi rumput laut. Ditunjang curah hujan selama 8 bulan dengan kondisi wilayah 3 klaster (laut, dataran rendah dan tinggi), BONTHAIN kini mengembangkan berbagai jenis sesuai kondisi. Di laut dikembangkan rumput laut, sedang pada dataran rendah dikembangkan padi dan jagung yang berproduksi 5 kali dalam 2 tahun. Salah satu jenis padi yang dikembangkan adalah jenis bromo yang khasiatnya sama dengan beras Jepang, urainya.
Kita juga sudah melakukan penangkaran sendiri untuk 20 jenis varietas unggulan yang sudah dapat memenuhi kebutuhan sendiri. Ke depan, kami berharap dapat mensuplai kebutuhan bibit Sulsel, terang Nurdin Abdullah. Penangkaran dilakukan sebagai tekad untuk menjadikan Kabupaten Bantaeng menjadi Kabupaten Penghasil Benih berbasis teknologi. Sedang di ketinggian dikembangkan tanaman endemik stroberi dan apel. Kawasan pengembangan stroberi dan apel tersebut sekaligus dijadikan kawasan agro wisata yang kini juga sudah dilengkapi bunga potong (Krissan). Komoditi lain yang sedang dikembangkan adalah talas (keladi/pacco) yang pasarnya langsung ke Jepang. Pengembangan talas tersebut hingga kini baru di areal 25 Ha.
Tahap awal, jelas Bupati Bantaeng ekspor talas hanya 8000 ton/tahun. Selain talas, ekspor yang sudah berjalan antara lain biji kapuk yang dilakukan Perusda Bajiminasa ke Korea Selatan serta ekspor hasil laut dalam bentuk Surimi beku ke Jepang. Ekspor ikan olahan tersebut dilakukan PT Global Seafood International Indonesia (GSII). Nurdin Abdullah berharap, Kabupaten Pangkep dapat mengambil bagian dalam kegiatan ekspor tersebut sebab Pangkep memiliki pulau-pulau. Kini, tambah Bupati Bantaeng lagi, Pemda akan membahas bersama para wakil rakyat di DPRD tentang kemungkinan pembebasan pembayaran PBB bagi masyarakat yang menanam talas.
Pembebasan pembayaran PBB tersebut dimaksudkan untuk merangsang masyarakat menanam komoditi yang mengandung khasiat pencegah kanker dan diabetes tersebut. Khusus masalah penyediaan Damkar dan Ambulance, Nurdin Abdullah mengatakan, tiap daerah memiliki peluang untuk menjalin hubungan dengan Toyota Jepang.
Bonthain
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor
Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor