blog how to, blog trick, blog tips, tutorial blog, blog hack

Daftar Isi





Showing posts with label Jeneponto. Show all posts
Showing posts with label Jeneponto. Show all posts

Radjamilo Jeneponto Telah Tiada

Thursday, August 14, 2014
Duka 3 Mantan Caleg dari 3 Dapil Kabupaten Bantaeng
Mantan Bupati Jeneponto dengan nama lengkap Drs. H. Radjamilo, MP pada hari ini (Red. : 14 Agustus 2014) telah tiada. Orang nomor satu yang pernah memimpin Kabupaten Jeneponto selama 2 Periode tersebut, meninggal dunia akibat sakit yang dideritanya sejak beberapa waktu lalu.

Inna Lillahi Wa Inna Ilaihi Rajiun, masyarakat Butta Turatea (julukan bagi Kabupaten Jeneponto) berduka atas berpulangnya beliau. Tim Bonthain yang dikonfirmasi melalui sumber terpercaya di Kabupaten Bantaeng mengemukakan bahwa jenazah akan dikebumikan di tanah Kelahirannya di Jeneponto. Tepatnya di Jl. Pataina, Kampung Bungung Barana, Kecamatan Turatea, Kabupaten Jeneponto.

Segenap management Bonthain menghaturkan duka sedalam-dalamnya kepada almarhum. Semoga mendapat tempat yang layak di sisi-NYA. Amin.
Read Full 0 comments

Pasar Allu-Jeneponto Terbakar

Saturday, August 20, 2011
Pendukung Jusuf Kalla Rela Kepanasan
Kebakaran kembali melanda bagian selatan Sulawesi Selatan. Kali ini kebakaran terjadi di Kabupaten Jeneponto. Kota yang terbilang luas yang menghubungkan Kabupaten Bantaeng dan Kota Makassar. Sebuah Pasar yang terletak di Kampung Allu Kecamatan Bangkala Kabupaten Jeneponto rata dengan tanah setelah dilalap api sejak pukul 15.00 Wita. Sampai berita ini diturunkan, belum diketahui penyebab kebakaran tersebut. Kru Pemadam Kebakaran Bantaeng yang tiba dari lokasi kejadian mengungkapkan bahwa timnya mengalami beberapa kendala dalam memadamkan api yang berkobar. Mengingat kondisi kekeringan yang dialami Butta Turatea-Jeneponto sepanjang tahun mengakibatkan susahnya supplai air bagi Mobil Pemadam Kebakaran.

Ratusan kios musnah dan rata dengan tanah, ratusan juta kerugian dialami para pedagang yang mendiami Pasar Allu tersebut. Kebakaran berlangsung beberapa jam akibat susahnya air. Dua mobil Pemadam Kebakaran Jeneponto tiba di TKP sekitar pukul 16.00 Wita tidak mampu membendung kobaran api yang terus melalap kios demi kios. Kondisi ini memaksa Pemadam Kebakaran Jeneponto meminta bantuan Pemadam Kebakaran Takalar. Sekitar satu jam kemudian, tibalah di lokasi kejadian 1 mobil Pemadam Kebakaran Takalar. Namun, api masih terus berkobar dan semakin membesar.

Tindakan preventif kembali diambil untuk mengantisipasi meluasnya lokasi kebakaran di sekitar area pemukiman. Pemadam Kebakaran Bantaeng pun dihubungi agar dapat mengerahkan bantuannya dalam memadamkan kebakaran tersebut. Pemadam Kebakaran Bantaeng dengan sigap merespon permintaan dimaksud dengan segera meluncur ke TKP dan tiba sekitar pukul 04.45 Wita. Sebanyak tiga mobil dikerahkan bersama dengan puluhan kru.

Ketiga regu Pemadam Kebakaran akhirnya berhasil menjinakkan api sekitar pukul 22.30 Wita. Namun kondisi pasar telah ludes akibat amukan si jago merah. Nasib naas dialami para pedagang di Pasar Allu. Barang dagangan yang sedianya dipersiapkan menyambut Lebaran tahun ini telah musnah dan tinggal puing-puing bangunan kios.Baju baru, celana baru, kopiah baru, sajadah baru dan berbagai jenis pakaian baru yang siap jual tak lagi bisa dinikmati warga sekitar Pasar Allu.
Read Full 8 comments

Current Price Developments

Sunday, September 5, 2010
Puasa Ramadhan kini telah melewati hari yang ke-26, lebaran ada di depan mata. Berdasarkan penanggalan Masehi, Hari Raya Idul Fitri 1431 H Insya Allah jatuh pada hari Jum'at tanggal 10 September 2010. Umat Islam di seluruh pelosok tanah air tinggal menunggu keputusan Kementerian Agama Republik Indonesia perihal penetapan 1 Syawal 1431 H. Bertolak dari hal tersebut, puasa Ramadhan tersisa 5 hari lagi (H-5 lebaran).


Menjelang lebaran tahun ini, seperti biasanya kesibukan dimana-mana semakin nampak. Kesibukan paling nampak ditunjukkan kaum ibu rumah tangga dan cewek. Pasar, toko dan pusat perdagangan lainnya menjadi incaran mereka. Berbagai kebutuhan rumah tangga menjadi faktor utama kehadirannya disana. Di antaranya berupa kebutuhan akan Sembilan Bahan Pokok (Sembako). Namun tidak sampai disitu saja, kebutuhan lainnya pun ikut menyertai. Semarak lebaran yang dinanti telah menyatu di hati umat Islam sejak lama.

Baju baru, nuansa baru dan hari yang baru. Pada dasarnya, hakikat lebaran tidaklah mesti dengan baju baru atau pun segalanya harus baru. Fitrah berarti kembali menjadi baru layaknya bayi baru lahir dari rahim sang ibu. Tapi sekali lagi, suasana yang semarak di hari lebaran ikut terbantu dengan hadirnya hal-hal baru dalam kehidupan tiap individu. Persiapan demi persiapan pun segera disusun sedemikian rupa. Sejak pertengahan Puasa Ramadhan, pusat pertokoan kian ramai dikunjungi pelanggan yang ingin mendapatkan baju baru. Pasar tradisional hingga pasar moderen dikunjungi demi memenuhi kebutuhan dapur.

Fenomena ini terjadi hampir di seluruh pelosok tanah air termasuk di Bonthain. Dari pantauan Tim Bonthain, Pasar Sentral Bantaeng yang berlokasi di tengah kota Bonthain semakin ramai dan penuh sesak beberapa hari terakhir. Perubahan harga pun tak lepas dari perubahan jumlah pengunjung. Secara umum harga kebutuhan rumah tangga mengalami peningkatan signifikan. Bagi pembeli, harga yang tinggi terhadap barang yang dibutuhkan tetap akan dibelinya. Hal ini dimanfaatkan para penjual dengan menaikkan harga secara sepihak. Mentega misalnya, pada salah seorang penjual dipatok dengan harga Rp 13.000,-/Kg. Sementara di penjual lainnya dipatok seharga Rp 15.000,-/Kg. Kondisi tersebut amat merugikan pembeli, sedangkan penjual diuntungkan. Hal ini terjadi karena faktor kebutuhan yang mendesak. Semuanya menjadi primer, bahkan kebutuhan sekunder atau tersier pun akan berubah menjadi primer disaat mendesak sifatnya.

Kenaikan harga ini, patutlah diketahui masyarakat sebelum beranjak ke pasar. Dengan tujuan agar calon pembeli dapat mempersiapkan anggaran yang akan dibawanya ke pasar. Dalam hal ini management keuangan harus menjadi prioritas agar kelangsungan hidup rumah tangga tetap terjaga dan stabil. Kalau hal ini diabaikan, bisa saja kebutuhan akan barang tertentu tidak terpenuhi. Sementara barang lainnya melebihi batas maksimum dari yang dibutuhkan. Olehnya itu, Tim Bonthain yang bekerja sejak awal Puasa terus mengikuti perkembangan harga di Bonthain khususnya di Pasar Sentral Bantaeng. Berikut disajikan daftar beberapa bahan keperluan paling penting menjelang Lebaran.





Semoga Price List di atas dapat bermanfaat bagi kita semua, khususnya masyarakat Butta Toa (Bonthain). Termasuk masyarakat tetangga yakni Butta Turatea (Jeneponto) dan Butta Panrita Lopi (Bulukumba) yang sering berbelanja di Bonthain, mengingat jaraknya dapat ditempuh hanya dalam waktu ± 30 menit perjalanan.
Read Full 2 comments

Calon Kapolres Bonthain

Saturday, April 17, 2010
Kepala Kepolisian Wilayah (Kapolwil) Bone (Kombes Syamsuddin Yunus) memperkenalkan calon Kapolres Bantaeng (AKBP Very Handoko). Very akan menggantikan AKBP Turman Siregar yang mendapat tugas baru sebagai Kepala Pembinaan Karier Polda Sulsel. Menurut Syamsuddin, Very akan melakukan adaptasi, semacam magang sesuai aturan baru di tubuh Polri. Proses pemagangan berlangsung sebulan sehingga diharapkan pada 15 Mei 2010 sudah bisa dilantik, ujarnya pada perkenalan pejabat yang berlangsung di Rumah Jabatan Bupati Bantaeng.

Pertemuan silaturahim tersebut dihadiri Bupati Bantaeng (H. M. Nurdin Abdullah), Dandim 1410 Bantaeng (Letkol Sidik), unsur Muspida dan pejabat Kepolisian Resort Bantaeng serta pejabat lingkup Pemda Kabupaten Bantaeng. Menurut Kapolwil Bone, melalui pemagangan ini pejabat baru nantinya sudah mengetahui potensi wilayah kerjanya serta kondisi Sumber Daya Manusia yang akan dipimpin maupun struktur dan budaya masyarakat yang ada agar sewaktu-waktu dapat diantisipasi. Meski begitu, selama dalam proses ini, calon Kapolres BONTHAIN masih tetap berada di bawah kendali Kapolres lama hingga Pelantikan dan Serah Terima Jabatan berlangsung, ujarnya.

Karena itu, ia berharap kerjasama dengan semua pihak, terutama Pemda agar pembangunan dapat berjalan lancar dan aman. Ini penting karena Kabupaten Bantaeng memiliki potensi dan mengalami pertumbuhan yang luar biasa dibanding tahun-tahun sebelumnya. Sehingga dipandang lebih dari kabupaten lainnya, terang Kombes Syamsuddin. Ini berkat kepemimpinan seorang intelektual yang juga usahawan yang memiliki jaringan pasar yang luas. Saya prediksi, ke depan Bonthain akan menjadi daerah tumpuan harapan daerah sekitarnya, termasuk kota Makassar yang semakin sempit.

Dibalik keberhasilan kepemimpinan Nurdin Abdullah, terdapat kekhawatiran untuk masa depan kabupaten berjuluk Butta Toa ini. Terutama bila tidak dipersiapkan kader yang akan melanjutkan kepemimpinan nantinya. Kami khawatir Bonthain tak menemukan pemimpin sekualitas Nurdin Abdullah. Bila itu terjadi, sia-sia program brilian serta komitmen yang sudah berjalan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tambah Kapolwil Bone. Ia kemudian berpesan kepada masyarakat Bantaeng agar membangun komitmen dan member kontribusi positif terhadap perkembangan pembangunan di daerah ini. Kitalah orang-orang Bantaeng yang harus membangun daerah ini. Jangan justru menjadi penghambat menuju proses peningkatan kesejahteraan masyarakat tersebut, pintanya.

Jajaran Kepolisian dan aparat lainnya juga diminta memberi kontribusi terhadap pembangunan melalui pendekatan keamanan. Hal ini disebabkan pembangunan membutuhkan keamanan, tambah Kapolwil. Polwil Bone membawahi 9 kabupaten masing-masing Wajo, Soppeng, Bone, Selayar, Sinjai, Bulukumba, Bantaeng, Jeneponto dan Takalar. Bupati Bantaeng menyambut baik perhatian aparat Kepolisian selama ini. Jalinan kerja sama sudah terjalin dengan baik. Karena itu, ia berharap ke depan pejabat baru dapat meningkatkan hubungan kerja sama tersebut. Bupati pada kesempatan itu juga mengungkap potensi wilayahnya yang terdiri atas tiga klaster yakni pesisir pantai, dataran rendah dan dataran tinggi yang masing-masing memiliki potensi pengembangan.
Read Full 5 comments

Warung Bawakaraeng

Sunday, February 21, 2010
Siang yang cerah menyapa para Black Car Community dan Black Motor Community yang melewati jalan poros Makassar-Bantaeng-Bulukumba. Sekitar pukul 12.00 Waktu Bonthain, kendaraan besar yang terdiri dari mobil Bus beserta mobil kecil lainnya singgah di Warung Bawakaraeng. Kejadian ini terus berlangsung tiap harinya. Penumpang pada turun dari mobil dan segera masuk ke warung Bawakaraeng.

Warung ini amat dikenal, khususnya bagi bagi masyarakat Bantaeng dan masyarakat Bulukumba, Sinjai dan Selayar yang nota bene sering berkunjung untuk bersantap siang dan malam. Ada apa dengan penduduk Bulukumba, Sinjai dan Selayar..............???Apa hubungannya dengan Warung Bawakaraeng.

Bantaeng menjadi daerah yang dilewati kendaraan dari dan menuju ketiga kota tersebut. Posisi Bonthain amat strategis sebagai kota persinggahan bagi penumpang yang akan berkunjung ke Makassar maupun sebaliknya. Saking strategisnya, setiap mobil dari dan menuju kota tersebut menjadwalkan tempat singgahnya yakni di Bonthain. Saat Black Community and Black In News of Bonthain Blackinnovationawards goes to campus ke Warung Bawakaraeng, jalan poros dipadati puluhan bahkan ratusan kendaraan. Sehingga jalan yang menghubungkan daerah selatan-selatan Propinsi Sulawesi Selatan ini praktis berubah menjadi lautan Black Community dan menjadi macet.

Dari dulu fenomena ini menjadi lazim yang pada akhirnya menjadikan kota Bonthain amat dikenal oleh masyarakat disekitarnya. Bahkan Bonthain dihuni banyak Black Community, misalnya komunitas Selayar, Bulukumba, Sengkang, Sinjai, Pare-pare, Makassar, Jeneponto, Bone dan sebagainya. Tiap komunitas menempati daerah-daerah tertentu di Bonthain. Banyak kalangan berasumsi bahwa Bonthain sejak lama dijadikan daerah tujuan yang aman. Setelah berdiam lama di Bonthain, tak kurang dari mereka yang berkeluarga dengan orang Bonthain dan mendiami kota ini hingga sekarang.

Gambaran di atas mengisahkan bahwa keberadaan Warung Bawakaraeng bukanlah hal baru bagi pengunjung yang akan bersantap siang dan malam disana sebelum berangkat lagi menuju Makassar atau Selayar dan sekitarnya. Apa saja yang disajikan di warung tersebut...???Pilih menunya :
1. Sop Konro
2. Sop Kikil
3. Sop Saudara
4. Sop Ayam
5. Sop Paru
6. Bakso
7. Ayam Goreng
8. Ikan Bakar
9. Teh
10. Es Teh
11. Kopi
12. Teh Susu
13. Kopi Susu
14. Minuman Dingin
15. Aneka Jajanan/Cemilan
Read Full 3 comments

Evakuasi Pasien RSUD Jeneponto diangkut dengan OJEK

Tuesday, January 19, 2010
Ratusan orang menyerang dan merusak sejumlah fasilitas di Rumah Sakit Umum (RSU) Lanto Dg Pasewang, Bontosunggu, Jeneponto, Senin (18/1).

Kaca jendela dan sejumlah fasilitas medis di RS tersebut hancur akibat dilempar massa yang emosi. Massa emosi karena rekan mereka bernama Guntur (30) tewas setalah ditikam di area RS oleh Sita yang bertugas sebagai satpam.
Menyusul insiden tersebut, polisi menambah kekuatan pasukan ke Jeneponto. Petugas pengendali massa (dalmas) dari Polres Takalar dan Polres Bantaeng dikerahkan ke tempat kejadian perkara (TKP).
"Ada bantua personel dari polres tetangga untuk membantu pemilihan keamana. Situasi di sana (Jeneponto) sudah berangsur kondusif," kata Kepala Bidang Humas Polda Sulselbar, Kombes Hery Subiansauri, tadi malam.
Sedangkan Direktur RSU Lanto Dg Paseweang, Dr Safrudin, mengatakan, pihaknya masih mengungsikan pasien ke puskesmas untuk mengindari hal-hal yang tidak diinginkan.
Dari pantauan Tribun, ratusan polisi masih bersiaga di halaman RSU Lanto Dg Pasewang. Sejumlah personel Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Pemkab Jeneponto juga diperbantukan.

Pakai Sangkur
Informasi yang dihimpun di lokasi menyebutkan, kejadiakn bermula saat Guntur yang tinggal di Kampung Pannara, Kelurahan Empoang Selatan, Kecamatan Binamu, Jeneponto datang ke RSU Jeneponto bersama rekannya bernama Aziz.
Korban sedang berada di dalam ruang instalasi gawat darurat (IGD). Namun karena dianggap mengganggu pasien di tempat itu, itu Sita menegurnya agar tenang.
Namun teguran itu tidak diterima oleh Guntur sehingga keduanya terlibat adu mulut dan berujung pada perkelahian. Saat perkelahian itu, Sita mengeluarkan sangkur yang ada dipinggangnya lalu menusuk korban satu kali di bagian perut.
"Korban tidak terima ditegur sehingga terjadi perkelahian. Kami sangat menyesalkan kejadian ini," kata Dr Safruddin.
Saksi di TKP, Allo, menyebutkan korban marah karena ditegur oleh Sita saat sedang bermain domino di koridor ruang IGD.

Dievakuasi
Setelah kasus penikaman tersebut, keluarga almarhum dari Kampung Pannara menyerang rumah sakit dengan batu senjata tajam. Sedikitnya tujuh jendela serta kaca pintu IGD dan ruang perawatan hancur dihantam batu.
Mereka tidak menerima anggota keluarganya ditikam. Massa juga berteriak-teriak dan mencari Sita untuk melakukan aksi balas dendam.
Sejumlah pasien yang sementara dirawat langsung dievakuasi ke Puskesmas Binamu dan sebagian dikembalikan ke rumah masing-masing.
"Kami tidak mau mengambil risiko dan saat itu emosi massa sudah tidak terkendali. Makanya jalan evakuasi terpaksa dilakukan," kata Safrudin.
Sementara sejumlah petugas medis, termasuk dokter dan perawat, untuk sementara tidak beraktivitas di RSU ini. Mereka masih menunggu pekembangan hingga situasi betul-betul kondusif.
"Kami khawatir kalau bertugas tiba-tiba ada serangan massa lagi. Jumlah mereka sangat banyak. Jadi kami memilih beristirahat dulu. Teman-teman yang tugas jaga saat kejadian masih trauma," kata seorang perawat yang enggan disebut namanya.
Sejak, Senin pagi pihak rumah sakit meminta sejumlah pasien dan pembesuk lainnya untuk meninggalkan tempat itu dan memintapolisi untuk mengamankan area RS.


Source : Tribun Timur
Read Full 1 comments

Kabupaten Jeneponto

Thursday, January 7, 2010
Kabupaten Jeneponto adalah salah satu Daerah Tingkat II di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Bontosunggu. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 749,79 km2 dan berpenduduk sebanyak 330.735 jiwa, kondisi tanah (topografi) pada bagian utara terdiri dari dataran tinggi dengan ketinggian 500 s/d 1400 m, bagian tengah 100 s/d 500 m dan pada bagian selatan 0 s/d 150 m diatas permukaan laut.

Source : Wikipedia

Read Full 0 comments

Freedom of Jeneponto

Harry Bhaskara was recently invited to visit the School of Democracy in the southern Sulawesi regency of Jeneponto. The school is one of five run by the Jakarta-based Indonesian Commission for Democracy (KID). Below is his report of the visit. Jeneponto regency in the province of South Sulawesi is home to a militant Muslim community. It is a public secret that Christians are not allowed to build churches there and Chinese Indonesians as well as Javanese are barred from conducting business, local activists say. In the last two years, however, the secret has made its way into school discussions for the first time.

“The discussions, both frank and candid, were an eye-opener to the Jeneponto community. They were first held in a classroom setting within the school and later openly in a public broadcast conducted by a local radio broadcaster, with ‘talk-back’ discussions from the community,” said Idrus Taba of Melania Foundation, a research and education NGO based in Makassar.

The foundation is KID’s local partner in the Jeneponto School of Democracy, funded by the Netherlands-based Institute for Multiparty Democracy. Aside from Jeneponto, KID also runs four other schools in Banyuasin (South Sumatra), Malang (East Java), Tangerang (Banten) and Lembata (East Nusa Tenggara).

The unique social characteristics of Jeneponto were one of the reasons why KID, led by noted sociologist Dr. Ignas Kleden, chose the area as a site for the school in 2006, when it also set up the other four schools.

Public discussions are part of the school’s curriculum, which runs for a year, taking 30 students annually. Classroom sessions are held twice a month on Saturdays and Sundays.

“Community members in this remote town marveled at the opportunity to rub shoulders with local and national luminaries who led discussions, whose names they only learned from the newspaper,” said Idrus, who is also a lecturer at Hasanuddin University.

The school shuns the traditional classroom setting and emphasizes active student participation in classes, he said.

Lecturers at the school include scholars, bureaucrats, politicians, parliamentarians, NGO activists, businesspeople, feminists, religious leaders and journalists.

Opening the school in this exclusive community has proven problematic, he added.

“Initially it was extremely difficult. It was seen as a Western product and local people, being staunchly Muslim, rejected the school outright, especially when they learned the school was funded by a Western country.”

Idrus’s colleague at Melania Foundation, Mohd. Sabri, said Jeneponto people believed there was an ulterior motive in the foundation of the school.

“They were suspicious that we wanted to convert them to Christianity,” Sabri said.

Unperturbed, Idrus and Sabri approached fellow members of the Muhammadiyah socio-religious organization, their former student colleagues of Hasanuddin University as well as local community elders, and eventually their determination and diplomatic finesse gained them entry into the community.

Once the school took off, it did not take long to win the hearts of the locals.

“Especially when students are presented with examples from their own community, they start to understand democracy is something they really need to know,” said Sabri, who lectures on philosophy at the University of Islam in Makassar.

Subjects in the curriculum include democracy, social analysis, intellectual history of democracy, political and government systems, public policies, democracy and business, law and human rights and conflict resolution.

Students of the school said the lessons they learned from the school have been a boon.

“We put accounting and budgeting records on the wall for everybody to see. This is a lesson on accountability and transparency. I learned about the importance of making decisions through majority votes,” said NGO activist Suryani Hajar Gaptur, a student in 2007.

Takdir Alfiat, a student in 2006, said there was widespread interest in joining the school. Each year more than 200 people apply for a place, but it has only 30 seats,” Takdir said.

Mohd. Isra, a Muslim who once vehemently opposed the school, said he ended up taking part regularly at the public discussions it held.

“In the end there are good things that we can learn from the discussions,” Isra said,

Isra is not a student of the school, but like other Jeneponto residents, he is welcome to join public discussions and the numerous radio talk shows and film showings.

Jeneponto is not alone in its exclusive character, said Sabri. Many regencies in the province, he said, are either anti-Christian or anti-outside-traders.

“But I don’t think these characteristics are rooted in ancient Jeneponto tradition. I am still researching the origin of these sentiments. For the time being I believe they are more the result of competing interests arising after our 1945 independence,” he said.

Dr. Deddy Tikson, a professor of political science at Hasanuddin University, said alumni of the school were better off in understanding democracy than college students.

“We are talking about traders or farmers who attend the school. The South Sulawesi government should adopt the school. The local parliamentarians should apply for funding to finance such a school,” said Deddy, who also lectures at the school.

The school has a very positive impact on the Jeneponto community, he said.

“It is like a movement, a reformation movement, since it is free of any kind of indoctrination. The students are free to discuss democracy as they see it in their own community or the western liberal democracy,” said Deddy.

Another lecturer at Hasanuddin University said his students had asked him to implement the curriculum of the School of Democracy at their university.

“They found the curriculum ingenious,” Alwi Rachman said.

Sabri summed up the impact of the school by quoting a local saying: “I dedicated my whole body to you, my King, but not my badik (dagger)”. Jeneponto is used to be part of the legendary Kingdom of Gowa, in the area north of Makassar.

Increasingly, the Jeneponto people are ridding themselves of their daggers, said Sabri.

“Today the saying has been modified into ‘dedicated myself to you my Regent, but not my intellectual capacity.’”

It means that astuteness has taken the place of the weapon, he said.

Or in other words, Sabri said, “I may have respect for you as my elder and leader but I will rely on myself when it comes to the way I look at things in this world.”

Source : Planet Mole
Read Full 0 comments

Pembagian Wilayah Kabupaten Jeneponto

Kabupaten Jeneponto pada awalnya hanya terdiri dari 5 (lima) kecamatan, namun kemudian dimekarkan menjadi 9 (sembilan) kecamatan. Kecamatan Kelara satu-satunya kecamatan yang tidak mengalami pemekaran. Dengan pemekaran tersebut maka terjadi pula pembagian desa/kelurahan sebagaimana berikut ini.



Kecamatan Bangkala terdiri dari 3 Kelurahan dan 10 Desa :

Kelurahan Benteng
Kelurahan Pallengu
Kelurahan Pantai Bahari
Desa Bontorannu
Desa Kalimporo
Desa Pallantikang
Desa Jenetallasa
Desa Kapita
Desa Marayoka
Desa Gunung Silanu
Desa Mallasoro
Desa Punagaya
Desa Tombo - Tombolo



Kecamatan Bangkala Barat terdiri dari 8 Desa :

Desa Bulujaya
Desa Barana
Desa Banrimanurung
Desa Tuju
Desa Garassikang
Desa Pappalluang
Desa Pattiro
Desa Beroanging






Kecamatan Tamalatea terdiri dari 6 Kelurahan dan 6 Desa :

Kelurahan Bontotangnga
Kelurahan Tonrokassi
Kelurahan Tonrokassi Timur
Kelurahan Tonrokassi Barat
Kelurahan Manjangloe
Kelurahan Tamnroya
Desa Borongtala
Desa Turatea
Desa Turatea Timur
Desa Bontojai
Desa Bontosunggu
Desa Karelayu



Kecamatan Bontoramba terdiri dari 12 Desa :

Desa Bontoramba
Desa Datara
Desa Maero
Desa Batujala
Desa Bulusibatang
Desa Kareloe
Desa Bulusuka
Desa Tanammawang
Desa Balumbungan
Desa Bangkalaloe
Desa Lentu
Desa Baraya



Kecamatan Binamu terdiri dari 11 Kelurahan dan 2 Desa :

Kelurahan Empoang
Kelurahan Empoang Utara
Kelurahan Empoang Selatan
Kelurahan Balang Beru
Kelurahan Sidenre
Kelurahan Balang
Kelurahan Balang Toa
Kelurahan Pabiringa
Kelurahan Monro-Monro
Kelurahan Biringkassi
Kelurahan Panaikang
Desa Sapanang
Desa Bontoa



Kecamatan Turatea terdiri dari 10 Desa :

Desa Paitana
Desa Kayuloe Barat
Desa Kayuloe Timur
Desa Tanjonga
Desa Bululoe
Desa Langkura
Desa Bontomatene
Desa Mangngepong
Desa Jombe
Desa Bungungloe



Kecamatan Batang terdiri dari 2 Kelurahan 12 Desa:

Kelurahan Togo-Togo
Kelurahan Bontoraya
Desa Camba-camba
Desa Maccinibaji
Desa Kaluku
Desa Tino
Desa Balangloe Tarowang
Desa Allu Tarowang
Desa Balangbaru
Desa Tamanraya
Desa Bontoujung
Desa Pao
Desa Bontorappo
Desa Tarowang



Kecamatan Arungkeke terdiri dari 7 Desa :

Desa Arungkeke
Desa Bulo-Bulo
Desa Kampala
Desa Palajau
Desa Boronglamu
Desa Arungkeke Pallantikang
Desa Kalumpangloe








Kecamatan Kelara terdiri dari 5 Kelurahan 17 Desa:

Kelurahan Tolo
Kelurahan Tolo Utara
Kelurahan Tolo Timur
Kelurahan Tolo Selatan
Kelurahan Tolo Barat
Desa Rumbia
Desa Samataring
Desa Bontolebang
Desa Gantarang
Desa Tombolo
Desa Lebangmanai
Desa Bontomanai
Desa Kassi
Desa Tompobulu
Desa Loka
Desa Lebangmanai Utara
Desa Bontonompo
Desa Jenetallasa
Desa Bontotiro
Desa Pallantikang
Desa Bontocini
Desa Ujung Bulu



Source : Jeneponto Government

Read Full 3 comments

Jeneponto

Thursday, January 3, 1980

Read Full 0 comments
Thankz atas comment-nya...jangan bosan tuk mampir
Bonthain

Bantaeng terletak di sebelah selatan Propinsi Sulawesi Selatan
dengan jarak tempuh 120 Kilometer dari kota Makassar. Dapat ditempuh dalam waktu 2 jam perjalanan dari Makassar dengan mengendarai mobil atau sepeda motor
Image and video hosting by TinyPic
Google PageRank Checker pagerank 
search engine optimization pagerank search engine optimization Search Engine Promotion Widget
Powered by Counters4blogs.com
100 Blog Indonesia Terbaik
money ideas
 

Twitter Update

Followers

Newspaper Template

© Black Newspaper Copyright by Bonthain | Design by Ambae.exe | Template by Blogger Templates | Blog Trick at Blog-HowToTricks